NovelToon NovelToon
Mereka Adalah Suamiku

Mereka Adalah Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Wisa

⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga

Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.

Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...

Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.

Dua pria, satu wanita.

Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepakatan

Malam pun tiba. Suasana di dalam ruangan rumah sakit kembali menjadi hening, hanya terdengar suara detak jantung Valencia dari alat pemantau. Ansel duduk terpaku di samping tempat tidur, matanya menatap lekat-lekat wajah wanita yang dicintainya itu, namun pikirannya melayang jauh. Ia tampak gelisah dan penuh keraguan.

Zyro yang duduk di sisi seberang memperhatikan tingkah Zyro yang sejak tadi diam dan melamun. Ia pun akhirnya membuka suara untuk memecah keheningan.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Ansel?" tanya ,Zyro pelan.

Ansel menghela napas panjang dan berat, lalu mengalihkan pandangannya menatap Zyro di hadapannya.

"Hhh... Aku sedang memikirkan apa yang akan terjadi nantinya saat Valencia bangun dari tidurnya," jawab Ansel dengan suara lirih dan penuh kerisauan. Ia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya dengan tatapan yang tajam dan serius.

"Zyro, aku sungguh-sungguh ingin menikahinya. Lebih dari apa pun, aku ingin mendampinginya seumur hidupku. Jadi, kumohon... bisakah kau melepaskan Valencia untukku?" pinta Ansel dengan nada memohon namun tegas.

Wajah Zyro seketika berubah merah padam menahan amarah mendengar permintaan itu. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, amarahnya seolah siap meledak seketika. Namun, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya dan tetap berusaha bicara dengan tenang, meskipun suaranya terdengar dingin dan menekan.

"Kau pikir hanya kaulah yang menginginkannya? Aku pun sama sepertimu, Ansel. Aku juga ingin menikahinya, aku juga ingin mendampinginya sampai akhir hayatku. Dan dengar baik-baik... Aku sama sekali tidak mau dan tidak akan pernah melepaskannya!" jawab Zyro dengan nada penuh penekanan dan tekad yang kuat.

Zyro menatap tajam ke manik mata Ansel, tidak mau kalah.

"Baiklah kalau begitu. Kalau kita terus bersikeras seperti ini, tidak akan pernah ada akhir yang jelas. Mari kita tunggu sampai Valen bangun nanti... Biarlah dia sendiri yang akan memilih di antara kita siapa yang pantas mendampinginya," tantang Zyro dengan tegas.

Ansel tersenyum miring, senyum yang menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi.

"Oke... Aku setuju. Tapi apakah kau yakin nantinya kau benar-benar sanggup melepaskan Valen jika dia memilihku? Ingatlah satu hal, Zyro... Akulah yang telah mengambil kehormatannya. Akulah yang sudah memilikinya sepenuhnya. Di dunia ini, wanita yang baik-baik seperti dia tidak akan kembali pada pria lain, meski pria itu kekasihnya dan pria yang dicintainya, setelah kesuciannya direnggut orang lain. Dia pasti akan merasa malu dan merasa hanya aku yang berhak atas dirinya sekarang. Jadi aku yakin, dia pasti akan memilihku," ucap Ansel dengan nada yakin dan sedikit meremehkan.

Zyro menggertak kan giginya menahan rasa sakit hati mendengar ucapan itu, namun ia tetap mempertahankan pendiriannya.

"Kau salah besar, Ansel! Seberapa pun besarnya kesalahan yang telah kau lakukan padanya, hatinya tetaplah milikku sejak dulu. Aku adalah orang yang dicintainya, aku adalah orang yang selalu ada di hatinya. Jadi aku yakin sepenuhnya, dia pasti akan memilihku," bantah Zyro dengan nada yang tak kalah yakinnya.

Ansel kembali menatap Zyro lekat-lekat, matanya menyipit menatap tajam.

"Baiklah, kita lihat saja nanti. Tapi ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu. Apakah kau yakin dengan keputusanmu itu? Dan jawablah dengan jujur... Saat nanti Valen memilih salah satu di antara kita, apakah pihak yang tidak dipilih benar-benar sanggup melepaskannya begitu saja dan pergi menjauh dari kehidupannya?" tanya Ansel perlahan namun penuh penekanan.

Zyro terdiam sejenak, ragu untuk menjawab.

"Sejujurnya... Aku tidak akan pernah sanggup melepaskannya. Jikapun akhirnya dia memilihmu, aku tetap ingin memilikinya. Aku tetap ingin ada di dekatnya, meskipun posisiku hanya menjadi yang kedua," ucap Zyro lirih namun tegas, jujur mengakui isi hatinya yang terdalam.

Ansel tersenyum tipis, seolah jawaban itu sesuai dengan apa yang ada di pikirannya juga.

"Lalu bagaimana denganmu, Ansel? Jika nanti Valen memilihku... Apakah kau siap melepaskannya sepenuhnya dan tidak mengganggu kehidupan kami lagi?" balas Ansel bertanya balik.

"Sungguh, Zyro... Aku tidak sanggup berpisah dengannya. Sekalipun hanya sekejap, rasanya separuh nyawaku hilang jika tidak ada dia di dekatku," jawab Ansel dengan nada putus asa namun tulus.

"Lantas apa yang akan kau lakukan jika hal itu terjadi? Apakah kau akan terus mengganggu hubungan kami?" tanya Zyro kembali.

"Mungkin sama sepertimu... Aku pun mau untuk menjadi yang kedua, asalkan aku masih bisa melihatnya, menemuinya, dan menjaganya. Aku tidak peduli posisiku bagaimana, yang terpenting aku tetap bisa bersamanya," jawab Ansel mantap.

Ansel mengangguk perlahan, lalu ia mengulurkan tangannya ke arah Zyro di atas tempat tidur Valencia.

"Kalau begitu, apakah ini sebuah kesepakatan di antara kita, Zyro? Bahwa siapapun yang dia pilih nanti, kita berdua tetap akan memilikinya bersama-sama? Kita akan mendampinginya, menjaganya, dan mencintainya bersama-sama selamanya?" tanya Ansel memastikan.

Zyro menatap uluran tangan Ansel, lalu ia menyambutnya dengan genggaman yang erat dan kuat.

"Mungkin jika memang itu jalan terbaik bagi kita dan bagi kebahagiaannya... Aku akan melakukannya. Aku setuju," jawab Zyro dengan tegas.

"Aku takut Valen akan memilih untuk tidak memilih diantara kita, dan menghilang." ucap zyro pelan

Di bawah cahaya lampu ruangan yang redup itu, terjalinlah sebuah kesepakatan aneh namun kokoh di antara dua pria itu. Mereka berjanji untuk tetap bersama, berbagi cinta, dan memilikinya selamanya, apa pun keputusan Valencia nanti saat ia sadar.

Malam pun semakin larut merekapun larut dalam pikirannya masing masing

Suasana hening seketika terpecah saat jari tangan Valencia bergerak perlahan, sangat halus namun jelas terasa di genggaman mereka.

Zyro tersentak kaget dari lamunannya, matanya seketika membelalak lebar. Ia langsung menundukkan pandangannya ke arah tangan wanita yang digenggamnya, napasnya seakan tertahan di tenggorokan.

"Ansel..." panggilnya dengan suara berbisik, gemetar dan penuh ketidaksanggupan mempercayai apa yang ia rasakan.

"Lihat... Jari tangannya..."

Ansel yang sedari tadi juga menggenggam tangan sebelah Valencia seketika menegakkan tubuhnya. Wajahnya yang tadinya serius dan tegang kini berubah pucat bercampur rasa bahagia yang meluap. Ia merasakan gerakan halus itu juga—jari-jari itu bergerak lagi, menyentuh lembut telapak tangannya seolah ingin membalas genggamannya.

"Ya Tuhan..." bisik Ansel lirih, matanya berkaca-kaca seketika.

"Dia bergerak, Zyro! Dia benar-benar bergerak!"

Tanpa sadar keduanya mendekatkan wajah mereka serentak ke sisi tempat tidur, mata mereka tak lepas menatap wajah Valencia dan tangan yang masih bergerak lemah namun pasti itu.

"Valencia... Valen..." panggil Zyro dengan suara yang terdengar tercekik, campuran antara rasa bahagia dan takut.

"Kau dengar ku sayang?"

Zyro langsung mengusap perlahan punggung tangan itu dengan ibu jarinya, air mata bahagia sudah mulai menetes membasahi pipinya.

"Bangunlah, valen... Kumohon bangunlah..." ucap Ansel parau, suaranya bergetar hebat. "Kami ada di sini. Kami menunggumu. Kami berjanji... tidak akan saling menyakiti ataupun berkelahi lagi . Jadi kumohon, buka matamu... Lihatlah kami..."

Perlahan, gerakan jari itu semakin jelas. Kelopak mata Valencia pun mulai bergerak-gerak, berjuang keras untuk terbuka seolah ada beban berat yang harus diangkatnya. Napasnya terdengar memburu sedikit lebih cepat dari sebelumnya, tanda bahwa kesadarannya perlahan kembali merangkak naik ke permukaan.

"Lihat, matanya..." bisik Ansel sambil menunjuk perlahan, tangannya yang bebas perlahan menyentuh pipi Valencia dengan sangat lembut. "Dia mencoba membuka matanya, Zyro..."

"Iya... Aku melihatnya..." jawab Zyro dengan napas tertahan, hatinya berdebar kencang seolah mau meledak. "Ayolah, Sayang... Sedikit lagi... Buka matamu dan tataplah kami..."

Suasana ruangan itu terasa sakral dan penuh harapan. Dua pria yang baru saja menyepakati hal yang begitu besar dan aneh demi cinta mereka kini berdiri berdampingan, menahan napas, menanti detik di mana wanita yang mereka cintai itu akhirnya kembali membuka matanya dan melihat mereka berdua ada di sana, siap membagi cinta dan hidup bersamanya.

Dan perlahan... Sangat perlahan, kelopak mata Valencia akhirnya terbuka. Pandangannya masih kabur, sayu, dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan cahaya, namun ia bisa melihat dengan jelas dua sosok wajah yang tampak lelah namun penuh harapan, basah oleh air mata, dan menatapnya dengan tatapan yang sama-sama dalam dan penuh kasih sayang.

"Zyro... Ansel..." bisiknya lirih, suaranya sangat lemah namun terdengar jelas di telinga mereka berdua.

Mendengar namanya disebut bersamaan dari mulut wanita itu, kedua pria itu seketika tersenyum bahagia. Genggaman tangan mereka di tangan Valencia semakin erat, saling menguatkan dan meyakinkan satu sama lain bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan menghadapinya bersama-sama.

"Ya, ... Kami di sini," jawab mereka serentak dengan suara yang bergetar namun penuh keteguhan hati.

1
Ichka Francisca
ceritanya menarik
Pena Wisa: bantu dukungannya ya kak ini novel perdananku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!