NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Tubuh

Rahasia Dua Tubuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.

Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.

Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.

"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Big Bang (2)

Suara deru mesin beberapa sepeda motor bergema membelah keheningan malam di jalanan sektor timur kota Surabaya. Gerimis yang tadinya hanya rintikan halus kini mulai berubah menjadi tetesan air yang cukup deras, menghantam aspal jalanan dan memantulkan cahaya lampu neon dari ruko-ruko yang sudah tutup.

Di atas motor-motor itu, Galang memimpin barisan dengan ekspresi wajah yang mengeras. Di belakangnya, Evan dan belasan anggota inti Big Bang mengikuti dengan tatapan penuh amarah yang tertahan.

Jaket hitam berlogo besar di punggung mereka berkibar diterpa angin malam, seolah menjadi simbol perlawanan terakhir dari kelompok yang tengah berada di ambang kehancuran.

Tak lama kemudian, mereka tiba di pos penjagaan sektor timur. Pemandangan di depan mata membuat darah Galang mendidih seketika.

Lapak-lapak milik pedagang kecil yang selama ini berada di bawah perlindungan dan jaminan keamanan Big Bang tampak porak-poranda. Kotak kayu berserakan, buah-buahan terinjak-injak di atas genangan air hujan, dan beberapa papan warung hancur berkeping-keping.

Di tengah reruntuhan itu, berdiri empat orang pria bertubuh tegap mengenakan jaket seragam dengan lambang taring serigala—tanda khas anak buah langsung dari Danu dan Dani.

Mereka sedang tertawa lepas sambil merokok, seolah baru saja menikmati pertunjukan yang menyenangkan.

"Wih, lihat siapa yang datang," ucap salah satu pria berbadan gempal sambil membuang puntung rokoknya ke genangan air.

Namanya Roni, salah satu algojo kepercayaan Danu dan Dani di wilayah ini.

"Ketua Big Bang yang terhormat akhirnya datang juga setelah membiarkan anak buahnya gemetar ketakutan."

Galang menghentikan motornya dengan kasar, lalu mematikan mesin. Ia turun perlahan, langkah kakinya berat namun mantap menapaki aspal basah.

Di belakangnya, Evan dan anak buah Big Bang lainnya turun secara serentak, menciptakan suara hantaman sepatu boot di atas genangan yang terdengar seragam dan mengintimidasi.

"Roni," panggil Galang dengan suara rendah namun penuh tekanan yang membuat bulu kuduk merinding. "Kalian sudah melewati batas."

Roni terkekeh meremehkan. Ia melangkah maju, meludah ke samping sebelum menatap Galang tepat di mata. "Batas? Batas apa, Galang? Kelompok kalian sendiri yang melampaui batas karena terlambat membayar setoran upeti selama dua hari! Jangan salahkan kami kalau wilayah ini mulai dibersihkan dari sampah-sampah tidak berguna seperti kalian."

Mendengar kata "sampah", Evan langsung maju selangkah, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih menahan emosi.

"Jaga mulut bajingan itu, Ron! Kalian cuma sekumpulan hyena yang besar karena bernaung di bawah nama besar Four Men Crew!"

Roni menoleh ke arah Evan, lalu tertawa terbahak-bahak. "Oh, lihat siapa yang bicara. Anak kemarin sore sok pahlawan. Asal kalian tahu ya, tanpa perlindungan dari aliansi, Big Bang itu bukan apa-apa! Tanpa Indra yang entah lari ke lubang mana, kalian cuma sekelompok pecundang yang tinggal menunggu waktu untuk digulung habis!"

Suasana di tempat itu seketika menjadi sangat panas. Ujian kesabaran Galang telah mencapai puncaknya. Nama Indra yang diungkit-ungkit dengan nada merendahkan oleh Roni adalah garis merah yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun.

Galang mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada Evan dan anak buahnya untuk tidak gegabah maju, sementara ia sendiri melangkah lebih dekat ke arah Roni. Tatapan mata Galang yang dihiasi garis bekas luka di wajahnya kini menyorotkan kemunafikan dan kemarahan yang luar biasa.

"Lu boleh hina gue, lu boleh hancurkan markas kita, tapi lu nggak punya hak sedikit pun untuk merendahkan orang yang sudah meletakkan fondasi di kelompok ini," ucap Galang penuh penekanan di setiap suku kata.

Suaranya terdengar berat dan mengerikan di tengah deru hujan.

Roni mendengus, merasa tertantang. Ia mengangkat dagunya sombong. "Kenapa? Mau marah? Kalau bos kalian yang agung itu memang hebat, kenapa dia kabur seperti pengecut dan meninggalkan kalian menderita di bawah tekanan kami? Hah?"

"Bugh!"

Tanpa aba-aba, sebuah pukulan telak meluncur dari tangan kanan Galang dan menghantam rahang Roni dengan kecepatan kilat. Kekuatan hantaman itu membuat Roni terhuyung ke belakang, hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya tersungkur ke atas genangan air kotor.

"Bangsat! Serang mereka!" teriak Roni histeris sambil memegang rahangnya yang langsung membiru dan mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.

Mendengar komando tersebut, tiga orang anak buah Roni langsung menerjang maju dengan beringas, mengeluarkan pipa besi dari balik jaket mereka.

Namun, anak-anak buah Big Bang tidak tinggal diam. Dipimpin oleh Evan, mereka menyambut serangan itu dengan semangat solidaritas yang membara.

"Ingat prinsip kita! Jangan biarkan kawan kita terluka sendirian!" teriak Evan lantang, membakar semangat seluruh anggota Big Bang yang langsung berhamburan melakukan perlawanan.

Pertempuran jalanan di bawah guyuran hujan lebat tidak dapat dielakkan lagi. Suara benturan besi, teriakan amarah, dan cipratan air hujan bercampur aduk menjadi satu.

Meskipun jumlah anak buah Danu dan Dani sedikit lebih terlatih dalam hal pengeroyokan brutal, anak-anak buah Big Bang bertarung dengan determinasi yang berbeda sebuah determinasi yang lahir dari rasa frustrasi, harga diri, dan loyalitas terhadap kelompok yang telah membesarkan nama mereka.

Evan menepis ayunan pipa besi seorang penyerang dengan tangkisan lengannya, lalu membalas dengan hantaman sikut yang telak mengenai dada lawannya hingga terpental mundur. Di sisi lain, Galang bergerak seperti banteng mengamuk. Ia menghadapi dua orang sekaligus tanpa gentar.

Pukulan-pukulan kerasnya merobohkan pertahanan lawan satu per satu, menunjukkan mengapa ia dipercaya memegang kepemimpinan Big Bang di masa-masa paling kritis ini.

Roni, yang berhasil bangkit dengan wajah penuh amarah dan rasa malu, mencabut sebilah pisau lipat dari saku jaketnya.

Matanya melotot tajam menatap punggung Galang yang sedang sibuk melumpuhkan lawan di dekatnya.

"Mati kamu, Galang!" teriak Roni sambil berlari kencang menerjang ke arah punggung Galang dari belakang.

Evan, yang melihat kejadian itu dari jarak beberapa meter, membelalakkan matanya ngeri. Jaraknya terlalu jauh untuk bisa menghentikan Roni secara langsung.

"Bang Galang, awas di belakang!" seru Evan dengan suara melengking di antara deru hujan.

Namun, insting jalanan Galang yang telah diasah selama bertahun-tahun tidak bisa dibohongi. Tepat sepersekian detik sebelum pisau itu menancap, Galang memutar tubuhnya dengan cepat. Ia berhasil menghindari tusukan mematikan itu, meski ujung pisau sempat merobek sedikit kain jaket di sisi rusuknya.

Sebelum Roni sempat menarik pendaran tangannya untuk menusuk kembali, Galang dengan sigap menangkap pergelangan tangan musuhnya. Dengan tenaga penuh yang didorong oleh amarah membara, Galang memutar tangan Roni ke belakang sambil menghantamkan lututnya tepat ke perut bagian tengah.

"Ukh!"

Roni mendesah tertahan, napasnya seketika terenggut habis.

Tubuhnya melemah dalam sekejap. Galang tidak membuang waktu ia melepaskan cengkeramannya lalu memberikan satu pukulan penutup berupa hantaman telak ke arah wajah Roni yang membuat pria bertubuh gempal itu jatuh pingsan seketika ke atas aspal basah.

Pertempuran itu berakhir dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Keempat anak buah Danu dan Dani kini terkapar tak berdaya di atas tanah, merintih kesakitan akibat luka lebam di seluruh tubuh mereka.

Galang berdiri tegak di tengah-tengah sisa pertempuran, napasnya memburu naik turun. Ia menyeka darah kecil yang menetes di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu menatap tajam ke arah Roni yang tergeletak tak sadarkan diri di dekat kakinya.

Evan dan anggota Big Bang lainnya mendekat, berdiri mengelilingi sang ketua dengan napas tersenggal-senggal namun sorot mata memancarkan kemenangan kecil yang sudah lama tidak mereka rasakan.

"Kalian dengar baik-baik," ucap Galang dengan suara lantang yang didengar oleh seluruh anak buahnya serta musuh yang masih sadar.

"Sampaikan pesan ini ke Danu dan Dani. Big Bang mungkin sedang jatuh, tapi kami tidak akan pernah berlutut di hadapan pengecut seperti kalian! Wilayah ini adalah rumah kami, dan siapa pun yang berani menginjaknya lagi akan berurusan langsung dengan nyawa kami!"

Mendengar ancaman dingin itu, anak buah Roni yang masih bisa bergerak merangkak ketakutan, lalu memapah rekan-rekan mereka yang pingsan untuk segera kabur

meninggalkan lokasi kejadian menggunakan motor tersisa dengan kecepatan tinggi.

Keheningan kembali menyelimuti sektor timur, menyisakan suara deru hujan yang perlahan mulai mereda menjadi gerimis kecil.

Evan melangkah mendekati Galang, menepuk pelan bahu sang ketua sambil tersenyum tipis di balik wajahnya yang lebam.

"Kita menang malam ini, Bang. Danu dan Dani pasti akan berpikir dua kali sebelum mengirim orang lagi ke sini."

Galang mengangguk pelan, meski ia tahu kemenangan kecil ini hanyalah awal dari badai yang jauh lebih besar yang akan datang dari pimpinan Four Men Crew.

Namun, melihat semangat anak buahnya yang kembali menyala, ia merasa ada secercah harapan di kegelapan malam ini—bahwa selama api solidaritas itu masih dijaga, Big Bang tidak akan pernah benar-benar mati.

1
Jian Fitriana
jangan lama’ thor update nya 🤭
rey
semangat thor 🔥🔥
RR
halo teman-teman sekalian. tolong bantu berikan ulasan yaa agar saya lebih semangat untuk memberikan tulisan-tulisan terbaik. jangan lupa like nya terimakasih
rey: semangat thor 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!