Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34. Kau mengharapkan kematianku?
Keheningan menyelimuti ruang makan ketika Ervana datang bergabung. Lampu-lampu yang berpendar indah malam itu seolah menambah kesan mewah. Ervana memilih menarik sebuah kursi lalu duduk agak jauh dari keluarganya. Ia ingat, terakhir kali ia mencoba untuk makan bersama keluarga itu, sang ibu memilih untuk mengabaikannya, menganggap ia lebih cocok diasingkan di rumah mewah itu. Renita tak bisa menyembunyikan raut kekesalannya. Ia baru saja membersihkan kamar Ervana. Hal paling hina menurutnya. Namun, ia tak punya kuasa untuk membantah apalagi Lucas seperti mengabaikannya setelah tau kejadian waktu itu. Untung saja Efendi dan Eva masih berada di pihaknya walaupun Eva Moses susah payah menyembunyikan perasaan bersalahnya pada sang putri kandung.
"Ada apa? Apakah ada yang ingin menyuruhku bergabung dengan pada pelayan lagi?" Gadis itu bertanya sinis setelah menyadari jika dirinya tengah menjadi pusat perhatian keluarganya.
"Bu-bukan begitu, Nak. Ibu-"...
"Ibu hanya mau bilang jika kursi ini milik Renita?" Ervana memotong kalimat ibunya dengan cepat bahkan sebelum wanita tua itu menyelesaikan kalimatnya.
"VANA". Suara teriakan yang begitu familiar itu rasanya seperti sebuah alarm bahaya di telinga Ervana.
"Di mana sopan santunmu?" Wajah Lucas memerah karena amarah. Ekspresi ngerinya seolah menegaskan satu hal, tidak ada yang boleh lebih kejam dari dirinya.
"Sopan santun yang seperti apa, Tuan Lucas?" Kedua bersaudara itu saling menatap dengan sorot mata yang membunuh. Lucas bangkit lalu menyeret paksa tangan adiknya. Cengkeraman kasar di tangannya membuat luka bakar itu kembali mengeluarkan darah segar. Ervana meringis kesakitan, namun Lucas tetap menariknya bak orang kesetanan.
"Shhh sakit lepaskan aku".
"Apa maumu sebenarnya, hah? Aku susah payah membawamu keluar dari rumah sakit jiwa dan sampai saat ini kau tak sekalipun mengucapkan terima kasih. Begitukah sikap yang ditunjukkan oleh seorang terpelajar? Kau membuatku muak Ervana. Malu sekali jika dunia luar sampai tau bahwa aku punya adik sepertimu". Setiap kata yang keluar dari bibir Lucas penuh dengan amarah dan kebencian. Mendengar semua hinaan itu dada Ervana terasa sakit seperti dihujam ribuan benda tajam. Pria itu, pria yang berdiri angkuh di depannya sekarang seperti orang asing di matanya.
"Durhaka sekali kau pada ibumu. Tidakkah kau tau jika ibu menangis berjam-jam ketika kau dinyatakan meninggal? Jika begini kelakuanmu seharusnya kau mati saja. Neraka memang tempat paling pantas untuk gadis tak tau sopan santun sepertimu!" Teriakan di akhir kalimat itu membuat telinga Ervana berdengung sakit. Tidak, rasa sakit di telinganya bahkan tidak seberapa dengan rasa sakit di hatinya. Setelah ia kembali dari kematian, ia pikir semua rasa sayang dan perhatian Lucas akan kembali menjadi miliknya. Nyatanya pria itu bahkan terang-terangan tidak menginginkannya. Rasanya seperih itu ketika saudara kandungmu mengharapkan kematianmu sendiri. Jika begini ujung ceritanya, untuk apa pria itu menangis meraung-raung di rumah sakit ketika dokter tak bisa menyelamatkannya?
"Aku tidak pernah menyuruh ibumu menangisi jasadku. Aku juga tak membutuhkan setetespun air mata yang mengalir di wajah angkuhmu. Kau Lucas Moses, kau dan ayahmu bahkan masih merencanakan hal licik di hari kematianku hanya karena demi menjaga nama baik keluarga Moses. Kau ingin menutup jasadku dengan tanah basah tanpa diketahui dunia luar kan? Dengan begitu, orang-orang akan tau jika hanya Renita satu-satunya putri keluarga Moses. Kau sangat kejam ternyata. Kau dan ayahmu sama saja". Ervana berbisik di ujung kalimatnya. Demi Tuhan rasa sesak di dada membuatnya ingin melakukan apapun yang menyakiti Lucas, namun separuh kewarasannya menyadarkannya.
Kenapa dia bisa tau? Batin Lucas berkecamuk liar. Wajah penuh kesakitan yang tak ditutup-tutupi oleh Ervana membuatnya ingin merengkuh tubuh mungil itu. Ervana adiknya, bohong sekali jika ia tidak sakit hati jika melihat adiknya terluka dan menangis. Namun, untuk ke sekian kalinya ia menjadi penyebab kesakitan sang adik.
"Tuan Lucas, kau memang menginginkan kematianku sejak lama kan? Supaya semua harta keluarga Moses jatuh ke tanganmu dan Renita. Ak-"..
"OMONG KOSONG. Kau pikir aku seburuk itu?" Lucas berteriak marah. Ucapan tak masuk akal Ervana benar-benar menyakitinya. Ia memang membenci Ervana, namun demi Tuhan ia tak pernah menunggu hari kematian sang adik.
"Kau bahkan lebih dari sekadar buruk dan aku membencimu, Lucas Moses. Sampai kapanpun aku membencimu. Aku akan pergi dari hadapanmu jika harinya tiba. Kau tak perlu merencanakan adegan pembunuhan atau apapun. Akan ada saatnya semua orang akan tau jika Renita adalah putri satu-satunya keluarga Moses. Jangan khawatir, jika kau membenciku akupun sama. Kita berdua hanyalah dua orang yang saling membenci".
PLAK PLAK, Amarah yang menggunung membuat Lucas tak bisa menguasai dirinya sendiri. Untuk ke sekian kalinya tangan kekar itu ia pakai untuk menyakiti wajah polos sang adik.
"Maaf! Aku terlalu marah". Lucas begitu panik melihat darah segar yang mengalir dari sudut bibir sang adik. Tangannya terulur hendak membersihkan cairan merah itu, namun Ervana memalingkan wajahnya dengan sekuat tenaga.
"Terima kasih banyak Tuan Lucas. Darah yang mengalir ini aku anggap sebagai putusnya hubungan kita".
Ya Tuhan aku tak pernah berniat menyakiti adikku.
Semangat ya 💪💪