ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 34: Badai di Balik Pinus dan Sumpah Darah.
Kegelapan di luar kamar Alaska dan Sania bukan lagi sekadar malam yang sunyi, melainkan sebuah entitas yang bernapas. Di balik rimbunnya pohon pinus yang memagari Pesantren Al-Ikhlas, hawa dingin tidak hanya berasal dari angin gunung, tetapi dari logam dingin laras panjang yang telah terkunci pada satu koordinat.
Di dalam kamar, Alaska belum sepenuhnya terlelap. Meski tubuhnya letih dan aroma harum mukena Sania memberikan ketenangan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup, insting predatornya yang telah terasah selama belasan tahun di dunia bawah tidak bisa mati begitu saja. Detak jantungnya stabil, namun telinganya menangkap frekuensi yang janggal—suara gesekan ranting yang tidak mengikuti irama angin.
Ia melirik Sania yang telah terlelap dengan sisa senyum di bibirnya. Wajah tanpa cadar itu terlihat begitu damai, sebuah kontras yang menyakitkan dengan badai yang ia tahu sedang mengepung mereka.
Pergerakan dalam Bayang-Bayang.
Bara bergerak seperti hantu di antara bayang-bayang asrama santri. Dua santri senior, Lukman dan hamzah, mengikuti di belakangnya dengan langkah yang nyaris tak terdengar. Mereka tidak membawa senjata api—karena Kyai Yusuf melarang keras adanya bubuk mesiu di tanah suci ini—namun di tangan mereka terdapat busur panah tradisional dan tongkat kayu yang telah diperkuat.
"Mereka ada di sektor barat," bisik Bara melalui alat komunikasi kecil di telinganya. "Tiga orang. Menggunakan thermal imaging. Mereka tidak mengincar Kyai, mereka mengincar kamar Tuan Alaska."
Bara tahu, pesan dari Orion tadi bukan sekadar gertakan. "Melumpuhkan sayap" berarti menghancurkan Sania. Bagi Orion, Alaska yang jatuh cinta adalah Alaska yang lemah. Dan cara terbaik untuk menghancurkan seorang pria yang baru saja menemukan Tuhan adalah dengan merenggut alasan yang membuatnya ingin menjadi baik.
Tiba-tiba, sebuah kilatan kecil muncul dari arah bukit. Itu adalah pantulan lensa.
"Tiarap!" desis Bara.
Zing!
Sebuah peluru dengan peredam suara bersarang di batang pohon, tepat di tempat kepala Lukman berada sedetik yang lalu. Serangan telah dimulai.
Singa yang Terjaga.
Di dalam kamar, Alaska tiba-tiba bangkit. Ia tidak menyalakan lampu. Dengan gerakan secepat kilat namun sangat halus agar tidak membangunkan Sania, ia menyambar jaket kulitnya dan sebilah pisau komando yang ia sembunyikan di bawah dipan—satu-satunya "masa lalu" yang ia bawa ke pesantren ini sebagai bentuk ikhtiar perlindungan.
"Mas...?" Sania terbangun, suaranya serak karena kantuk. Ia meraba sisi ranjang yang kosong.
"Tetap di bawah, Sania! Jangan mendekat ke jendela!" perintah Alaska dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Sania langsung tersadar sepenuhnya. Ketakutan sempat melintas di matanya, namun ia melihat ketegasan di wajah Alaska—wajah yang baru saja ia perlihatkan kecantikannya secara utuh. Ia segera turun dari ranjang dan berlindung di sudut ruangan yang paling aman, sesuai instruksi darurat yang pernah dibisikkan Alaska sebelumnya.
"Gunakan cadarmu kembali, Sayang," bisik Alaska sambil menatap jendela. "Jangan biarkan mereka melihatmu."
Sania menurut dengan tangan gemetar. Ia mengenakan kembali kain hitam itu. Di saat itulah, kaca jendela pecah berantakan. Sebuah tabung gas air mata dilemparkan ke dalam.
"Tutup hidungmu!" teriak Alaska. Ia menyambar selimut, membasahinya dengan air dari teko di meja, dan melemparkannya ke atas tabung gas tersebut untuk meredam asapnya. Pintu kamar didobrak dari luar. Bukan oleh musuh, melainkan oleh Bara.
"Tuan! Kita harus pindah! Mereka menggunakan tentara bayaran profesional dari luar negeri. Ini bukan lagi sekadar preman bayaran Orion!" Bara berteriak sambil melepaskan tembakan balasan ke arah kegelapan hutan dengan pistol yang ia ambil dari pembunuh yang tertangkap tadi siang.
Pertempuran di Serambi Suci.
Alaska menarik Sania ke arah pintu belakang yang terhubung langsung dengan lorong rahasia menuju perpustakaan bawah tanah pesantren. Di sana, Kyai Yusuf sudah menunggu bersama beberapa santri yang terjaga.
"Bawa dia ke bunker, Bara! Jaga dia dengan nyawamu!" perintah Alaska.
"Lalu Anda, Tuan?"
Alaska berbalik, menatap ke arah jendela yang hancur. Matanya kembali menajam, memancarkan kedinginan yang dulu membuatnya ditakuti sebagai "Naga Hitam".
"Aku akan menyelesaikan urusanku dengan masa lalu. Jika aku tidak menghadapi mereka sekarang, mereka akan terus mengotori tempat suci ini."
"Mas, jangan!" Sania menahan lengan Alaska. "Jangan kembali menjadi orang itu. Jangan biarkan kebencian memimpinmu."
Alaska berhenti sejenak. Ia memegang tangan Sania, lalu mencium keningnya di balik kain cadar.
"Aku tidak bertarung karena benci pada mereka, Sania. Aku bertarung karena aku mencintaimu. Dan aku tidak akan membiarkan iblis-iblis itu menginjakkan kaki di tanah tempatmu bersujud."
Alaska melepaskan pegangan itu dan menghilang ke dalam kegelapan lorong, menuju halaman luar yang kini telah berubah menjadi medan pertempuran.
Strategi Sang Naga.
Di halaman pesantren, suasananya mencekam. Lampu-lampu taman telah dipadamkan. Alaska bergerak di antara pilar-pilar kayu, memanfaatkan kegelapan sebagai kawan. Ia melihat tiga orang berpakaian taktis hitam sedang bergerak menuju bangunan utama. Mereka bergerak dengan formasi militer yang rapi.
"Target satu terdeteksi," bisik salah satu penyerang ke radio komunikasinya.
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan muncul dari balik bayang-bayang. Alaska menerjang dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tanpa menggunakan senjata api, ia menggunakan teknik CQC (Close Quarters Combat) yang mematikan.
Ia mematahkan pergelangan tangan lawan yang memegang senapan, lalu dengan satu gerakan sapuan kaki, menjatuhkan lawan tersebut ke tanah. Sebelum lawan kedua bisa membidik, Alaska menggunakan tubuh lawan pertama sebagai perisai manusia.
Puff! Puff!
Peluru berperedam menghujam rekan mereka sendiri. Alaska melepaskan tubuh itu dan meluncur ke arah penyerang kedua, memberikan hantaman keras pada jakun lawan yang membuatnya langsung pingsan karena kekurangan oksigen.
Namun, penyerang ketiga lebih sigap. Ia menjauh dan menarik sebuah granat kejut (flashbang).
BOOM!
Cahaya putih membutakan memenuhi halaman. Telinga Alaska berdenging hebat. Pandangannya putih seketika. Ia terhuyung, mencoba mencari pegangan pada tiang kayu.
"Habisi dia," sebuah suara berat terdengar dari kegelapan yang lebih jauh.
Seorang pria tinggi besar keluar dari balik pohon pinus. Ia tidak memakai penutup wajah. Wajahnya penuh bekas luka bakar—dia adalah 'The Butcher', algojo kepercayaan Orion yang dikabarkan telah mati dalam ledakan di gudang pelabuhan setahun lalu.
"Lama tidak jumpa, Alaska," ejek The Butcher sambil menodongkan laras senjatanya tepat ke dada Alaska yang masih berusaha memulihkan penglihatannya.
"Orion mengirimkan salam. Dia bilang, istrimu sangat cantik di foto tadi walau hanya kedua matanya yang terlihat. Sayang jika wajah itu harus hancur oleh peluru."
Mendengar nama Sania disebut dengan nada melecehkan, sesuatu di dalam diri Alaska meledak. Rasa sakit di matanya dan luka di tubuhnya seolah sirna.
"Kau..." suara Alaska bergetar oleh amarah yang tertahan. "Seharusnya kau tetap mati di pelabuhan itu."
"Aku bangkit dari neraka untuk menjemputmu, Naga," The Butcher menyeringai. "Dan setelah kau mati, aku sendiri yang akan mengantarkan istrimu kepada Orion."
Kekuatan Doa dan Tekad.
Saat The Butcher hendak menarik pelatuk, sebuah anak panah meluncur dari kegelapan dan menancap tepat di bahu kanannya.
"Allahu Akbar!" teriak Hamzah dari atas atap asrama.
Tembakan The Butcher meleset, hanya menyerempet bahu Alaska. Alaska tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan raungan seperti singa, ia menerjang The Butcher. Pisau komandonya berkilat di bawah cahaya bulan yang sesekali muncul dari balik awan.
Terjadilah pertarungan satu lawan satu yang brutal. The Butcher dengan kekuatannya yang masif, dan Alaska dengan kelincahan serta tekniknya yang presisi. Mereka bergulir di atas tanah, di antara tanaman bunga melati yang ditanam Sania.
Alaska berhasil menusukkan pisaunya ke paha lawan, namun The Butcher membalas dengan hantaman siku yang meretakkan tulang rusuk Alaska. Alaska terbatuk darah, namun ia tidak berhenti. Di kepalanya, hanya ada satu bayangan: Sania yang sedang berdoa di dalam bunker.
Aku harus pulang padanya. Aku harus tetap hidup untuk menjadi imamnya.
Dengan satu gerakan terakhir yang penuh risiko, Alaska membiarkan dirinya terkena pukulan telak di wajah demi bisa mendekat. Saat jarak mereka nol, ia memiting leher The Butcher dengan teknik kuncian mematikan dan menusukkan pisau ke titik saraf di bahu belakang yang membuat lengan lawan lumpuh seketika.
Alaska menjatuhkan The Butcher ke tanah, lalu menindihnya. Pisau Alaska kini berada di leher pria itu.
"Katakan pada Orion," bisik Alaska dengan napas tersengal-sengal dan darah mengalir dari pelipisnya. "Aku bukan lagi Naga Hitam yang dia kenal. Aku adalah pelindung tempat ini. Dan jika dia mengirim satu orang lagi, aku akan merobohkan seluruh kerajaannya hingga ke akar-akarnya."
"Bunuh... bunuh saja aku..." desis The Butcher.
Alaska menatap mata pria itu. Dulu, ia tidak akan ragu untuk menyayat leher lawan. Namun, bayangan Sania yang sedang memakai mukena putih kembali muncul. Suara Kyai Yusuf bergema di telinganya: Keberanian sejati adalah mengendalikan diri saat kau memiliki kekuatan untuk menghancurkan.
Alaska perlahan menjauhkan pisaunya.
"Tidak. Aku tidak akan mengotori tanganku lagi dengan darah sampah seperti kalian di tanah ini."
Bara dan para santri segera datang mengepung. Mereka mengikat The Butcher dengan tali tambang yang kuat.
Ikatan yang Semakin Kuat.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Sisa-sisa pertempuran masih terlihat jelas: kaca yang pecah, tanaman yang rusak, dan bercak darah di tanah. Namun, suasana pesantren tetap tenang. Kyai Yusuf memerintahkan para santri untuk tetap tenang dan melakukan salat Subuh seperti biasa.
Alaska berjalan tertatih menuju bunker. Tubuhnya penuh memar, bajunya sobek, dan luka lamanya terbuka kembali. Saat pintu bunker dibuka, Sania langsung berlari memeluknya.
"Mas! Ya Allah, kau terluka..."
Sania menangis tersedu-sedu, jemarinya yang gemetar meraba luka di wajah Alaska.
Alaska tersenyum tipis, meski itu terasa sakit di bibirnya yang pecah.
"Aku baik-baik saja, Sania. Mereka tidak akan kembali malam ini."
Sania menatap suaminya dengan penuh haru. Ia melihat Alaska yang hancur secara fisik, namun begitu bercahaya secara spiritual. Alaska tidak lagi terlihat seperti penjahat yang sedang bersembunyi, melainkan seperti ksatria yang baru saja kembali dari medan jihad.
"Tadi... aku tidak berhenti berdoa, Mas," bisik Sania. "Aku meminta pada Allah, jika memang waktu kita harus berakhir malam ini, biarkan aku mati dalam keadaan ridha padamu. Tapi Allah ternyata masih mengizinkan kita untuk bersama."
Alaska memeluk Sania erat di depan Kyai Yusuf dan Bara yang hanya bisa menunduk takzim. Di tengah fajar yang mulai menyingsing, Alaska menyadari bahwa perjuangannya belum berakhir. Orion masih ada di luar sana, dan ancaman akan terus datang.
Namun, ada satu hal yang berbeda. Jika dulu ia bertarung untuk bertahan hidup, sekarang ia bertarung untuk melindungi kehidupan. Jika dulu ia hidup dalam kegelapan, sekarang ia memiliki cahaya yang siap ia jaga hingga napas terakhir.
Kyai Yusuf mendekat, meletakkan tangannya di bahu Alaska.
"Anakku, badai semalam hanyalah pembukaan. Orion telah melihat bahwa kau memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat dari senjata: yaitu cinta dan iman. Dia akan menyerang dari sisi yang tidak kau duga."
Alaska menatap Kyai dengan tegas.
"Saya siap, Kyai. Selama Sania di samping saya, saya tidak akan goyah."
Di saat yang sama, di sebuah hotel mewah di pusat kota, Orion duduk di depan layar monitor yang menampilkan rekaman satelit dari Pesantren Al-Ikhlas. Ia menyesap cerutunya dengan tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh kegagalan The Butcher.
"Biarkan dia merasa menang untuk sejenak," gumam Orion pada asistennya. "Alaska terlalu fokus pada musuh dari luar. Dia lupa bahwa musuh yang paling efektif adalah yang berada di dalam hatinya sendiri."
Di hotel mewah itu, Orion menatap layar dengan seringai iblis. Ia membuka folder berjudul "Proyek Karma".
Di dalamnya terdapat rekaman suara percakapan rahasia antara Hasan (Kyai Yusuf) dan pihak lawan di masa lalu yang menjadi bukti pengkhianatan Hasan terhadap Alaska. Namun, yang lebih kejam adalah foto-foto pernikahan paksa Alaska dan Sania di awal—wajah Sania yang tertutup cadar namun matanya menyiratkan ketakutan luar biasa, dan wajah Alaska yang penuh kebencian saat itu.
"Alaska sudah lupa siapa dia sebenarnya," gumam Orion. "Dia pikir dia sedang membangun surga bersama Sania. Dia lupa bahwa dia menikahi wanita itu hanya untuk menginjak-injak harga diri ayahnya. Dia lupa bahwa Sania adalah korban dari ambisinya sendiri."
Orion mengetik sebuah pesan singkat untuk disertakan dalam dokumen tersebut:
"Bagaimana rasanya mencintai wanita yang kau jadikan alat pemuas dendam? Dan bagaimana hancurnya hati Sania jika dia tahu bahwa suaminya menikahinya hanya untuk menghancurkan ayahnya."
__Keberanian sejati bukanlah tentang seberapa banyak darah yang tumpah, melainkan tentang seberapa kuat kita menahan diri demi menjaga kesucian orang yang kita cintai. Sebab, pelindung yang hebat tidak lahir dari kebencian terhadap musuh di depannya, tetapi dari cinta yang besar kepada siapa yang ada di belakangnya__
__Badai di luar mungkin bisa diredam dengan pedang, namun badai di dalam hati hanya bisa disembuhkan oleh kejujuran. Masa lalu bukanlah penjara jika kita mengakuinya, namun ia akan menjadi bom waktu jika kita membangun kebahagiaan di atas fondasi rahasia yang terpendam_&
__Jangan takut pada gelapnya malam yang membawa musuh, karena fajar akan selalu datang membawa kemenangan bagi mereka yang bersujud. Namun, waspadalah pada cahaya yang menipu, karena terkadang luka yang paling dalam tidak berasal dari tebasan lawan, melainkan dari kenyataan yang selama ini kita sembunyikan dari diri sendiri__
Bersambung ....