Amira wanita cantik itu, menatap suaminya dengan perasaan yang sulit di artikan. bagaimana tidak, dua tahun yang lalu, dia melepaskan kepergian Andika untuk bekerja ke kota, dengan harapan perekonomian rumah tangga mereka akan lebih mapan, keluar dari kemiskinan. tapi harapan itu hanyalah angan-angan kosong. suami yang begitu di cintanya, suami yang setiap malam selalu di ucapkan dalam sujudnya, telah mengkhianatinya, menusuknya tanpa berdarah. bagaimana Amira menghadapi pengkhianatan suaminya dengan seorang wanita yang tak lain adalah anak dari bos dimana tempat Andika bekerja? ikuti yuk lika-liku kehidupan Amira beserta buah hatinya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Baim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Amelia berdiri terpaku, menatap Amira dengan pikiran yang tidak menentu. Amel sadar betul kalau saudara sepupu nya itu sedang mengalami trauma. Itu kerena perbuatan mereka di masa lalu.
"Ya sudah, kalau gitu. Aku cuma mau tanya keluarga pasien Bu Susi yang mana di panggil dokter di dalam."Ucap Amelia, menyampaikan niat awalnya.
"Mira."
Bu Sinta menyentuh pundak Amira. "Apa Ibu saja yang masuk?"
"Biar aku saja Bu, aku nggak papa kok."Jawab Amira. Dia harus tahu tentang keadaan mertuanya.
"Bu, bisa minta tolong hubungi Riska?"Pinta Amira pads Bu Sinta.
"Maaf, Ibu nggak punya nomor HP-nya Riska."
"Pake HP aku aja Bu. Tolong ya Bu. Aku masuk ke dalam dulu."Pamit Amira.
"Iya."
"Ayo Mbak, aku menantunya Ibu Susi.'Ucap Amira lanjut. Dia pun berdiri.
Amelia tercengang. Keluarganya memang tahu, kalau Amira sudah menikah. Dan di antara saudara-saudara mereka tidak ada yang menjadi wali nikah Amira. Karena Ibunya tidak mempunyai saudara laki-laki selain Pak de nya. Yaitu Ayah Amira.
"Kalau begitu ayo masuk!"Ajak Amelia.
Amelia berbalik badan dan melangkah masuk, di ikuti Amira dari belakang.
"Dok, ini keluarganya Bu Susi."Amelia memperkenalkan Amira pada seorang dokter pria yang masih terlihat muda dan ganteng.
Amira mendongak menatap dokter yang terlihat tinggi, berdiri tak jauh darinya.
"Kayaknya aku pernah lihat, tapi dimana ya?"Batin Amira, melihat wajah dokter itu, yang seperti tidak asing baginya. Amira seperti mengenal wajah itu. Tapi dia lupa dimana pernah melihatnya.
Dokter itu pun menatap Amira sejenak. Tapi raut wajahnya terlihat terkejut. Itu dilihat dari dahinya yang mengerut.
"Mbak siapanya pasien?"Tanya dokter itu, menghindari dari rasa terkejutnya.
"Saya menantunya dok."
Dokter itu makin terkejut. Pasalnya dia tidak menduga kalau wanita yang masih terlihat muda itu, sudah menikah.
"Kalau begitu ayo silahkan duduk, saya akan menjelaskan tentang kondisi Ibu mertua Anda."Kata Pak dokter ganteng, sambil melangkah menuju meja di ruangan itu.
Amira pun mengikuti langkah Pak dokter. Tapi kepalanya menoleh ke arah brankar di mana Ibu mertuanya sedang terbaring dengan mata terpejam dan jarum selang infus tertancap di lengannya.
"Ayo silahkan duduk Mbak!"
"Iya dok terima kasih."
Dokter pun menjelaskan mengenai penyebab Ibu mertuanya Amira, sampai bisa pingsan di rumahnya.
"Jadi tentang kondisi Ibu mertua anda, tolong diperhatikan ya Mbak. Saat ini stroke nya masih ringan. Walau tangan sebelah tidak bisa di gunakan dengan normal, Insya Allah masih bisa di sembuhkan, dengan sering melakukan terapi. Minum obatnya harus rutin. Di jaga pola makannya. Jangan di kasih makan yang mengandung lemak. Usahakan banyak bergerak, biar peredaran darahnya lancar dan otot-ototnya tidak kaku. Dan juga jangan sering membuatnya marah-marah. Itu bisa memicu tekanan darahnya naik. Dan satu lagi, jangan sampai Ibunya jatuh lagi ya?"Jelas Pak dokter panjang lebar.
Amira terkesiap. Tak menyangka kalau Ibu mertuanya bisa terkena stroke. Tapi mungkin saja itu bisa terjadi. Amira tahu betul bagaimana perangai Ibu mertuanya di rumah.
Dari sudut lain, Amelia memandang Amira. Tanpa disadarinya setetes bening meluncur begitu saja dari sudut matanya.
"Maafkan Mbak ya Mir, maafkan Mbak. Kamu nggak tau, kami semua sedang menanggung karma atas kezhaliman yang kami lakukan padamu. Semoga kamu mau memaafkan kami."Batinnya menangis pilu.
"Kamu kenapa Mel?"Tanya Lisa, teman seprofesi Amelia, berbisik.
"Hahhh..Ehhh, aku nggak papa kok."Jawab Amel, buru-buru menghapus pipinya yang terkena tetesan air mata.
"Nggak papa gimana? Kamu nangis loh."
"Aku cuma sedih, mikirin Ibu ku. Keadaan Ibu sama seperti Ibu itu..malah sudah nggak bisa ngapa-ngapain. Hanya berbaring di tempat tidur. Seluruh badannya sudah tidak bisa di gerakan lagi. Semua pengobatan sudah kami lakukan, harta habis, tapi nggak menghasilkan apa-apa."Cerita Amel berkeluh kesah.
"Kamu yang sabar."
Di tempat Amira berada.
"Baik dok terima kasih, sudah menolong Ibu saya."Ucap Amira berterima kasih.
"Itu tugas saya sebagai seorang dokter.. biarkan Ibunya istirahat sebentar di sini dulu, sampai cairan infus nya habis, baru kita pindahkan ke ruang rawat inap. Apa Ibu mertua Mbak punya BPJS? Atau asuransi mungkin?"Tanya Pak dokter lagi.
Amira bingung. Masalahnya dia sendiri tidak tahu, kalau Ibu mertuanya punya BPJS atau tidak.
"Sebentar ya dok, saya tanya suami saya dulu. Soalnya saya kurang tau Ibu punya atau nggak itu semua."
"Memangnya suami Mbak di mana?"
"Suami saya lagi kerja di kota dok. Permisi ya saya telepon suami saya sebentar. Tapi saya mau lihat Ibu saya sebentar. Boleh ya dok?"
"Oh ya...silahkan Mbak. Tapi Ibunya masih tidur, mungkin juga pengaruh obat yang tadi kami berikan. Tapi Ibu Mbak tidak apa-apa.
Amira bangkit dari duduknya, kemudian melangkah mendekati ranjang pasien, melewati Amelia begitu saja. Amelia menatap Amira. Hatinya cukup perih, di acuhkan oleh saudaranya itu.
"Apa ini yang kamu rasakan dulu Mir, di acuhkan oleh keluarga ku. Menganggap mu seakan-akan nggak ada di sekitar kami, disaat kami nggak butuh kamu. Tapi kamu akan ada di saat kami membutuhkan tenaga kamu."Lagi-lagi Amelia membatin. Amelia tersenyum getir.
Amira menatap Ibu mertuanya, dengan tatapan sedih. Waktu dia mengantar uang jatah dari suaminya, Ibu mertuanya itu tampak baik-baik saja. Walau badannya sedikit terlihat lebih kurus dan wajahnya terlihat tua. Malah Amira di marahi habis-habisan oleh Bu Susi.
"Kamu jangan menipu saya Amira. Tidak mungkin Andika kasih uang segini buat Ibunya. Pasti kamu sudah mengambil uang bagian saya. Iyakan?"Teriak Bu Susi dengan lantang.
"Huuhhhh.."Amira membuang napasnya kuat, mengingat kejadian itu.
"Apa aku harus kembali ke rumah itu lagi Bu? Kenapa Ibu selalu menyiksa aku? Apa memang Ibu nggak mau lihat hidup aku bahagia? Atau mungkin Ibu yang nggak ingin jauh dari aku. Atau kita memang ditakdirkan untuk selalu bersama Bu, hidup di bawah satu atap sampai takdir itu sendiri yang akan memisahkan kita suatu saat nanti."Katanya dalam hati.
Amira tersenyum. Sebuah senyuman yang siapa saja bisa pastikan kalau ada beban berat, yang dia pikul saat ini. Di pandangannya tubuh yang semakin kurus itu, wajah yang masih terlihat garis-garis kecantikan alami, yang belum memudar sepenuhnya. Tapi terlihat jelas wajah itu semakin tua, di usianya yang baru memasuki lima puluhan.
......................
Amira keluar dari ruangan itu. Di ikuti pandangan mata dokter Arman. Nama dokter ganteng yang tertulis di tag name, yang tertempel di bagian dada, di baju jubah putih dokter nya.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Papi? Apa Papi punya wanita lain? Selain Mami dan jalang nya itu? Aku akan mencari tahu itu nanti. Kalau sampai itu benar, demi mami yang entah di mana beliau sekarang, aku nggak akan pernah memaafkan kamu Pi. Akan ku buat kamu dan jalang mu serta anaknya berakhir di jalan. Aku pastikan itu."Kata batinnya dengan geram, bercampur amarah. Pena yang ada di tangannya digenggam dengan kuat.
Bersambung.......
Jd gmes bcanya bkin emosi
Thor jgn bkin amira jd org bego. Toh itu cm mertua bkn ibu kndungnya