Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Zivara Arthea duduk tegak di bangku besi selasar IGD. Pakaian denimnya ternoda abu hitam dan bercak darah kering milik Kaizar. Goresan kecil di lengannya terasa perih terkena gesekan kain, tetapi pikirannya berada di tempat lain.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir rasa kebas yang sempat menguasai sistem sarafnya. Jiwa dewasanya menolak untuk tenggelam dalam kepanikan histeris. Alih-alih menangis meratapi pengorbanan ekstrem Kaizar yang melompat menerobos kabel tegangan tinggi demi dirinya, Zivara justru membuka ponselnya yang layarnya sudah retak di bagian sudut.
Jemarinya bergerak taktis. Ia segera menghubungi Dina melalui sambungan suara terenkripsi.
"Dina, bagaimana situasi di kampus?" tanya Zivara, suaranya terdengar sangat tenang, datar, dan sarat akan otoritas seorang wanita yang matang oleh pengalaman hidup.
"Luna sudah diamankan di ruang birokrasi kampus oleh sekuriti, Vara. Polisi sedang menginterogasinya," suara Dina terdengar terengah-engah di seberang telepon. "Tapi Adrian... keparat itu lolos. Dia memanfaatkan momen ledakan trafo panggung untuk menyelinap melalui gerbang belakang yang mengarah ke lembah Dago."
Zivara menyipitkan mata. Kilat ketegasan memancar dari manik matanya. "Jangan biarkan ruang operator pameran disentuh siapa pun sampai tim forensik polrestabes tiba. Pastikan semua file cadangan rekaman CCTV koridor dan manipulasi audio yang dikirim Adrian sudah disalin ke dalam flashdisk-mu. Jangan serahkan itu pada pihak kampus terlebih dahulu."
"Aku mengerti, Vara. Aku akan menjaga berkas digital ini dengan nyawaku," balas Dina cepat sebelum mengakhiri panggilan.
Zivara menurunkan ponselnya, lalu menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang dingin. Pilihan taktisnya untuk mengamankan barang bukti secara mandiri membuktikan bahwa ia bukan lagi gadis pasif berusia delapan belas tahun yang bisa dengan mudah dijadikan tameng hukum oleh orang lain. Tanpa bukti otentik yang terkunci rapat, sabotase fisik dan percobaan pembunuhan malam ini bisa dengan mudah dialihkan sebagai kecelakaan teknis biasa.
Rasa sakit batin akibat masa lalu kembali merayap, menciptakan dilema slow burn yang menyiksa di dalam dadanya. Di satu sisi, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Kaizar menyerahkan seluruh tubuhnya untuk meredam hantaman besi demi keselamatannya. Darah yang merembes di kemejanya adalah bukti nyata dari ketulusan ekstrem yang tidak pernah ia dapatkan di kehidupan pertama.
Di sisi lain, trauma panjang sebagai second choice yang diabaikan selama bertahun-tahun tidak bisa terhapus begitu saja oleh satu aksi heroik. Setiap kali hatinya tergerak untuk merasa iba, ingatan akan dinginnya ranjang pernikahan mereka dulu dan cara Kaizar memandang Luna selalu kembali sebagai alarm peringatan. Zivara takut jika rasa tulus Kaizar sekarang hanyalah wujud dari rasa bersalah seorang pria yang terlanjur kehilangan, bukan karena benar-benar menghargai esensi dirinya.
Derap langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan koridor IGD. Suara tangis yang tertahan dan kepanikan yang teramat besar mendekat.
Bunda Dila berlari kecil dengan wajah yang basah oleh air mata, diikuti oleh Ayah Kevin yang melangkah dengan raut tegang yang kaku. Pakaian formal mereka tampak sedikit kusut, menandakan bahwa mereka langsung meninggalkan jamuan bisnis begitu mendengar kabar buruk mengenai putra tunggal mereka.
"Vara! Di mana Kaizar? Bagaimana keadaan anakku?" Bunda Dila langsung memegang kedua bahu Zivara, suaranya bergetar hebat dipenuhi histeria seorang ibu. "Kenapa pameran kampus bisa sekacau ini? Apa yang sebenarnya terjadi di sana?"
Ayah Kevin berdiri di samping istrinya, sepasang matanya yang tajam menatap Zivara dari ujung kepala hingga ujung kaki, memeriksa kondisi fisik anak tunggal diplomat itu.
"Kamu tidak apa-apa, Zivara? Di mana posisi dokter yang menangani Kaizar sekarang?" tanyanya, mencoba menjaga wibawa suaranya meski ketakutan besar tersirat di balik kerutan dahinya.
Zivara berdiri dengan tenang, melepaskan cengkeraman tangan Bunda Dila secara halus namun tegas, menjaga jarak romantis elegan yang menjadi batasan barunya dengan keluarga Ravindra.
"Tante Dila, Om Kevin, harap tenang terlebih dahulu," ujar Zivara dengan intonasi suara yang tertata rapi, tidak menunjukkan ketakutan sama sekali di hadapan dominasi Ayah Kevin. "Kak Kaizar sedang berada di dalam ruang operasi. Dokter sedang menangani cedera parah di bahu kanan dan benturan di dasar tengkoraknya akibat menahan runtuhan besi panggung. Kondisinya kritis saat dibawa masuk tadi."
Bunda Dila langsung menutup mulutnya, tubuhnya lemas hingga harus bersandar pada lengan Ayah Kevin.
"Ya Tuhan, Kaizar... kenapa harus sampai seperti ini..."
Zivara menatap lurus ke dalam manik mata Ayah Kevin. "Aku selamat hanya dengan luka gores kecil karena Kak Kaizar menggunakan seluruh tubuhnya untuk melindungiku dari kabel tegangan tinggi yang disabotase. Saat ini, kepolisian Bandung sedang menangani kasusnya di lokasi pameran."
Mendengar kata 'disabotase', rahang Ayah Kevin mengeras sempurna. Ada kilat kemarahan sekaligus kecemasan taktis di wajah pria paruh baya itu, menyadari bahwa nama baik Ravindra Corp kini berada di ujung tanduk jika skandal kriminal ini mencuat ke permukaan publik secara liar.
Keheningan yang tegang di antara mereka bertiga mendadak dipecah oleh kedatangan seorang perwira polisi berpakaian preman yang melangkah cepat mendekati area tunggu IGD. Ia melepas topi petnya, memberikan penghormatan singkat kepada Ayah Kevin dan Zivara.
"Selamat malam, Pak Kevin, Nona Zivara," ujar perwira tersebut dengan raut wajah yang sangat serius. "Saya dari tim penyidik Polrestabes Bandung. Kami baru saja menyelesaikan olah TKP awal dan memeriksa sisa sistem keamanan kampus."
Zivara melangkah maju satu langkah. "Bagaimana dengan pengejaran Adrian, Pak?"
Perwira itu menghela napas berat, menggelengkan kepalanya dengan tatapan mata yang sarat akan kecemasan baru. "Itu yang ingin saya sampaikan. Adrian berhasil meloloskan diri menggunakan mobil curian yang telah disiapkan di luar area Dago. Dan dari data GPS pelacak yang baru saja kami cegat... Adrian tidak melarikan diri keluar kota. Dia masih berada di sekitar Bandung dan kami akan segera melakukan penyelidikan lebih lanjut."
“Baik, Pak. Segera tangkap pelakunya,” tutur Ayah Kevin.
Zivara tertegun, tangannya yang memegang ponsel perlahan mengeras.
**
Dinding ruang interogasi birokrasi kampus terasa begitu menjepit. Luna duduk meringkuk di atas kursi besi, meremas ujung blus sutranya yang kini kusut masai. Dua orang petugas keamanan kampus berdiri berjaga di dekat pintu, sementara seorang penyidik kepolisian Bandung terus menatapnya dengan pandangan menuntut. Di atas meja, sebuah laptop menampilkan cuplikan video digital yang diputar ulang tanpa henti—menampilkan wajah Luna dengan sangat jelas saat menuangkan cairan ke dalam gelas boba.
"Adrian ke mana, Luna? Ke mana dia pergi?" suara penyidik itu terdengar datar, tetapi memiliki tekanan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Luna menggelengkan kepala dengan cepat, air mata kepanikan mengalir deras merusak riasan wajahnya. "Aku tidak tahu! Demi Tuhan, aku tidak tahu!" serunya dengan nada melengking, sarat akan tekanan mental yang hebat.
Rasa takut yang amat sangat kini menggerogoti seluruh kesadarannya. Adrian melarikan diri begitu saja setelah mendorong Zivara, meninggalkannya sendirian untuk menghadapi konsekuensi hukum dari rencana gila ini. Luna merasa dijebak, dibuang, dan hancur lebur dalam hitungan jam. Di kepalanya kini hanya ada bayangan jeruji besi dan kehancuran nama baik keluarganya. Posisinya benar-benar buntu, dikepung oleh bukti nyata yang tidak bisa ia bantah lagi.
Beberapa kilometer dari pusaran kekacauan kampus, suasana sunyi menyambut kedatangan Zivara di kediaman Ayah Ridwan. Rumah itu sepi. Zivara melangkah masuk ke kamarnya, meletakkan tas dengan gerakan pelan.
Aroma sisa cairan antiseptik rumah sakit dan bau hangus dari festival masih menempel di tubuhnya. Ia segera membersihkan diri, membiarkan guyuran air dingin membasahi rambut dan membasuh rasa lelah yang menumpuk di pundaknya.
Setengah jam kemudian, Zivara sudah berganti pakaian dengan t-shirt longgar dan celana kain yang nyaman. Ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin lemari yang temaram. Rambutnya yang basah dibiarkan terurai. Alih-alih langsung merebahkan tubuh untuk beristirahat sebelum kembali ke rumah sakit, perhatian Zivara sepenuhnya tersedot pada sebuah benda di atas meja nakas.
Sebuah kantong plastik transparan dari rumah sakit.
Zivara meraih kantong itu dengan jemari yang sedikit bergetar. Di dalamnya terdapat barang-barang pribadi Kaizar yang diserahkan oleh dokter bedah sebelum ia pulang tadi. Sebuah ponsel dengan layar retak, beberapa kartu identitas, dan sebuah dompet kulit berwarna hitam yang permukaannya sudah agak mengelupas di bagian sudut.
Zivara mengeluarkan dompet kulit tersebut. Begitu membukanya, selembar kertas tebal yang terlipat di selipan kompartemen utama langsung menarik perhatiannya. Kertas itu tampak usang, dengan bagian sudut kiri bawah yang robek paksa.
Perlahan, Zivara membuka lipatan kertas tersebut di bawah pendar lampu kamar yang kuning keemasan.
Napas Zivara seketika tercekat di tenggorokan. Jantungnya bergemuruh hebat, memukul dadanya dengan ritme yang menyakitkan.
Kertas itu berisi sebuah sketsa wajah. Bukan coretan asal, melainkan goresan pensil yang sangat detail, menampilkan raut wajah seorang wanita yang tampak matang, dengan tatapan mata penuh duka sekaligus ketegasan yang elegan.
Itu adalah sketsa wajah Zivara sendiri. Wajahnya saat berusia tiga puluh tahun—wajah dari kehidupan pertamanya sebelum garis waktu ini berputar kembali.
Zivara membekap mulutnya sendiri, air mata yang sejak tadi ia tahan di rumah sakit akhirnya luruh membasahi pipinya. Benaknya mendadak riuh oleh badai pertanyaan yang saling tumpang tindih.
*S*ejak kapan Kaizar memiliki sketsa wajah ini?
Ingatan ini sama sekali tidak pernah ada dalam kehidupan lalunya. Di lini masa pertama, Zivara menghabiskan hidupnya dalam kesendirian yang sunyi sampai tragedi itu terjadi. Kaizar tidak pernah mencarinya, tidak pernah peduli, dan selalu menganggapnya sebagai pilihan kedua yang terpaksa dinikahi.
Keberadaan sketsa ini memutarbalikkan seluruh asumsi logis yang selama ini Zivara bangun dengan kokoh. Ini bukan lagi sekadar kasus di mana Kaizar mendadak mendapatkan ingatan masa depan saat terbangun di usia sembilan belas tahun. Bukti fisik di tangannya mengisyaratkan sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang emosional dan penuh penderitaan yang sengaja disembunyikan oleh pria itu di balik sikap protektifnya yang kaku belakangan ini.
Zivara menatap goresan pensil pada sketsa dirinya. Pertahanan batinnya yang selama ini sekokoh karang mulai retak di beberapa bagian. Rasa trauma menjadi nomor dua dan dinginnya penolakan Kaizar di masa lalu bergejolak hebat, berbenturan dengan kenyataan bahwa pria itu rela melompat ke arah kabel tegangan tinggi dan menyimpan duka sedalam ini di dalam dompetnya.
Apakah ini tandanya aku harus membuka kembali hatiku? Zivara bertanya pada kesunyian kamarnya sendiri. Apakah perubahan ekstrem, darah yang tumpah di rumah sakit, dan penyesalan yang tertulis di kertas ini sudah cukup untuk menjadi alasan bagiku memaafkan segala luka di masa lalu?
Jiwanya yang berusia tiga puluh tahun menuntut kehati-hatian, tetapi hatinya yang paling dalam tidak bisa membohongi rasa ngilu yang timbul melihat bagaimana takdir mereka kini saling mengunci satu sama lain dalam pusaran time rewind yang penuh misteri.
***
nungguin yx🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣