Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 BAB 9: SUMPAH RAJA DURI DAN API YANG MENYALA DI MENTENG
Hujan gerimis mulai turun membasahi aspal ibu kota, menciptakan pantulan buram dari lampu-lampu jalanan yang menyapu kaca mobil sedan hitam anturu peluru itu. Di dalam kabin, Kirana duduk dengan napas tertahan. Jari-jarinya mencengkeram erat pinggiran buku biru peninggalan Bara dan kotak perak yang kini terbuka. Cincin perunggu bermotif naga di jari manisnya terasa hangat, seolah berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
"Seberapa jauh tempat persembunyiannya, Panji?" tanya Kirana. Matanya tak lepas dari spion, berharap tak ada mobil mencurigakan yang membuntuti mereka.
Panji, pria paruh baya yang menyetir dengan ketenangan luar biasa, melirik sekilas dari kaca tengah. "Sekitar sepuluh menit lagi, Nyonya. Kita menuju sebuah rumah warisan era kolonial di kawasan Menteng. Dari luar tampak seperti rumah tua biasa yang sedang direnovasi, namun lantai bawah tanahnya adalah fasilitas perlindungan tingkat tinggi milik Yayasan Majapahit."
"Yayasan Majapahit?" kening Kirana berkerut. "Laras bilang tempat itu adalah proyek resort."
"Larasati hanya mengetahui permukaan dari sejarah, Nyonya," jelas Panji, suaranya berat dan penuh penghormatan. "Keluarga saya—keturunan Pangeran Panji yang asli—telah bersumpah untuk menjaga keseimbangan sejarah dari bayang-bayang. Kami membangun yayasan ini secara rahasia bersama Tuan Arga selama lima tahun terakhir, tepat sejak beliau mulai mendapatkan mimpi-mimpi aneh tentang masa lalu. Tuan Arga mungkin baru mengingat semuanya malam ini, tapi insting pelindungnya telah bekerja jauh sebelum itu."
Kirana terenyuh. Bahkan saat Arga belum mengingat siapa dirinya, jiwa pria itu telah mempersiapkan benteng untuk melindunginya.
"Di fasilitas itu... apakah ada dapur?" tanya Kirana tiba-tiba. Pertanyaan yang aneh dalam situasi pelarian, namun bagi Kirana, itu adalah masalah hidup dan mati.
Panji tersenyum tipis. "Tuan Arga secara khusus meminta saya membangun dapur komersial berskala industri di sana. Katanya, 'Jika suatu saat aku menemukan koki dari mimpiku, aku ingin dia memiliki singgasana yang layak'."
Mata Kirana memanas. "Bagus. Karena aku harus memasak sekarang juga. Nyawa Jenderalku bergantung pada apa yang akan aku hidangkan malam ini."
Sementara itu, di lantai tertinggi SCBD.
Udara malam yang dingin berhembus kencang melalui pintu kaca balkon yang hancur berkeping-keping. Tirai sutra abu-abu berkibar liar, ternoda oleh percikan darah.
Arga berdiri di tengah ruang tamunya yang kini berantakan. Tiga dari lima pembunuh bayaran utusan Laras sudah terkapar di lantai, mengerang kesakitan dengan tulang yang patah atau urat nadi yang tersayat dangkal—Arga masih memiliki kesadaran hukum modern untuk tidak membunuh mereka di tempat, melainkan hanya melumpuhkan.
Namun, dua musuh yang tersisa bukanlah kroco sembarangan. Mereka adalah tentara bayaran profesional. Salah satunya memegang tongkat kejut listrik bertegangan tinggi, sementara yang lain memainkan dua buah karambit (pisau melengkung) beracun.
Arga menangkis serangan karambit dengan pisau Damaskus-nya. TRANG! Suara benturan logam bergema nyaring. Bilah Damaskus yang berpendar biru keperakan itu dengan mudah menggores baja karambit musuh, membuktikan kualitas tempaan magis dari ratusan tahun lalu.
Sreett! Arga memutar tubuhnya, memberikan tendangan memutar yang telak mengenai rahang musuh pemegang karambit hingga ia terpelanting menabrak meja kaca.
Tapi di saat yang sama, sebuah hantaman keras mendarat di punggung Arga. Tongkat kejut itu menyentuh tubuhnya, mengirimkan ribuan volt listrik yang membuat otot-ototnya kejang seketika.
"Urgh!" Arga jatuh berlutut, mengertakkan gigi menahan rasa sakit yang membakar sarafnya.
"Kau hebat untuk ukuran pengusaha, Pak Arga," desis si pemegang tongkat kejut, berjalan memutari Arga bagai predator. "Tapi tubuh manusia modern punya batasnya."
Pria itu benar. Di masa lalu, sebagai Jenderal Majapahit, fisik Arga ditempa oleh racun, medan perang, dan latihan ekstrem. Tapi di tubuh ini—meskipun ia rajin berolahraga—dia hanyalah pria berusia tiga puluhan yang memiliki riwayat maag kronis dan jam tidur berantakan. Adrenalin yang dipompa terlalu keras kini mulai memicu asam lambungnya naik, memberikan rasa perih yang menusuk seperti ditikam pedang dari dalam perutnya.
Arga terbatuk, pandangannya sedikit mengabur. Cincin merak di jarinya berkedip redup. Dia butuh energi. Dia butuh jangkar.
Kirana... sudahkah kau aman? batinnya.
Di bawah tanah sebuah rumah tua di Menteng.
Pintu baja terbuka, menampilkan sebuah dapur stainless steel yang berkilau bersih, lengkap dengan kompor bertekanan tinggi (high-pressure wok burner), oven konveksi, dan rak-rak berisi bumbu dari seluruh penjuru Nusantara.
Kirana tidak membuang waktu. Dia melepas jaketnya, mengikat rambutnya erat-erat, dan segera mencuci tangan. Dia adalah Executive Chef. Dapur adalah medan perangnya, dan malam ini, masakannya adalah sihirnya.
Dia membuka halaman terakhir buku biru. Resep "Sumpah Raja Duri".
> “Saat pedang terasa berat dan tubuh melemah, hanya duri yang bisa membangkitkan raja. Gunakan daging yang menempel pada tulang terdalam, balut dengan racun bumi yang telah dijinakkan, dan bakar dengan api kerinduan.”
>
Kirana segera membongkar tas belanjaannya. Iga sapi wagyu dengan tulang tebal (merepresentasikan tulang/duri). Untuk 'racun bumi yang dijinakkan', Kirana mengambil keluak—buah hitam yang beracun jika mentah, namun menjadi bumbu rawon yang luar biasa jika difermentasi—dan andaliman, lada Batak yang memberikan sensasi kebas dan menggigit seperti duri.
"Panji, nyalakan kompor terbesar! Api penuh!" perintah Kirana. Auranya sangat mendominasi. Panji yang notabene adalah pria tangguh pun segera menurut tanpa banyak tanya.
Kirana memanaskan wajan baja besar hingga berasap. Dia menuangkan minyak kelapa murni, memasukkan bawang merah, bawang putih, serai yang dimemarkan, dan daun jeruk. Bunyi mendesis keras memecah keheningan bungker, diikuti oleh ledakan aroma rempah yang sangat pekat.
Dia mencincang kasar keluak dan andaliman, lalu menumisnya hingga aroma mistis dan earthy (aroma tanah setelah hujan) menguar kuat. Setelah itu, ia memasukkan potongan iga sapi tebal itu ke dalam wajan panas.
Cessssss!
Api menyambar ke atas wajan saat Kirana menuangkan sedikit arak masak kuno. Api berkobar tinggi, memantulkan cahaya merah pada wajah Kirana yang fokus dan penuh tekad.
"Kau mendengarku, Arga?" bisik Kirana pada kobaran api. Dia menekan cincin naga di jarinya kuat-kuat, menyalurkan seluruh emosi, cinta, dan ketakutannya ke dalam masakan itu. "Dulu kau hampir mati karena racun Laras, dan aku menyelamatkanmu dengan makanan. Malam ini, di masa depan yang gila ini, aku akan melakukannya lagi. Bangkitlah, Jenderalku!"
Kirana menutup wajan raksasa itu rapat-rapat, membiarkan uap bertekanan tinggi memaksa bumbu hitam yang kuat dan sensasi 'duri' andaliman meresap hingga ke sumsum tulang iga tersebut. Aroma dari masakan itu tidak lagi hanya berputar di ruangan tersebut. Aroma itu... menembus dimensi ruang.
Kembali ke penthouse SCBD.
Pembunuh bayaran itu mengangkat tongkat kejutnya, bersiap memberikan pukulan terakhir ke kepala Arga. "Salam dari Nyonya Larasati."
Arga menutup matanya. Tenaganya hampir habis. Maagnya menyiksa.
Namun, tiba-tiba, sebuah aroma aneh merayap masuk ke dalam hidungnya. Bukan bau darah, bukan bau ozon dari sengatan listrik, melainkan bau yang sangat dalam, pekat, dan gurih. Aroma keluak yang pekat, dicampur dengan sentuhan tajam dari andaliman yang menggelitik hidung.
Itu aroma masakan Kirana.
Jarak Menteng dan SCBD terpisah bermil-mil jauhnya, mustahil bau itu bisa sampai ke sini secara logis. Tapi cincin perunggu bermotif merak di jari Arga mendadak menyala terang, memancarkan cahaya keemasan yang menembus sela-sela jarinya.
Bersamaan dengan cahaya itu, Arga merasakan sebuah energi yang mengalir masuk ke dalam aliran darahnya. Rasa perih di lambungnya menguap seketika, digantikan oleh rasa hangat yang luar biasa, seolah-olah dia baru saja menelan kaldu iga yang paling lezat dan menguatkan di dunia. Sensasi andaliman membuat saraf-sarafnya yang tadi kebas akibat listrik kini kembali menyala, seolah ratusan jarum kecil membangunkan setiap otot di tubuhnya.
"Sumpah Raja Duri," gumam Arga. Matanya terbuka, dan kali ini, iris matanya tampak lebih gelap, memancarkan aura membunuh yang murni dari Iblis Perang Utara.
Pembunuh bayaran itu mengayunkan tongkatnya ke bawah.
BAM!
Tongkat itu tidak pernah mengenai kepala Arga. Tangan kosong Arga yang lain melesat ke atas, menangkap pergelangan tangan si pembunuh dengan cengkeraman sekeras baja. Pria itu terbelalak, mencoba menarik tangannya, tapi Arga tidak bergeming sedikit pun.
"Nyonya Larasati-mu..." Arga berdiri perlahan, menjulang tinggi di depan si pembunuh yang kini tampak ketakutan. "...salah memilih lawan."
Dengan satu gerakan memutar yang cepat, Arga mematahkan pergelangan tangan pria itu. Tongkat kejut jatuh ke lantai. Arga kemudian memberikan hantaman lutut yang mematikan tepat ke dada musuhnya, membuatnya terlempar sejauh tiga meter dan pingsan seketika.
Hening. Pertarungan selesai.
Arga berdiri di tengah ruangan yang hancur, napasnya berembus teratur. Energi dari masakan Kirana masih mengalir deras di tubuhnya, membuatnya merasa tidak terkalahkan. Dia menatap pisau Damaskus di tangan kanannya, bilahnya yang berlumur darah musuh perlahan-lahan menyerap darah tersebut, seolah pisau itu hidup dan puas.
Dia berjalan mendekati pemimpin pembunuh bayaran yang tadi dia lumpuhkan pertama kali. Pria itu masih sadar, bersandar di dinding dengan napas terengah-engah, memegangi bahunya yang berdarah.
Arga berjongkok, menodongkan ujung pisau Damaskus yang berpendar ke leher pria itu. Cukup dekat hingga terasa membakar kulit.
"Di mana Laras?" suara Arga bukan sekadar ancaman, tapi sebuah dekrit kematian.
"A-aku tidak tahu!" pria itu tergagap, keringat dingin membanjiri dahinya. "Kami hanya dibayar lewat perantara! T-tapi... sebelum kami kemari, aku mendengar dia berbicara di telepon. D-dia membicarakan tentang sebuah pembukaan acara!"
"Acara apa?" tekan Arga.
"P-Pameran 'Warisan Nusantara'! Besok malam di Museum Nasional! Dia bilang... dia bilang jika kau tidak menyerahkan pisau dan kotak itu malam ini, dia akan menghancurkan reputasi Chef Kirana di depan seluruh media dan kolektor barang antik besok malam! D-dia memegang rahasia tentang resep-resep itu!"
Arga menyipitkan mata, menarik pisaunya dari leher pria itu. Laras selalu terobsesi pada panggung dan pengakuan. Jika dia tidak bisa membunuh mereka secara fisik, dia akan mencoba membunuh karakter dan sejarah Kirana di depan umum.
Arga bangkit berdiri. Dia mengeluarkan ponselnya yang layarnya sedikit retak, menekan nomor Panji.
Telepon diangkat pada dering pertama. Suara hiruk-pikuk api kompor terdengar di latar belakang.
"Tuan Arga? Anda selamat?" suara Panji terdengar lega.
"Aku lebih dari sekadar selamat, Panji. Kirana menyuapiku dengan kekuatan penuh," Arga menatap cincin di jarinya dengan lembut. "Tolong berikan teleponnya pada istriku."
Ada jeda sejenak, suara langkah kaki, lalu suara yang paling ingin didengar Arga memenuhi telinganya.
"Arga?! Kau berdarah? Kau terluka? Maagmu kumat tidak?" rentetan pertanyaan Kirana yang panik dan cerewet membuat Arga tertawa kecil—sebuah tawa yang sangat langka.
"Aku sempurna, Sayang. Iga sapi dan bumbu hitammu baru saja menyelamatkan nyawaku dari tongkat listrik," jawab Arga, suaranya sangat dalam dan mesra. "Aku akan segera menyusulmu ke Menteng. Bersihkan kekacauan di dapur, karena besok malam, kita punya pameran untuk dihadiri."
Di seberang telepon, Kirana mematikan kompornya. Aroma "Sumpah Raja Duri" yang tajam dan menggugah selera telah memenuhi seluruh ruangan bungker bawah tanah itu.
Dia menatap cincin naga di jarinya, lalu tersenyum garang, ciri khas Putri Tantri yang tak mau kalah.
"Pameran 'Warisan Nusantara'? Baiklah. Jika Laras ingin bermain sejarah dan kuliner di depan publik, aku akan memastikan besok malam menjadi jamuan makan malam terakhirnya. Kembalilah padaku, Jenderal. Makan malammu sudah siap."
Pertempuran fisik malam ini dimenangkan oleh sang Jenderal. Namun, perang puncak besok malam akan menjadi panggung bagi sang Executive Chef. Keduanya, berbekal memori lima ratus tahun dan cinta yang tak tertembus waktu, bersiap untuk menghabisi akar beracun dari masa lalu mereka, untuk selamanya.
...****************...
...Bersambung.... Terima kasih telah membaca📖 Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
arga itu kakak iparnya Panji? terus Kirana siapanya panji sih? 😅
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia