DISCLAIMER : Ini bukan kisah tentang sweet romance tetapi DARK ROMANCE...
Jadi bersiap-siap menjadi tegang dan gemas
Berawal dari kisah cinta semanis madu, pasangan Aris-Ana menikah. Dengan berjalannya waktu kisah manis cinta mereka berubah menjadi semakin pahit dan mencekam.
Ana dibuat hancur berkeping-keping karena pernikahannya. Semakin hari semakin mencekam dan tidak masuk akal.
Apakah yang harus Ana lakukan? Bertahan dia akan hancur. Berpisah ibu dan anaknya lah yang hancur. Adakah pilihan lain baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frans Lizzie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Dita kembali
Ana membuka kunci kamarnya.
Ia baru saja pulang makan malam bersama Aris di tepi laut di daerah Jodoh.
Berdua tentu saja.
Sejak keputusan bersama antara ia, Aris dan keluarganya untuk segera mempersiapkan pernikahan, hubungan Aris dan dirinya sangat lancar dan semakin dekat.
Aris tidak seperti dulu lagi yang hobi menghilang, kini setiap hari selalu ada update kegiatan Aris, minimal lewat wa.
Saat itu Aris langsung menuju ke kamarnya tidak menemani Ana, karena ia harus tidur dulu.
Ia harus menyimpan tenaga, karena pukul 23 ia harus kembali in charge di hotel, sebagai Night Manager.
Posisinya sekarang sudah mengharuskan ia mendapat giliran incharge sebagai Night Manager.
Parahnya, karena tenaganya juga sangat dibutuhkan sebagai engineer, maka besok pagi jam 07.00 setelah tugasnya sebagai Night Manager selesai akan dilanjut dengan shift pagi yang dimulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00 sebagai asisten chief engineer.
Tidak adil? Tidak manusiawi?
Ya, mau bagaimana lagi.
Begitu banyak masalah di engineering yang hanya dikuasai oleh Aris. Tanpa dia, macet dan kacau operasional di engineering.
Bukan berarti Pak Syamsul, sebagai bos no 1 di engineering cuma ongkang-ongkang kaki ya. Dia juga sangat sibuk meng-handle urusan engineering dan hotel, tapi urusan yang berbeda dengan Aris.
Kini Ana sudah maklum, semakin tinggi jabatan seseorang akan semakin rumit dan banyak tanggung jawabnya.
Jabatan sekretaris, seperti dia saja, sudah sangat sibuk sampai hampir pecah otaknya dipaksa untuk berpikir. Apalagi seorang manajer. Tentu lebih berat bebannya.
Ana berganti pakaian santai yang nyaman untuk tidur, lalu meraih hpnya untuk scroll Instagram dan YouTube.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.
Pukul 20.45.
Ana mengerutkan kening.
Masa Mas Aris? Apa dia tidak bisa tidur?
Ana membuka pintu.
“SURPRISE!!”
Dita berdiri di depan Ana. Rambutnya dipotong layer sebahu berwarna coklat tua dengan sedikit highlight berwarna blonde. Benar-benar bertambah keren.
“WAH!!” Mata Ana mem-bola lebar. “Kamu sudah kembali. Haduhhh, Dita tambah cakep ini. Udah jadi bule sekarang.”
Dita menjatuhkan beberapa bawaan-nya ke lantai. Dita dan Ana berpelukan heboh.
Senang sekali.
“Ssttt, ini sudah malam,” Ana menarik tangan Dita agar masuk ke dalam. “Yuk masuk dulu, cerita ke aku. Kapan balik? Ketika aku pulang kerja tadi, masih tutupan lho kamar Dita.”
“Siang tadi jam 2 an,” jawab Dita. “Habis mandi aku tidur. Capek banget. Makanya Ana tidak melihat ada bedanya terhadap kamarku pas pulang kerja. Ini aku juga baru bangun tidur. Langsung coba ngecek ke kamar Ana.”
Dita memberikan sekitar 3 paper bag besar kepada Ana. “Ini oleh-oleh buat kamu. Yang paling spesial. Jangan cerita-cerita ke orang lain. Nanti pada ngiri.”
Ana menerima kantong karton itu dan membukanya. Ada permen beruang gummy yang terkenal, permen coklat Jerman, bahkan rok coklat yang manis di salah satu kantong.
“Auwww, so sweet,” seru Ana kegirangan. “Thank you so much, Dita.”
Ana kembali memeluk dan mencium kedua pipi Dita.
“Dita langsung masuk kerja besok ga?”
Besok adalah hari Minggu, jadi Ana selalu libur.
“Belum,” jawab Dita. “Masih cuti aku. Senin aku baru masuk.”
“Kalau gitu, kamu tidur di sini aja, Dit. Ceritain aku sampai malam juga bisa. Kita sama-sama libur besok.”
Dita dan Ana cekikikan bersama.
Lalu Dita mulai menceritakan yang terjadi saat ia ke Jerman.
“Apartemen Karl terletak di jalan yang agak kecil, jadi tidak ramai di sana. Ada taman kota tak jauh dari apartemen Karl. Apartemen Karl juga rapi dan bersih sekali. Tidak punya banyak barang. Dia benar-benar memiliki barang cukup yang perlu-perlu saja.”
Dita terus saja menceritakan tentang Karl dan apartemennya, sampai Ana memotongnya.
“Oke, sudah cukup menceritakan tentang Karl-mu, kebiasaannya, apartemennya. Kini yang ingin aku tahu sekarang adalah soal masa depan kalian. Benarkah Dita sudah bertemu dengan calon mertua?”
Dita menepuk dahinya sambil mengeluh, “ Wah iya ya. Aku terlalu melantur menceritakan Karl. Bosan ya dengar pujianku terus-menerus pada Karl?”
Ana tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tahu Dita lagi cinta mati ke Karl. Tapi daripada aku diceritain soal betapa ganteng dan baiknya Karl, aku lebih tertarik dengan kelanjutan hubungan kalian.”
“Orang tua Karl baik. Biasa seperti orang normal Eropa begitu. Mereka sangat menghormati aku yang tidak bisa makan babi. Jadi sebelum aku datang, Karl sudah mewanti-wanti agar jangan sampai ada masakan mengandung babi. Juga selama aku di sana, tidak pernah mereka mengeluarkan minuman beralkohol. Karl juga menyediakan tempat bersih yang kurang dilewat-lewati orang untuk aku sholat, baik di apartemennya maupun saat kami tinggal di rumah mertua.”
“Wah, hebat-hebat. Berarti orang tua Karl membuka tangan lebar-lebar ya untuk kehadiran Dita. Lalu apa lagi beritanya?”
“Akhir tahun ini, pas libur Natal mereka akan ke Indonesia untuk menikahkan aku dan Karl di kampungku Sumedang. Aku sudah melatih Karl membaca syahadat sampai mahir sebelum aku pulang ke sini.”
Mata Ana terbelalak. “Wah, congratulations ya. Aku ikut senang dengar berita ini. Berarti Karl akan jadi mualaf ya, ikut agama Dita?”
“Begitulah,” kata Dita. “Aku sebetulnya sempat kuatir kalau sudah soal agama begini.
Untungnya orang Jerman tidak terlalu ambil pusing soal agama. Mereka ngikut saja semua persyaratan yang ada agar bisa menikahi aku. Justru Abah dan Ambuku yang banyak permintaan dan persyaratan.”
Ana menepuk-nepuk bahu Dita. “Berarti kalau disimpulkan, udah pasti kan Dita dan Karl menuju pelaminan?”
“Insyaallah.”
“Itu yang penting.”
Ana kembali menunjukkan minat pada rok yang tergeletak di ranjang.
Ana mengambil lalu mencoba memakai rok coklat yang dibelikan Dita dari Jerman itu.
“Wow,” seru Ana senang. “Bagus dan cocok sekali kupakai, Dita. Terlihat imut dan manis. Pintar Dita milihin buat aku.”
“Terima kasih. Tapi Ana-nya juga kan cantik jadi bagus pakai apa saja.”
Tiba-tiba terdengar pintu kamar Ana diketuk pelan dan langsung dibuka dari luar.
Sosok tubuh Aris melangkah masuk. Ia menggunakan jas berwarna hitam lengkap dengan dasinya.
“Rame banget terdengar dari luar. Ternyata Dita sudah pulang ya. Halo Dit, bulemu nggak diajak?”
Dita terlihat kaget Aris yang tiba-tiba masuk ke kamar Ana tetapi dengan cepat ia menutupinya.
“Karl kerja-lah, tidak bisa ditinggal-tinggal,” jawab Dita.
“Jangan-jangan alasan saja itu Dit. Sudah lama kan LDR-an. Mungkin sudah ada pandangan lain dia.”
“Mana ada.” Nada bicara Dita agak berubah. “Bahkan kami akan segera menikah kok kalau tidak akhir tahun ini ya tahun depan.”
“Ooo, iya? Beruntung juga nasibmu ya Dita.” Aris mengacungkan kedua jempolnya.
Ana berjalan menuju ke depan Aris. “Lihat ini oleh-oleh dari Dita. Manis kan?”
“Jelas manis-lah. Yang kan pakai Ana.”
Ana mengangkat juga kedua paper bag yang berisi gummy bear dan coklat. “Dita juga belikan permen khas Jerman lho, nanti Mas Aris kubagi deh.”
“Simpan dulu saja. Say, aku berangkat kerja dulu ya.” Aris mendekat ke Ana kemudian mengecup bibirnya sekilas di depan Dita.
Ana merasa sedikit rikuh pada Dita.
Bagaimana pun masih di Indonesia ini, belum lumrah kayaknya ciuman bibir di depan orang lain.
“Oke. Hati-hati.”
Aris melambaikan tangannya sambil pergi keluar dari pintu. Pintu tertutup kembali.
Ana melepaskan kembali rok coklatnya lalu kembali mengenakan celana piyamanya. Ia juga mencoba memakan satu butir gummy bear.
Sebetulnya Ana juga akan mencoba makan coklat Jerman-nya tetapi akhirnya batal, karena Dita bilang mengantuk.
“Yah, nggak jadi tidur di sini dong,” kata Ana kecewa.
“Iya ternyata badanku belum puas balas dendam akibat capek perjalanan jauh,” jelas Dita dengan menyesal.
Ia berjalan menuju pintu keluar, namun menoleh sejenak untuk berkata, “Ceritaku tentang Aris dulu itu benar lho. Asal Ana tahu saja “
Dita keluar sambil menutup pintu kamar Ana.