Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatihan Sang Predator
Cahaya temaram dari lampu meja kerja yang berkedip menjadi satu-satunya sumber penerangan di kamar apartemen sempit distrik pinggiran. Di atas meja kayu yang sudah mengelupas permukaannya, tumpukan berkas laporan keuangan tahunan Neovault berserakan seperti gunung kertas yang menuntut perhatian. Asha Valeska duduk tegak, membiarkan punggungnya yang pegal bersandar pada kursi kayu keras. Matanya yang merah karena kurang tidur tetap terpaku pada pergerakan angka-angka di layar tablet digital yang ia dapatkan dari pasar gelap.
"Lihat ini, Paman. Arlan menyembunyikan defisit logistik mereka di balik skema investasi anak perusahaan," suara Asha terdengar serak, namun ada nada ketajaman yang baru di sana.
Nelayan tua yang menolongnya, yang kini menjadi penghubung antara Asha dan jaringan bawah tanah, hanya mengembuskan asap rokoknya ke arah jendela yang terbuka. "Kau baru mempelajarinya tiga hari, Asha. Jangan terburu-buru menghancurkan kepalamu dengan angka-angka itu."
Asha menggeleng pelan, jemarinya yang masih terbalut perban tipis akibat penghapusan sidik jari tempo hari kini bergerak lincah menyapu layar. "Aku tidak punya waktu untuk bersikap lambat. Arlan akan terus membangun kekuatannya jika aku tidak segera menemukan celah di fondasi Neovault. Saham adalah jantungnya, dan aku harus tahu kapan jantung itu akan berdenyut paling lemah."
"Lalu, apa yang kau temukan dalam tumpukan angka yang membosankan itu?" tanya si nelayan sambil mendekat, menatap layar yang dipenuhi grafik merah dan hijau yang fluktuatif.
"Neovault terlihat perkasa dari luar, tapi mereka sangat bergantung pada sentimen publik. Sedikit saja guncangan pada kepercayaan investor, harga saham mereka akan terjun bebas," jelas Asha dengan nada datar. "Arlan terlalu percaya diri. Dia pikir posisinya tidak tersentuh karena dia baru saja menyingkirkan hambatan terbesarnya."
"Maksudmu, dirimu sendiri?" si nelayan menyeringai tipis di balik janggutnya yang kasar.
Asha terdiam sejenak, menatap bayangan dirinya yang samar di permukaan tablet yang gelap. "Asha Valeska yang malang adalah hambatan bagi citra perfeksionisnya. Sekarang, setelah dia merasa bebas, dia akan mulai melakukan manuver yang berisiko. Saat itulah aku akan masuk."
Asha mulai membedah satu per satu aset milik Neovault. Ia mempelajari bagaimana perusahaan itu memanipulasi opini pasar melalui media-media yang telah disuap oleh Arlan. Setiap malam, ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menghafal nama-nama pemegang saham mayoritas dan melacak ke mana aliran dana haram Arlan bermuara. Baginya, angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan peluru yang sedang ia kumpulkan satu demi satu ke dalam magasin senjatanya.
"Kau harus mulai melatih suaramu juga, Nyonya V," si nelayan mengingatkan sembari menunjuk sebuah alat perekam suara kecil di sudut meja. "Identitas barumu butuh wibawa, bukan getaran ketakutan."
Asha mengambil napas panjang, lalu menekan tombol rekam. "Nama saya adalah V. Saya di sini untuk melakukan penawaran yang tidak bisa Anda tolak."
Suaranya masih terdengar bergetar di bagian akhir, ada sisa-sisa trauma yang belum sepenuhnya hilang dari pita suaranya. Asha mengerang frustrasi dan segera menghapus rekaman tersebut. Bau keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat ia teringat bagaimana suara itu pernah memohon belas kasihan di bawah kaki Arlan.
"Ulangi lagi. Tekan suaramu ke bawah, gunakan diafragma. Hilangkan nada tinggi yang membuatmu terdengar seperti korban," instruksi si nelayan dengan tegas.
Asha memejamkan mata, membayangkan wajah Arlan yang sedang tertawa sombong di Menara Neovault. Rasa benci yang murni mulai merambat naik dari perutnya, memberikan kekuatan pada setiap inci otot lehernya. Ia mencoba lagi, kali ini dengan tatapan yang dingin ke arah dinding kosong.
"Saya adalah V. Penurunan saham ini hanyalah awal dari akhir bagi kalian ...." Suara itu terdengar lebih rendah, stabil, dan tanpa emosi yang meluap-luap.
"Lebih baik. Tapi kau masih terdengar terlalu manusiawi," kritik si nelayan. "V bukan manusia yang punya hati. V adalah mesin yang datang untuk menagih hutang. Jangan beri mereka celah untuk mengenali getaran di suaramu."
Asha mengangguk kecil. "Aku mengerti. Aku akan terus mencobanya sampai suaraku sendiri tidak kukenali lagi."
Sepanjang malam itu, Asha terus berlatih. Ia membaca laporan keuangan dengan suara keras, memastikan setiap intonasi yang keluar dari bibirnya terdengar berwibawa dan penuh ancaman yang tersirat. Ia belajar cara mengatur napas agar tidak terdengar terengah-engah saat berbicara panjang lebar tentang akuisisi perusahaan. Setiap kali getaran ketakutan muncul, ia akan mencubit bekas luka bakar di bahunya, menggunakan rasa sakit fisik untuk memutus koneksi emosionalnya dengan masa lalu.
"Arlan tidak akan mengenali suara ini, Paman. Suara Asha yang dulu memuja namanya sudah mati di dasar sungai," ujar Asha setelah ribuan kali percobaan.
"Bagus. Kau mulai terlihat seperti pemangsa sekarang," si nelayan memberikan sebuah map cokelat besar kepada Asha. "Ini adalah daftar pergerakan harian direksi Neovault. Kau harus tahu kapan mereka tidur dan kapan mereka makan."
Asha membuka map tersebut, matanya memindai jadwal padat mantan suaminya. "Dia akan mengadakan konferensi pers dalam dua hari ke depan untuk peluncuran proyek baru. Itu adalah momen di mana semua mata investor tertuju padanya."
"Kau berencana mengacaukannya?" tanya si nelayan dengan alis terangkat.
Asha menyandarkan punggungnya, matanya berkilat di bawah cahaya lampu. "Belum. Aku baru akan mulai mengamati dari balik bayangan. Aku harus memahami bagaimana dia bereaksi terhadap tekanan kecil sebelum aku memberikan serangan besar. Predator tidak pernah menerjang mangsanya tanpa mempelajari ritme jantung mangsa tersebut."
"Kau belajar dengan cepat, Asha. Atau haruskah aku memanggilmu V mulai sekarang?" nelayan itu terkekeh pelan.
"Panggil aku dengan nama apa pun yang membuatmu nyaman, Paman. Selama Arlan Valeska memanggilku sebagai kehancurannya, itu sudah cukup bagiku," sahut Asha dengan dingin.
Keesokan paginya, Asha mulai melakukan simulasi perdagangan saham menggunakan akun anonim di pasar gelap. Ia mencoba memanipulasi beberapa aset kecil untuk melihat bagaimana algoritma pertahanan Neovault bekerja. Bau kopi hitam yang pahit dan udara pagi yang dingin di distrik Rust menjadi saksi bisu transformasinya. Ia bukan lagi wanita yang menghabiskan waktu dengan memilih gaun pesta atau mengatur menu makan malam mewah.
"Lihat bagaimana mereka bereaksi terhadap penarikan modal di sektor logistik ini," Asha menunjukkan layar tabletnya kepada si nelayan yang baru saja kembali dari pelabuhan. "Sistem otomatis mereka sangat defensif. Arlan tidak mempercayai manusia untuk menjaga hartanya, dia lebih percaya pada mesin."
"Bukankah itu bagus untukmu? Mesin tidak punya insting, mereka hanya mengikuti logika," ujar si nelayan sambil menuangkan air ke dalam gelas plastik.
Asha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Benar. Dan logika bisa dimanipulasi jika kau tahu kode aksesnya. Aku akan masuk melalui celah emosional investor yang tidak bisa dibaca oleh mesin-mesin itu."
Sambil terus mempelajari grafik saham, Asha kembali melatih suaranya. Ia kini mulai berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin kecil yang retak. Ia memperhatikan setiap pergerakan bibirnya, memastikan tidak ada keraguan yang terpancar dari wajahnya. Ia belajar menahan diri agar tidak berkedip terlalu sering, menciptakan kesan bahwa ia selalu waspada dan tidak tergoyahkan.
"Apakah saya ... terdengar meyakinkan sekarang?" tanya Asha saat si nelayan sedang membersihkan senjatanya di sudut ruangan.
Nelayan itu terdiam sejenak, mendengarkan gema suara Asha di ruangan sempit itu. "Jika aku tidak tahu siapa kau, aku akan mengira kau adalah salah satu hiu dari pusat kota yang siap menelan siapa saja. Kau sudah berhasil menghilangkan getaran itu."
Asha merasa ada kepuasan aneh yang menjalar di hatinya. Kehilangan identitas lamanya ternyata memberinya kekuatan yang tidak pernah ia bayangkan. Tanpa beban sebagai seorang istri atau menantu yang tertindas, ia bisa berpikir jernih. Setiap angka yang ia pelajari menjadi fondasi bagi rencana besarnya. Setiap kata yang ia latih menjadi peluru bagi kehancuran Arlan.
"V akan menjadi mimpi buruk yang paling nyata bagi Neovault," bisik Asha pada pantulannya sendiri di cermin.
Ia kembali duduk di meja kerjanya, melanjutkan bedah kasus terhadap anak perusahaan Arlan yang bergerak di bidang energi. Ia menemukan fakta bahwa ada penggelapan dana besar-besaran yang ditutupi dengan laporan laba palsu. Celah ini sangat kecil, namun bagi seseorang yang sudah melatih matanya untuk melihat kebusukan, celah itu terlihat seperti lubang besar yang menganga.
"Arlan, kau terlalu ceroboh karena menganggap remeh orang-orang di sekitarmu," gumam Asha sambil menandai beberapa dokumen penting dengan tinta merah.
Malam kembali turun di distrik Rust, membawa kegelapan yang pekat dan suara bising pabrik-pabrik tua. Namun di dalam kamar apartemen itu, Asha tetap terjaga. Ia terus berlatih, terus belajar, dan terus menempa dirinya menjadi senjata yang paling mematikan. Predator tidak lahir dalam semalam, ia dibentuk oleh rasa sakit, dendam, dan kesabaran yang luar biasa.
"Paman, aku butuh akses lebih dalam ke forum investor privat," kata Asha tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Aku akan mencarikannya untukmu besok. Tapi sekarang, kau harus istirahat. V tidak bisa bertarung jika fisiknya ambruk," nasihat si nelayan sebelum mematikan lampu ruangan utama.
Asha tidak membantah. Ia mematikan tabletnya dan berbaring di atas tempat tidur yang keras. Di dalam kegelapan, ia kembali mengulang setiap kata yang telah ia latih hari ini. Ia memastikan bahwa saat ia bangun besok, tidak akan ada satu pun sisa dari Asha Valeska yang lemah yang tertinggal di dalam dirinya. Proses pelatihan ini baru saja dimulai, namun predator di dalam dirinya sudah mulai mengendus bau darah dari arah Menara Neovault.
"Selamat tidur, Arlan. Nikmatilah kemenanganmu yang singkat ini. Karena saat aku muncul, tidak akan ada lagi tempat bagimu untuk bersembunyi," batin Asha sebelum akhirnya matanya terpejam, membawa dendamnya ke dalam alam mimpi yang penuh dengan rencana sabotase.