Dilarang memplagiat karya!
"Pernikahan kontrak yang akan kita jalani mencakup batasan dan durasi. Nggak ada cinta, nggak ada tuntutan di luar kontrak yang nanti kita sepakati. Lo setuju, Aluna?"
"Ya. Aku setuju, Kak Ryu."
"Bersiaplah menjadi Nyonya Mahesa. Besok pagi, Lo siapin semua dokumen. Satu minggu lagi kita menikah."
Aluna merasa teramat hancur ketika mendapati pria yang dicinta berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Tak hanya meninggalkan luka, pengkhianatan itu juga menjatuhkan harga diri Aluna di mata keluarga besarnya.
Tepat di puncak keterpurukannya, tawaran gila datang dari sosok yang disegani di kampus, Ryuga Mahesa--Sang Presiden Mahasiswa.
Ryuga menawarkan pernikahan mendadak--perjanjian kontrak dengan tujuan yang tidak diketahui pasti oleh Aluna.
Aluna yang terdesak untuk menyelamatkan harga diri serta kehormatan keluarganya, terpaksa menerima tawaran itu dan bersedia memainkan sandiwara cinta bersama Ryuga dengan menyandang gelar Istri Presiden Mahasiswa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34 Istri Spek Bidadari
Happy reading
Ba'dha subuh, grub chat anak-anak BEM inti sudah riuh. Bukannya membahas soal petisi, Dimas CS malah membahas ucapan Darma semalam sekaligus panggilan Ryuga yang disematkan pada Danu dan Hafidz--'Mas'.
Terdengar aneh dan menggelitik telinga, karena jarang-jarang, bahkan bisa dibilang tidak pernah Ryuga menyematkan panggilan itu. Sekalipun untuk pria dewasa yang lebih tua.
Biasanya, ia menggunakan panggilan 'Kak' atau 'Bang'.
Mungkin kali ini, Sang Presma latah. Ikut-ikutan lawan bicara memanggil dengan sebutan 'Mas', sebagai bentuk kesopanan.
...Group Chat BEM INTI...
Dimas:
Sumpah, semalam gue pingin ngakak waktu Pak Darma bahas soal Anisa. Ngakak lagi ... Pak Ketu manggil abang gue 'Mas Danu'
Nofiya:
Buahhhhahaha. Gue juga pingin ngakak. Tapi gue tahan, biar nggak kena geplak
Tara:
Pffttt ... sopan banget dia. Kaya' nya Pak Ketu udah terkontaminasi Aluna. Lupa jati diri
Dimas:
Bisa jadi. Gue yakin, bentar lagi Pak Ketu juga lupa logat Slank
Nofiya:
Ngomong pake aku--kamu kaya' waktu SMA
Tara:
Kemungkinan bukan aku-kamu, tapi kula-sampean. Luna kan lembut, gue kepikiran--mereka ngobrolnya pake bahasa hanacaraka kalau lagi mojok
Nofi:
Itu aksara Jawa, Dodol! Bukan bahasa
Tara:
Maksud gue, pake bahasa Krama--halus. Kaya' keluarga Ningrat
Dimas:
Ngik ... Ngik ... Ngik, gue ketawa sampe kesulitan napas. Nggak bayangin kalau Pak Ketu ngomong pake bahasa Krama--halus. Nada suaranya pasti berubah kaya' Raden Mas Dimeja
Ryuga mendengus kesal, membaca celotehan anak-anak BEM Inti yang terkadang minim akhlak.
Berisik! Buruan gerak! Nggak cuma ngebacot mulu
Ketiknya--cepat.
Send
Pesan terkirim.
Tara:
Widih, taringnya keluar
Dimas:
Pfttt ... siap, Mas. Sendika dawuh
Nofiya:
Astogeh. Dari tadi ngakak mulu, jadi pingin boker
Tara:
Kula pamit rumiyin, Mas. Bade adus kalian siram
Nofiya:
Taraaaaaa, bahasa lo acak kadul!!!! Ah embuh, aku ngakak sampe nggak kuat berdiri
Tara:
Kapok! Boker aja di kasur!
Nofiya:
Idih
Dimas:
Stop! Yuk kita mulai beraksi. Biar nggak kena semprotan Raden Mas Ryuga Mahesa suaminya Raden Roro Aluna Maya
Nofiya:
Allahu Akbar, Dim. Gue makin ngakak baca chat lo. Aluna Kirana. Bukan Aluna Maya woeee!!!!
Dimas:
Biar saingan sama Maxim. Bukan Go-jek, apalagi Grab
Tara:
Ngakak sambil salto
Ryuga:
Bubar!!!! Gue geplak lo pada kalau masih ngebacot di sini
Nofiya, Dimas, Tara:
Kaburrrrrrrr
Ketiga anggota BEM inti mengetik satu kata yang sama persis, menandakan jika mereka seampela. Aunty Najwa Aini bilang 'saudara beda nasab'. Ehem.
Meski sebal bin kesal, nyatanya Ryuga mendengus geli--membaca chat ketiga sahabatnya.
Ada-ada saja bahasan mereka yang sukses mencipta tawa dan membuat Sang Ketua BEM terhibur. Terlupa pada beban pikiran sekaligus beban di hati yang terkadang hadirkan kata 'nelangsa'.
"Mas --" Suara lembut Aluna mengalihkan perhatian dan mendorong Ryuga untuk mengindahkan. Kunci atensi pada sepasang manik indah yang terlihat teduh.
"Mbak Nisa dan Bu Kades menunggu di depan. Mereka sudah menyiapkan sarapan untuk kita dan teman-teman BEM," imbuh Aluna.
"Gue kasih tau temen-temen dulu. Biar mereka kumpul."
"Kak Elisabeth dan yang lainnya sudah berkumpul di halaman. Kurang teman-teman BEM inti."
"Mereka lagi boker. Bentar lagi juga nyusul. Yok kita ke sana."
"Iya, Mas. Tapi --"
Ryuga mengerutkan dahi. Melayangkan tatapan penuh tanya.
"Tapi apa?"
"Nggak pa-pa." Aluna urung mengucap kalimat yang ingin diutarakan.
"Tapi apa, Love?" Ryuga mengulang pertanyaannya--menuntut Aluna untuk menjawab. Memangkas jarak. Berdiri tepat di hadapan Aluna. Sedikit menunduk, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
"Tapi ... Mbak Nisa membuatku kurang nyaman. Tadi, dia nitip salam untuk Mas Ryu dan bertanya tentang hubungan kita. Sepertinya, dia kurang percaya kalau kita suami-istri."
"Lo cemburu?" Ryuga tertawa kecil. Telinganya tergelitik ketika mendengar perkataan Aluna yang menyiratkan rasa cemburu.
Tidak ada kata yang terucap. Hanya anggukkan pelan yang mewakili sederet kata yang ingin terlisan.
"Nggak usah diladeni. Kalau dia beneran nggak percaya, tunjukin cincin nikah yang kita pake. Kalau perlu, kasih liat juga buku nikah kita. Gue bawa."
Aluna kembali mengangguk.
"Aku rasa ... Mbak Nisa naksir berat sama Mas Ryu," cetusnya--kemudian.
"Gue nggak peduli, karena gue udah punya istri spek bidadari."
Ryuga menerbitkan senyum. Usap pipi Aluna. Labuhkan kecupan dalam di kening.
Usai memberi afeksi, lelaki bergelar Presma itu meraih jemari tangan Aluna dan menggenggamnya. Memandu Aluna mengayun kaki, berjalan--beriringan menuju halaman rumah untuk berbaur dengan teman-teman BEM yang sudah berkumpul di sana, sekaligus menemui Anisa dan Aurum--istri Darma.
Sepasang manik mata Anisa menyendu ketika pandangannya jatuh pada dua insan yang sedang berjalan mendekat dengan saling menautkan tangan.
Ia serasa tidak percaya, lelaki yang berhasil menjerat hati di awal jumpa, ternyata sudah memiliki pasangan hidup.
Anisa sungguh mengidamkan sosok 'Ryuga Mahesa'.
Selain berparas tampan, Ryuga juga memiliki pesona yang tidak bisa dinafikan. Cerdas, tegas, pemberani, sopan, dan kharismatik. Nilai plusnya 'setia'.
Seumur-umur, belum pernah Anisa bertemu dengan lelaki seperti itu.
Andai dijadikan yang kedua pun, ia rela. Asal Ryuga bisa berlaku adil.
Mimpi
"Terima kasih jamuannya, Bu Aurum, Nisa." Ryuga tersenyum--ramah. Tentu tanpa melepas tautan tangan.
"Sami-sami, Nak Ryu. Maaf, hanya masakan khas desa yang sederhana. Semoga Nak Ryu dan teman-teman menyukainya." Aurum membalas. Bibirnya tersemat senyum tulus.
"Bagi kami sudah luar biasa, Bu. Lengkap dan menggugah selera. Iya 'kan, Love?" Ryuga menoleh. Menatap Aluna yang juga menatapnya--sekilas.
"Iya, Mas --" jawab Aluna singkat disertai lengkungan bibir yang membentuk seutas senyum.
Setelah berbasa-basi sejenak, Aurum mempersilahkan Ryuga dan Aluna untuk duduk di atas tikar, berbaur dengan anak-anak BEM.
Tak berselang lama, tiga anggota BEM inti--Nofiya, Tara, dan Dimas datang menyusul. Mereka duduk satu deretan dengan Ryuga dan Aluna.
Obrolan ringan mengalir, mengiringi ritual sarapan di pagi ini.
"Seneng ya jadi orang desa. Tiap mau makan nggak perlu pake piring. Cukup pake daun jati. Estetik dan tinggal metik di kebon," celetuk Nofiya sambil mengunyah ayam panggang.
"Iya. Gelasnya juga estetik. Terbuat dari bambu. Berasa hidup di jaman Kerajaan Mataram." Dimas menyahut.
"Kalau keluarga kerajaan, bukan pake bambu. Pakenya gelas tembaga yang ada ukirannya." Tara terpancing menimpali.
"Gelasnya kaya' yang dipajang di rumah Si Monyet. Terbuat dari tembaga. Bentuknya unik, estetik, dan keliatan mahal," ujar Nofiya.
"Ngomong-ngomong, tumben amat Si Monyet nggak keliatan. Biasanya dia gercep ngeliput kegiatan BEM dan ikut terjun--bantuin kita-kita," sambungnya.
Ryuga berhenti mengunyah. Ingatannya tertuju pada sosok sahabat yang beberapa hari lalu diusirnya--Ayu. Tentu setelah mendengar ucapan Nofiya.
"Nof, lo udah coba hubungi Bu Ayu?"
"Belum sih, Pak. Terakhir chat an sama Si Monyet, tiga hari lalu. Itu pun cuma ngebahas soal bencana alam di Aceh sama Sumatra."
"Nggak bahas soal gue?"
"Idih, pede amat. Ngapain bahas suami orang?"
"Ya, siapa tau dia curhat soal omongan gue --"
"Emang lo ngomong apa ke Si Monyet?"
"Ada. Sedikit pedas. Gue cuma takut Bu Ayu tersinggung dan nggak mau lagi ketemu sama gue."
"Monyet nggak kaya' gitu orangnya, Pak. Nggak mudah tersinggung. Telinganya udah kebal denger omongan pedes lo."
Ryuga mengangguk samar. Meraih segelas air putih, lalu menandaskan isinya.
Perasaan bersalah membuatnya tak tenang. Serasa ingin segera menghubungi Ayu atau berlari menemuinya.
Meminta maaf atas ucapan yang mungkin menorehkan luka di hati dan membuat sahabat sekaligus kerabatnya itu enggan muncul di hadapan--mengabulkan permintaan yang tercetus karena dikuasai emosi sesaat.
".... You're nobody to me. Lo bukan siapa-siapa buat gue. Pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapan gue!"
🍁🍁🍁
Bersambung
Yang setitik itu terkadang yg sangat frontal
spil tipis² Bu..🤭
kalau saja ada pegawai desaku yg ikut baca..🤭🤭