Vira, terkejut ketika kartu undangan pernikahan kekasihnya Alby (rekan kerja) tersebar di kantor. Setelah 4 tahun hubungan, Alby akan menikahi wanita lain—membuatnya tertekan, apalagi dengan tuntutan kerja ketat dari William, Art Director yang dijuluki "Duda Killer".
Vira membawa surat pengunduran diri ke ruangan William, tapi bosnya malah merobeknya dan tiba-tiba melamar, "Kita menikah."
Bos-nya yang mendesaknya untuk menerima lamarannya dan Alby yang meminta hubungan mereka kembali setelah di khianati istrinya. Membuat Vira terjebak dalam dua obsesi pria yang menginginkannya.
Lalu apakah Vira mau menerima lamaran William pada akhirnya? Ataukah ia akan kembali dengan Alby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria yang Punya Banyak Rencana.
“Apa dia mati?” tanya Riko. Kepanikan terpancar jelas di wajahnya, tubuhnya bergetar setelah kehilangan kendali.
Pecahan kaca itu menancap di punggung Alby, darah mengalir deras membasahi lantai kamar mandi. Abella, dengan tubuh menggigil, berusaha bangkit. Napasnya tercekat melihat suaminya tergeletak tak sadarkan diri setelah ditusuk oleh kekasih gelapnya. Riko tampak lemas bersandar di dinding, Abella menghampirinya dengan langkah gontai.
“Ba-ngun bodoh…” ucap Abella dengan suara bergetar, menepuk pipi Riko dengan kasar.
Riko masih berusaha mengatur napasnya yang tersengal. “Apa yang harus kita lakukan… sayang?” lirihnya dengan bibir bergetar.
Abella menahan sakit di kaki kirinya akibat diseret Alby. “Cepat pakai pakaianmu, kita harus pergi dari sini sekarang!”
Abella hampir kembali ke kamar, namun ia teringat sesuatu. Ia berbalik dan kembali ke kamar mandi, merogoh saku celana Alby untuk mengambil kunci brankas dan dompetnya.
Ketika matanya tak sengaja bertemu dengan wajah Alby yang pucat, Abella segera memalingkan muka. Ia takut rasa kasihan dan bersalah akan menguasai dirinya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Abella bergegas kembali ke keluar, menarik tangan Riko yang masih terpaku di ambang pintu kamar mandi.
“Cepat! Jangan menyesal, dia pantas mendapatkan ini,” bisik Abella dengan nada dingin, sekilas menoleh ke belakang sebelum menutup pintu kamar mandi dengan rapat.
Riko dengan tergesa-gesa mengenakan pakaiannya, sementara Abella mengeluarkan sebuah koper besar dari dalam lemari.
Dengan tangan gemetar, Abella membuka brankas yang berisi uang tunai, perhiasan, dan dokumen berharga miliknya dan juga milik Alby.
“Ini semua milikku,” bisiknya. Tanpa berpikir panjang, Abella menyapu bersih semua isinya dan memasukkannya ke dalam koper.
Setelah itu Abella mengganti bathrobe yang berlumuran darah suaminya dengan dress bersih.
“Riko, bawa ini!” desis Abella sambil menyerahkan koper.
Riko mendekat, satu tangan memegang koper dan tangan lainnya membantu Abella berjalan. Mereka berdua meninggalkan unit apartemen yang kini menjadi saksi bisu tragedi berdarah.
Sesampainya di area parkir apartemen, Riko dengan sigap memasukkan koper besar milik Abella ke dalam bagasi mobil.
Abella masuk ke dalam mobil, duduk dengan gelisah sambil menatap dari kejauhan ke arah unit apartemennya. Perasaan campur aduk antara lega bisa mengambil semua harta yang dirampas suaminya sekaligus bersalah
Mobil mulai melaju meninggalkan area apartemen, membelah jalanan malam yang ramai di ibukota. Mereka mencari tempat persembunyian yang aman, setidaknya untuk sementara waktu, sebelum polisi menemukan mereka.
Tanpa sepengetahuan mereka, seseorang mengawasi mereka. Seorang pria dengan setelan kemeja hitam, dipadukan dengan topi homburg yang menutupi sebagian wajahnya, keluar dari sebuah mobil—rekan Detektif David, yang ditugaskan untuk mengawasi tempat tinggal Abella dan Alby.
Merasa ada sesuatu yang aneh, pria itu segera berlari secepat mungkin menuju unit apartemen Abella. Jantungnya berdebar kencang saat melihat pintu apartemen terbuka sedikit—firasat buruk terlintas.
“Sial!” umpatnya pelan, matanya memicing melihat bercak darah yang berceceran di lantai apartemen. Ia segera masuk dan menggeledah setiap sudut ruangan hingga jejak darah lainnya menuntunnya ke arah kamar mandi.
Brak!
Pintu kamar mandi terbuka dengan kasar. Pemandangan mengerikan langsung menyambutnya. Alby terkapar di lantai dengan darah yang menggenang di sekelilingnya. "Gawat!" serunya panik. Tanpa membuang waktu, pria itu segera meraih ponselnya dan menghubungi nomor darurat untuk memanggil ambulans, lalu melaporkan peristiwa ini pada David.
.
.
Drrt…drrrt…
Ponsel William bergetar. Pria yang tengah menikmati makan malam bersama kedua putrinya di restoran itu segera mengangkat telepon ketika melihat nama David di layar.
“Iya,” jawab William tenang, Ponselnya dijepit di antara telinga dan bahu, sementara tangannya dengan cekatan memotong steak untuk putri bungsunya.
“Pak, Alby baru saja menjadi korban penusukan,” lapor David dengan suara yang terdengar berisik. William bisa mendengar suara sirine ambulans dan mobil polisi yang meraung-raung di belakang.
“Apa?!” William tersentak kaget, refleks melepaskan pisau dan garpu dari tangannya. Kedua putrinya menatapnya dengan bingung.
“Sepertinya Abella yang melakukannya, Pak. Anak buah saya melaporkan bahwa Abella terlihat meninggalkan apartemen bersama seorang pria asing dengan tergesa-gesa,” lanjut David.
“Sial!” desis William pelan, mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. “Lalu, bagaimana dengan rekaman itu? Apakah sudah ditemukan?” tanyanya dengan nada mendesak.
“Saat anak buah saya tiba di sana, kondisi apartemen sudah berantakan, Pak. Mereka tidak berani menyentuh apa pun sebelum polisi datang,” jawab David.
“Baik, awasi terus proses penggeledahan. Dan pastikan hanya Alby yang memiliki rekaman itu. Kita tidak bisa membiarkan rekaman itu jatuh ke tangan orang lain,” ucap William lirih, matanya menatap putri bungsunya yang cemberut.
“Papa... cepat! Aku lapar... Lihat, punya kakak sudah habis,” rengek anak bungsunya sambil menarik-narik lengan William.
William tersenyum lembut dan mengangguk. Lalu, ia memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya, meminta putrinya untuk diam sejenak.
“Awasi terus dan segera kabari saya jika ada perkembangan terbaru,” tambah William sebelum mengakhiri panggilan.
Ia lalu menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sebelum kembali fokus pada kedua putrinya.
“Papa selalu sibuk, ini kan hari ulang tahunku…” ucap si sulung, bibirnya ikut cemberut seperti adiknya.
“Papa ada masalah sedikit, ini juga demi kalian,” ujar William. “Papa harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan ibu baru untuk kalian,” lanjutnya.
“Astaga…” protes si sulung.
Bersambung…