Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 berlatih didalam ruang dimensi itu
Setelah beberapa hari berlatih bersama anggota militer lainnya dimarkas utama, reina dan yang lainnya memutuskan untuk pergi.
Diperjalanan mereka saling mengobrol, bercanda dan tertawa kecuali reina.
Reina sedang memikirkan sesuatu.
Dikehidupan sebelumnya dalam waktu enam bulan akan ada gempa dunia, getarannya sangat dahsyat. Sangking dahsyatnya getaran itu menghancurkan hampir seluruh bangunan tinggi, rumah dan berbagai macam kendaraan termasuk pesawat terbang.
Pesawat tidak akan mampu lagi untuk terbang, bahkan mobil tidak bisa berjalan karena tidak memiliki bahan bakar, sinyal internet hancur.
Semuanya benar-benar telah hancur, sebelum itu terjadi harus bagaimana untuk mengatasinya supaya kita tetap bisa saling berkomunikasi.
Reina terus memikirkan hal-hal mengerikan yang akan terjadi,
Andri mengendarai mobil jeep militer, reina duduk tepat disampingnya sedangkan dandi, santo dan prisma duduk dibelakang mereka.
Andri melirik reina sekilas dan mencoba membuyarkan lamunannya.
"reina, apa kamu benar-benar tidak menginginkan kami?." tanya andri membuat santo, dandi dan prisma yang sedang bercanda terdiam.
Reina tidak menjawab dan tidak bergerak, bukan karena tidak mau menjawab.
Kemudian andri menghentikan laju mobilnya dengan mendadak membuat reina sedikit terbentur kedepan dan mundur kembali.
"aw.." rintih reina.
"kamu melamun?." tanya prisma sambil kepalanya mendekat.
"ah, tidak." ucap reina dan membuang wajah dan menatap keluar jendela mobil.
"lalu kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan andri." ucap santo.
Mereka terus menatap reina, seperti ada yang aneh.
"pertanyaan apa? Hahaha." reina tertawa kaku.
"huh!" kesal andri dan menjalankan mobilnya kembali.
"apa kamu keberatan dengan keberadaan kami?" ucap dandi yang sedang melihat keluar jendela.
"hah?" membuat reina menoleh kebelakang melihat sosok dandi.
Kemudian dandi menatap reina, "itu yang ditanyakan andri."
Reina tersenyum hangat, reina baru menyadari bahwa keberadaannya dianggap berharga dan saling melengkapi oleh mereka sejak saat itu.
"tidak, saya hanya memikirkan sesuatu yang cukup serius dan rumit." ucap reina matanya melihat lurus kedepan.
Mereka terdiam, "masalah apa?." tanya andri.
"nanti akan saya katakan jika sudah waktunya." ucap reina.
***
Mereka telah tiba di apartemen milik reina. Didalam apartemen reina menyiapkan makan malam.
setelah makan malam selesai reina mengatakan rencananya untuk mengajak mereka berlatih diruang dimensi surgawi untuk berkembang.
"apa? Ruang dimensi surgawi?" ucap andri, dandi dan prisma secara bersamaan.
"kamu juga mengatakan itu kepada saya. Maksudnya bagaimana?." tanya santo.
Kemudian reina menjelaskan secara detail, "jadi saat badai salju menjadi status siaga saya tidak sengaja bertemu kakek-kakek yang sedang sekarat di gang kecil. Saya memberinya makan kemudian memberikan sebuah buku kuno (sedikit berbohong) tentang perubahan dunia, kiamat dan kalung liontin merah. Setelah saya membaca buku itu kemudian menghilang secara tiba-tiba."
"dibuku itu juga mengatakan tentang ledakan energi spiritual dipulau lotte. Sedangkan kalung liontin merah memiliki ruang dimensi. Disaat saya terjatuh kedalam jurang tanpa sengaja tubuh saya menyerap energi spiritual dan masuk kedalam ruang dimensi." lanjutnya .
Reina mengatakan sesuatu yang hanya mampu mereka mengerti meskipun harus berbohong. Tidak mungkin reina mengatakan bahwa dirinya pernah mati dimasa depan.
Hanya santo yang sedikit ragu atas penjelasan reina, namun dirinya percaya kepada reina.
"apa? Jadi itu alasannya kamu bisa selamat. Kami kira sudah mati." ucap prisma secara blak-blakan.
"baiklah cukup berbasa basinya, waktu kita tidak banyak. Ayo kita saling berpegangan tangan membuat lingkaran. Pusatkan energi kalian kedalam pikiran untuk mengikutiku." perintah reina.
Mereka mengikuti petunjuk reina, cahaya menyilaukan mata mereka, hingga menyulitkan mereka untuk melihat.
Setelah cahaya reda, mata mereka perlahan terbuka.
"taman?." ucap mereka secara bersama.
Tepat didepan mereka ada sebuah rumah besar namun sederhana. Gubuk reyot itu telah ter upgrade sesuai kemampuan reina.
Didalam rumah itu nampak ada keributan, membuat reina tersenyum garing.
Fanfan sedang memegangi tangan finfin yang tengah emosi.
"si*lan! dia mengajak manusia fana untuk masuk ke ruang dimensi surgawi." teriak finfin yang marah melihat kedatangan mereka.
Fanfan berusaha mencegah finfin untuk menyerang mereka, namun fanfan terus maju sedikit demi sedikit karena langkah finfin sangat kuat.
"REINA SA*LAN!!!" teriak finfin yang lepas dari fanfan yang tidak mampu lagi menahan.
Reina berlari menghindari finfin yang tengah marah, dan finfin terus mengejarnya.
"haahh, mereka sudah jauh." gumam fanfan saat melihat mereka.
Santo, dandi, andri dan prisma hanya terdiam terpaku melihat pemandangan yang ada didepan mata.
Fanfan menghampiri mereka, "maafkan finfin para tamu tak diundang." kemudian fanfan mengejar reina dan finfin.
"tamu tak diundang?." ucap santo perlahan.
"sebenarnya makhluk apa mereka." sambung prisma.
"entahlah." ucap andri sambil terus melihat tingkah mereka.
Sedangkan dandi melihat sekelilingnya dan berjalan menuju pohon rindang yang berbeda dengan pohon lainnya.
Pohon penunjang energi spiritual didalam ruang dimensi.
*****
Setelah finfin merasa puas memukuli reina. Mereka beristirahat dibawah pohon penunjang energi spiritual, terkecuali finfin yang tengah asyik duduk diatas pohon sambil memakan buah hati penunjang energi spiritual.
"pohon ini seperti jantung yang memompa darah," ucap andri sambil melihat pohon penunjang energi.
Finfin bergegas turun dan menatap andri sangat dekat.
Reina tercengang melihat tingakah finfin. "finfin bisakah kamu menjauh dari wajahnya? Kamu terlalu dekat saat menatapnya." ucap reina malas.
Andri terdiam karena bingung.
"sepertinya kamu memiliki energi yang mampu menunjang pengetahuan." ucapnya.
"anda benar ini adalah jantung dari ruang dimensi yang mengeluarkan energi spiritual sebagai udara." sambungnya, tangannya menunjuk pohon.
"hebat." ucap prisma.
"hei reina, sepertinya saya lebih menyukai manusia fana ini. Lebih baik dia saja yang menjadi tuan kami." ucap finfin yang membuat telinga mereka retak.
"kamu menyakiti tuan kita finfin. Cepat minta maaf." perintah fanfan.
"tidak mau."
"sudahlah, kami disini untuk bersemedi dan berlatih." ucap dandi membuyarkan semuanya.
"oh jadi kedatangan kalian untuk berlatih." ucap finfin sambil menatap mereka satu persatu.
Setelah menilai, "baiklah. Sepertinya kalian memiliki kekuatan besar yang belum terlepaskan. Jika kalian terus bertarung sebagai tim kalian bisa membunuh semua monster, iblis bahkan para dewa."
Mereka terkejut, "benarkah?." ucap prisma tak percaya.
Prisma selalu merasa dirinya pengecut, penakut dari pada yang lain. Karena sifatnya yang pengecut dirinya kehilangan kedua orangtuanya dan memutuskan untuk bergabung kedalam militer untuk melindungi banyak orang. Meski begitu dirinya tetap saja pengecut.
Santo merasakan apa yang sedang prisma rasakan. "sebenarnya kamu luar biasa. Hanya saja kamu tidak menyadarinya."
Ucapan santo membuat mata prisma berbinar dan sedikit berair menahan air matanya.
"kami percaya kemampuanmu." sambung dandi.
*****
Setelah rasa lelah sepenuhnya menghilang, mereka mulai bermeditasi untuk mengembangkan energi mereka.
Detik demi detik, waktu terus berjalan dan hari demi hari. Mereka tidak menyadari telah melewatkan beberapa waktu.
Mereka tidak menyadari telah menghabiskan waktu satu tahun bermeditasi didalam ruang dimensi surgawi yang artinya telah menghilang dalam waktu 1 bulan didunia luar.
Tentu saja dunia luar tidak dapat menghubungi mereka ada dimana dan sedang apa.