Atas desakan ayahnya, Poppy Yun datang ke Macau untuk membahas pernikahannya dengan Andy Huo. Namun di perjalanan, ia tanpa sengaja menyelamatkan Leon Huo — gangster paling ditakuti sekaligus pemilik kasino terbesar di Macau.
Tanpa menyadari siapa pria itu, Poppy kembali bertemu dengannya saat mengunjungi keluarga tunangannya. Sejak saat itu, Leon bertekad menjadikan Poppy miliknya, meski harus memisahkannya dari Andy.
Namun saat rahasia kelam terungkap, Poppy memilih menjauh dan membenci Leon. Rahasia apa yang mampu memisahkan dua hati yang terikat tanpa sengaja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Leon kembali ke kantornya dengan langkah pelan. Pintu tertutup di belakangnya tanpa suara. Udara ruangan itu dingin, sunyi—berbanding terbalik dengan kekacauan yang baru saja ia selesaikan.
Di sofa dekat jendela, Poppy tertidur pulas. Wajahnya tampak tenang, bulu matanya menutup rapat seolah dunia di sekitarnya tak lagi mengusiknya. Sesaat Leon berdiri diam, menatap gadis itu.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Ia melepaskan jaketnya, lalu dengan hati-hati menutupi tubuh Poppy, gerakannya perlahan seakan takut membangunkannya.
Kalimat itu kembali terngiang di benaknya.
“Aku tidak ingin pulang, aku harus menemukan mamaku!”
Tatapan Leon meredup.
"Poppy Yun…
kalau kau tahu kebenarannya, kau tak akan begitu mudah mempercayaiku lagi," batinnya.
Tiba-tiba Poppy bergerak. Matanya terbuka, ia terbangun dan langsung duduk sambil mengucek mata.
“Paman!” serunya, sedikit terkejut.
Leon menarik kursi dan duduk santai di hadapannya.
“Sepertinya kau sangat suka dengan kantorku,” ujarnya datar, namun nadanya tidak sekeras biasanya.
“Aku mengantuk… dan tidak bisa melakukan apa pun di sini,” keluh Poppy sambil meregangkan tubuh. “Bagaimana dengan penjahat itu? Apakah sudah ditemukan?”
Leon duduk di sampingnya, jarak mereka cukup dekat.
“Sudah,” jawabnya singkat. “Dan lain kali, jangan datang ke tempat ini lagi.”
Poppy mengernyit.
“Aku hanya ingin main biliar. Kalau tidak ke kasino, aku harus ke mana?”
Leon menoleh, menatapnya dalam.
“Kasino bukan tempat yang aman. Tidak cocok untuk gadis remaja sepertimu.”
“Tapi di luar juga banyak wanita yang ikut bermain,” bantah Poppy. “Kenapa aku tidak bisa?”
Leon terdiam sejenak, lalu suaranya terdengar lebih rendah.
“Poppy, jauhi orang-orang seperti mereka. Tidak semua yang datang ke sini adalah orang baik.”
Ia menatap mata gadis itu dengan serius.
“Dan jangan terlalu percaya pada siapa pun ... termasuk aku. Cukup percaya pada dirimu sendiri.”
Poppy terdiam. Kata-kata itu terasa berat, namun jujur.
“Aku mengerti,” katanya pelan, lalu menatap Leon dengan ragu.
“Tapi… apakah Paman adalah penjahat?”
Leon tidak langsung menjawab. Wajahnya kembali dingin, tanpa emosi.
“Aku bukan orang baik,” ucapnya akhirnya.
“Aku membunuh. Aku menyiksa. Dan aku bisa melakukan apa saja.”
Ia berdiri, menatap Poppy dari atas.
“Jadi jaga jarak dariku juga.”
"Paman, aku tidak bisa hidup tanpamu, mana mungkin aku bisa jauh darimu," jawab Poppy dengan santai, tanpa menyadari arti dari ucapannya sendiri. Suaranya lembut, namun di balik kata-kata itu tersimpan ketergantungan yang tulus.
Di saat yang sama, Vic melangkah masuk, berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan mata yang sedikit terkejut.
Leon menatap Poppy diam, matanya menyorot tajam namun ada kilatan lembut yang terselip.
"Apakah kau sadar dengan ucapanmu?" tanyanya tenang, tapi nada itu penuh kewaspadaan.
"Sadar! Di sini aku hanya dekat denganmu dan temanku Liza," jawab Poppy
Leon mencondongkan tubuh, mencubit dagu Poppy perlahan.
"Apakah ucapan seperti ini sering kau utarakan pada pria lain?" tanyanya, matanya menelusuri ekspresi gadis itu dengan tajam.
"Tidak!" jawab Poppy cepat.
Leon melepaskan tangannya, menatap Poppy dengan serius.
"Ucapan seperti ini jangan asal utarakan pada pria lain," ujarnya tegas, suaranya rendah namun terasa menekankan pentingnya peringatan itu.
"Aku hanya mengutarakannya pada paman, karena kita sudah dekat," jawab Poppy, suaranya lebih lembut dan penuh keyakinan.
Leon menghela napas panjang, lalu akhirnya mengendurkan ketegangan di wajahnya.
Poppy tersenyum lega, matanya berbinar.
"Paman, aku lapar. Bawa aku pergi makan makanan yang lezat!" pinta Poppy sambil menatapnya dengan mata berbinar.
Leon tetap diam, menatap Poppy dengan ekspresi dingin seperti biasanya, tapi matanya menyiratkan perasaan lain yang sulit diungkapkan.
"Paman!" ucap Poppy lagi, kali ini sambil menggenggam tangan Leon dengan manja, menguatkan permintaannya.
"Aku lapar, paman temankan aku!"
Vic yang menyaksikan dari pintu hanya bisa menggeleng dan tersenyum tipis.
"Gadis ini sangat manja pada Bos, baru kali ini aku melihat bosku yang dingin mengalah pada seorang gadis," batinnya.
Leon menatap Poppy sesaat, lalu menarik napas, sebelum akhirnya tersenyum tipis—sebuah senyum yang hanya Poppy yang bisa memahaminya.
"Mari kita pergi!" ajak Leon, sambil menggenggam tangan gadis itu dan membimbingnya keluar dari kantor, langkah mereka mantap dan serasi, seolah dunia di sekitar mereka berhenti sejenak.
Vic hanya diam tanpa kata-kata dan mengikuti dari belakang.
***
Restoran di Macau itu dipenuhi aroma masakan laut dan suara percakapan para pengunjung. Leon melangkah masuk bersama Poppy, kedua langkahnya mantap dan perlahan mereka mencari meja untuk duduk. Poppy tampak ceria, matanya berbinar menatap dekorasi restoran yang hangat.
Tiba-tiba, suara seorang pria muda memanggil Poppy dengan nada kaget dan keras.
"Poppy Yun!" seru pria itu, suaranya memotong kebisingan restoran.
Leon dan Poppy menghentikan langkah mereka seketika, menoleh ke arah suara itu. Sorot mata Leon langsung menajam, menilai setiap gerak-gerik pria yang baru muncul itu.
Poppy menatap pria itu dengan mata terkejut, bibirnya sedikit ternganga.
"Charles Yung?" tanya Poppy, suaranya tercampur antara kaget dan penasaran.
Pria muda itu melangkah lebih dekat, ekspresinya serius namun ada sedikit senyum di sudut bibirnya. Pandangannya tertuju langsung ke Poppy, seolah tidak bisa melepaskan tatapannya dari gadis itu.
Leon menempatkan diri sedikit di depan Poppy, tubuhnya tegap dan aura waspada terpancar dari setiap gerakannya. Ia menatap Charles dengan tajam.
"Poppy, siapa tuan ini?" tanya Charles sambil menatap Leon dengan tatapan ingin tahu, seolah menilai aura pria di depannya.
"Namaku Leon Huo," jawab Leon singkat, nada suaranya dingin dan tegas. Pandangannya tak lepas dari Charles, menandakan kewaspadaan penuh.
Charles mengangkat alis, tersenyum tipis, namun tetap menjaga jarak.
"Charles, sudah lama tidak bertemu. Kenapa kamu bisa ada di Macau?" tanya Poppy, nada suaranya hangat dan penuh rasa penasaran, senyum kecil menghiasi bibirnya.
"Ada urusan bisnis. Aku pernah mencari kamu, tapi teman-temanmu bilang kau tidak ada di Hongkong. Ternyata kau ada di sini," jawab Charles, suaranya serius tapi tetap bersahabat.
Poppy tertawa kecil, matanya berbinar. "Bagaimana kalau kita makan bersama?" ajaknya, menatap Charles dan kemudian menyunggingkan senyum pada Leon.
Charles mengangguk dengan ringan. "Iya, dengan senang hati!"
"Poppy, kau belum beritahu aku, siapa dia?" tanya Leon akhirnya, nada suaranya rendah tapi penuh peringatan.
"Kakak seniorku semasa masih di universitas," jawab Poppy sambil menatap Leon.
Beberapa saat kemudian, hidangan telah tersaji di meja. Aroma masakan yang menggoda memenuhi udara, tapi Leon sama sekali tak kehilangan fokusnya. Matanya terus menatap Charles yang sedang berbincang ringan dengan Poppy.
up nya jgn dkt ya thor
semangatt💪💪💪💪
gantung nih