perjalanan seorang anak yatim menggapai cita cita nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
Malam itu Oyot , Jabrik dan mat jago berkumpul di salah satu toko yang ada di pasar bambu Kuning, di hadapan mereka Edi bersama beberapa temannya duduk, malam ini memang malam yang mereka janjikan untuk bertemu
" Bagaimana bang ada perkembangan?" tanya Edi , ia mengeluarkan beberapa botol minuman dari tas yang di bawa anak buahnya
" belum ada kesempatan , eh Ed, loe punya rumah ga di daerah dekat panjang?" tanya Mat Jago.
" Ga punya bang, ada juga di way halim sama di jalan Untung, ada apa bang?" sahut Edi dan balik bertanya
" Gw ada rencana baru" ucap Oyot, ia lalu menceritakan tentang rencananya yang memanggil Hadi untuk memperbaiki tv, tapi tempatnya ga mungkin jauh dari panjang
" nanti , gw punya temen yang tinggal di gang Rajawali, gw bisa minta tolong ke dia nyari kontrakan di sana" celetuk Mat Jago yang mendengar rencana Oyot,
" wah pas itu , cari aja satu rumah kalau bisa yang agak jauh dari tetangga jadi kita eksekusi dia ga ketahuan sama orang lain, masalah biaya tenang gw yang nanggung bang" seru Edi senang
" ya udah , besok gw ke sana sini uangnya biar gw ga bolak balik " ucap Mat jago
" sekarang cuma ada 700 ribu bang cukup ga?" tanya Edi karena ia memang hanya membawa uang segitu
" cukup segitu mah, kita juga nyewa paling sebulan doang bukan tahunan" sahut Mat Jago
" Ini Bang" Edi menyerahkan uang 700 ribu yang di bawanya pada Mat Jago
" Ok, besok loe kesini , biar tahu gw dapet kontrakan apa ga di sana" ucap Mat jago
" Iya bang, besok gw kesini lagi" sahut Edi, setelah membahas soal kontrakan dekat Bengkel Hadi bekerja mereka melanjutkan dengan pesta miras, mereka berpesta sampai dini hari
Hadi tak mengetahui jika Edi masih mendemdam padanya, dan menyusun rencana keji untuk menghajarnya, ia merasa selama ia di daerah Panjang maka ia akan aman dari ancaman Edi.
Seperti biasa ia sekolah dan bekerja paruh waktu,
" Di ada panggilan ke Gang Rajawali di jalam baru" Saat Hadi pulang sekolah bersama Ferry
" Siap kak, nanti abis makan gw kesana" sahut Hadi
" Gw ikut lah " celetuk Ferry
" ya udah abis makan kita kesana" ucap Hadi setuju
Ferry dan Hadi salin dan makan , karena bekerja di temppat kak Mu'i memang ia di beri makan walau kerja hanya setengah hari
" ayo kita berangkat" ajak Ferry setelah selesai makan, namun Hadi nampak diam saja seakan tak mendengar seruan Ferry
" Hei, kenapa loe ?" tanya Ferry sambil menepuk bahu hadi pelan
" Eh, apa Fer?, gua ga denger jelas?" tanya Hadi kaget, Ferry menggelengkan kepala melihat itu, ia duduk di sisi hadi
" jadi ga kita ke gang Rajawali,?" tanya Ferry,
" tau ini , ngedadak gua ngerasa ada pertanda buruk" sahut Hadi sambil menatap Ferry.
" Itu cuma perasaan loe aja kali " Sahut Ferry yang tak percaya akan firasat yang di rasakan Hadi.
" Ya mudah mudahan aja " Gumam Hadi, ia mengambil double stik miliknya terlebih dahulu sebelum pergi ke gang Rajawali bersama Ferry
Ferry membonceng Hadi menggunakan sepeda motornya menuju Gang Rajawali. Meski mesin motor menderu, pikiran Hadi tetap terpaku pada rasa tidak enak yang terus mengganjal di dadanya.
"Loe yakin arahnya bener, Di?" teriak Ferry dari belakang, mencoba mengalahkan suara angin.
"Kata Kak Mu'i di Jalan Baru, masuk ke Gang Rajawali yang deket pohon beringin tua. Itu di depan kayaknya," sahut Hadi sambil menunjuk ke sebuah lorong sempit yang menanjak.
Gang Rajawali ternyata lebih sepi dari yang mereka bayangkan. Rumah-rumah di sana jarang-jarang, dipisahkan oleh kebun kosong yang ditumbuhi ilalang setinggi pinggang. Di ujung gang, berdiri sebuah rumah kontrakan berdinding papan yang catnya sudah mengelupas. Suasananya sunyi, hanya suara jangkrik yang mulai bersahutan menandakan hari mulai beranjak senja.
Hadi menghentikan motornya tepat di depan pagar kayu yang reyot. Ia turun, namun tangannya tak lepas dari tas kain tempat ia menyimpan double stick-nya.
"Assalamu'alaikum!" seru Hadi dengan suara lantang.
Hening. Tak ada jawaban.
"Assalamu'alaikum! Permisi, bener ini yang panggil jasa servis TV?" ulang Hadi.
Pintu kayu yang kusam itu perlahan terbuka dengan suara derit yang memilukan. Seorang pria paruh baya dengan wajah yang asing bagi Hadi muncul dari kegelapan dalam rumah. Itu adalah Mat Jago, yang sudah menyamar sedemikian rupa agar tidak langsung dikenali sebagai preman pasar.
"Oh, iya... bener. Masuk aja, Mas. TV-nya ada di ruang tengah, gambarnya cuma garis doang," ucap Mat Jago dengan nada bicara yang dibuat sesopan mungkin.
Hadi menoleh ke arah Ferry. Ferry hanya mengangguk, meski wajahnya juga menyiratkan kewaspadaan. Mereka melangkah masuk. Begitu kaki mereka melewati ambang pintu, aroma pengap dan bau tembakau yang menyengat langsung menusuk hidung. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi sebuah lampu bohlam 5 watt yang bergoyang tertiup angin dari celah atap.
"Mana TV-nya, Pak?" tanya Hadi sambil meletakkan tas peralatannya di lantai.
Tiba-tiba, suara pintu dibanting keras dari belakang. BRAK!
Hadi dan Ferry tersentak. Mereka berbalik dengan cepat. Di sana, berdiri Jabrik dan Oyot yang langsung mengunci pintu dan memasang palang kayu besar. Dari arah kamar dalam, Edi melangkah keluar dengan senyum seringai yang penuh kebencian, diikuti oleh tiga orang anak buahnya yang berbadan besar.
"Gimana, Di? Suasana rumah barunya enak, kan?" tanya Edi sambil melipat tangan di dada. Matanya berkilat penuh kemenangan.
Hadi menarik napas panjang. Firasatnya benar. Ini bukan soal TV rusak, ini soal nyawa. "Jadi ini rencana loe, Ed? Pengecut loe, harus pakai tipu daya begini cuma buat lawan satu orang."
Edi tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema di ruangan yang sempit itu. "Pengecut? Dalam bisnis dan dendam, nggak ada kata pengecut, yang ada cuma menang atau kalah. Dan hari ini, loe bakal kalah telak. Loe udah bikin malu gue di depan anak-anak, sekarang saatnya loe bayar bunganya."
Ferry maju satu langkah, berdiri di samping Hadi. "Loe kalau berani satu lawan satu, jangan bawa pasukan!"
"Berisik loe, bocah ingusan!" bentak Oyot sambil mengeluarkan sebilah badik dari balik pinggangnya. "Loe berdua nggak bakal keluar dari sini dengan kaki utuh!"
Situasi memanas dalam sekejap. Ruangan sempit itu terasa semakin sesak. Mat Jago, Jabrik, Oyot, dan anak buah Edi mulai mengepung Hadi dan Ferry dari segala penjuru. Total ada tujuh orang dewasa melawan dua remaja.
"Fer, cari celah ke jendela kalau bisa. Jangan jauh-jauh dari gue," bisik Hadi lirih. Tangannya bergerak cepat merogoh tas dan mengeluarkan dua bilah kayu yang dihubungkan dengan rantai besi—double stick kebanggaannya.
"Sikat mereka!" teriak Edi memberi komando.
" Hiaaat"
" Wuuut"
Jabrik adalah yang pertama menyerang. Ia mengayunkan sebuah balok kayu ke arah kepala Hadi. Dengan refleks yang tajam, Hadi merunduk, lalu memutar double stick-nya.
" wuung'
" Wuush"
"TAK!"
" Aduuuuh"
Ujung kayu keras itu menghantam tulang kering Jabrik dengan telak. Jabrik mengerang kesakitan dan limbung.
Hiaaat
Hiaaat
Wuut
melihat itu, anak buah Edi yang lain tak tinggal diam. Dua orang sekaligus menerjang Ferry. Ferry yang hanya mengandalkan tangan kosong dan keberanian mencoba memberikan perlawanan.
" Wuut"
" Bugh"
" Plaaak"
Braaaak
Ia berhasil mendaratkan satu pukulan di rahang lawan, namun sebuah tendangan keras mendarat di perutnya, membuatnya tersungkur menghantam meja kayu hingga hancur.
"Ferry!" teriak Hadi cemas.
Hadi tidak bisa fokus pada Ferry karena Oyot dan Mat Jago menyerangnya secara bersamaan. Oyot dengan badiknya melakukan tusukan-tusukan cepat, sementara Mat Jago mencoba menangkap tangan Hadi. Hadi menari di antara serangan itu. Double stick-nya berputar membentuk barikade udara yang sulit ditembus. Suara gesekan rantai dan benturan kayu memenuhi ruangan.
" Wuuut"
"PLAK!"
" Klang"
" Aaaargh"
" BUgh"
Hadi berhasil menghantam pundak Oyot hingga badiknya terlepas, namun di saat yang sama, satu anak buah Edi berhasil memukul punggung Hadi dengan pipa besi. Hadi terhuyung, rasa panas menjalar di punggungnya. Darah mulai merembes dari luka di pelipisnya akibat gesekan senjata lawan.
" Praaang"
"Loe jago, Di. Tapi loe cuma punya dua tangan!" Edi berseru sambil mengambil botol miras kosong dan memecahkannya di pinggiran meja, mengubahnya menjadi senjata tajam yang mematikan.
Hadi berjuang layaknya singa yang terkepung. Ia berhasil menjatuhkan tiga orang, namun tenaganya mulai terkuras. Ferry sudah babak belur di sudut ruangan, mencoba bangkit namun berkali-kali ditendang kembali oleh anak buah Edi.
Hadi terpojok ke dinding. Napasnya tersengal-sengal. Peluh dan darah bercampur di wajahnya. Lawannya masih ada empat orang yang berdiri, termasuk Edi yang tampak sangat bugar karena belum ikut bertarung secara fisik.