Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rebah di Langit Jakarta
Suasana hangat di dalam restoran steak itu perlahan mulai mereda seiring dengan jarum jam yang terus berputar. Ayura dan Aruna, yang tadinya sangat berisik menceritakan kegiatan sekolah mereka, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Mata bulat mereka mulai sayu, dan beberapa kali mereka menyandarkan kepala di bahu Joo dan Elena. "Sepertinya si kembar sudah mencapai batas energinya, Sayang," bisik Elena sembari mengusap pipi Aruna yang mulai menguap lebar. Joo melirik jam tangannya yang menunjukkan tepat pukul tujuh malam. "Iya, petualangan hari ini cukup sampai di sini. Kita harus membawa mereka pulang sebelum mereka benar-benar tertidur di atas meja."
Mendengar kata 'pulang', Luna seolah diingatkan kembali pada kondisi fisiknya sendiri. Rasa pegal yang tadi sempat terlupakan karena asyik mengobrol kini kembali menyerang tulang ekornya dengan lebih intens. Meskipun kursi restoran itu dilapisi bantalan yang empuk, duduk dalam posisi yang sama selama lebih dari satu jam tetaplah sebuah tantangan besar bagi wanita yang sedang mengandung bayi kembar. "Kami juga harus segera menuju apartemen, Joo," ujar Isaac sembari bangkit berdiri dan merangkul bahu Luna untuk membantunya berdiri. "Perjalanan hari ini sangat panjang bagi Luna."
Mereka berpisah tepat di depan pintu masuk restoran yang berada di lantai lima mall tersebut. Setelah saling berpelukan dan berjanji untuk kembali bertemu dalam waktu dekat, keluarga Joo melangkah menuju area bermain anak sementara Isaac membimbing Luna menuju arah lift yang akan membawa mereka langsung ke area parkir. "Bagaimana, Sayang? Masih ingin melanjutkan eksplorasi mall ini? Tadi kau bilang ingin melihat baju bayi dan menonton bioskop," tanya Isaac sembari menekan tombol lift. Ada nada sedikit menggoda dalam suaranya, ia tahu betul semangat istrinya tadi pagi sangat membara.
Luna menggeleng lemah, ia menyandarkan seluruh berat tubuhnya pada lengan kokoh Isaac. "Tidak, Mas... aku menyerah. Aku hanya ingin cepat sampai, mandi air hangat, dan segera tidur. Rasanya pinggangku mau patah." Isaac terkekeh pelan sembari mengusap punggung Luna. "Nah, kan. Tadi siapa yang merayu Kapten agar boleh mampir ke sini? Sekarang malah menyerah sebelum menyerang." "Mas..." rengek Luna manja, membuat Isaac semakin gemas.
Begitu sampai di parkiran, Isaac segera membukakan pintu dan memastikan Luna duduk dengan posisi paling nyaman. Mobil SUV hitam itu perlahan bergerak, meninggalkan kegemerlapan mall menuju jalanan protokol Jakarta. Suasana malam di ibu kota saat itu sangat memukau; lampu-lampu dari gedung pencakar langit berkedip seperti bintang yang jatuh ke bumi, dan aliran kendaraan di bawah jalan layang menciptakan sungai cahaya berwarna merah dan putih.
Isaac sempat mengulurkan tangannya menuju dasbor, berniat memutar musik klasik atau jazz lembut untuk menemani perjalanan mereka yang tinggal beberapa kilometer lagi. Namun, gerakannya terhenti. Ia melirik ke samping dan mendapati Luna sudah tertidur pulas. Kepala istrinya miring ke arah jendela dengan napas yang teratur dan dalam. Perjuangan melawan nyeri dan kelelahan sepanjang hari akhirnya membuat Luna terlelap dalam hitungan menit.
Isaac menarik kembali tangannya dari tombol musik. Ia tak ingin suara sekecil apa pun mengganggu istirahat Luna. Dengan lembut, Isaac mengulurkan tangan kirinya, mengusap perut besar Luna yang menonjol di balik dress biru itu dengan gerakan memutar yang sangat halus. "Kalian juga tidur ya di dalam sana," bisik Isaac nyaris tak terdengar. Ia lalu memindahkan tangannya ke dahi Luna, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya sebelum kembali memfokuskan pandangan sepenuhnya pada jalanan Jakarta yang padat namun indah.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka tiba di kompleks apartemen mewah yang menjadi tujuan akhir mereka. Bangunan itu menjulang tinggi ke angkasa dengan penjagaan yang sangat ketat. Begitu mobil berhenti di area drop-off lobi, Isaac tidak membangunkan Luna. Ia keluar dari mobil dengan gerakan seringan mungkin, memberikan kunci kepada petugas valet, lalu berjalan memutar ke pintu penumpang.
Isaac memprioritaskan kenyamanan istrinya di atas segalanya. Ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Luna, mengangkat tubuh istrinya yang kini terasa lebih berat dari biasanya dengan penuh kehati-hatian. Luna hanya bergumam kecil dalam tidurnya, namun tidak terbangun. Isaac membawanya masuk ke dalam lobi, melewati resepsionis yang menyapa dengan hormat, lalu masuk ke dalam lift khusus penghuni yang akan membawanya ke lantai puluhan.
Di dalam lift yang bergerak cepat namun stabil, Isaac terus menatap wajah lelap Luna. Ia merasa sangat bersalah sekaligus bangga. Bersalah karena perjalanan ini begitu melelahkan, namun bangga karena Luna tetap berusaha tersenyum demi dirinya dan anak-anak panti tadi.
Ting!
Pintu lift terbuka langsung di depan unit apartemen mereka. Isaac masuk, menendang pintu hingga tertutup kembali, dan segera menuju kamar utama. Ia merebahkan tubuh Luna di atas kasur king size yang sudah tertata rapi. Dengan gerakan sangat perlahan agar tidak memicu rasa nyeri di tulang ekor Luna, Isaac melepaskan sepatu yang dipakai istrinya, lalu menyelimuti tubuh Luna hingga sebatas dada. "Istirahatlah, Sayang. Kita sudah sampai di rumah baru kita," bisik Isaac sembari mengecup kening Luna.
Isaac kemudian keluar dari kamar, menutup pintu dengan sangat pelan, dan menguncinya dari luar. Ia melakukan ini bukan untuk mengurung Luna, melainkan sebagai protokol keamanan agar tidak ada siapa pun yang bisa masuk ke area pribadi saat ia sedang turun ke bawah. Ia kembali menggunakan lift menuju lobi. Di sana, Isaac segera menghampiri pos keamanan dan seorang petugas Office Boy yang sedang bersiaga di area lobi bawah.
"Permisi," ujar Isaac dengan nada berwibawa. "Mobil saya ada di area valet. Di dalamnya ada tiga koper besar dan beberapa tas di kursi belakang. Saya butuh bantuan kalian untuk membawakan semua barang itu ke unit saya sekarang juga." "Tentu, Pak Isaac. Segera kami laksanakan," jawab petugas satpam itu sigap.
Isaac memimpin jalan menuju parkiran, membiarkan petugas OB membawa troli barang yang cukup besar. Ia memperhatikan satu per satu kopernya dipindahkan dengan aman. Meskipun tubuhnya sendiri terasa pegal setelah menyetir berjam-jam dan menggendong Luna, Isaac tetap memastikan semua urusan logistik selesai sebelum ia sendiri bisa beristirahat.
Suasana malam di apartemen itu sangat sunyi, hanya terdengar suara roda troli yang bergesekan dengan lantai marmer. Isaac menarik napas panjang, menatap ke arah jendela lobi yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari sudut bawah. Perjalanan panjang dari perbukitan pinus telah berakhir di sini, di tengah hiruk-pikuk kota besar yang kini akan menjadi saksi bisu perjuangan mereka menyambut dua nyawa baru.
Setelah semua barang berhasil dipindahkan ke ruang tengah unit apartemennya, Isaac memberikan imbalan yang pantas kepada kedua petugas tersebut dan mengantarkan mereka keluar. Ia kini berdiri sendirian di tengah ruangan apartemennya yang mewah dan modern. Keheningan malam ini terasa berbeda—ada rasa tanggung jawab yang lebih besar yang kini membebani pundaknya sebagai seorang calon ayah dari bayi kembar.
Ia kembali melangkah menuju kamar, membuka kuncinya dengan pelan, dan mendapati Luna masih dalam posisi yang sama. Isaac tersenyum tipis, lalu bersiap untuk membersihkan diri sebelum akhirnya merebahkan tubuh di samping wanita yang paling ia cintai di dunia ini.