"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Ledakan di Tengah Badai
Mobil SUV hitam itu melesat membelah jalanan pinggiran kota yang sepi dengan kecepatan yang membuat Amora harus mencengkeram pegangan pintu erat-erat. Di sampingnya, Hamdan mencengkeram setir seolah ingin meremukkannya. Napas pria itu masih menderu, berat dan tidak stabil.
"Pelankan mobilnya, Hamdan! Kau bisa membunuh kita berdua!" teriak Amora di tengah deru mesin.
Hamdan tidak menjawab. Matanya lurus menatap aspal, namun sorot matanya kosong, hanya berisi amarah yang gelap. Tiba-tiba, ia menginjak rem dengan sentakan kasar hingga ban mobil menjerit pilu di atas aspal. Mobil berhenti melintang di pinggir jalan setapak yang dikelilingi pohon-pohon besar yang sunyi.
Hening sejenak. Hanya suara mesin yang bergetar dan napas mereka yang beradu.
"Keluar," ucap Hamdan rendah.
"Apa?"
"Keluar, Amora!" Hamdan membentak, tangannya memukul setir sebelum ia sendiri membuka pintu dan melangkah keluar menuju udara terbuka yang dingin.
Amora mengikuti dengan amarah yang juga sudah di ubung-ubun. Begitu ia keluar, ia langsung melabrak punggung Hamdan. "Apa maumu, hah? Kau mengusirku, menyebutku beban, menganggapku tidak ada selama berhari-hari, dan sekarang kau bertindak seolah kau punya hak untuk cemburu?!"
Hamdan berbalik dengan gerakan secepat kilat. Ia menyudutkan Amora ke badan mobil, mengurung gadis itu di antara kedua lengannya yang kekar. Wajah mereka hanya terpaut beberapa inci.
"Kau ingin tahu apa mauku?" geram Hamdan, suaranya parau karena emosi yang tertahan. "Aku menjauhimu karena setiap kali namamu disebut di kantor polisi, jantungku rasanya berhenti berdetak! Aku menjauhimu karena bukti-bukti palsu itu sedang diarahkan untuk memenjarakanmu atas tuduhan hubungan sedarah yang menjijikkan! Aku menjauhimu agar mereka berpikir kau tidak lagi berharga bagiku, sehingga mereka berhenti mengincarmu!"
Amora tertegun, matanya yang berkaca-kaca menatap mata Hamdan yang merah. "Lalu kenapa kau tidak mengatakannya? Kenapa membiarkanku merasa sendirian?"
"Karena aku takut!" Hamdan berteriak tepat di depan wajah Amora, sebuah pengakuan yang membuat Amora membeku. "Aku takut jika aku bicara padamu, aku tidak akan sanggup melepaskanmu. Aku takut jika aku menunjukkan satu saja kelemahanku, mereka akan menghancurkanmu lewat aku!"
Tiba-tiba, Hamdan memukul badan mobil di samping kepala Amora. "Tapi melihatmu tertawa dengan Farr... melihat tangan pria itu di pinggangmu... itu jauh lebih menyakitkan daripada masuk penjara, Amora. Rasanya jiwaku sedang ditarik paksa dari tubuhku!"
Amora bisa merasakan panas dari napas Hamdan dan getaran hebat di tubuh pria itu. Benteng "kulkas dua pintu" itu benar-benar telah runtuh, menyisakan seorang pria yang hancur karena cintanya yang terlalu besar namun salah cara.
"Kau bodoh, Abang," bisik Amora lirih, air matanya akhirnya jatuh. Ia memberanikan diri menyentuh rahang Hamdan yang kaku. "Kau pikir melindungiku berarti menghancurkan hatiku? Aku lebih baik hancur bersama-sama denganmu daripada hidup aman tapi kehilangan dirimu."
Mendengar itu, pertahanan terakhir Hamdan pecah. Ia menarik Amora ke dalam pelukan yang begitu erat, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, Amora akan menghilang. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Amora, menghirup aroma mawar yang selama ini ia rindukan dalam kesendiriannya.
"Jangan pernah... jangan pernah lakukan itu lagi," bisik Hamdan dengan suara yang hampir pecah. "Jangan pernah biarkan pria lain menyentuhmu, meskipun kau membenciku setengah mati."
Malam itu, di pinggir jalan yang sunyi, ledakan perasaan itu tidak hanya menghancurkan dinding es di antara mereka, tapi juga menyatukan kembali janji-janji yang sempat retak.
Angin malam berhembus kencang, memainkan helai rambut Amora yang berantakan, namun tak satu pun dari mereka yang memedulikan dingin yang menusuk. Hamdan masih memeluk Amora dengan posesif, seolah-olah seluruh kekuatannya sebagai seorang Tarkan baru saja terkuras habis hanya untuk mengucapkan satu kejujuran.
"Kau selalu merasa harus memikul semuanya sendirian, bukan?" bisik Amora di dada Hamdan. Suaranya kini lebih tenang, penuh dengan empati yang mulai tumbuh kembali. "Kau pikir dengan menjadi jahat, kau bisa menyelamatkanku. Tapi kau lupa, Abang... aku bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa menangis saat jatuh di sawah."
Hamdan perlahan melepaskan pelukannya, namun tangannya tetap melingkar di pinggang Amora, menolak untuk memberi jarak. Ia menatap Amora dengan tatapan yang kini jauh lebih jernih, meskipun sisa-sisa luka di wajahnya masih terlihat jelas.
"Dunia yang kuhadapi sangat kotor, Amora. Aku tidak ingin tanganmu ikut berlumuran lumpur yang sama," sahut Hamdan rendah. Ia mengusap air mata di pipi Amora dengan ibu jarinya yang kasar namun terasa sangat hangat. "Tapi kau benar. Melihatmu menjauh dariku adalah hukuman yang jauh lebih berat daripada kehilangan seluruh kekayaanku."
Amora menggenggam tangan Hamdan yang berada di pipinya. "Kalau begitu, berhenti menjadi pelindung yang berjalan di depanku. Mulailah menjadi pria yang berjalan di sampingku. Lawan mereka bersamaku, Hamdan. Jangan biarkan mereka memenangkan fitnah sedarah ini."
Hamdan mengangguk pelan, sebuah janji tanpa kata terukir di antara mereka. Namun, momen itu terganggu oleh bunyi bip yang nyaring dari jam tangan pintar Hamdan. Sebuah notifikasi peringatan keamanan muncul.
"Farid baru saja mengirim sinyal," gumam Hamdan, matanya seketika berubah menjadi tajam kembali. Ia menarik Amora ke belakang tubuhnya, melindungi gadis itu secara instingtif.
Di tengah itu, lampu sorot sebuah mobil lain tiba-tiba menyinari mereka dari kejauhan.
Dari arah belakang mobil mereka, dua buah sorot lampu mobil yang terang benderang mendekat dengan kecepatan tinggi. Mobil itu tidak melambat, justru nampak sengaja mengarahkan sorot lampunya untuk membutakan pandangan mereka.
"Masuk ke mobil sekarang!" perintah Hamdan dengan nada suara yang kembali menjadi "Tuan Tarkan" yang waspada.
"Siapa mereka? Farr?" tanya Amora panik.
"Bukan. Farr tidak akan seberani ini menyerang secara terang-terangan di jalanan," jawab Hamdan sambil menyalakan mesin SUV-nya. "Ini adalah orang-orang yang mengirimkan dokumen palsu itu. Mereka ingin kita melakukan kesalahan malam ini."
Hamdan menginjak pedal gas, namun mobil misterius itu terus membuntuti, melakukan manuver berbahaya yang mencoba memojokkan mereka ke arah pembatas jalan. Di tengah pengejaran yang memacu adrenalin itu, Amora menyadari satu hal: pengakuan cinta Hamdan.
To be continued...