Di kehidupan sebelumnya, Emily begitu membenci Emy yang di adopsi untuk menggantikan dirinya yang hilang di usia 10 tahun, dia melakukan segala hal agar keluarganya kembali menyayanginya dan mengusir Emy.
Namun sayang sekali, tindakan jahatnya justru membuatnya makin di benci oleh keluarganya sampai akhirnya dia meninggal dalam kesakitan dan kesendiriannya..
"Jika saja aku di beri kesempatan untuk mengulang semuanya.. aku pasti akan mengalah.. aku janji.."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Sejak pagi itu, suasana rumah Hilton berubah. Albert, yang biasanya pulang larut dan selalu sibuk dengan dunia bisnisnya, kini lebih sering meluangkan waktu di rumah. Alasannya sederhana, ia ingin mengawasi Emily tanpa terlihat terlalu mencurigakan.
Emily menyadari perubahan itu. Setiap kali ia menoleh, selalu saja ada tatapan Albert yang seolah mengikutinya, mencoba membaca sesuatu dari wajahnya.
Namun, ia berpura-pura tidak terganggu, bahkan semakin sibuk menata rumah, melukis, atau sekadar bercocok tanam di taman belakang.
Suatu sore, Emily tengah memangkas bunga mawar di taman ketika Albert datang menghampiri, masih mengenakan jas kerja. Ia baru saja pulang lebih cepat dari biasanya.
“Kau suka sekali dengan bunga-bunga ini,” ucap Albert sambil menatap mawar merah yang sedang dipetik Emily.
Emily tersenyum kecil. “Mereka tidak pernah menuntut apa-apa, tapi selalu memberi keindahan.”
Albert terdiam sejenak, lalu menambahkan pelan. “Seperti dirimu.”
Ucapan itu membuat Emily refleks menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. “Kau pandai sekali membuat kata-kata manis sekarang.”
Albert tersenyum samar, tapi matanya tetap meneliti gerak-geriknya. Ia ingin percaya bahwa Emily baik-baik saja, tapi bayangan tubuh pucat istrinya yang tergeletak di lantai malam itu masih menghantuinya.
Beberapa hari kemudian, Emily kembali larut dengan lukisannya di ruang kecil dekat balkon. Jemarinya yang penuh noda cat tampak indah saat mengguratkan warna. Di belakangnya, tanpa ia sadari, Albert berdiri memperhatikannya.
“Kau benar-benar berbeda saat melukis,” suara berat Albert mengejutkannya.
Emily tersentak, hampir menjatuhkan kuas. “Kau menakutiku!”
Albert melangkah masuk, tangannya meraih salah satu kanvas yang sudah kering di sudut ruangan. Ia menatapnya lama, lalu bergumam, “Seolah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan lewat semua lukisan ini. Tapi kenapa aku merasa… seperti pernah melihat gaya ini sebelumnya?”
Dada Emily menegang. Ia buru-buru berdiri, mendekati Albert. “Itu hanya hobi. Jangan berlebihan menafsirkannya.”
Albert menoleh, menatapnya lekat-lekat. “Emily, kau yakin tidak menyembunyikan sesuatu dariku?”
Emily terdiam. Bibirnya bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya ia hanya tersenyum tipis. “Setiap orang punya sedikit rahasia, bukan?”
Jawaban itu tidak memuaskan Albert, tapi ia memilih tidak menekan lebih jauh. Meski begitu, dalam hati ia berjanji akan menemukan kebenarannya.
Hari Minggu, Albert tiba-tiba mengajak Emily keluar. “Kau selalu di rumah. Aku ingin kau lihat sesuatu,” katanya singkat.
Mereka berhenti di sebuah galeri seni yang baru dibuka di pusat kota. Emily menahan napas ketika melihat salah satu sudut ruangan penuh dengan lukisan digital yang dipamerkan. Nama yang terpampang di sana: Daisy.
Albert tampak antusias, sementara Emily berusaha keras menyembunyikan kegugupannya. Ia berdiri kaku di depan salah satu lukisan yang ia buat beberapa bulan lalu, hatinya berdebar tak karuan.
“Lihat ini,” Albert menunjuk salah satu karya. “Setiap detailnya seakan punya jiwa. Aku tidak tahu siapa Daisy itu, tapi aku ingin bertemu dengannya suatu hari nanti.”
Emily menelan ludah. Senyumnya kaku. “Mungkin… dia hanya ingin karyanya dikenal, bukan dirinya.”
Albert menoleh, menatapnya lama. “Kau terdengar seolah mengenalnya.”
Emily tercekat, buru-buru menggeleng. “Tentu saja tidak. Aku hanya menebak.”
Albert tidak menjawab. Tapi dalam hatinya, kepingan-kepingan teka-teki mulai menyatu. Ia semakin yakin bahwa Emily menyembunyikan sesuatu yang besar.
Malam itu, setelah kembali dari galeri, Emily duduk di balkon sendirian. Angin malam menerpa wajahnya yang murung. Ia memeluk lutut, menatap langit penuh bintang.
Albert keluar pelan-pelan, membawa dua cangkir teh hangat. Ia duduk di samping Emily, menyodorkan salah satunya.
“Kau kelihatan.. jauh malam ini,” katanya pelan.
Emily mencoba tersenyum. “Aku hanya lelah.”
Albert menatapnya lama, lalu mendesah. “Emily, apa aku tidak cukup layak untuk mendengar rahasiamu? Apa kau tidak percaya padaku?”
Pertanyaan itu menghantam hati Emily. Ia ingin menangis, ingin mengatakan semuanya, tentang penyakitnya, tentang identitasnya sebagai Daisy, tentang ketakutan yang ia simpan sendirian. Tapi ia juga takut kehilangan kedamaian yang kini ia rasakan bersama Albert.
Akhirnya, ia hanya menunduk, membiarkan keheningan menjawab.
Albert menggenggam tangannya. Untuk pertama kalinya, genggaman itu begitu erat, seakan ia tidak ingin melepaskan.
“Baiklah. Jika kau belum siap, aku akan menunggu. Tapi ketahuilah satu hal, Emily… aku tidak akan diam sampai aku tahu kebenarannya.”
Emily menutup mata, air matanya jatuh pelan. Dalam hatinya, ia berbisik, Maafkan aku, Albert.
***
Keesokan harinya, mereka menjalani rutinitas sederhana. Emily menyiapkan sarapan, Albert duduk membaca koran sambil sesekali meliriknya. Tidak ada percakapan besar, hanya hal-hal kecil—tentang roti yang sedikit gosong, atau kopi yang terlalu manis.
Namun, justru hal-hal kecil itulah yang membuat Emily merasa hidupnya normal. Ia tertawa pelan ketika Albert protes soal gula berlebih, lalu tanpa sadar menatap pria itu dengan tatapan hangat.
Sayangnya, di balik senyum itu, Emily masih merasa tercekik oleh rahasia yang ia simpan.
Malamnya, ketika Albert tertidur, ia tahu harus kembali menelan obat itu. Ia tahu waktunya tidak banyak.
Dan tanpa ia sadari, Albert diam-diam memperhatikan. Ia mencatat setiap perubahan kecil dalam diri istrinya, senyum yang terlalu dipaksakan, tatapan kosong yang datang tiba-tiba, bahkan langkahnya yang terkadang goyah.
Albert mungkin tidak tahu pasti apa yang terjadi, tapi satu hal ia yakini bahwa Emily tidak baik-baik saja.
Dan semakin hari, tekadnya untuk mengungkap kebenaran semakin kuat.
Malam itu, hujan turun deras di luar jendela. Rumah Hilton yang biasanya sepi terdengar semakin sunyi, hanya diisi suara rintik hujan menimpa kaca.
Albert duduk di ruang kerja, mencoba fokus pada dokumen yang menumpuk di meja. Namun pikirannya terus kembali pada Emily.
Wajah pucatnya, senyumnya yang kadang dipaksakan, serta penolakan kerasnya saat ia menawarkan memanggil dokter, semua itu tidak masuk akal.
Ia menutup laptop dengan kasar, berdiri, dan berjalan ke kamar tidur. Emily sudah tidur, napasnya teratur, wajahnya terlihat tenang. Namun, bagi Albert, ada sesuatu yang janggal.
Tatapannya jatuh pada meja kecil di samping ranjang. Laci itu—laci yang selalu dijaga Emily seakan menyimpan harta karun. Ia ragu sejenak, merasa bersalah, tapi dorongan hatinya lebih kuat daripada logika. Dengan hati-hati, ia menarik gagang laci.
Di dalamnya, beberapa kotak obat tersusun rapi, tanpa label resmi. Mata Albert menyipit. Ia mengambil salah satunya, memeriksa dengan seksama. Bukan obat umum, jelas bukan vitamin seperti yang mungkin Emily katakan.
Jantungnya berdegup kencang. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan dariku?
Albert menutup kembali laci itu seolah tak terjadi apa-apa, lalu kembali duduk di kursi di sisi ranjang. Ia menatap wajah istrinya yang terlelap.
Ada rasa marah, kecewa, sekaligus takut. Marah karena Emily tidak jujur, kecewa karena ia ditutup-tutupi, tapi lebih dari itu, dia takut kehilangan.