NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Daxon bersandar lebih santai di sofa, namun sorot matanya makin tajam bagai mata elang yang tak lengah sedikit pun. Suaranya berat dan datar, seolah menegaskan fakta yang tak terbantahkan.

“Walaupun aku belum menikah secara sah, mereka sebenarnya sudah mulai mencari tahu keberadaan Azalea di mansion ini. Apalagi Rigel—dia tidak akan diam saja sebelum berhasil mendapatkan sesuatu dari kediaman ini.”

Aldirc berhenti mencatat, pulpennya tergantung di udara. Kerutan di dahinya makin dalam saat nama itu disebut. Ia menatap Daxon serius.

“Rigel kalau dia sudah mengendus jejak, dia tidak akan berhenti sebelum merusak apa pun yang kau miliki—termasuk Azalea dan anak itu.”

Daxon mengangguk pelan, jari‑jarinya mengetuk pelan permukaan sofa—irama yang tenang tapi menyimpan ancaman dingin.

“Itulah kenapa aku tidak mau menunda lagi,” jawabnya tegas. “Pernikahan besok lusa bukan sekadar ikatan di atas kertas. Itu garis batas jelas, siapa pun yang berani mendekat, apalagi Rigel… harus siap menghadapi konsekuensinya.”

Daxon perlahan berdiri, langkahnya mantap menuju meja kerjanya, lalu tangannya meraih selembar dokumen bersampul gelap yang tersusun rapi di tumpukan paling atas. Suaranya berat, bercampur nada dingin dan kecewa saat ia kembali menoleh ke arah Aldirc.

“Kau tahu kan, dia dulu sahabat kita,” ucapnya pelan namun menusuk, jari telunjuknya mengetuk pelan kertas itu. “Tapi semuanya berubah sebab rasa iriannya padaku. Apa pun yang kumiliki, dia merasa harus dia dapatkan juga.”

Ia berhenti sejenak, rahangnya mengeras tajam membayangkan kemungkinan terburuk. Tatapannya menancap lurus ke manik mata Aldirc.

“Kalau sampai dia berani mengambil Azalea—begitupun anak‑anakku yang ada di kandungannya… aku sama sekali tidak akan rela, Aldirc.”

Aldirc menutup buku catatannya pelan, menatap lurus ke arah Daxon yang masih menggenggam dokumen itu erat. Nadanya lebih lembut, tak lagi sekadar bicara urusan bahaya.

“Aku tahu kau sangat mencintai Azalea. Sejak saat Azalea menyebut jika dia mempunyai kekasih… dari situlah aku merasakan ada sesuatu—kau tampak cemburu, terlihat jelas sekali. Hingga hari ini, baru aku benar‑benar paham semuanya.”

Daxon diam sejenak, genggamannya melunak perlahan, sorot matanya yang biasanya tajam perlahan melembut mengingat masa itu. Ia berbalik memunggungi lampu meja, bayangannya memanjang di lantai ruang kerja. Tak ada penyangkalan keluar dari mulutnya—hanya hening yang menguatkan ucapan Aldirc.

Daxon kembali duduk di pinggiran meja, dokumen itu diletakkan sembarang di sebelahnya. Suaranya lebih pelan, seolah bicara lebih banyak pada dirinya sendiri daripada pada Aldirc.

“Aku juga heran,” ucapnya sambil menunduk sedikit, pandangannya menerawang jauh. “Kenapa aku bisa mencintainya? Padahal awal yang kurencanakan cuma satu—aku hanya butuh pewaris.”

Ia menggeleng pelan, raut wajahnya tak lagi sekeras sebelumnya. Ingatannya melayang pada sikap keras kepala Azalea, omelan tajamnya sekaligus momen saat wanita itu diam‑diam bermanja padanya—semua hal yang tak ada di rencana awalnya.

“Kukira cuma transaksi, ikatan sesaat sampai anak lahir,” sambungnya pelan, nada dinginnya meleleh perlahan. “Tapi dia masuk begitu saja, mengacaukan semuanya sampai aku tidak peduli lagi soal rencana lama. Sekarang… dia dan anak itu adalah segalanya.”

Aldirc tersenyum tipis, lalu bangkit berdiri perlahan. Ia melangkah mendekat dan menepuk bahu Daxon dengan tegas namun hangat—sahabat setia yang tak berubah meski dunia di luar sana makin berbahaya.

“Aku paham,” ucapnya tenang, sorot matanya serius dan mantap. “Tapi ingat satu hal, apa pun keputusanmu, aku akan selalu berdiri di sisimu dan mendukungmu.”

Daxon mengangkat wajah, sedikit mengerutkan sudut bibirnya seolah menyimpan rasa terima kasih yang sulit diucapkan. Ia menepuk balik bahu Aldirc sekilas, kembali tegap, siap menjalani rencana pernikahan besok lusa sekaligus menghadapi segala ancaman yang datang—mulai dari Rigel hingga keluarganya sendiri.

...****************...

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai jendela. Azalea perlahan membuka mata, mendapati Daxon masih tertidur nyenyak di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Senyum jahil perlahan terukir di bibir Azalea, ia bergerak sangat pelan agar tak membangunkan lelaki itu, turun dari kasur beralaskan karpet empuk, lalu berjalan menuju meja rias. Tangannya meraba dan mengambil lipstik berwarna merah menyala, lalu kembali berjalan pelan‑pelan ke tepi kasur dan naik lagi dengan hati‑hati.

Azalea membuka penutup lipstik itu dan mengoleskannya tebal di bibirnya. Begitu siap, ia menunduk perlahan mendekati wajah Daxon—mencium dahi, pipi kiri, pipi kanan, bahkan ujung rahang hingga dagu lelaki itu, meninggalkan jejak cetakan bibir merah di seluruh permukaan wajahnya.

Gerakan kecil itu akhirnya membangunkan Daxon. Ia membuka mata perlahan dan tepat melihat Azalea yang baru saja hendak berbalik tubuh untuk turun kembali.

Belum sempat lelaki itu bersuara, Azalea tertawa kecil dan berbalik lari kecil menuju kamar mandi, menutup pintu rapat‑rapat di belakangnya.

Hati Daxon seketika berubah cemas, ia mengingat bagaimana Azalea sering mual dan muntah karena kehamilannya. Ia langsung bangkit dari kasur, mengabaikan rambutnya yang berantakan dan ia tidak menyadari jika jejak bibir merah yang menghiasi wajahnya, lalu bergegas berdiri menunggu tepat di depan pintu kamar mandi. Tangannya terangkat hendak mengetuk, napasnya tak tenang, telinganya menempel mendengarkan apa yang terjadi di balik pintu.

Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Azalea melangkah keluar sambil menahan tawa bahunya sedikit berguncang, sudut bibirnya masih tersenyum menahan geli.

Daxon segera melangkah mendekat, sorot matanya masih menyisakan kekhawatiran, meski ia tidak menyadari jejak bibir merah yang berantakan menempel di seluruh wajahnya.

“Apa kamu tidak apa‑apa?” tanyanya cemas, tangannya hampir menyentuh lengan Azalea. “Apa kamu muntah lagi?”

Azalea menggeleng pelan, menunduk sebentar lalu menatap wajah Daxon sambil terkekeh pelan. “Aku tidak apa‑apa,” jawabnya berusaha serius tapi gagal. “Hanya saja tadi aku ingin mencuci wajah…” ucapnya, lalu tawa kecil itu kembali lolos, matanya berbinar geli melihat rupa Daxon yang penuh cap bibir merah.

Daxon masih menatap bingung saat Azalea terkekeh pelan menahan geli, tak sadar jejak bibir merah itu masih melekat jelas di dahi, pipi, hingga dagunya.

“Kamu kenapa ketawa?” tanyanya datar, tangannya sempat mengusap wajah asal tapi tak menghapus apa‑apa.

Azalea menahan senyum melebar, berusaha terlihat wajar meski matanya berbinar jenaka. “Tidak ada… hanya saja hari ini kamu sangat lucu,” jawabnya santai lalu berbalik melangkah ringan. “Ya sudah, ayo kita pergi sarapan dulu, aku lapar.”

Daxon mengangguk pasrah, masih tak mengerti sepenuhnya. “Ya sudah, ayo,” jawabnya singkat, lalu berjalan beriringan di belakang Azalea menuju ruang makan—tak sadar penampilan lucunya bakal jadi tawa pelayan.

Mereka berjalan berdampingan menuju ruang makan. Setiap pelayan yang sedang mengelap meja atau menyapu lantai langsung menunduk, bahu mereka bergetar halus berusaha keras menahan tawa, mata tak berani menatap lurus ke wajah Daxon. Ia makin bingung, dahinya berkerut—berulang kali menyeka pipi dan dahi dengan punggung tangan, tapi jejak merah lipstik itu tak kunjung hilang.​

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
sari dan aldrich bakal jadi pasangan kocak nih🤣🤣🤣
Mia Camelia
thor, kapan daxon pulang ?🤔🤔🤔kasian azalea kesepian gitu😔
Risa Virgo Always Beau
Daxon perhatian banget sampai membukakan pintu buat Azalea
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea mau menemui ibunya Daxon keren deh
Risa Virgo Always Beau
Daxon ngga sadar wajahnya penuh bibir merahnya Azalea
Risa Virgo Always Beau
Tenyata Daxon ingin menikahi Azalea serta melindungi Azalea dan darah dagingnya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Azalea sebenarnya Daxon itu orang baik walau dia mafia
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea itu hamil kembar wah senang banget deh
Risa Virgo Always Beau
Azalea kasihan Daxon tuh dia cemburu
Risa Virgo Always Beau
Wah Azalea pasti kecewa dengan Daxon deh
Risa Virgo Always Beau
Azalea ternyata Daxon mengutarakan isi hatinya kepada kamu
Risa Virgo Always Beau
Daxon kamu perhatian banget ke Azalea ya
Risa Virgo Always Beau
Daxon perhatian sekali ke Azalea sampai menyuapi Azalea bubur
Risa Virgo Always Beau
Wah Daxon sadis juga ke orang yang melukai Azalea dan anaknya
Risa Virgo Always Beau
Valeria kamu wanita kejam banget kalau anaknya Daxon keguguran kamu bakal di hajar
Risa Virgo Always Beau
Wah Daxon sosweet juga ya ke Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon sudah mencintai Azalea ya sepertinya
Risa Virgo Always Beau
Ibunya Daxon kejam banget membunuh ayahnya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Daxon pasti senang karena di suapi sate oleh Azalea
Risa Virgo Always Beau
Aldric kamu jangan penakut dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!