"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Senggol, Bacok!
Suasana di dalam kamar VIP nomor empat itu mendadak sunyi senyap, cuma ada suara erangan tertahan dari si kapten berkumis tebal yang sekarang posisinya udah berlutut di lantai sambil megangin dadanya yang robek-robek.
Serpihan pedang besinya sendiri berserakan di sekitar dia, sebagian besar nancap di lantai kayu murni sampai bikin dekorasi kamar yang tadinya estetik sekarang kelihatan kayak habis dilewati angin puting beliung.
Mu Rong'er pelan-pelan nurunin tangan yang tadi dipakai buat nutupin mukanya. Pas dia lihat Ling Chen masih berdiri tegak tanpa ada seujung rambut pun yang lecet, dia langsung buang napas lega yang panjang banget.
"Gila... Tuan Muda Ling, kamu beneran monster ya?" bisik Mu Rong'er sambil geleng-geleng kepala heran.
"Itu tadi Kapten Garda Emas lho. Di luar sana, orang-orang harus sungkem kalau ketemu dia, tapi di depanmu malah dijepit pakai dua jari kayak nangkap lalat."
Kuro yang ada di bahu Mu Rong'er ikut-ikutan keluarin suara. "Kyuu~!" Makhluk hitam itu ngangguk-ngangguk manja, seolah-olah mau bilang kalau bosnya emang nggak ada tandingannya di dunia fana ini.
Ling Chen nggak gubris pujian dari Mu Rong'er. Dia malah ngelangkah maju, bikin si kapten yang tadi mukanya sangar sekarang langsung gemetaran parah sampai bot zirahnya kedengaran beradu sama lantai.
"Kam-kau... kalau kau berani bunuh aku, Pangeran Agung nggak bakal tinggal diam! Seluruh pasukan kekaisaran bakal buru kau sampai ke ujung dunia!" ancam si kapten dengan sisa-sisa harga dirinya yang udah anjlok ke tingkat paling bawah.
Suaranya gemetaran, kontras banget sama omongan besarnya pas baru mendobrak pintu tadi.
Ling Chen jongkok di depan kapten itu, natap dia pakai pandangan mata yang dinginnya melebihi es di kutub utara. "Pangeran Agungmu itu... emangnya dia punya berapa nyawa sampai berani kirim sampah kayak kalian buat ganggu waktu istirahatku?"
"Kau... kau nggak tahu seberapa kuatnya istana dalam!" si kapten nelan ludah kesusahan, darah segar masih ngalir dari sudut bibirnya yang robek.
"Pangeran Agung udah disokong sama tetua dari Benua Tengah. Kekuatan mereka bukan sesuatu yang bisa dibayangkan sama kultivator kampung kayak kau!"
Mendengar kata 'Benua Tengah', alis Ling Chen agak terangkat sedikit. Dia ngelirik ke balik jubahnya sendiri, tempat di mana Giok Jiwa Sembilan Langit peninggalan ibunya disimpan dengan aman.
Tampaknya, semua benang merah dari masalah ini emang berujung di tempat yang sama. Pangeran Agung di Ibukota ini cuma salah satu anjing pesuruh yang dipakai buat nyari keberadaan pusaka tersebut.
"Oh, jadi ada orang Benua Tengah di belakangnya?" Ling Chen senyum tipis, tapi senyuman itu malah bikin bulu kuduk si kapten berdiri semua.
"Kebetulan banget. Aku emang lagi nyari mereka. Tapi buat kau... informasi ini udah cukup buat bayar tiket perjalananmu ke neraka."
"Tung-tunggu! Jangan—"
CRACK!
Tanpa nunggu si kapten selesai memohon, tangan kanan Ling Chen bergerak secepat kilat menyentuh dahi pria itu.
Kekuatan Tulang Dewa yang tak kasat mata langsung menghancurkan seluruh meridian dan inti energi di dalam tubuh si kapten dalam sekejap mata. Pria bertubuh kekar itu langsung ambruk ke depan, matanya melotot kosong tanpa nyawa lagi.
Mu Rong'er yang ngelihat kejadian itu cuma bisa gigit bibir bawahnya. Dia udah sering lihat orang mati selama berpetualang, tapi cara Ling Chen mengeksekusi musuh-musuhnya selalu sukses bikin dia merinding. Nggak ada drama, nggak ada basa-basi, siapa yang nyenggol langsung dibacok tanpa ampun.
"Terus sekarang kita gimana, Tuan Muda Ling?" tanya Mu Rong'er sambil benerin posisi jubah merah mudanya yang agak kusut.
"Kapten mereka mati di sini. Anggota Garda Emas yang lain yang ada di lantai bawah pasti bakal langsung naik kalau mereka nggak dengar laporan dari bosnya."
"Ya kita samperin ke bawah," jawab Ling Chen enteng sambil berdiri dan ngibas-ngibas jubah birunya yang kena cipratan debu. "Ngapain nunggu mereka naik dan ngerusak tangga lagi? Lebih cepat bereskan mereka, lebih cepat kita bisa cari tempat tidur baru yang nggak berisik."
Mu Rong'er cuma bisa pasrah dengar jalan pikiran Ling Chen yang kelewat praktis itu. Dia buru-buru melangkah ngikutin dari belakang, sementara Kuro udah siap-siap di atas kepalanya sambil keluarin percikan listrik hitam kecil dari tubuhnya yang imut tapi mematikan.
Pas mereka keluar dari pintu kamar yang udah hancur berantakan, koridor lantai empat penginapan itu kelihatan sepi banget.
Semua tamu yang ada di kamar-kamar sebelah tampaknya milih buat ngunci pintu rapat-rapat dan pura-pura mati karena nggak mau ikut campur sama urusan Garda Emas Kekaisaran.
Ling Chen jalan santai menuruni tangga kayu menuju lantai dasar. Pas baru sampai di pertengahan tangga lantai dua, dia udah bisa melihat suasana aula bawah yang udah dikepung sama sekitar dua puluh orang prajurit berzirah emas lengkap dengan senjata tombak dan perisai berat mereka.
Para pengunjung penginapan yang lain dipaksa jongkok di pojokan aula sambil ditongkrongi sama beberapa prajurit. Suasana tegang banget, sampai suara gesekan baju aja bisa kedengaran jelas.
Begitu langkah kaki Ling Chen dan Mu Rong'er kedengaran menuruni tangga, semua pasang mata yang ada di aula langsung menoleh ke arah atas. Para prajurit Garda Emas yang sadar kalau yang turun bukan kapten mereka langsung pasang posisi siaga satu.
"Hei! Mana Kapten Zhao?! Kenapa malah kalian berdua yang turun?!" teriak salah satu wakil kapten dari bawah sambil ngangkat pedangnya lurus-lurus ke arah Ling Chen.
Ling Chen berhenti di anak tangga terakhir, tangannya masuk ke dalam saku jubah dengan gaya yang super santai. Dia natap dua puluh prajurit di depannya itu kayak lagi natap tumpukan kayu bakar yang siap dibakar kapan aja.
"Kapten kalian?" Ling Chen nanya balik sambil pasang muka polos yang kelihatan ngeselin banget. "Oh, orang berkumis tebal yang suka ngerusak pintu itu ya? Dia lagi tidur nyenyak di atas. Katanya malas turun, jadi dia nyuruh aku buat kirim kalian semua ke tempat dia lewat jalur kilat."
Mendengar omongan Ling Chen, wakil kapten itu langsung paham apa yang dimaksud sama kata 'tidur nyenyak'. Mukanya langsung merah padam karena marah luar biasa.
"Kurang ajar! Bocah sialan ini udah bunuh Kapten Zhao! Semua pasukan, bentuk Formasi Penggiling Daging! Cincang dia sampai jadi bubur!"
"Siap, Panglima!" teriah para prajurit itu kompak.
Dalam hitungan detik, dua puluh prajurit itu langsung bergerak lincah membentuk lingkaran berlapis, memblokir semua jalan keluar dari penginapan tersebut.
Tombak-tombak panjang mereka diarahkan ke tengah, siap menusuk Ling Chen dari segala arah begitu ada aba-aba. Aura tempur mereka bergabung jadi satu, menciptakan tekanan energi yang cukup kuat buat bikin kultivator Alam Fondasi biasa langsung berlutut lemas.
Tapi sayangnya, orang yang mereka hadapi malam ini adalah Ling Chen. Mantan kaisar yang jangankan formasi tingkat fana kayak gini, formasi pembantai dewa di Benua Atas aja udah pernah dia hancurkan pakai satu tangan doang.
"Mu Rong'er, mundur lima langkah ke belakang," ucap Ling Chen pelan tanpa menoleh.
"O-oke! Hati-hati, Tuan Muda!" Mu Rong'er langsung mundur cepat sambil meluk Kuro erat-erat, tahu diri kalau dia cuma bakal jadi beban kalau nekat ikut maju ke tengah lingkaran maut itu.
Ling Chen maju satu langkah, kakinya menginjak lantai aula dengan mantap. Tangannya perlahan bergerak menuju gagang pedang hitam karatan yang ada di pinggangnya.
"Formasi Penggiling Daging? Nama yang bagus... tapi sayang, malam ini yang bakal digiling itu adalah zirah emas kalian yang mengkilap itu."
SERRR~
Begitu jari-jari tangan Ling Chen menyentuh gagang pedangnya, aura di dalam aula penginapan itu mendadak berubah total. Angin puyuh mini yang membawa hawa kematian mendadak berputar mengelilingi tubuhnya, siap meratakan siapa saja yang berani mendekat satu jengkal pun ke arahnya.
Konflik di pusat Ibukota ini beneran udah pecah, dan Ling Chen nggak bakal tanggung jawab kalau malam ini istana bakal kekurangan stok pasukan elit mereka.