Aira memergoki suaminya selingkuh dengan alasan yang membuat Aira sesak.
Irwan, suaminya selingkuh hanya karena bosan dan tidak mau mempunyai istri gendut sepertinya.
akankah Aira bertahan bersama Irwan atau bangkit dan membalas semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazilla Shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bu Dewi Ditipu
"Semenjak ada Syifa, Pamanmu itu jadi sering tertawa. Sayangnya anak Mama masih betah aja kerja di luar negeri. Belum ada keinginan untuk menikah dengan cepat," ujar Bu Melati.
"Lebih baik menikah setelah benar-benar siap daripada harus gagal seperti aku Ma," jawab Aira.
"Iya sih, kamu bener juga Aira. Tapi usianya itu lho udah 30 tahun. Entah kapan dia akan pulang," ucap Bu Melati yang kangen pada anaknya.
"Emangnya nggak bisa dihubungi, Ma?" tanya Aira.
"Ya bisa sih, tapi jarang banget. Mungkin hanya beberapa kali aja dalam seminggu, pokoknya lebih sibuk dari presiden lah Aira. Kalau nanti kamu sibuk di kantor kamu sendiri, biar Mama yang temenin Syifa sekolah ya. Anak sebayanya udah pada sekolah kan?" tanya Bu Melati dengan penuh harap.
"Ma, aku benar-benar nggak kalau harus merepotkan terus," ucap Aira.
"Nggak ada yang merepotkan. Malah kalau nggak Syifa, rumah rasanya membosankan sekali. Pamanmu pergi kerja, dan Mama hanya tinggal sendirian aja sampai dia pulang. Kalau ada Syifa, Mama kan jadi tambah awet muda bisa main sama cucu," jawab Bu Melati.
Aira hanya bisa tersenyum, karena untuk menolak pun rasanya ia tidak bisa.
"Semua orang bisa dengan mudahnya jatuh cinta pada Syifa. Tapi ayahnya sendiri? Melihat Syifa pun rasanya jijik. Boro-boro mengajaknya bermain, menciumnya setelah pulang kerja pun tidak. Entah terbuat dari apa hati Mas Irwan itu? Semoga karma segera datang, dan menimpa anaknya yang juga akan lahir!" batin Aira.
Aira sebenarnya tidak mau menyumpahi hal jelek, namun rasa sakit yang telah Irwan torehkan benar-benar membuatnya tidak bisa melupakan.
"Bunda, apa bunda bahagia bekerja?" tanya Syifa tiba-tiba menoleh pada Aira.
"Tentu aja bahagia. Bunda juga rajin olahraga agar nanti bisa kurus seperti Oma. Setelah itu, kita akan jalan-jalan bersama ke Playground dan ke tempat mainan lainnya," ucap Aira dengan antusias.
"Aku mau, Bun. Aku mau," jawab Syifa dengan senang sambil memeluk Aira.
"Apa selama disini, Syifa nggak pernah bertanya tentang Ayahnya Ma?" tanya Aira pada Bu Melati.
Bu Melati langsung menggelengkan kepalanya. "Sepertinya Syifa juga tau kalau Ayahnya nggak menyayanginya. Dia hanya selalu bercerita tentang kamu dan mendoakan kamu."
*****
Jam 9, Irwan dan juga Lisa akhirnya bangun dari tidur nyenyaknya setelah semalaman mereka melewati malam yang panas bersama.
"Mau kemana hari ini, Mas?" tanya Lisa.
"Aku mau survey lokasi kayaknya. Aku mau coba bikin usaha baru dengan sisa uang yang ada Sayang," jawab Irwan.
"Aku boleh ikut nggak? Males banget dirumah cuma sendirian. Kalau ada uang sih mau ke salon," ucap Lisa sambil nyengir. Siapa tau Irwan mau memberikannya uang.
Irwan mengelus rambut Lisa dengan lembut. "Bukannya nggak ada uang Sayang, tapi kamu kan tau kalau sebentar lagi aku bakalan di pecat jadi CEO Alexander Group. Kita harus berhemat agar bisa membangun usaha, bukannya kamu nggak ingin kalau sampai masa depan anak kita nanti sengsara?"
"Baiklah," jawab Lisa dengan singkat.
Keduanya pun bangkit dari ranjang dan segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Beberapa menit kemudian, keduanya pun akhirnya selesai bersiap.
Irwan dan juga Lisa segera turun ke lantai bawah, dan langsung menuju meja makan untuk mengisi tenaga lebih dulu sebelum beraktivitas.
"Oh iya Mas, nanti setelah kamu berhenti jadi CEO, apa rumah ini juga bakalan di ambil sama istri gendut kamu itu?" tanya Lisa sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Aku juga nggak tau Sayang. Tapi sialnya aku tertipu, dia pergi membawa surat rumah dan juga surat-surat mobil yang ada disini saat aku nggak ada dirumah," jawab Irwan.
"Hah! Andai kamu tau dari awal, pasti bakalan laku mahal rumah ini Mas," ucap Lisa dengan lesu.
"Iya Sayang, aku juga berpikir gitu. Aku tentu akan membelikan kamu rumah yang lebih bagus dan juga lebih besar nantinya," ucap Irwan dengan percaya diri.
Keduanya pun mempercepat makannya, hingga akhirnya selesai juga. Saat ingin berangkat, tiba-tiba aja ponsel Irwan berdering.
"Siapa, Mas?" tanya Lisa.
"Mama, Sayang. Aku angkat dulu sebentar ya!" ucap Irwan.
Lisa menganggukan kepalanya.
"Halo, Ma? Ada apa?" tanya Irwan.
"Irwan, Mama ketipu Irwan. Ada yang order bahan bangunan dengan total uang 100 juta. Tapi setelah barang turun, pegawai Mama langsung di keroyok sampai pingsan. Hanya sopir aja yang masih sempat kabur," ucap Bu Dewi sambil menangis sesenggukan.
"Apa? Kenapa bisa Ma? Biasanya kalau orderan dengan jumlah besar seperti itu selalu transfer duluan kan? Kenapa Mama ceroboh banget sih!" marah Irwan.
Irwan marah pada Mamanya yang ceroboh, apalagi keuangannya saat ini juga sedang tidak stabil. Malah Mamanya menambah masalah baru.
"Mama kayak terhipnotis gitu aja Irwan dan orang ini bilang akan order ulang setelah barang sampai dan cocok. Mama nggak tau kalau kejadiannya akan seperti ini, kamu tolong ke toko sekarang. Mama rasanya lemas sekali!" ucap Bu Dewi masih menangis sesenggukan.
"Ya udah aku sekarang kesana Ma!" jawab Irwan langsung mematikan panggilannya.
"Ayo sekarang kita kerumah Mama Sayang!" ajak Irwan pada Lisa.
Lisa menganggukan kepalanya, ia tidak banyak bertanya karena melihat wajah Irwan yang kurang bersahabat.
Keduanya segera masuk ke dalam mobil, dan Irwan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke toko bangunan milik ibunya.
Selama perjalanan, Lisa sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Dia juga ikut fokus melihat ke arah jalanan hingga akhirnya mereka sampai juga di toko bangunan milik Bu Dewi.
Irwan dan juga Lisa buru-buru turun dari mobilnya. Dilihatnya toko yang sudah banyak yang kosong, hanya tinggal beberapa saja karena memang tidak terlalu besar.
"Irwan, akhirnya kamu datang juga. Mama harus gimana sekarang Irwan!" ucap Bu Dewi dengan frustasi sambil menggoyangkan lengan Irwan.
"Apa Mama ada nomor? Mungkin aku bisa melacak nomornya?" tanya Irwan.
"Mama nggak tau Irwan. Di ponsel Mama tiba-tiba nomornya hilang, nggak ada yang bisa di lacak. Untuk di laporkan ke polisi pun nggak ada bukti yang kuat, Mama nggak mau bangkrut Irwan. Tolong Mama!" jawab Bu Dewi. Air matanya tidak berhenti.
"Apa jangan-jangan ini juga perbuatan istri gendut kamu ini, Mas?" tanya Lisa tiba-tiba.
Lisa berpikir tidak mungkin jika semuanya kebetulan. Pasti ada orang yang sudah mengatur skenario ini.
Bu Dewi mengusap air matanya. "Apa maksudmu Lisa? Kenapa Aira tiba-tiba melakukan semua ini? Mama nggak merasa punya salah apapun pada Aira!"
"Ya mungkin aja Aira dendam sama Mas Irwan, makannya selain ingin memecat Mas Irwan dari posisi CEO di Alexander Group, Aira juga ingin usaha Mama bangkrut hingga membuat Mas Irwan nggak bisa bangkit lagi dan akhirnya jatuh miskin," jawab Lisa.
"Ucapan kamu masuk akal juga Sayang. Hanya Aira satu-satunya orang yang membenciku, aku nggak akan tinggal diam setelah nanti aku bertemu dengannya. Aku akan membuat perhitungan yang sangat kejam pada Aira. Apa dia pikir aku nggak bisa hidup tanpa dirinya? Aku akan tunjukkan kalau aku bisa melebihi kekayaannya," jawab Irwan dengan geram.
"Terus gimana dengan usaha Mama ini dong Irwan? Mama nggak bisa mendapatkan uang lagi kalau sampai bangkrut?" tanya Bu Dewi.
"Sebaiknya kita pulang aja Ma. Tutup aja tokonya lebih awal, dan kabari karyawannya untuk libur sementara!" jawab Irwan yang tidak memiliki pilihan lain.
"Baiklah," ucap Bu Dewi dengan lesu.
mo ngomong apa itu c lisa