Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.
Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.
Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 22
Panggilan yang Berbeda, Tapi Satu Hati
Hari-hari setelah kami kembali bekerja berjalan sangat teratur dan damai. Semua orang sudah terbiasa melihat kedekatan kami, dan tidak ada lagi pandangan yang aneh atau pertanyaan yang berlebihan. Yang terlihat hanyalah hubungan yang saling menghormati, saling mendukung, dan tetap menjaga batasan yang pantas di lingkungan kerja.
Namun, ada satu hal yang perlahan berubah — cara kami memanggil satu sama lain. Hal ini terlihat jelas saat kami sedang berdua saja, dan saat kami berada di depan orang lain.
Sore itu, saat jam kerja sudah selesai dan semua karyawan sudah pulang meninggalkan gedung, hanya tersisa aku dan Anindya yang masih duduk di pos jaga. Suasana sudah sepi, hanya terdengar suara angin yang berhembus melewati pepohonan di halaman. Cahaya matahari terbenam mulai meredup, menciptakan suasana yang tenang dan intim.
Anindya duduk di kursi di sampingku, menatapku dengan senyum lembut yang hanya dia tunjukkan saat kami berdua saja. Dia mencondongkan badannya sedikit ke arahku, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
“Kaito… sejak kita benar-benar saling mengakui perasaan, aku ingin memanggilmu dengan cara yang lebih dekat, tidak seperti saat kita baru saling kenal dulu,” katanya pelan. “Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan yang lebih istimewa?”
Aku menoleh dan menatap matanya, lalu tersenyum mengerti. “Tentu saja boleh. Selama itu datang dari hatimu, aku akan senang mendengarnya. Kamu mau memanggilku apa?”
Dia tersipu malu sebentar, lalu menarik napas pendek sebelum mengucapkannya dengan jelas dan lembut:
“Kalau kita berdua saja… bolehkah aku memanggilmu Mas? Rasanya lebih akrab, lebih dekat, dan terasa seperti kita sudah benar-benar menjadi satu keluarga.”
Jantungku terasa berdebar lebih kencang mendengar panggilan itu. Kata itu terdengar sederhana, tapi membawa makna yang sangat dalam — rasa hormat, keakraban, dan ikatan yang lebih erat dari sekadar pasangan biasa.
“Aku suka sekali panggilan itu,” jawabku sambil memegang tangannya dengan lembut. “Kalau begitu, bolehkah aku juga memanggilmu dengan sebutan yang lebih dekat saat kita berdua saja?”
“Boleh saja, panggil aku apa saja yang kamu suka,” jawabnya dengan pandangan penuh harap.
Aku menatapnya dalam-dalam, lalu mengucapkannya dengan nada yang hangat dan penuh kasih sayang:
“Kalau begitu, saat kita berdua saja… aku akan memanggilmu Nin. Lebih singkat, lebih dekat, dan hanya untuk aku saja. Bagaimana menurutmu?”
Wajahnya langsung berseri-seri mendengarnya. Dia tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia.
“Bagus sekali! Aku suka dipanggil Nin olehmu. Rasanya istimewa, hanya milik kita berdua saja,” ucapnya sambil meremas tanganku lebih erat.
Sejak saat itu, saat kami sedang sendirian — entah itu di dalam mobil, di rumah, atau di tempat sepi seperti ini — kami selalu menggunakan panggilan baru itu. Panggilan itu menjadi tanda bahwa di antara kami ada ikatan yang tidak bisa dilihat orang lain, tapi terasa sangat nyata di hati.
Namun, keesokan harinya, saat kami kembali masuk ke lingkungan kerja, semuanya berubah lagi. Kami sepakat bahwa di depan rekan-rekan kerja, panggilan harus tetap seperti biasa — sopan, pantas, dan sesuai dengan posisi masing-masing agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau perasaan tidak nyaman bagi orang lain.
Pagi itu, saat aku baru selesai memeriksa keamanan pintu gerbang, Anindya tiba dan turun dari mobilnya. Dia berjalan mendekat dengan sikap yang tenang dan profesional, sama seperti saat dia berbicara dengan karyawan lain.
“Selamat pagi, Pak Kaito. Semalam tidur nyenyak?” tanyanya dengan nada yang sopan dan jelas, persis seperti panggilan yang biasa didengar semua orang.
Aku segera menjawab dengan sikap yang sama, tetap menjaga kesopanan dan batasan kerja:
“Selamat pagi, Ibu Anindya. Tidur sangat nyenyak, terima kasih. Semua keadaan di dalam gedung aman dan tertib seperti biasa.”
Mendengar jawabanku, dia hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis — senyum yang hanya kami berdua mengerti maknanya. Dia lalu melanjutkan langkahnya menuju gedung, sementara aku kembali melanjutkan tugasku.
Tidak lama kemudian, Budi datang menghampiri dengan membawa segelas teh hangat. Dia mendengar percakapan tadi dan tersenyum geli.
“Wah, tetap sopan dan rapi ya panggilannya. Padahal aku tahu kalau di luar jam kerja pasti beda lagi,” katanya sambil tertawa pelan.
Aku ikut tersenyum dan mengangguk. “Memang begitu, Budi. Di tempat kerja, kita harus tetap menjaga sikap dan panggilan agar semua orang merasa nyaman. Tapi saat kita berdua saja, memang ada cara lain yang lebih dekat. Itu tidak bertentangan, kan?”
“Tentu saja tidak!” jawab Budi setuju. “Justru itu yang bagus. Kamu tetap tahu batasan dan tanggung jawabmu. Tidak sombong karena sudah dekat dengan pemilik perusahaan, dan tetap menjaga kewibawaan di tempat kerja.”
Siang harinya, saat jam istirahat tiba, Anindya datang lagi ke pos jaga. Kali ini ada beberapa karyawan lain yang sedang lewat dan berhenti menyapa. Maka, dia tetap menggunakan panggilan yang sama seperti biasa.
“Pak Kaito, ini aku bawakan makanan siang. Semoga cocok dengan seleramu,” katanya dengan nada yang sopan namun tetap ramah.
“Terima kasih banyak, Ibu Anindya. Terima kasih sudah repot-repot membawakan,” jawabku dengan sikap yang sama.
Setelah semua karyawan itu pergi dan kami berdua sudah duduk dengan tenang, tanpa ada orang lain yang melihat atau mendengar, dia langsung mengubah nada bicaranya dan panggilannya. Dia menoleh ke arahku dengan senyum yang lebih lembut dan akrab.
“Mas… rasanya aneh ya, baru saja memanggilmu ‘Pak Kaito’, sekarang sudah bisa memanggil ‘Mas’ lagi,” katanya sambil terkekeh kecil.
Aku tertawa mendengarnya, lalu mengulurkan tanganku menyentuh punggung tangannya yang tergeletak di meja.
“Iya, Nin. Tapi aku mengerti alasannya. Kalau di depan orang lain kita memanggil dengan sebutan yang terlalu akrab, nanti mereka merasa canggung atau tidak nyaman. Lebih baik kita tetap menjaga batasan, agar suasana kerja tetap harmonis dan tidak ada yang merasa dibedakan perlakuan,” jawabku dengan tenang.
Dia mengangguk setuju, matanya memandangku dengan pandangan penuh kekaguman.
“Kamu memang selalu berpikir dengan bijak. Aku setuju sekali. Panggilan apa pun yang kita gunakan, asalkan hati kita tetap satu, itu yang paling penting. ‘Pak Kaito’ atau ‘Mas’, ‘Ibu Anindya’ atau ‘Nin’ — semuanya tetap merujuk pada orang yang sama yang aku cintai.”
“Benar sekali,” jawabku lembut. “Panggilan hanyalah kata-kata. Yang terpenting adalah apa yang ada di dalam hati. Saat bekerja, kita adalah rekan kerja yang saling menghormati. Saat berdua saja, kita adalah pasangan yang saling menyayangi. Keduanya bisa berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.”
Dia tersenyum lebar, lalu menyandarkan kepalanya sebentar di bahuku dengan hati-hati agar tidak terlihat dari luar.
“Terima kasih sudah mengerti, Mas. Aku merasa sangat beruntung bisa bersamamu. Kamu membuat semuanya terasa mudah dan tepat.”
“Aku juga merasa sama, Nin. Bersamamu, aku belajar bagaimana menjadi orang yang lebih baik — tahu kapan harus tegas, kapan harus lembut, dan bagaimana menjaga kebahagiaan tanpa melupakan tanggung jawab,” jawabku dengan tulus.
Hari-hari pun terus berjalan dengan cara ini. Semua orang melihat kami sebagai rekan kerja yang profesional dan saling menghargai, tapi hanya kami berdua yang tahu ada panggilan khusus yang menjadi rahasia manis kami sendiri. Panggilan itu menjadi pengingat bahwa di balik tugas dan jabatan, ada hati yang saling terikat, ada cinta yang tumbuh dan dijaga dengan cara yang pantas dan indah.
Baik itu dipanggil dengan sebutan resmi atau sebutan yang penuh kasih sayang, satu hal yang tidak pernah berubah — rasa sayang dan kepercayaan yang selalu ada di antara kami, menguatkan setiap langkah yang kami ambil.