NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:919
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Malam itu, angin malam bertiup sejuk membawa kesejukan yang luar biasa. Mereka berdua duduk di teras depan rumah, menikmati heningnya malam setelah sekian lama hidup dalam kekacauan dan kesedihan.

Genesis duduk bersandar di tiang teras, sementara Alexa duduk di sebelahnya, cukup dekat hingga bahu mereka sesekali bersentuhan. Keduanya menatap langit yang bertabur bintang, menikmati kebersamaan yang terasa begitu mahal harganya.

Sejak kejadian mimpi itu, ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Dinding pemisah semakin tipis, dan perasaan yang tadinya samar-samar kini mulai terlihat jelas wujudnya.

“Lex…” panggil Genesis pelan, memecah keheningan.

“Hm?” Alexa menoleh, menatap profil wajah tampan itu di bawah cahaya lampu jalan yang remang.

“Gue mau tanya sesuatu yang serius. Jawab jujur ya,” kata Genesis, ia pun menoleh, menatap mata Alexa dalam-dalam.

Alexa mengangguk pelan, jantungnya mulai berdegup tidak karuan. “Iya, tanya aja.”

Genesis menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Selama ini ia mungkin bercanda, mungkin manja, tapi malam ini ia ingin bicara dari hati ke hati.

“Selama ini kita bareng kan? Lo ngurusin gue, lo sayang sama gue, lo ada di saat gue paling hancur,” mulai Genesis pelan, suaranya berat dan serak. “Gue nanya sama diri gue sendiri, perasaan gue ke lo ini sebenernya apa?”

Alexa menelan ludah, menunggu dengan cemas.

“Awalnya gue pikir, gue cuma berterima kasih. Gue pikir gue cuma butuh temen, butuh sosok pengganti Ibu biar hidup gue nggak sepi lagi,” lanjut Genesis, tangannya perlahan bergerak mencari tangan Alexa, lalu menggenggamnya erat. “Tapi makin lama gue liat lo, makin lama gue sama lo… gue sadar satu hal.”

“Bahwa perasaan ini lebih dari itu. Jauh lebih dari itu.”

Tangan Alexa gemetar di genggaman Genesis. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Gue ngerasa cemburu kalau ada cowok lain liat lo. Gue ngerasa iri kalau lo perhatian ke orang lain. Gue pengen lo cuma milik gue. Cuma ada buat gue doang,” bisik Genesis, wajahnya mendekat perlahan.

“Gue pengen bangun pagi liat muka lo. Gue pengen pulang malam peluk lo. Gue pengen ngabisin sisa hidup gue sama lo.”

“Lex… gue cinta sama lo.”

Kalimat itu terucap. Jelas. Tegas. Penuh keyakinan.

“Gue cinta banget sama lo.”

Alexa menutup matanya sejenak, air mata langsung jatuh membasahi pipi. Dadanya terasa sesak oleh emosi yang campur aduk menjadi satu. Bahagia, sedih, takut, dan haru bercampur menjadi satu ledakan dahsyat di dalam dadanya.

Anaknya mencintainya. Anaknya sendiri yang jatuh cinta padanya dalam wujud orang lain.

“Kenapa… kenapa kamu bilang gitu…” isak Alexa pelan, suaranya pecah. “Kamu kan sayang aku sebagai teman, sebagai kakak, atau sebagai… pengganti ibu. Kenapa harus jadi cinta?”

Genesis menggeleng pelan, ia mengusap air mata di pipi Alexa dengan lembut sekali.

“Bukan. Bukan gitu, Lex. Cinta yang gue rasain ini beda. Cinta ini bikin jantung gue berdebar kencang. Cinta ini bikin gue pengen jagain lo bukan sebagai anak, tapi sebagai laki-laki yang mau ngejamin masa depan lo,” jelas Genesis dengan sabar namun tegas.

“Lo cantik, Lex. Lo baik. Lo jadi alasan gue mau hidup lebih baik. Gue mau kerja keras bukan cuma buat makan, tapi buat bisa beliin lo baju bagus, buat bisa bawa lo jalan-jalan, buat bisa bikin lo jadi istri yang bahagia.”

“Istri?” Alexa tergagap mendengar kata itu.

“Iya. Istri. Atau apa pun itu yang bikin lo resmi jadi milik gue selamanya,” Genesis tersenyum tipis, tatapannya begitu dalam dan memikat.

“Gue tau kita beda dunia. Gue miskin, lo kayaknya dari keluarga berada. Gue cuma kuli, lo kayaknya nona muda. Tapi cinta gue nggak pandang itu semua.”

“Di mata gue, lo itu wanita paling sempurna yang pernah Tuhan ciptain. Dan gue bersyukur banget Tuhan kirim lo ke hidup gue yang gelap ini.”

Ia membalikkan tangan Alexa, mencium punggung tangan gadis itu dengan penuh hormat dan kasih sayang. Ciuman yang penuh rasa hormat dan cinta.

“Jadi… gimana, Lex? Lo mau nggak jadi pacar gue? Mau nggak jalanin hubungan sama gue yang serius? Gue janji, gue bakal berusaha jadi yang terbaik buat lo. Gue janji nggak bakal nyakitin lo.”

Alexa menangis tersedu-sedu. Ia ingin sekali menjerit mengatakan bahwa ia juga mencintainya, bahwa ia sudah mencintainya sejak pertama kali ia mengandungnya, bahwa cintanya tak akan pernah mati.

Tapi posisinya sekarang adalah Alexa. Wanita yang seharusnya menjadi pasangan, bukan ibu.

“Gen… aku…” Alexa mencoba bicara tapi suaranya terus terhenti oleh isak tangis. “Aku juga sayang sama kamu. Sangat sayang. Lebih dari yang kamu tau.”

“Terus?” Genesis menatapnya penuh harap.

“Tapi aku takut…” lanjut Alexa dengan suara pecah.

“Aku takut perasaan ini salah. Aku takut kita ini nggak boleh. Aku takut suatu hari nanti kamu bakal nyesel kenal aku. Aku takut kebenaran itu bakal ngerusak semua keindahan ini.”

“Gue nggak bakal nyesel. Sekali pun nanti dunia hancur, gue tetep bakal milih lo,” potong Genesis cepat, penuh keyakinan. “Lo mau kan terima cinta gue? Walau cuma buat sekarang? Walau nanti ada apa-apa, kita jalanin bareng ya?”

Melihat ketulusan di mata hitam itu, melihat betapa besarnya cinta yang diberikan anaknya padanya, pertahanan terakhir Naura runtuh.

Ia tidak peduli lagi aturan main. Ia tidak peduli ini dosa atau tidak di mata manusia. Yang ia tahu, anaknya bahagia, dan ia juga bahagia.

“Iya…” jawab Alexa akhirnya, dengan suara bergetar hebat namun tegas. “Aku terima. Aku mau jadi pacar kamu. Aku mau jadi orang yang kamu cinta.”

Genesis tersenyum lebar, senyum paling bahagia yang pernah terukir di wajahnya selama bertahun-tahun. Matanya berbinar cerah seperti bintang di langit.

“Beneran? Lo beneran mau?!” tanyanya antusias seperti anak kecil yang diberi hadiah.

“Iya…” Alexa mengangguk sambil tersenyum di balik air mata.

Tanpa menunggu lama, Genesis langsung menarik tubuh Alexa ke dalam pelukannya. Pelukan yang erat, hangat, dan penuh cinta. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma wanginya yang membuatnya tenang.

“Makasih, Lex. Makasih udah mau jadi milik gue. Mulai detik ini, lo pacar gue. Gue bakal jagain lo lebih dari nyawa gue sendiri,” bisik Genesis penuh janji.

“Mulai detik ini juga, gue cinta sama lo. Cuma sama lo. Seumur hidup.”

Alexa membalas pelukan itu erat-erat, membiarkan dirinya hanyut dalam kebahagiaan yang terlarang namun indah ini.

I love you too, my son. I love you more than anything. Ibu sayang kamu selamanya. batinnya berteriak.

Malam itu, di teras kecil yang sederhana, bibit cinta itu akhirnya tumbuh subur dan mekar indah. Hubungan mereka kini memiliki label baru. Label yang membuat mereka semakin dekat, namun juga semakin berbahaya menghadapi kenyataan yang menanti di depan mata.

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!