NovelToon NovelToon
Upstage My Heart

Upstage My Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romansa / Showbiz / Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:490
Nilai: 5
Nama Author: meongming

Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : menunggu pesan dari kamu

Keesokan harinya, Lyla sudah berada di sekolah. Ia baru sampai gerbang dan ponselnya berbunyi Notifikasi masuk. Ada pesan baru dari Noah.

“Aku baru beres beres kamar asrama. Ternyata satu asrama ada lima orang, jadi kami berbagi tempat tinggal bareng-bareng"

Lyla tersenyum kecil, membayangkan wajah Noah yang sibuk menata barang-barangnya. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan.

"Wah, seru ya..”

Pesannya terkirim. Titik tiga di layar sempat muncul sebentar — tanda Noah sedang mengetik tapi… dia menghilang lagi. Lyla menatap layar ponselnya cukup lama. Mungkin Noah memang sibuk, pikirnya. Ia menarik napas pelan, lalu menyimpan ponselnya di saku rok.

Langkahnya terasa lebih pelan dari biasanya. Meski senyum masih menghiasi bibirnya, ada sedikit ruang kosong di dadanya yang belum sepenuhnya ia pahami. Saat sampai di sekolah, di setiap sudut, semua orang membicarakan hal yang sama.

“Eh, kalian udah lihat postingan Starline belum?!”

“Katanya mereka punya aktor baru! Ada lima orang cowok!”

“Denger-denger, salah satunya dari sekolah kita loh!”

Lyla yang baru menaruh tas di mejanya, langsung menoleh ke arah teman-temannya yang ribut sendiri.

Wendy sampai menunjuk layar ponselnya dengan wajah semangat. “Lihat nih! Mereka cuma nunjukin siluetnya aja, tapi katanya salah satu anak sekolah kita!”

“Serius?” Nomi membelalak. “Kalau gitu… jangan-jangan Noah?”

Begitu nama itu disebut, jantung Lyla serasa berhenti sepersekian detik tangannya refleks mengambil ponsel dari saku rok, membuka aplikasi yang dimaksud.

Halaman resmi Starline Entertainment menampilkan lima bayangan hitam dengan cahaya sorot di belakang mereka. Siluet itu berdiri sejajar—tinggi, ramping, masing-masing dengan pose berbeda.

Dan di antara kelimanya…

Lyla mengenali satu postur yang terlalu familiar untuk dianggap kebetulan. Garis bahu, cara berdiri, bahkan sedikit kemiringan kepala itu…

"Noah.."

Ia tersenyum kecil—senyum yang tidak sepenuhnya bahagia, tapi juga bukan sedih seperti kehangatan aneh yang datang dari kenangan yang terlalu berharga untuk dilupakan, tapi terlalu menyakitkan untuk diingat. “Kamu benar-benar sampai di sini…” gumamnya pelan, seolah Noah ada di depan matanya.

Ia seharusnya bangga.

Noah sudah mewujudkan mimpinya.

Sesuatu yang dulu selalu ia katakan dengan mata berbinar setiap selesai latihan teater.

"Kalau suatu hari aku benar-benar jadi aktor… kamu harus jadi orang pertama yang nonton aku, ya."

Kalimat itu muncul begitu jelas di ingatan sampai Lyla refleks menunduk dan memejamkan mata. Sekarang jarak mereka bukan lagi lorong sekolah… atau ruang latihan teater… tapi panggung profesional dan dunia hiburan — jarak yang jauh. Jauh sekali. Lyla menarik napas dalam, mencoba menahan sesuatu yang menggenang di matanya.

"Aku bahagia untuk kamu, Noah… sungguh,” bisiknya.

**

Hari-hari berikutnya terasa berjalan lebih pelan untuk Lyla. Sekolah mulai sepi karena kegiatan sudah berkurang setelah kelulusan kelas tiga. Nomi dan Wendy malah makin sering menemaninya.

Kadang mereka nongkrong di kantin, kadang ke perpustakaan cuma buat pura-pura belajar tapi ujung-ujungnya main game di ponsel.

“Lyla, kamu kok bengong lagi?”

Lyla tersentak kecil, lalu tersenyum. “Enggak… cuma mikirin soal teater nanti.”

Padahal, sebagian pikirannya masih sering terbang entah ke mana—ke seseorang yang kini tinggal di asrama. Tapi Lyla berusaha ceria, ikut tertawa saat Nomi salah ngomong atau ketika Wendy menumpahkan jus di seragamnya. Ia mulai menyadari bahwa hidupnya tak boleh berhenti di tempat yang sama. Sore itu, mereka bertiga duduk di taman depan sekolah, menikmati roti isi keju sambil berbincang ringan.

“Eh, nanti liburan kita jadi pergi, kan?” tanya Wendy dengan mulut penuh.

“Harus dong,” sahut Nomi cepat. “Kita harus healing sebelum kelas baru di mulai!”

Lyla tersenyum kecil, matanya menatap langit senja yang perlahan memudar. Ia tak tahu kenapa, tapi sore itu terasa damai — mungkin karena untuk pertama kalinya, ia bisa merindukan seseorang sambil tetap tertawa bersama teman-temannya.

“Udah aku bilang, ke laut aja !” seru Wendy sambil menepuk kursi taman. 

“Ke laut tuh jauh, Wendy. Kamu kuat naik bus dua jam?” balas Nomi.

Wendy langsung cemberut. “Tapi taman bermain itu buat anak kecil! Masa kita yang udah mau kelas tiga SMA masih naik komidi putar?”

Lyla tertawa kecil melihat dua temannya mulai debat lagi. “Gak apa-apa kan, yang penting seru,” katanya pelan. “Lagipula… kayaknya udah lama banget kita gak main bareng.”

Nomi langsung Nyamber. “Tuh! Dengerin si Lyla! Dia aja setuju!”

Wendy mendengus, tapi akhirnya ikut tersenyum. “Yaudah, yaudah… tapi aku gak mau naik wahana yang muter cepat.”

Mereka bertiga saling pandang lalu tertawa keras-keras. Suasana sore itu penuh canda... seolah semua stres ujian dan tugas sekolah benar-benar hilang.

1
StellaY
semangat terus thor💪
meongming: yesss💪💪
total 1 replies
StellaY
uwu banget😍😍
meongming: seneng ada yang suka 🤩 makasih dukungan mu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!