Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tertidur di sofa
Yukari tersenyum lega melihat gurat ketegangan di wajah Akira perlahan mulai mengendur. Untuk mengalihkan sisa-sisa atmosfer berat di antara mereka, dia berdiri dari kursi dan melirik sekilas ke arah tangga kayu di sudut dekat bak cuci yang mengarah ke langit-langit.
"Teh lemonnya sudah habis," ujar Yukari dengan nada kasual yang menenangkan. "Kalau kau tidak keberatan... mau melihat lantai atas? Di sana tempat tinggal sederhanaku. Angin sore di atas biasanya jauh lebih segar."
Akira mendongak, menatap anak tangga kayu yang tampak kokoh tersebut. Dia terkekeh kecil, sebuah tawa tipis yang akhirnya terdengar lepas. "Boleh, kalau tidak merepotkan."
Yukari berjalan menaiki tangga terlebih dahulu dengan langkah ringan, diikuti oleh Akira di belakangnya. Begitu menginjakkan kaki di lantai dua, Akira langsung menghentikan langkahnya sejenak. Berbeda dengan lantai bawah yang dipenuhi aroma buku tua dan kesan formal, lantai atas ini memancarkan kehangatan sebuah hunian yang sangat terawat.
Sebuah sofa panjang berwarna krem diletakkan menghadap televisi di tengah ruangan. Di sudut lain, berdiri rak kayu tinggi yang dipenuhi oleh deretan bingkai foto keluarga. Sementara di sisi paling ujung, sebuah tempat tidur sederhana dengan seprai putih bersih tampak tertata rapi.
Yukari berjalan menuju jendela kaca yang besar, membuka gorden kainnya, lalu mendorong daun jendelanya lebar-lebar.
"Duduklah dulu, Akira-san," ajaknya hangat.
Akira melangkah menuju sofa krem dan mendudukkan dirinya di sana. Dia menyandarkan punggungnya, lalu mengembuskan napas panjang. Anehnya, di ruangan kecil ini, dia benar-benar bisa bernapas dengan lega tanpa ada rasa sesak yang menyiksa dadanya lagi akibat kejadian tadi.
Yukari yang ikut duduk di ujung sofa memperhatikan perubahan ekspresi Akira yang mulai rileks. "Nyaman, kan?" tanyanya dengan nada bangga yang khas. "Ruangan ini memang sangat sederhana, tapi setiap kali aku pulang dalam keadaan lelah setelah bekerja di kota, tempat inilah yang selalu berhasil mengembalikan energiku."
"Ya, tempat ini sangat menenangkan," aku Akira jujur.
Embusan angin sore yang sejuk masuk melalui jendela besar yang baru saja dibuka oleh Yukari, menerpa wajah dan menyelisik rambutnya.
Kehangatan ruangan, aroma sisa teh lemon, dan angin yang sedikit demi sedikit meredakan ketegangan di saraf-saraf kepalanya. Efek dari ledakan amarah beberapa saat lalu mendadak menguras seluruh energi di tubuhnya. Kedua kelopak mata Akira terasa teramat berat, hingga akhirnya, pria itu perlahan terpejam dan tertidur pulas dalam posisi bersandar.
Yukari memandang wajah Akira yang kini tampak begitu damai dalam tidurnya. Tidak ada lagi kerutan amarah atau binar ketakutan; yang tersisa hanyalah kepasrahan seorang pria yang akhirnya menemukan tempat aman untuk beristirahat.
Tidak ingin mengganggu Yukari berjalan berjinjit dengan sangat pelan menuju meja sudut. Dia mengambil paket yang tadi mereka ambil dari kantor ekspedisi, lalu membukanya tanpa menimbulkan suara kemudian ia duduk di ujung sofa yang jauh dari Akira, mulai membaca dalam keheningan sore.
Namun, fokus Yukari tidak bertahan lama pada lembaran buku barunya. Pandangannya berulang kali teralih pada sosok Akira. Saat itulah, matanya tidak sengaja menangkap sudut sebuah benda yang familier, menyembul sedikit dari balik kantong jaket kulit yang dikenakan Akira.
Sebuah buku catatan kecil berwarna kuning.
Bibirnya melengkung tipis, kalau Akira selalu membawa buku kuning pemberiannya itu ke mana pun pria itu pergi. Bahkan di saat sedang tertidur pulas seperti ini, buku itu tetap berada di dekatnya.
Dengan sangat perlahan ia mengambil buku catatan kuning tersebut secara diam-diam agar sang pemilik tidak terbangun. Akira hanya melenguh pelan, mengubah posisi tidurnya sedikit tanpa membuka mata.
Yukari mengembuskan napas lega. Dia meletakkan buku kuning itu ke meja kecil didepannya, mengambil sebuah pena, lalu mulai menggoreskan tulisan tangan di lembaran ke lima. Dia ingin mengabadikan setiap jengkal kenangan hari ini
Di bawah barisan kalimat tulus yang ditulisnya, Yukari membuka laci mejanya. Dia mengambil sebuah stempel kayu kecil miliknya dengan motif hanko berbentuk rumah tempat di mana Akira akhirnya meletakkan sebagian beban hidupnya.
Yukari menutup buku kuning itu perlahan, lalu menoleh kembali ke arah sofa. Di sana, Akira masih tertidur dengan sangat pulas.
...----------------...
Waktu merambat pelan hingga jarum jam menunjukkan pukul empat sore. Sinar matahari di luar masih benderang, menyiram Kota Aoyama dengan warna kuning keemasan yang hangat.
Di tengah lelapnya tidur hidung Akira tiba-tiba kembang kempis. Sebuah aroma masakan yang sangat tajam dan gurih menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Aroma itu merayap naik dari celah tangga kayu, memenuhi seluruh ruangan di lantai dua.
Kelopak mata Akira seketika terbuka lebar. Kesadarannya tersentak penuh bukan karena dia sudah segar, melainkan karena sebuah alarm bahaya mendadak berdering di dalam kepalanya. Aroma masakan yang begitu kuat ini langsung memicu memori bawah sadarnya tentang bagaimana payahnya kemampuan memasak gadis pemilik perpustakaan ini.
Dalam sekejap, ingatan Akira berputar pada semangkuk bubur hambar yang diberikan Yukari saat dia pertama kali ditemukan sekarat Lalu bayangan tentang nasi goreng yang gosong
"Jangan-jangan..." gumam Akira dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Rasa panik mendadak menyergap jiwanya. Takut jika dapur bawah milik Yukari kembali mengalami bencana kuliner, Dia langsung melompat berdiri dari sofa. Tanpa sempat memeriksa pakaian atau meraba kantong jaketnya, pria itu setengah berlari melintasi ruangan dan bergegas menuruni tangga kayu dengan langkah yang tergesa-gesa.
Namun, begitu menginjakkan kaki di lantai bawah dan berbelok ke arah dapur, langkah kaki Akira mendadak terkunci mati. Matanya membelalak menatap pemandangan di depannya.
Tidak ada asap tebal yang membubung. Tidak ada bau gosong yang menyengat.
Di balik konter dapur, Yukari sedang berdiri dengan anggun sembari memegang sepasang sumpit kayu. Di atas meja makan sederhana, sudah tersaji dua mangkuk mi instan kuah yang masih mengepulkan uap panas. Aroma gurih yang membangunkannya tadi ternyata berasal dari sana.
Mendengar suara deru langkah kaki yang terburu-buru, Yukari menoleh dengan wajah terkejut. "Ah, Akira-san! Kau sudah bangun?" Dia berkedip polos, lalu tersenyum agak canggung. "Kenapa wajah mu panik begitu?"
Akira mengembuskan napas panjang yang tertahan di dadanya. Bahunya yang sempat tegang seketika merosot turun. Dia menatap dua mangkuk mi instan itu dengan pandangan tak percaya, lalu beralih menatap wajah Yukari yang tampak tanpa dosa.
"Kalau hanya memasak mi instan, sepertinya aman" batin Akira dalam hati.
Akira melangkah mendekat ke meja makan, mencoba menyembunyikan senyum gelinya. "Ayo kita makan " yukari menyodorkan mangkuk didepan kursinya
"Dan lihat ini..." Yukari menunjuk bangga ke arah permukaan kuah mi dengan sumpit. "...aku bahkan mencoba membuat telur setengah matang yang estetik seperti di kedai-kedai ramen Tokyo."
Akira menurunkan pandangannya, meneliti mahakarya yang dimaksud Yukari. Di atas gundukan mi, terdapat sebutir telur rebus yang bentuknya sudah tidak karuan. Bagian putihnya tampak robek di sana-sini, dan bagian kuningnya yang berniat dibuat setengah matang justru sudah pecah duluan, meleleh dan bercampur acak-acakan dengan kuah kaldu.
"Tadi... niatnya mau kubuat setengah matang yang sempurna," cicit Yukari, nada suaranya perlahan mengecil saat menyadari hasil masakannya memang tidak seindah bayangannya. "Tapi pas mau kupindahkan ke mangkuk, telurnya malah pecah dan ambyar ke mana-mana."
Melihat ekspresi cemberut dan pasrah di wajah gadis itu, pertahanan Akira runtuh. Pria itu tidak bisa lagi menahan tawa ringannya. Sebuah tawa renyah yang terdengar sangat lepas, memecah sisa-sisa kecanggungan yang sempat ditinggalkan oleh konflik masa lalunya beberapa jam lalu.
"Tidak apa-apa," ujar Akira sembari menarik kursi kayu dan duduk di hadapan mangkuknya. Dia mengambil sumpit dari tangan Yukari. "Meskipun telurnya pecah, kuah mi instan ini justru jadi lebih kental dan gurih. Terima kasih atas makanannya."
Yukari yang tadinya sempat merajuk, seketika ikut tersenyum lebar melihat Akira mulai menyantap masakan daruratnya dengan lahap. Mereka berdua akhirnya menikmati makanan sore itu dalam suasana yang sangat cair. Suara dentingan sumpit dan obrolan ringan tentang rasa mi instan lokal memenuhi dapur, menghapus sepenuhnya sisa-sisa kehadiran Haruka dari tempat itu.
***
Setelah selesai makan dan membantu Yukari mencuci mangkuk-mangkuk kosong di bak cuci, Akira berjalan menuju pintu depan dan melirik ke arah luar. Jam di dinding menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit sore. Langit di atas Aoyama masih tampak cerah benderang, memancarkan bias cahaya kuning bersih yang menenangkan.
"Yukari-san," panggil Akira sembari membalikkan badan dan merapikan letak kerah jaket kulitnya. "Mumpung masih sore, sebaiknya kita segera pulang ke Oku-Niko."
Yukari yang sedang mengelap permukaan meja makan mendongak, lalu mengangguk setuju. "Kau benar, Akira-san, bisa tolong tutupi dan kuncijendela kamar ku sekalian? "
"Tentu," jawab Akira lugas.
Pria itu kembali melangkah menaiki anak tangga kayu menuju lantai dua. Begitu ia mendekati jendela kaca besar yang masih terbuka lebar. Angin sore bertiup lembut, menerpa wajahnya saat dia menjangkau daun jendela.
Sebelum menutupnya, Akira sempat tertegun selama beberapa detik. Dia menatap hamparan pemandangan dari ketinggian lantai dua, lalu beralih menatap langit sore jam empat yang begitu bersih tanpa noda awan hitam. Perasaannya saat ini terasa begitu sinkron dengan alam di luar—bersih, lapang, dan tidak ada lagi rasa sesak yang menghimpit paru-parunya.
Klik.
Akira mengunci slot jendela tersebut dengan rapat. Namun, tepat saat dia hendak turun, Ia tidak sengaja melirik Sebuah buku kuning, tergeletak di atas meja kecil di samping sofa krem.
Dahi Akira berkerut halus tiba-tiba tangan kanannya langsung meraba kantong bagian dalam jaket kulit yang dikenakannya. Kosong.
Sudut bibirnya berkedut tipis. "Oh... jadi gadis itu mengambilnya diam-diam saat aku tertidur tadi," batinnya menyadari taktik licik nan manis dari yukari.
Didorong oleh rasa penasaran Akira melangkah mendekati meja, membuka tiap lembaran dengan perlahan. Jari-nya berhenti di halaman kelima, di mana barisan kalimat baru tertulis dengan guratan tinta hitam
Akira menurunkan pandangannya, membaca judul yang tertera Di bagian atas halaman, Yukari menuliskan judul untuk bagian ini:
Halaman Kelima
Judul : "Sepotong Sore, di mana kau berhenti berlari dan menolak untuk mati"
LULUS 🏠
Tepat di bawah deretan tulisan tangan itu, sebuah cap hanko berbentuk motif rumah terukir dengan sangat simetris dan rapi sebagai penutup cerita hari ini.
Akira terpaku diam di tempatnya berdiri. Sepasang matanya menatap lekat kata demi kata yang ditulis oleh Yukari. Kalimat pendek itu menghantam relung hatinya dengan cara yang teramat lembut namun sangat dalam. Judul itu seolah menegaskan bahwa pelariannya selama ini dari kejaran rasa bersalah, trauma perceraian, dan bayang-bayang Haruka telah resmi berakhir di tempat ini—di atas sofa sederhana ini, di bawah perlindungan rumah tua milik gadis yang menolak membiarkannya mati.
Sebuah senyuman lebar yang teramat tulus dan hangat perlahan terukir di wajah tampan Takagi Akira. Dadanya tidak lagi terasa kosong. Ada secercah harapan baru yang kini tertanam kuat di sana.
"Akira-san! Kau sudah selesai?"
Suara panggilan Yukari yang terdengar nyaring dan ceria dari arah perpustakaan bawah seketika memecah keheningan di lantai dua, membuyarkan lamunan Akira. Atmosfer tempat itu telah sepenuhnya kembali normal dan dipenuhi energi positif.
"Ya! Aku turun sekarang!" sahut Akira setengah berteriak.
Dengan gerakan cepat namun hati-hati, Akira menutup buku kuning tersebut. Dia menyelipkannya kembali ke dalam saku bagian dalam jaket kulitnya, menepuknya sekali seolah sedang menyimpan barang paling berharga di dunia, lalu melangkah lebar menuruni tangga kayu untuk memulai perjalanan pulang mereka menuju Oku-Niko.