𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 34 - PILIHAN YANG MENENTUKAN MASA DEPAN
Waktu bergerak tanpa menunggu siapa pun. Tiga bulan lebih berlalu sejak keberhasilan penuh misi di Ravelin. Musim berganti perlahan, dan di kehidupan Vhiena, perubahan itu terasa semakin dekat—bukan lagi sebagai bayangan masa depan, melainkan kenyataan yang harus dihadapi.
Pagi itu, udara terasa terasa hangat dari biasanya. Vhiena duduk di bangku kelas, memandangi papan tulis yang penuh coretan rumus dan catatan penting. Di tangannya, pena bergerak pelan, mencatat poin-poin terakhir yang mungkin keluar di ujian akhir sekolah.
Ujian yang menentukan kelulusan.
Di sebelahnya, Ayu dan Lala juga tampak serius. Tidak ada lagi tawa berlebihan seperti dulu. Obrolan mereka kini dipenuhi jadwal belajar, prediksi soal, dan kecemasan yang berusaha disembunyikan.
“Tidak terasa ya,” gumam Ayu pelan. “Sebentar lagi… selesai.”
Vhiena mengangguk. “Iya.”
Namun di balik kata sederhana itu, pikirannya jauh melayang. Kelulusan bukan hanya soal lulus atau tidak. Kelulusan adalah pintu. Dan pintu itu yang akan menentukan arah.
Hari-Hari Persiapan
Hari-hari berikutnya diisi dengan rutinitas yang padat. Bangun pagi, sekolah, les tambahan, belajar kelompok, lalu kembali belajar sendiri hingga larut malam. Vhiena tidak pernah mengeluh. Ia tahu, setiap lembar buku yang ia baca adalah langkah menuju masa depan yang ia inginkan.
Di kamarnya, dinding masih dihiasi foto besar dirinya bersama Rizuki. Foto itu kini bukan hanya kenangan, tetapi pengingat. "Aku tidak sendiri." Setiap malam, sebelum tidur, ia membuka ponselnya.
Vhiena: Aku capek hari ini. Tapi aku senang… rasanya dekat dengan garis akhir.
Rizuki membaca pesan itu di ruang kerjanya, di antara tumpukan laporan proyek kota baru.
Rizuki: Capek itu wajar. Tapi jangan ragu sama dirimu sendiri.
Vhiena: Aku tidak ragu, Aku hanya… takut salah memilih setelah lulus.
Rizuki terdiam sejenak. Ia tahu, ketakutan itu bukan tentang ujian Melainkan tentang hidup.
Rizuki: Pilihan yang kamu ambil dengan sadar tidak akan pernah sepenuhnya salah.
Vhiena tersenyum kecil.
Vhiena: Kalau begitu… aku akan memilih dengan berani.
Rizuki menatap layar lebih lama dari biasanya. Ia tahu, keputusan Vhiena akan segera datang.
Pertanyaan Tentang Masa Depan
Suatu sore, setelah belajar kelompok, lala tiba-tiba bertanya kepada ayu.
“Kamu mau ke mana setelah lulus?” Pertanyaan itu sederhana, tapi membuat suasana hening sejenak.
“Aku… mungkin kerja dulu,” kata Ayu. “Ayah ibuku butuh bantuan.”
Lala mengangkat bahu. “Aku pengen kuliah. Tapi masih bingung.” Lalu mereka menoleh ke Vhiena. Vhiena menarik napas pelan. “Aku mau kuliah,” katanya mantap. Kedua sahabatnya menatapnya. “Kamu sudah yakin?” tanya Lala. Vhiena mengangguk. “Sudah.”
Ia tidak mengatakan alasannya secara lengkap. Tidak tentang Rizuki, tidak tentang mimpi yang tumbuh diam-diam di hatinya. Ia hanya tahu satu hal—ia ingin berdiri sejajar suatu hari nanti.
Malam Penentuan
Malam itu, Vhiena duduk sendirian di kamarnya. Di hadapannya, brosur beberapa universitas terbuka di meja. Matanya berhenti pada satu nama.
Bluesky Future University. Kampus itu baru beberapa tahun berdiri, namun reputasinya melesat cepat. Fokusnya bukan hanya akademik, tetapi juga inovasi, teknologi, dan dampak sosial.
Vhiena membaca ulang visinya. “Mencetak generasi yang membangun masa depan, bukan hanya mengejarnya.” Dadanya bergetar pelan. Ia membuka ponsel.
Vhiena: Rizuki… Kalau aku kuliah jauh, kamu akan keberatan?
Rizuki membaca pesan itu dalam diam.
Ia tahu apa arti “jauh”.
Rizuki: Tidak. Selama itu pilihanmu.
Vhiena: Aku ingin berkembang Aku tidak mau hanya menunggu.
Rizuki tersenyum tipis.
Rizuki: Itu alasan yang indah.
Vhiena menatap layar.
Vhiena: Aku ingin masuk Bluesky Future University.
Rizuki tidak langsung membalas. Di dalam dirinya, sesuatu bergerak.
Di Balik Keputusan Rizuki
Malam yang sama, di Gedung Cakrawala. Rizuki berdiri di depan jendela, lalu berbalik menatap Mira dan Keira yang baru saja menyelesaikan laporan.
“BFU,” ucap Rizuki singkat. Keira mengangkat alis. “Bluesky Future University?” Rizuki mengangguk. “Nama Vhiena,” lanjutnya. “Masukkan ke daftar beasiswa penuh.”
Ruangan mendadak sunyi. Mira menatapnya, terkejut. “Tuan.. itu bukan prosedur biasa.” Keira ikut angkat suara, “Kami bisa mengatur jalurnya.
Tapi… ini sangat personal.”
Rizuki menatap mereka berdua. “Aku tahu,” katanya tenang. “Dan aku tidak ingin dia tahu.”
Mira terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Selama ini, semua keputusanmu selalu dingin dan rasional.” Keira menambahkan, “Ini pertama kalinya kami melihatmu seperti ini.” Rizuki tidak menyangkal. “Dia layak,” katanya singkat. "Bukan karena siapa aku." Tapi karena siapa dia.” Mira dan Keira saling berpandangan Mereka terkejut, Bukan karena beasiswa itu. Melainkan karena Rizuki memilih untuk mencintai tanpa memiliki.
Hasil yang Tak Terduga
Beberapa minggu kemudian, setelah ujian akhir selesai, hari itu tiba.
Vhiena baru pulang sekolah ketika ibunya memanggil dari ruang tamu.
“Vhiena, ada surat untukmu.”
Vhiena mengambil amplop itu. Logo kampus di sudut kiri atas membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya gemetar saat membuka.
Matanya membaca perlahan. “Selamat. Anda diterima sebagai penerima Beasiswa Penuh di Bluesky Future University.”
Dunia seakan berhenti. “Ayah… Ibu…” suaranya bergetar. “Aku… dapat beasiswa di BFU.” Ibunya memeluknya erat. “Ayahmu pasti bangga.”
Waktu itu setelah selesai ujian walaupun belum ada pengumuman kelulusan, vhiena mendaftar di BFU diantar ayahnya. 3 hari setelah mendaftar vhiena mengikuti tes masuk universitas. Di BFU tes masuk universitas tidak di lakukan dengan bersamaan dengan calon mahasiswa lain, melainkan hanya sendiri di ruangan khusus ujian dan di jaga oleh beberapa dosen. Bukan hanya untuk masuk universitas namun bagi mahasiswa baru dengan nilai tes terbaik akan mendapatkan beasiswa penuh.
Malam itu, di kamar, Vhiena duduk sambil memandangi surat itu berulang kali. Lalu ia mengetik.
Vhiena: Rizuki…aku di terima di BFU, Aku dapat beasiswa.
Rizuki membaca pesan itu, dan untuk sesaat, ia menutup matanya.
Rizuki: Selamat, Aku tahu kamu bisa.
Vhiena: Aku tidak tahu bagaimana caranya… Tapi aku bersyukur.
Rizuki tersenyum kecil.
Rizuki: Bersyukurlah pada dirimu sendiri.
Vhiena memeluk surat itu ke dadanya. Ia tidak tahu siapa yang bekerja di balik layar, Ia tidak tahu siapa yang memastikan jalannya terbuka. Ia hanya tahu satu hal: Masa depannya kini nyata.
Tatapan Mira dan Keira
Di Gedung Cakrawala, Mira menatap Rizuki dari kejauhan. “Dia benar-benar berubah,” bisiknya pada Keira. Keira mengangguk “Tidak. Dia tidak berubah.” “Lalu apa?” tanya Mira. Keira tersenyum tipis. “Dia akhirnya membiarkan dirinya sebagai manusia.”
Rizuki berdiri sendirian, menatap kota. Di satu sisi dunia, seorang gadis bersiap menapaki masa depan. Di sisi lain, seorang pria memilih tetap di balik bayangan. Dan cinta mereka… tumbuh tanpa suara.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/