NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

​Senin pagi, pukul 06:10 WIB. Area parkir belakang SMA Garuda masih diselimuti kabut tipis sisa embun semalam. Area ini biasanya menjadi zona terlarang bagi siswa-siswi biasa, sebuah teritori eksklusif yang dikuasai oleh Geng Bone Breakerz untuk merokok, bolos, atau sekadar memalak siswa kelas sepuluh yang lewat. ​Sarah Paramitha, kini beroperasi penuh dalam wadah fisik Bella Anastasia berdiri tegak di tengah area parkir tersebut. Ia mengenakan seragam putih abu-abu yang disetrika licin, tanpa satu pun coretan spidol. Rambut bob lurusnya yang kini berwarna hitam pekat diselipkan rapi di belakang telinga, menampilkan wajah bersih tanpa riasan eyeliner tebal. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah buku catatan bersampul hitam dan sebuah pena tinta. Posturnya persis seperti seorang manajer lapangan yang sedang menunggu para pekerja pabrik masuk shift pagi.

​Pukul 06:15 WIB, terdengar deru mesin motor yang sengaja dibuat bising. Dua buah motor sport usang yang knalpotnya telah dimodifikasi (dan tidak memenuhi standar emisi gas buang, catat batin Sarah) memasuki area parkir.​Pengendara pertama adalah Dion, sang Wakil Ketua Geng. Di belakangnya menyusul Rindi, sang Bendahara. Keduanya turun dari motor dengan gaya tengil khas remaja pemberontak, namun gerakan mereka mendadak membeku saat melihat sosok yang berdiri di dekat tembok.

​Dion mengucek matanya, menyangka ia masih mengantuk, Rindi bahkan sampai menjatuhkan helmnya ke aspal.

​"B-Bos?" panggil Dion ragu-ragu. Suaranya serak. "Bos Bella? Lo... lo abis dirukiah sama pemuka agama mana semalem?"

​Bella menekan tombol pena di tangannya hingga berbunyi klik. "Selamat pagi, Dion. Rindi. Kalian tiba tepat waktu pada pukul 06:15 sesuai instruksi di grup semalam. Saya apresiasi tingkat kepatuhan awal kalian terhadap Service Level Agreement (SLA) waktu kehadiran."

​Dion dan Rindi saling berpandangan dengan wajah horor, kosakata yang baru saja keluar dari mulut Bella terdengar seperti bahasa alien.

​"Bos, lo kesambet apaan dah?" Rindi mendekat perlahan, seolah mendekati hewan buas yang tidak bisa diprediksi. "Rambut lo kok item? Terus... seragam lo... kok rapi bener? Gila, lo mirip anak OSIS! Mau nyamar buat nyusup ke ruang guru?"

​"Ini bukan penyamaran, Rindi. Ini adalah rebranding visual," jawab Bella dingin. Mata tajamnya menatap langsung ke retina Rindi, membuat remaja perempuan itu secara insting mundur satu langkah. Aura intimidasi Bella hari ini jauh lebih pekat dan mengerikan daripada saat ia masih memakai atribut punk. Dulu, ia terlihat menakutkan karena agresif. Sekarang, ia terlihat menakutkan karena terlihat memegang kendali mutlak.

​"Dengar," Bella menaikkan volume suaranya, memotong kebingungan mereka. "Kita tidak punya waktu untuk membahas transformasi fisik saya. Tujuan saya memanggil kalian semua di sini adalah untuk mengadakan Morning Briefing atau pengarahan pagi. Ini akan menjadi agenda rutin kita setiap hari sebelum jam pelajaran dimulai."

​Dion mengerutkan kening. Insting jalanannya merasa ada sesuatu yang sangat salah. "Briefing apaan sih, Bos? Bukannya kita mau cabut ke warteg Mang Asep? Hari ini kan jadwal upacara. Panas, males gue ikutan. Terus si Tono sama Budi mana? Katanya disuruh kumpul?"

​Bella melirik jam tangan digital hitam (satu-satunya aksesori fungsional yang ia tinggalkan dari masa lalu Bella) di pergelangan tangan kirinya. Pukul 06:20 WIB.

​"Itu adalah masalah pertama yang akan kita bahas hari ini. Manajemen waktu dan insubordinasi," ucap Bella. Nada suaranya datar, namun membekukan. "Kita tunggu staf level bawah kalian tiba. Saya tidak suka mengulang instruksi yang sama dua kali."

​Selama sepuluh menit berikutnya, area parkir itu diliputi keheningan yang canggung dan menyiksa. Dion dan Rindi tidak berani menyalakan rokok. Ada sesuatu dari postur tubuh Bella, cara ia berdiri dengan tangan disilangkan dan tatapan matanya yang menganalisis setiap gerak-gerik mereka yang membuat mereka merasa sedang diawasi oleh elang pemangsa.

​"Bos," Dion akhirnya buka suara, memecah kesunyian. "Gue nggak tahu lo lagi kesambet jin apa, tapi ini aneh banget. Lo bukan Bella yang gue kenal."

​Bella menoleh perlahan ke arah Dion. "Bella yang kamu kenal adalah pemimpin yang mensubsidi kemalasan dan kebodohan kalian. Mulai hari ini, kepemimpinan itu telah berganti manajemen. Kamu akan segera melihat perbedaannya, Dion."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!