NovelToon NovelToon
Bayang Koridor Di Utara

Bayang Koridor Di Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Romantis
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: nana_2

Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.

Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.

Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 — Selamat Tinggal, Evelyn

Ruangan yang tadi penuh jeritan kini berubah sunyi.

Terlalu sunyi.

Debu masih berjatuhan dari langit-langit yang retak.

Sisa bayangan hitam perlahan menghilang seperti asap tertiup angin.

Dan di tengah kehancuran ruangan itu…

Evelyn berdiri dengan tubuh yang semakin transparan.

Cahaya merah samar keluar dari retakan di tubuhnya.

Wajahnya terlihat jauh lebih tenang sekarang.

Tidak ada lagi tatapan penuh ketakutan seperti sebelumnya.

“Akhirnya selesai juga…”

Suaranya lirih.

Hampir seperti bisikan angin.

Naresha langsung berdiri mendekatinya.

Air matanya belum berhenti jatuh.

“Evelyn…”

Hantu perempuan itu menatap Naresha lalu tersenyum kecil.

Senyum yang sederhana.

Hangat.

Seperti siswi SMA biasa.

Bukan arwah yang selama ini terjebak di sekolah penuh kutukan.

Arven berjalan pelan mendekat sambil memegang lengannya yang masih sakit.

Buku hitam itu sudah habis menjadi abu di lantai.

Dan simbol merah di tubuhnya perlahan menghilang.

Tatapan Arven tertuju pada Evelyn beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

“Maaf.”

Evelyn terlihat sedikit terkejut.

“Buat apa?”

Arven menunduk pelan.

“Gue ga bisa nolong lo waktu itu.”

Sunyi sesaat.

Lalu Evelyn menggeleng kecil.

“Itu bukan salah kamu.”

Arven menggigit bagian dalam pipinya pelan.

Seolah masih sulit menerima kalimat itu.

Namun Evelyn melangkah lebih dekat.

Meski tubuhnya mulai memudar sedikit demi sedikit.

“Kamu udah nolong aku sekarang.”

Deg.

Naresha menahan napas.

Melihat mereka bicara seperti itu membuat dadanya terasa berat.

Evelyn menoleh ke arah Naresha.

Tatapannya lembut.

“Terima kasih ya.”

Naresha langsung menggeleng cepat.

“Harusnya aku yang bilang makasih…”

Suaranya bergetar.

“Kalau ga ada lo, kita mungkin udah mati.”

Evelyn terkekeh kecil.

Suara tawanya jauh berbeda dari tawa menyeramkan yang dulu sering terdengar di lorong sekolah.

Sekarang terdengar ringan.

Damai.

“Aku dulu takut banget…” bisiknya pelan. “Aku marah sama semua orang.”

Tatapannya turun ke lantai.

“Aku benci sekolah ini.”

Naresha diam mendengarkan.

“Aku pengen ada yang nyelamatin aku…” lanjut Evelyn lirih. “Tapi ga ada siapa-siapa.”

Udara di ruangan terasa makin dingin.

Namun kali ini bukan dingin yang menyeramkan.

Melainkan dingin yang menyedihkan.

Pak Damar masih terduduk di dekat dinding dengan wajah kosong.

Pria itu menatap abu sisa Penjaga tanpa bicara.

Seolah seluruh tenaga dan keyakinannya ikut hancur bersama monster itu.

Arven melirik pria tersebut sebentar lalu kembali menatap Evelyn.

“Sekarang semuanya udah selesai.”

Evelyn mengangguk kecil.

“Iya.”

Tubuhnya semakin transparan sekarang.

Jari-jarinya mulai berubah menjadi serpihan cahaya.

Naresha langsung panik lagi.

“Evelyn…”

Hantu perempuan itu tersenyum tipis.

“Aku harus pergi.”

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang tidak ingin didengar Naresha.

Ia tahu ini akan terjadi.

Tapi tetap saja sakit.

“Kita bakal lupa sama lo ga?” tanya Naresha pelan.

Evelyn tampak berpikir sebentar lalu menggeleng kecil.

“Engga.”

Matanya perlahan berkaca-kaca.

“Makanya jangan lupa aku ya.”

Air mata Naresha jatuh lagi.

“Mana bisa lupa…”

Evelyn tertawa kecil.

Lalu perlahan mendekati Naresha dan Arven.

“Aku seneng…” bisiknya pelan. “Di akhir hidupku, ada yang akhirnya benar-benar lihat aku.”

Sunyi.

Arven memejamkan mata sebentar.

Sementara Naresha sudah menangis tanpa bisa ditahan lagi.

Tubuh Evelyn mulai berubah menjadi cahaya merah lembut.

Retakan di tubuhnya menyebar semakin banyak.

Namun ekspresinya tetap tenang.

Tidak takut lagi.

“Aku capek…” katanya sambil tersenyum kecil. “Sekarang aku pengen istirahat.”

Dan perlahan…

Tubuh Evelyn mulai menghilang.

Sedikit demi sedikit.

Cahaya merah itu beterbangan memenuhi ruangan seperti kunang-kunang kecil.

Naresha refleks mencoba meraih tangannya.

Namun jemarinya hanya menyentuh udara dingin.

“Selamat tinggal, Evelyn…” bisik Naresha lirih.

Evelyn menatap mereka untuk terakhir kalinya.

Lalu tersenyum.

“Dadah.”

Dan dalam beberapa detik…

Tubuhnya benar-benar menghilang.

Menyisakan cahaya kecil yang perlahan padam di udara.

Sunyi.

Naresha berdiri diam sambil menatap tempat Evelyn tadi berada.

Dadanya terasa kosong.

Aneh.

Sedih.

Namun di saat bersamaan…

Ada rasa lega.

Karena akhirnya Evelyn bebas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!