NovelToon NovelToon
SEBUAH DOSA

SEBUAH DOSA

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Tamat
Popularitas:509.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Penelope Magdalene

Bagaimana bila ibumu tidak pernah mau menceritakan apapun tentang ayahmu yang tidak pernah kau temui?

Bagaimana bila sejak kecil kamu selalu diikuti sosok berdarah yang selalu berubah wujud mengerikan; kamu tidak tahu siapa sosok itu atau kenapa dia mengikutimu?

Bagaiman bila sampai ibumu meninggal dia tidak pernah membuka rahasia tentang ayahmu yang sangat ingin kamu ketahui?

Aku baru saja menguburkan ibuku dengan perasaan sedih dan menyesal yang begitu dalam. Rahasia besar tentang identitas ayahku di bawa almarhuma ibu sampai ke liang lahat.

Namun layar takdir akhirnya terkuak juga ketika aku menemukan buku harian ibu yang lama tersembunyi. Di buku harian itulah aku akhirnya menemukan jawaban tentang ayah dan kebenaran tentang sosok berdarah yang selalu mengikutiku.

Follow Akun IG @penelopemagdalene24

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penelope Magdalene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 33

31 Desember 1989

Beberapa hari telah berlalu setelah perginya jenazah pak Marten untuk di otopsi. Hari ini rencananya almarhum akan dimakamkan, akrhinya, setelah berhari-hari menunggu.

Perjalanan menuju ke hari ini terasa lama dan sungguh tidak menyenangkan. Suasana terasa begitu mencekam dan menegangkan apalagi dengan sikap pak Yusuf yang semakin tidak mengenakan membuatku mulai merasa tidak betah tinggal di desa ini.

Sehari setelah jenazah pak Marten di bawa ke Tahuna untuk di otopsi, ibu Linda seperti berubah pikiran dengan keputusannya dan kalang kabut sendiri menangis dan meronta meminta Adit untuk mengembalikan jenazah suaminya. Apalagi setelah diketahui fakta bahwa ladang ganja milik suaminya sudah ditemukan oleh polisi, dia semakin bersikukuh membatalkan proses otopsi.

Akhirnya, setelah dibujuk dan dinasehati, ibu Linda pun diam dan mencoba untuk bersabar menunggu. Mungkin untuk menunjukkan rasa tidak senangnya dan untuk meremehkan Adit, pak Yusuf pun menawarkan diri untuk bolak-balik ke Tahuna setiap hari, mencari berita tentang hasil otopsi dan kepastian kapan jenazah bisa dibawa pulang. Selama 3 hari pak Yusuf pulang pergi Tahuna tanpa hasil yang pasti. Setiap hari tanpa kabar yang pasti tambah membuat ibu Linda gelisah, lebih baik kalau pak Yusuf tidak bolak-balik setidaknya ibu Linda agak lebih tenang dan sabar dalam menunggu. Namun, pak Yusuf yang picik tambah memperkeruh permasalahan dan duka pada keluarga almarhum.

Adit pun akhirnya berinisiatif untuk menawarkan diri untuk sesekali pergi menggantikan pak Yusuf, agar ibu Linda tenang tapi, malah tawaran Adit berujung pada adu mulut antara mereka. Padahal awalnya mereka bisa dibilang sahabat karib! Entah apa yang merasuki pak Yusuf sehingga jadi memusuhi Adit.

Beberapa hari kemudian, puing-puing kapal nelayan milik pak Marten terdampar di pantai setelah badai menerjang malam sebelumnya. Ibu Linda berlutut, menangis setelah memunguti beberapa bilah papan yang bercat kuning. Beberapa warga ikut membantu mengumpulkan puing-puing itu, termasuk Adit yang aku perhatikan sangat terfokus memandangi sebilah papan yang ditemukannya. Di papan itu terukir huruf M+L+E+M secara menurun.

"Bu, ini maksudnya apa, ya?" kata Adit setelah beberapa menit terpaku melihat ukiran itu.

"Oh, itu inisial nama kami: Marten, Linda, Elsye dan Mario. Dia iseng menulis itu dulu sewaktu kapal ini selesai di cat," ibu Linda barkata sambil membelai lembut inisial nama mereka.

Ibu Linda pun mengambil papan itu untuk menyimpannya, sebagai pengingat kenangan suaminya.

Disaat yang bersamaan, cerita-cerita penampakan pak Marten beredar sampai di kampung sebelah. Beberapa orang kenalan pak Marten mengaku pernah melihat bapak itu duduk-duduk di bawah pohon mangga tempat biasanya mereka berkumpul untuk minum-minum. Ada juga yang bercerita bahwa mereka pernah saling bertegur sapa dengan almarhum di jalan mau ke kebun padahal saat itu jenazah pak Marten masih berada di Tahuna.

Cerita yang paling dipercaya mungkin datang dari selembar surat yang ditulis oleh tante ibu Linda yang tinggal di Manado. Di surat itu diceritakan bahwa setelah jenazah pak Marten ditemukan, tantenya ibu Linda terbangun karena haus di tengah malam, dan sungguh mengagetkan ketika dia sedang minum, dari ujung matanya dia melihat pak Marten dengan tampilan yang seram; kulitnya berwarna abu-abu kebiruan, sekujur tubuhnya basah, wajahnya bengkak dengan pipi yang berlubang. Arwah pak Marten sedang duduk tegak di kursi ruang tamu yang menghadap dapur. Menurut cerita tente itu, dia sampai meriang dan sakit selama beberapa hari setelah penampakan itu.

Ibu Linda hanya bisa menangis dan berdoa untuk jiwa almarhum suaminya agar tenang dan bahagia di alam sana. Kadang orang-orang bercerita bahwa ibu Linda sering keluar rumah di jam 3 pagi kendati hujan deras, hanya untuk melihat apakah benar ada penampakan pak Marten yang duduk di pohon mangga. Ibu Linda ingin sekali melihat lagi suaminya meskipun hanya dalam wujud hantu. Seperti kata ibu itu: kenapa istrinya tidak didatangi? Kenapa hanya orang lain yang mendapat kunjungan almarhum?

Entah aku harus menangis atau tertawa dengan perkataan ibu Linda. Yang jelas aku yakin kalau aku tidak akan mampu bertahan melewatkan malam-malam di desa ini kalau tidak ada Yohanes yang menemaniku. Meski hujan dan badai yang hampir setiap malam melanda desa ini, dia tetap setia datang. Aku sangat bahagia dengan perhatiannya padaku, merasa sangat aman kalau ada dia.

Kemudian datanglah cerita-cerita yang asalnya dari dukun di kampung sebelah. Dia bilang bahwa hutan Kehu Marange adalah tempat lahirnya Opo Nedaha. Menurutnya, aura jahat kental sekali menguasai hutan itu, orang yang tinggal disekitarnya sering mengalami kemalangan seperti oma Oce dan ibu Linda. Apalagi kalau ada yang nekat menjelajahi hutan itu, dijamin tidak akan bisa keluar lagi!

Entahlah apa benar perkataan orang itu tapi yang jelas, setelah kabar itu beredar, tempat praktek dukunnya jadi laris manis. Banyak orang yang takut pada akhirnya datang padanya dan meminta jimat untuk perlindungan.

Pendeta Roki hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Syukurlah, di hari ke 3, pak Yusuf kembali dengan kabar bahwa jenazah pak Marten akan dikembalikan pada tanggal 30 desember. Selain itu, dia juga membawa kabar yang tidak mengenakan untuk ibu Linda bahwa dokter forensik menemukan jejak alkohol ditubuh pak Marten. Kadar alkohol dalam darah almarhum sungguh tinggi yang mengindikasikan bahwa dia mabuk berat di hari dia tenggelam. Ditambah lagi dengan penemuan ladang ganja maka, polisi menyimpulkan bahwa kematian pak Marten adalah karena kecelakaan dan bukan ada ungsur kesengajaan dari pihak lain.

Ibu Linda begitu terpukul mendengar hasil otopsi itu. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menangis dan berkabung, merelakan kematian suaminya.

Bunyi melengking sirene ambulans terdengar dari kejauhan, hujan rintik-rintik dan awan mendung seakan ikut bersedih bersama keluarga tatkala mereka menerima jenazah ayah, suami tercinta. Jenazah pak Marten tiba kala petang sehingga pemakaman pun disepakati untuk diadakan keesokan harinya, yaitu hari ini.

Malamnya diadakan ibadah penghiburan oleh pendeta Roki. Kami serumah menghadiri ibadahnya. Adit dan aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah dan menemui ibu Linda untuk menyampaikan rasa duka cita kami, sedangkan Rosa dan Nining memilih untuk duduk diluar bersama warga yang lain, terlalu takut untuk melihat mayat.

Ibadah penghiburannya berlangsung sampai malam. Setelah ibadah selesai, beberapa warga -kebanyakan laki-laki- tetap tinggal untuk berjaga semalaman. Kami tinggal agak lama setelah ibadah selesai untuk menunggu Yohanes yang menawarkan diri untuk mengantarkan kami pulang karena ombak yang lumayan kencang membuat kami tidak yakin bisa mendayung sendiri.

Bapak-bapak yang akan berjaga semalaman di suguhkan minuman keras sebagai teman begadang. Mereka pun mulai minum dan bernyanyi lagu-lagu penghiburan untuk melewatkan malam.

Salah satu lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu yang kemudian diberitahukan oleh Yohanes berjudul O Mawu Malondo. Nadanya begitu miris di hati apalagi dinyanyikan dengan sendu dan mendayu-dayu oleh bapak-bapak - luar biasa kebanyakan dari mereka punya suara yang bagus dan lantang - ditemani sayup-sayup suara tangisan ibu Linda yang datang dan pergi membuat hatiku terasa tidak enak, seperti sakit dan merana padahal aku juga tidak begitu mengenal pak Marten.

Adit dan Rosa juga terlihat termenung, fokus mendengarkan setiap lirik yang meski tidak kami mengerti artinya tapi, bisa kami rasakan intisarinya. Tidak banyak kata yang terucap dalam perjalanan pulang meski aku sangat ingin mengobrol banyak dengan Yohanes tapi, karena ada Adit dan Rosa, aku pun harus puas hanya dengan sesekali bertukar pandang dengannya.

Malam itu aku tidak bisa tidur dan sedang menunggu Yohanes, bertanya-tanya apakah dia akan jadi datang atau tidak, ketika aku mendengar langkah kaki seseorang yang turun dari lantai 2. Aku memasang pendengaranku, menerka-nerka apakah itu adalah langkah kaki nyata ataukah gangguan makhluk halus yang selalu mengangguku tatkala aku sendiri.

Perlahan terdengar langkah kaki itu menuju ke dapur, melewati depan pintuku. Tidak lama kemudian terdengar suara air yang dituang dari cerek. Aku bernafas lega, itu pasti suara Adit atau Rosa yang turun untuk mengambil minum.

Aku pun memberanikan diri membuka pintu kamarku perlahan dan menemukan Adit yang sedang berdiri membelakangiku.

"Dit," panggilku pelan.

Adit terus memunggungiku, seakan tidak mendengarku. Aku pun memanggilnya lagi dan lagi tapi, dia terus berdiri, mengacuhkanku. Aku jadi berpikir apakah ini salah satu gangguan makhluk yang tinggal disini? Aku mulai takut tapi, entah kenapa kaki ini terus saja maju mendekati Adit.

"Dit!" panggilku sedikit lebih kencang sambil menepuk pundaknya.

"Ah!" seru Adit seperti baru saja disadarkan dari sebuah lamunan dalam. "Mbak Rani kagetin aja!"

"Kamu sih mbak panggil dari tadi gak noleh!"

"Maaf mbak, aku gak perhatikan."

"Kamu kenapa sih, Dit? Akhir-akhir ini mbak perhatikan kayak lagi banyak pikiran."

Adit mendesau panjang dan duduk di kursi makan. "Aku tidak puas dengan hasil otopsi pak Marten. Aku merasa ada sesuatu yang janggal mbak. Terakhir aku bertemu pak Marten aku yakin sekali dia itu tidak mabuk!"

"Kamu kok bisa yakin begitu, Dit?"

"Aku bisa lihat, mbak! Kelihatanlah bedanya orang yang sadar dan mabuk. Dan ada sesuatu dari cara ngomong dia hari itu yang membuatku berpikir dia itu sedang membicarakan untuk memalak atau memeras seseorang. Memang dia tidak bilang secara gamblang, malahan dari kata-katanya terdengar dia itu memang mabuk, masa pergi ke bank jam segitu? Tapi, tetap saja, ada sesuatu di nadanya yang membuat aku yakin dia itu mau pergi meminta duit dari seseorang yang dia yakini akan memberikannya. Ketika mendengar cerita ibu Linda, aku jadi yakin dia itu sebenarnya mau pergi memeras seseorang. Sebetulnya, pada hari itu, aku merasa banyak kejadian yang janggal, mbak."

"Memeras? Dit, siapa di kampung ini yang bisa diperas? Terdengar tidak masuk akal!" seruku kaget dengan pendapat Adit. Memang tidak masuk akal! Memeras salah seorang disini? Apa kira-kira yang dilakukan orang itu sehingga pak Marten pikir dia mau dibayar agar tutup mulut? Aku tidak bisa menebak apa kejahatan yang mau ditutupi sedangkan tidak ada kriminalitas apapun yang terjadi disini.

"Entahlah mbak, aku juga bingung! Aku mulai berpikir kalau lebih baik kita sudahi saja liburan kita dan kembali ke Jakarta tapi, aku juga berpikir tentang oma Maria dan ibu Linda yang mungkin masih perlu bantuanku. Aku sudah berjanji akan menolong mereka dan janji itu belum aku penuhi."

"Janji apa, Dit? Apa yang bisa kamu lakukan untuk mereka? Dit, mbak gak mau kamu membebani diri kamu untuk hal seperti ini - hal yang tidak jelas seperti ini! Kalau kamu tidak nyaman lagi, ayo pulanglah! Jangan demi mereka dan janji kamu yang tidak realistis kamu terus bertahan disini sementara kamu tidak nyaman lagi."

"Hmm...akan aku pikirkan lagi, mbak. Tapi, aku yakin aku bisa berbuat sesuatu untuk mereka setidaknya untuk oma Maria, kalau aku bisa membuktikan bahwa benar Rita memang lari dengan mantan pacarnya. Lebih bagus lagi kalau aku tahu dimana mereka tinggal. Untuk sementara kita tetap tinggal dulu sampai aku dapat jawabannya.  Dan mungkin mbak jangan cerita ke Rosa, ya, aku cuma gak mau dia khawatir dan ikut-ikutan merasa tidak nyaman. Oh, padahal dia terlihat lebih cantik dan berseri disini, mbak!" terdengar nada menyesal dari suara Adit. Kata-kata Adit itu pun menutup malam kami.

Keesokkan harinya, setelah memasak sarapan -tante Nona meminta izin untuk tidak datang karena mau membantu memasak di rumah duka- aku dan Adit pergi ke rumah ibu Linda untuk membantu persiapan ibadah pemakaman almarhum. Adit bergabung bersama para bapak yang sedang mendirikan tenda sementara aku pergi membantu di dapur.

Sungguh berbeda suasana memasak kali ini; yang biasanya santai dan penuh canda tawa, sekarang senyap karena orang kebanyakan diam, kalaupun ada yang mengobrol pasti sambil berbisik-bisik. Aneh rasanya melihat orang yang banyak tapi sekeliling kami kesunyian merayap.

Aku dan tante Nona sedang duduk di bangku pendek, fokus memetik tangkai cabai. Sesekali seseorang datang dan menyapaku, bertanya tentang Rosa dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Tiba-tiba, tanpa ada yang menyadari, oma Maria datang dan langsung menyerang tante Nona. Dia mendorong ibu tua itu sampai jatuh dan menimpaku yang ikut-ikutan jatuh.

Oma Maria menunjuk-nunjuk tante Nona sambil menangis dan berbicara dalam bahasa daerah yang kental. Menurut ibu Vanda oma Maria berkata:

"Ini semua karena kamu! Kakek kamu adalah opo nedaha! Kamu pasti mewarisi iblisnya! Semua orang disini mati karena keluarga kamu. Kalian membunuh keluarga sendiri, membunuh tetangga sendiri demi apa? Nela, tolong kembalikan anak saya! Dulu kakek kamu mengambil sahabat saya, sekarang kamu mengambil anak saya! Apa lagi yang mau kamu ambil dari saya? Kamu sudah mengambil kebahagiaan dari hidup saya, teganya kamu!"

Tante Nona memandang oma Maria dengan penuh ketakutan dan kebingungan. Wajahnya pucat pasi sementara air mata menggenang, jatuh perlahan di pipinya.

Lusye segera datang dan memeluk ibunya. Perlahan dia berbisik di telinga oma Maria, beberapa saat kemudian ibu tua itu mengangguk dan dengan sukarela dibopong anaknya untuk pulang.

Kami yang berada di dapur hanya bisa melotot dan menganga, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tante Nona segera keluar setelah Lusye datang dan menyandarkan kepalanya di batang pohon mangga di belakang rumah ibu Linda untuk menenangkan dirimya.

"Perkataan oma Maria itu tidak benar," kata tante Marice pelan. Matanya terus melihat kearah pisau yang dipakainya untuk mengupas bawang merah. Tangannya dengan cekatan terus bekerja.

"Tante Nona bukan asli sini, dia pindah kesini setelah menikah dengan pak Jeki. Dia sendiri asli Minahasa," lanjut tante Marice lagi.

"Iya, itu betul," tambah ibu Wati.

Ibu-ibu yang lain pun menyetujui, mangut-mangut kemudian kembali mengerjakan pekerjaan mereka yang terhenti.

Aku terpaku menatap tante Marice, dalam pikiranku aku membandingkan kedua ibu itu yang usianya ternyata sama! Oma Maria yang sebenarnya belum berusia 60 tahun sudah terlihat sangat tua dan ringkih, rambutnya kocar kacir dan memutih. Di mata sebelah kirinya sel katarak mulai mengambil alih. Sementara di depanku tante Marice masih terlihat muda, rambut ikalnya sangat hitam, tidak terlihat helaian rambut putih. Badannya masih berisi dan terlihat fit. Sungguh berbeda!

Aku pun teringat dengan beban trauma yang dialami oma Maria sejak kecil dan stress yang disebabkan karena hilangnya anak sulungnya. Sungguh menyedihkan dan pantas saja dia terlihat menua sebelum waktunya. Tante Nona yang juga pernah merasakan kehilangan nampak tidak jauh berbeda dengan oma Maria. Mereka semua sama umurnya.

Dan itulah kenapa tante Nona bisa saja benar adalah Nela. Kalau memang benar dia adalah cucu kakek Beni, seorang penyembah Opo Nedaha, maka mungkin benar kata oma Maria, karena kehadirannya di kampung ini yang membawa iblis itu. Ah, entahlah sungguh di luar nalar!

"Kenapa, mbak Ran?" tanya tante Marice membuyarkan lamunanku.

Aku menggelengkan kepala dan kembali melanjutkan pekerjaanku memetik cabai. Tidak lama kemudian tante Nona kembali dan kami pun bekerja bersama lagi.

Tepat jam 12 siang ibadah pemakaman pak Marten di mulai dan tepat jam 13.00 rombongan kami berjalan perlahan menuju ke kuburan.

Aku teringat ketika aku menguburkan ibu. Sesak dadaku mengingat kesedihan yang sampai sekarang belum juga sembuh. Aku masih merindukannya, masih belum sepenuhnya merelakan kepergian ibu padahal sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu ibu meninggal.

Ibu Linda menangis meronta-ronta ketika peti jenazah perlahan mulai di masukkan ke dalam liang lahat. Sungguh mengharukan.

1
Evan Dirga
aku merasa terombang ambing antara keyakinan bahwa cerita ini lebih ke arah penyakit jiwa, tapi di sisi lain aku juga mempertimbangkan mengenai kebenaran adanya kutukan pemuja iblis.

terima kasih banyak atas karyanya yang luar biasa.
Evan Dirga
apakah Laura akan menjadi opo nedaha selanjutnya ?
Evan Dirga
jangan jangan Yohannes dan Effendi Panji tidak benar benar dieksekusi ?
Evan Dirga
dan sekarang Rani malah mengabaikan tanda tanda sakit jiwa yang diderita oleh anaknya, Laura.
Evan Dirga
kenapa tidak dibawa saja keponakannya ? malah menyerahkan tanggung jawabnya kepada orang lain.
Evan Dirga
wah kacau sekali keluarga Subroto.
Evan Dirga
bukankah celah itu seharusnya cukup besar untuk keluar masuk dua orang dewasa ? 🤔
Evan Dirga
tapi kejahatan sesungguhnya dilakukan oleh manusia.
Evan Dirga
Pak Yusuf dan Yohannes masuk ke Villa lewat mana ?
Evan Dirga
apakah di jaman ini belum ada perahu motor ya ?
Evan Dirga
cinta memang buta.
Evan Dirga
bukan karena tante Nona alias Nela yang tidak mewarisi iblisnya, tapi mungkin karena dia tidak mewarisi penyakit mental pendahulunya, atau bisa juga karena kakek Paulus dengan cepat mengambil tindakan untuk memulihkan kondisi kejiwaan Nela ke psikolog.
Evan Dirga
kalau di klinik ada ruang rawat inapnya, bukankah rosa sebaiknya dirawat di sana ? selain akan dapat perawatan lebih intensif, juga untuk mengamankan kondisi psikologisnya.
Evan Dirga
tidak terpikirkan untuk diawetkan dengan dibuat ikan asap atau ikan asin ?
Evan Dirga
baru sadarkah ?
Evan Dirga
yang jadi masalah, jika rosa dibiarkan ketakutan terus menerus, bisa berakibat fatal bagi kehamilannya.
Evan Dirga
apa tidak lebih baik dibawa ke klinik saja supaya mendapatkan penanganan intensif ?
Evan Dirga
rosa hamil. pendarahan karena syok.
Evan Dirga
atau jangan jangan, rosa sedang hamil muda.
Evan Dirga
akhirnya .. Rani memilih menyerah pada gairah cinta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!