karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Ouw Tok Ong
Dari dalam rumah, munculah Juragan Ciu yang bertubuh tambun, dikawal oleh puluhan pengawal bersenjata lengkap. Di sampingnya, Ciu Kun — anaknya yang kemarin dihajar Han Le — duduk di kursi roda dengan wajah penuh dendam.
"Paman! Habisi mereka semua! Aku akan membayar sepuluh ribu tail emas untuk kepala pemuda berbaju biru itu!" teriak Ciu Kun histeris. Rupanya ia diselamatkan oleh Tan Kiat kemarin sore.
"Heaaaaah!"
"Hiaaaaaat!"
Suasana menjadi kacau. Puluhan pengawal merangsek maju mengepung para pengemis dan warga desa yang ikut menonton. Tetua Lu dan Tetua Chen segera bertindak. Mereka membentuk formasi Kay-pang untuk melindungi warga.
"Song-te, bergabunglah dengan kami! Kita gunakan Kay-pau-tin (Formasi Bungkusan Pengemis)!" perintah Tetua Lu.
Namun Han Le justru melangkah ke depan. "Tetua, biarkan saya yang menghadapi si Raja Racun ini secara langsung. Kalian uruslah para centeng dan Juragan Ciu itu. Racunnya tidak terlalu berpengaruh padaku," ucap Han Le.
Lin Xue, yang sejak tadi menjaga Liu Ruyan di kejauhan, tidak tahan lagi. Ia mencabut pedang Bing-ho-nya dan melesat seperti cahaya putih di antara kerumunan. "Koko Han, aku akan membantumu!"
"Xue-er, hati-hati!" seru Han Le.
Tan Kiat tertawa terbahak-bahak melihat mereka berdua. "Sepasang merpati yang ingin mati bersama? Bagus! Akan kubuat kalian menjadi mumi hitam di halaman ini!"
Tan Kiat mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Jubahnya berkibar hebat meskipun tidak ada angin. Tiba-tiba, dari tubuhnya keluar ribuan ulat kecil berwarna hitam yang bergerak sangat cepat menuju arah Han Le dan Lin Xue. Ini adalah ilmu Ban-coa-kwi-jong (Ribuan Ular Kembali ke Sarang), sebuah ilmu racun tingkat puncak yang sangat menjijikkan dan berbahaya.
Warga desa berteriak ketakutan. Jika ulat-ulat itu menyentuh tanah desa, maka tanah itu akan menjadi beracun selama puluhan tahun.
Han Le memejamkan mata sejenak. Ia memusatkan seluruh tenaga Kiu-yang-sin-kang ke pusat pusarnya. Tubuhnya mulai mengeluarkan cahaya keemasan yang redup namun terasa sangat panas.
"Heaaaaah!"
"Dung!"
"Blaaaaaar!"
Han Le menghentakkan kakinya ke bumi. Sebuah gelombang panas melingkar meledak dari tubuhnya. Udara di halaman rumah Juragan Ciu mendadak terasa seperti di dalam tungku pandai besi.
Ulat-ulat hitam itu seketika hangus menjadi abu sebelum sempat mendekat. Tan Kiat menjerit kesakitan, matanya membelalak tak percaya. Ilmu racun yang ia pupuk selama tiga puluh tahun hancur seketika oleh pancaran tenaga matahari Han Le.
"Tidak mungkin... ini... ini bagaimana bisa terjadi!" ratap Tan Kiat. Ulat-ulat itu telah dipeliharanya selama puluhan tahun, kini mati di tangan Han Le.
Tetua Song yang melihat kesempatan itu tidak menyia-nyiakan waktu. Ia melesat maju, tongkatnya menghantam titik Kiat-thiat di punggung Tan Kiat.
"Hiaaaaat!"
"Tuk!"
"Prakkk!"
"Aaaargh!"
"Hoeeek!"
Tulang belakang sang Raja Racun patah. Ia tersungkur ke tanah, memuntahkan darah hitam yang berbusa. Kekuatannya hilang, dan racun dalam tubuhnya sendiri mulai menyerang organ dalamnya karena ia tidak lagi memiliki tenaga untuk menekannya.
Melihat pelindung utama mereka tumbang, Juragan Ciu jatuh terduduk di atas ubin marmernya. Para pengawalnya langsung membuang senjata dan lari tunggang langgang.
"Ampun... ampun, Pendekar! Aku hanya mengikuti saran pamanku!" rengek Juragan Ciu.
Tetua Lu berjalan mendekat dengan wajah garang. "Saran pamanmu atau nafsumu sendiri? Kau telah menindas warga Baihe selama bertahun-tahun. Sekarang, seluruh hartamu akan disita untuk membangun kembali desa ini dan menyembuhkan Kepala Desa Ling!"
Warga desa bersorak sorai. Mereka merangsek masuk, membawa tali untuk mengikat Juragan Ciu dan anaknya yang sombong itu.
Han Le berdiri dengan napas teratur, meskipun wajahnya sedikit berkeringat. Lin Xue mendekatinya dan menyeka keringat di dahi Han Le dengan sapu tangannya. "Koko Han, kau sungguh luar biasa. Jika tidak ada tenaga panasmu, kami semua mungkin sudah tewas terkena racun ulat itu."
Han Le tersenyum tipis. "Semua ini berkat bimbingan para guru. Yang terpenting, sungai ini sekarang sudah bersih dari 'racun' yang sebenarnya, yaitu keserakahan keluarga Ciu."
Tetua Song menghampiri Han Le sambil menyandarkan tongkatnya di pundak. "Bocah, kau benar-benar membuat kakek tua ini malu. Tapi aku berhutang nyawa padamu. Jika kau butuh bantuan Kay-pang di mana pun di daratan Tiongkok ini, cukup tunjukkan simbol ini." Tetua Song menyerahkan sebuah koin tembaga kecil dengan ukiran tongkat bersilang. Tetua Song tak tahu jika Han Le adalah cucu angkat Tetua Han An, salah satu sesepuh di Partai Kay-pang. Namun untuk menghargai kebaikannya, ia menerima koin itu dengan hormat.
"Terima kasih, Tetua."
Matahari mulai meninggi di langit Baihe. Keadilan telah ditegakkan. Rumah mewah Juragan Ciu kini dipenuhi oleh warga desa yang mengambil kembali apa yang menjadi hak mereka.
Tan Kiat sang Raja Racun akhirnya tewas oleh racunnya sendiri