Seorang dokter muda bernama Mika dari dunia modern terseret ke masa lalu — ke sebuah kerajaan Jepang misterius abad ke-14 yang tak tercatat sejarah. Ia diselamatkan oleh Pangeran Akira, pewaris takhta yang berhati beku akibat masa lalu kelam.
Kehadiran Mika membawa perubahan besar: membuka luka lama, membangkitkan cinta yang terlarang, dan membongkar rahasia tentang asal-usul kerajaan dan perjalanan waktu itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon latifa_ yadie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Belum Punya Nama
Sejak hari aku kembali dari dunia ketiga, dunia ini terasa seperti baru lahir.
Langitnya terlalu terang, lautnya terlalu sunyi, dan udara terasa hangat tapi juga asing — seolah setiap hal di sekitarku baru belajar cara menjadi “nyata.”
Aku duduk di pantai, menatap ombak yang datang perlahan dan berhenti di ujung jari kakiku.
Airnya jernih, memantulkan warna perak dari liontin di leherku.
Cahaya kecil di dalamnya masih berdenyut — jantung waktu ketiga, warisan terakhir dari Ren.
“Ren,” bisikku pelan. “Dunia ini mulai bernapas lagi. Tapi tanpa arah, seperti bayi yang baru bangun.”
Angin laut menjawab lembut, membawa bisikan samar yang sudah sangat kukenal:
“Makanya kau di sana, Aki. Untuk memberinya nama.”
Aku tersenyum kecil. “Kau masih bisa bicara padaku, ya.”
“Aku tidak bicara. Dunia ini hanya memantulkan suaramu sendiri.”
Aku tertawa pelan. “Kau masih suka ngeles, Ren.”
“Kalau aku jawab iya, kau pasti menangis lagi.”
Aku menghela napas panjang, menatap laut yang bergoyang pelan.
“Dunia ini belum punya nama. Dan aku… nggak tahu harus mulai dari mana.”
“Mulai dari rasa yang paling manusiawi.”
“Rasa apa itu?”
“Rindu.”
Aku menutup mata.
Hening.
Dan di tengah keheningan itu, aku benar-benar bisa mendengar denyut dunia — pelan, ritmis, seperti napas seseorang yang baru belajar hidup.
Hari-hari pertama berjalan seperti mimpi.
Setiap pagi, aku menulis di pasir, mencoba memberi dunia ini nama.
“Orienta,” tulisku suatu hari.
Tapi angin menghapusnya.
Keesokan harinya, aku tulis “Nirya.”
Ombak menelannya sebelum sempat aku selesai.
Seolah dunia menolak semua nama yang kuberikan.
“Jadi kau maunya apa?” seruku ke laut.
Tidak ada jawaban, tapi ombak datang dan menyentuh kakiku pelan.
“Aku ingin nama yang lahir dari hati, bukan dari mulut,” suara Ren bergema samar.
Aku mendengus, menatap langit. “Kau selalu ngomong setengah teka-teki.”
“Kalau aku bicara jelas, kau nggak akan belajar, Aki.”
Aku tertawa kecil sambil mengusap air mata.
“Baiklah, dunia. Aku akan belajar.”
Tiga hari kemudian, dunia mulai menunjukkan tanda-tanda “hidup.”
Burung-burung muncul, tapi suaranya belum utuh — seperti melodi yang belum lengkap.
Tumbuhan tumbuh dari pasir, tapi daunnya bening seperti kaca.
Dan di langit, awan bergerak dalam bentuk spiral yang berubah setiap jam — seperti sedang mencari bentuk yang pas.
Aku menatap semua itu dengan campuran kagum dan cemas.
“Ren, apa ini normal?”
“Tidak ada yang normal di dunia yang belum punya waktu.”
“Jadi apa yang harus kulakukan?”
“Biarkan mereka menirumu.”
Aku mengerutkan dahi. “Meniruku?”
“Ya. Dunia ini belajar darimu. Kau bergerak, dia belajar berjalan. Kau tertawa, dia belajar bahagia.”
Aku memandang tanganku, lalu langit.
“Jadi aku semacam… panutan bagi dunia ini?”
“Kau cahaya pertamanya.”
Kata-kata itu membuat dadaku hangat sekaligus berat.
“Ren… aku bukan Sensei. Aku bahkan nggak tahu gimana cara menciptakan langit yang benar.”
“Sensei pun dulu tidak tahu. Dia cuma berjalan sampai dunia ikut bergerak.”
Aku menatap horizon.
“Kalau begitu, aku akan berjalan juga.”
Aku mulai melangkah.
Setiap langkah yang kuambil meninggalkan jejak cahaya perak di tanah — dan tak lama kemudian, jejak itu berubah menjadi rumput lembut berwarna hijau muda.
Aku menatapnya dengan mata lebar.
“Ren… lihat itu.”
“Aku melihat. Dunia mulai meniru langkahmu.”
Aku tersenyum kecil. “Jadi ini yang kau maksud ‘meniruku’.”
“Iya. Dunia tidak butuh Tuhan. Hanya butuh arah.”
Aku terus berjalan sampai matahari tak terlihat.
Di sepanjang jalanku, muncul pepohonan bening, sungai kecil yang mengalir pelan, dan udara mulai punya aroma — campuran garam laut dan bunga yang belum pernah ada.
Dunia ini mulai punya wujud.
Tapi di tengah semua keindahan itu, ada hal yang mengganjal.
Langit, meski indah, belum punya bintang.
Setiap malam, hanya gelap polos, seperti kanvas yang belum disentuh.
Aku duduk di tepi bukit kecil dan menatap ke atas.
“Ren, kenapa langitnya kosong?”
“Karena kau belum percaya pada terang.”
Aku mengerutkan dahi. “Terang?”
“Bintang hanya muncul ketika seseorang berani mengingat.”
Aku menunduk, menggenggam liontin.
“Apa aku harus mengingat semua kehilangan itu lagi?”
“Bukan untuk menyakiti. Untuk mengingat kenapa kau bertahan.”
Aku menutup mata, membiarkan kenangan mengalir.
Wajah Sensei di bawah hujan pertama.
Tawa Ren saat bercanda tentang waktu.
Dan kesunyian terakhir ketika dia berkata, “Aku akan jadi hujannya.”
Air mata jatuh ke tanah.
Satu tetes, dua, tiga…
Setiap kali air mataku menyentuh rumput, muncul kilatan kecil di langit.
Satu cahaya, lalu dua, lalu ratusan.
Bintang-bintang lahir dari air mata.
“Begitu, Aki,” suara Ren berbisik lembut. “Langit lahir dari rindu.”
Aku tersenyum, memandangi langit yang kini bertabur cahaya.
“Mungkin aku akhirnya mulai mengerti.”
Beberapa minggu berlalu.
Dunia ini tumbuh cepat — seperti anak kecil yang tak sabar menjadi dewasa.
Sungai meluas, langit berubah warna setiap sore, dan burung-burung mulai bernyanyi dengan melodi yang utuh.
Tapi setiap kali aku berjalan terlalu jauh, aku bisa merasakan sesuatu di ujung dunia ini — semacam batas tak terlihat yang bergetar lembut.
Suatu malam aku memberanikan diri mendekatinya.
Udara di sana terasa dingin, lebih berat, dan samar-samar aku melihat kilatan cahaya biru — mirip dengan aura dunia ketiga.
Aku menatapnya lama.
“Ren… apa dunia ini mulai bersentuhan dengan dunia tempatmu berada?”
“Mungkin.”
“Apakah itu berbahaya?”
“Tidak, kalau kau bisa menjaga arah.”
“Arah lagi?” aku mendengus. “Kau suka banget kata itu.”
“Karena arah lebih penting daripada tujuan. Dunia tidak perlu sampai, cukup terus berjalan.”
Aku menghela napas. “Kau tahu nggak, aku rindu banget. Rindu dengar suaramu secara langsung. Bukan lewat angin, bukan lewat air.”
“Kalau dunia ini tumbuh sempurna, mungkin aku bisa muncul lagi. Tapi bukan sebagai Ren.”
Aku menatap langit. “Lalu sebagai apa?”
“Sebagai bagian dari dunia yang kau buat.”
Kata-kata itu membuat dadaku hangat dan perih sekaligus.
“Kalau begitu, aku akan terus membuat dunia ini hidup. Supaya kau bisa kembali… walau dalam bentuk apa pun.”
“Itu sudah cukup, Aki.”
Hari ke-40 di dunia baru.
Aku menulis di atas batu besar di tengah lembah:
“Dunia ini bukan milikku, tapi lahir dari cinta dua arah — antara waktu dan mereka yang berani percaya padanya.”
Begitu tulisan selesai, batu itu berpendar lembut.
Dari dalamnya, muncul suara yang bukan dari Ren atau Sensei — tapi dari dunia itu sendiri.
“Aku siap diberi nama.”
Aku terdiam, menatap sekeliling.
“Nama?” bisikku.
“Ya. Aku sudah belajar cukup banyak darimu. Kini aku ingin tahu siapa aku.”
Aku menggenggam liontin, menatap langit penuh bintang yang lahir dari rinduku sendiri.
Nama…
Bukan dari mulut, tapi dari hati.
Aku memejamkan mata, mendengar bisikan laut, angin, dan gema lembut dari tempat Ren berada.
Lalu perlahan, aku berbisik:
“Elara.”
Langit bergetar.
Laut menyala lembut.
Bintang-bintang berputar sekali, seolah menyambut suara itu.
“Elara…” bisik dunia itu. “Nama yang berarti ‘cahaya dari rindu.’”
Aku tersenyum. “Kau menyukainya?”
“Aku mencintainya.”
Dan tepat saat itu, hujan turun — tapi bukan hujan biasa.
Setiap tetes air bercahaya biru lembut, menari di udara sebelum menyentuh tanah.
Di antara gemericiknya, aku mendengar tawa kecil yang pernah membuat dunia terasa hidup.
“Bagus, Aki. Kau akhirnya memberi dunia ini nama.”
Aku menatap ke langit sambil tersenyum di antara air mata.
“Selamat datang, Elara. Dunia yang lahir dari cinta, dijaga oleh waktu, dan diberi arah oleh rindu.”
Angin membawa aroma laut dan bunga.
Dan di antara semuanya, aku tahu —
Ren tidak benar-benar pergi.
Dia ada di setiap tetes hujan, di setiap rumput yang tumbuh, dan di setiap detak dunia yang baru lahir ini.
Malam itu, aku duduk di bawah pohon yang belum punya nama.
Langit Elara berwarna ungu keperakan, bintangnya memantulkan cahaya seperti mata yang penuh harapan.
Aku menatap liontin yang kini memancarkan dua warna — perak dan biru, berdenyut bersamaan.
“Ren,” bisikku, “aku sudah menamainya. Dunia ini sekarang Elara.”
“Aku tahu.”
“Satu hal lagi…”
“Apa?”
Aku tersenyum kecil. “Terima kasih sudah memilih jadi hujan waktu itu.”
“Dan terima kasih sudah jadi langitnya.”
Aku memejamkan mata, membiarkan suara dunia baru menenangkan hatiku.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kehilangan apa pun.
Aku hanya merasa… lengkap.
Karena di dunia yang belum punya nama, akhirnya aku menemukan arti dari semuanya:
Cinta tidak pernah mati, ia hanya berganti wujud — menjadi arah bagi waktu, dan nama bagi dunia.