"Aku bersumpah akan membalas semua penghinaan dan rasa sakit ini."
Tivany Wismell, seorang penipu ulung dari dunia modern bertransmigrasi ke zaman peradaban China kuno. Mengalami ketidakadilan dan nasib yang tragis, Tivany menolak menyerah dan akan membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perbedaan
"Apa kau menyukaiku?." Ujar Zuzu.
"S-saya tidak berani melanggar batasan, tapi saya benar-benar jatuh hati pada anda yang sangat tabah. Saya berpikir jika bisa memberikan sedikit dukungan untuk anda, saya akan merasa sangat terhormat." Ucap pengawal.
"Kau..... tapi, tapi aku wanita bersuami dan bahkan sudah memiliki anak. Apa kau tidak melihatku dengan jijik? aku sudah pernah melahirkan anak." Ucap Zuzu sok insecure.
"Apa yang anda khawatirkan nona ku yang cantik, hal seperti ini bukan hal besar yang bisa menghentikan ketulusanku. Saya bahkan ingin menjadi Ayah dari bayi jelita ini, terus berada di sisi anda adalah anugrah terindah bagi saya." Ucap si pengawal terus menggoda.
"Kau... apa kau serius." Zuzu tersipu.
"Tentu, nona. Meskipun hubungan kita harus di tutup-tutupi dari banyak orang, cinta dan ketulusan saya tidak akan pernah berkurang ataupun berpaling dari anda." Ucapnya.
"Tapi aku dengar kau adalah sepupu dari Dao, apa kau sengaja melakukan ini untuk mempermalukan ku?." Ujar Zuzu.
"Meskipun masih kerabat, watak kami berbeda. Saya sejak kecil selalu berlatih dengan keras, jarang pulang kerumah fokus menempa kekuatan agar bisa memiliki pekerjaan yang layak. Saya memiliki cita-cita membahagiakan istri saya, membuatnya terus merasa cukup meskipun hidup sederhana." Ucapnya yapping.
"Ahahahahahahah kau Berna benar polos dan naif." Zuzu tertawa.
"M-maafkan saya nona, saya memang tidak selalu pintar." Ucapnya malu-malu.
"Tenanglah, aku juga menyukaimu." Ucap Zuzu terlena.
"B-benarkah?." Pengawal itu terkejut.
"Benar, kita bisa melanjutkan hubungan yang lebih intim dari ini. Suamiku tidak akan pernah datang, kalaupun dia datang pelayan pasti akan memberitahuku. Karena itu, tetaplah si sisiku." Ucap Zuzu serakah.
"Suatu kehormatan bagi saya, nona." Pengawal itu mengecup tangan Zuzu.
Zuzu tersenyum puas, akhirnya dia memiliki pria yang akan memuaskannya. Dia tidak memerlukan cinta suaminya lagi, andai saja suaminya tergila-gila pada Dao pun dia tidak akan iri lagi.
Sebenernya siapa sosok pengawal ini? dari mana Chen menemukannya?. Ternyata Chen menyewa gigolo atau pelacur pria dari rumah bordil yang paling terlihat manis dan polos, meskipun polos dia harus terlihat gagah dan kuat agar cocok menjadi pengawal.
Chen membayar mahal untuk sewa satu tahun, sebagai gigolo merayu dan mendapatkan hati wanita adalah makanan sehari-hari. Jadi Zuzu sudah masuk perangkap, dia memakan umpannya dengan sangat lahap.
Sedangkan di sisi Meyleen, dia sedang sibuk berlatih bersama suami dan anaknya. Wei fokus melatih insting Lin, Meyleen diajari bertapa dan mengembangkan kekuatan magis yang ada pada dirinya.
Lin benar-benar memukau, di umurnya yang seharusnya masih bayi dia bisa berlari dengan sangat cepat dan gesit. Matanya bisa melihat sesuatu yang sulit di lihat mata telanjang, dia bisa menemukan banyak hal dengan matanya itu. Bahkan bisa mengendus bau dengan jarak lebih dari 10km, Meyleen yang melihat anaknya terlihat sangat fokus dan menikmati pelatihannya tersenyum simpul.
"Terlihat lucu tapi juga seram, semoga saat saat dia bisa bicara nanti dia tumbuh dengan normal." Gumam Meyleen menatap Lin.
"Anda tidak perlu khawatir nyonya, tuan muda pasti akan tumbuh dengan normal seperti Tuan." Ujar Kin.
"Aku harap begitu, apa kau juga serigala Kin?." Tanya Meyleen.
"Saya hanya manusia biasa." Bohong Kin.
"Jangan berbohong padaku, Wei saja tidak bisa membohongiku." Ucap Meyleen melirik tajam.
"Saya tidak berani mengungkapkan identitas saya, ini sumpah saya pada Tuan. Mohon maafkan saya Nyonya." Ucap Kin tertekan.
"Memangnya ada sumpah seperti itu? apa semua pekerja seperti itu?." Soso jadi ikutan penasaran pada Kin.
"Jaga batasanmu pelayan, tidak semua hal bisa kau pertanyakan." Kin menjawab Soso dengan dingin.
"M-maaf." Soso benar-benar malu dan takut.
"Memangnya kenapa dengan pelayanku? kau berani menjawabnya dengan begitu dingin, apa kau sedang merendahkanku?." Meyleen tersinggung.
"Maaf, tapi memang ada batasan untuk seorang pelayan Nyonya." Ucap Kin.
"Memangnya kau bukan pelayan? di hadapanku pun kau adalah seorang Pelayan, tapi apa pernah aku mengatakan hal kejam seperti apa yang kau katakan tadi. Terkadang kau harus bisa mengerti perasaan orang lain agar bisa hidup lebih nyaman, sikapmu membuatku tidak menyukaimu." Ucap Meyleen terus terang.
"Mohon maafkan kelancangan saya." Ucap Kin takut.
"Tidak ada maaf untukmu, memohonlah pada Soso." Dingin Meyleen.
"Soso, jangan bersedih. Setelah ini berusaha lah untuk menjadi lebih baik dan lebih kuat lagi, menjadi pelayanku pasti membuatmu menderita ya. Maafkan aku Soso, aku akan selalu membela jika memang kau benar tapi jika kau membuat kesalahan aku sendiri yang akan menghajarmu. Apa kau mengerti maksudku Soso?." Ucap Meyleen pelan namun tegas.
"Saya mengerti, saya akan tetap tahu batas antara pelayan dan junjungan. Tapi, saya masih di perbolehkan hidup dengan baik tanpa perlu takut dengan sesama pelayan." Ucap Soso mengerti.
"Pintar." Puji Meyleen.
Kin yang mendengar itu terkejut, dia baru saja mendapatkan ajaran baru. Dimana pelayan setara dengan pelayan mana pun, meskipun pelayan sendiri memiliki tingkatan tapi pelayan tetaplah pelayan. Meyleen memberikan kesetaraan pada pelayannya, tapi bukan berarti mengistimewakan atau terlalu memanjakannya.
"Apa kau paham Kin?." Meyleen melirik Kin.
"Saya mengerti secara garis besar. Tapi, sikap anda yang lembut dan pembela bisa membuat bawahan serakah dan semena-mena." Ucap Kin.
"Benar, aku juga takut Soso melakukan itu padaku karena aku berbaik hati. Tapi, aku hanya membalas budi pada Soso dan aku tidak akan segan menghajarnya jika dia melanggar batasan. Sampai saat ini Soso masih sangat bisa di percaya, jika dia berkhianat maka dia akan mati." Ucap Meyleen tenang.
"Saya tidak akan berani nona." Soso sungguh-sungguh.
"Pertahankan kesetiaan mu itu Soso, karena kesetiaan itu mahal. Tidak bisa dibeli dengan uang dan hanya orang hebat yang bisa melakukannya." Ucap Meyleen tegas.
"Baik, nona." Jawab Soso yakin.
Kin jadi merasa malu, padahal dia disini juga seorang bawahan tapi tingkahnya seperti seorang Tuan jika berhadapan dengan Pelayan. Melihat Meyleen yang tetap tegas dan berwibawa meskipun baik hati, membuat Kin jadi malu karena sifatnya yang terlalu besar kepala.
"Apa yang terjadi? kenapa kalian terlihat bertengkar." Wei datang menggendong Lin.
"Aku hanya sedang mengajarkan kemanusiaan pada pelayanmu." Ucap Meyleen jujur.
"Pelayan? apa yang kau maksud itu Kin?." Kaget Wei.
"Ya, memangnya ada orang lain." Meyleen ketus.
"Tapi dia bukan pelayan." Kaget Wei.
"Bawahan sama saja dengan Pelayan dan pesuruh, dia sudah berani memperlakukan Soso dengan dingin padahal mereka sama-sama pelayan. Aku tidak masalah jika ada yang menghukum Soso karena dia salah, tapi saat dia hanya bertanya untuk hal yang memang dia tidak tau, sebaiknya jawablah dengan benar. Jika tidak bisa menjawabnya cukup katakan jika itu rahasia, aku yakin Soso tidak akan memaksa." Ucap Meyleen.
"Maaf ini kesalahan saya karena terlalu besar kepala, Tuan." Ucap Kin membungkuk tau kesalahan.
"Aku berterimakasih karena kau sudah menegur Kin, tapi terlalu membela pelayan itu tidak baik. Manusia memiliki sifat serakah dan nafsu, jadi ketahui batasan itu sebagai Istriku." Ucap Wei menasihati.
"Aku mengerti." Meyleen mengangguk.
Selama ini Meyleen membela Soso karena Sosok yang selama ini selalu di sisinya, dia juga selalu menegaskan jika status Soso adalah seorang pelayan. Meyleen takut Soso akan terlena dan menusuknya dari belakang, karena itu Meyleen selalu bersikap tegas meskipun dia perhatian pada Soso.
apa jadi lupa akan meylin dan lin....
q harap tidak ya thorrr 💪😘