Aksa bertemu dengan seorang gadis pemilik toko kue yang perlahan memikat perhatiannya. Namun ketertarikan itu bukanlah karena sosok gadis tersebut sepenuhnya, melainkan karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang sang istri.
Terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, Aksa mulai mendekatinya dengan berbagai cara — bahkan tak segan mengambil jalan licik — demi menjadikan gadis itu miliknya. Obsesi yang awalnya lahir dari kerinduan perlahan berubah menjadi hasrat posesif yang menguasai akal sehatnya.
Tanpa disadari, sang gadis pun terseret semakin dalam ke dalam cengkeraman pria dominan itu, masuk ke sebuah lembah gelap yang dipenuhi keinginan, manipulasi, dan ilusi cinta.
akankah Aksa bisa mencintai gadis itu sepenuhnya? apakah gadis itu mampu membuat Aksa jatuh cinta pada dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LebahMaduManis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Setelah mendengar bell Apartemennya berbunyi, Aksa yang sedang duduk di kursi bar dapurnya segera melangkahkan kakinya menuju pintu dengan tergesa-gesa, tepat berada di depan pintu Aksa membanting pintu, bukan karena emosi melainkan karena rasa khawatir yang melandanya, gadis yang ia kasihi mengalami hal yang mengerikan, hal yang paling ditakuti semua perempuan.
Aksa menatap cemas Erina dari ujung kaki hingga ujung kepala, mata Erina sembab dan masih nampak matanya dipenuhi bayang-bayang ketakutan, tanpa kompromi, Aksa segera mendekapnya, seakan memberi kesan kau sudah aman sekarang pada Erina.
“Pak, saya mengantarkan Nona Erina, kalau begitu saya permisi” ucap orang suruhan Aksa, setelah selesai mengantarkan Erina ke Aparteman bosnya mereka pun berpamitan dan meninggalkan Erina bersama Aksa.
Aksa menautkan tangannya di bahu Erina “Nona, masuklah” masih dengan tangan yang merangkul bahu Erina, Aksa mengajaknya masuk ke Apartemen untuk beristirahat dan sedikit menenangkan ketakutan yang telah ia alami, membawanya duduk di sofa kemudian memberikannya secangkir coklat hangat, Aksa tahu; coklat mengandung senyawa yang dapat memicu hormon bahagia, agar Erina bisa sedikit rileks dan nyaman.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Erina meraih secangkir coklat yang telah Aksa berikan untuknya, perlahan mendekatkan pada bibir mungilnya, satu tegukan melesat di mulut Erina.
Aksa berusaha untuk tetap diam tidak mendesak Erina untuk segera menceritakan kejadiannnya, ia mengerti, hal tersebut telah menorehkan luka batin dan menjadi trauma untuk Erina, maka dari itu diam dan tetap memperhatikan sudah menjadi sikap yang tepat Aksa, ia lebih memilih menunggu Erina siap untuk angkat bicara.
“Mas makasih yaa” lirih Erina, bahkan suarnya masih terdengar gemetar, dengan sesekali menggigit bibir bawahnya.
“For?“
“Mas selalu membantuku dalan segala hal, aku gak tahu bagaimana cara balas semua kebaikan yang aku terima”
Aksa menyimpulkan senyum tipis di bibirnya, lalu memalingkan wajahnya yang sejak tadi menatap lekat Erina “tidak perlu memikirkan itu Nona, beristirahatlah dahulu dan tenangkan semuanya”
“Mas?“
“Ng?“
“Kenapa dua orang tadi bisa datang ke rumaku diwaktu yang tepat saat aku benar-benar membutuhkan pertolongan?“ Tentu, pertanyaan ini yang sejak awal ingin Erina tanyakan, bagaimana jadinya jika orang suruhan Aksa tidak segera menghajar Bara hinnga tersungkur dilantai.
Aksa mengangkat sebelah alisnya dengan mata yang mengerling, seakan ia sedang mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Erina.
“I—itu” Aksa menjeda ucapanya “Nona, apa kamu mau berendam air hangat di bath tab?, agar tubuhmu sedikit rileks” Aksa sengaja mengalihkan pertanyaan Erina, memberi waktu untuknya berpikir menjawab pertanyaan yang Erina berikan.
Erina menarik nafas dan mengembuskannya cepat, sekarang hanya Aksa yang bisa ia andalkan, Erina berharap semoga kebaikan yang di berikannya tulus, meski rasa khawatir masih menyelimutinya, khawatir jika Aksa pun ounya niat buruk padanya. Kendati begitu, Aksa tidak mungkin meminta Erina untuk menjadi Nyonya Aksa jika punya niatan buruk.
“Boleh Mas”
“Silahkan Nona, semuanya sudah Saya persiapkan, ada beberaba bath bomb dengan Aroma yang berbeda-beda, kamu tinggal pilih mana yang paling kamu sukai”
Dipersilahkan oleh si pemilik rumah, Erina pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi yang dilengkapi dengan bath tab.
Tiba didepan pintu kamar Erina menggenggam Handle pintu, ia terdiam sejenak sebelum membalikan badannya “Mas” panggilnya.
Aksa menoleh ke Arah sumber suara “Iya Nona”
“Mas tidak ada niatan buruk padaku juga kan?“
Aksa mengernyitkan dahinya, kemudian berdiri mendekati Erina, ia menggenggam kuat bahu Erina dan menatapnya lekat-lekat,m seakan memberi keyakinan yang pasti, ia pun mencondongkan tubuhnya agar kedua matanya menatap tepat pada mata bulat Erina “Nona, dengarkan. Tidak mungkin saya memintamu menjadi Nyonya dirumah ini, jika saya mempunyai niat buruk padamu” ucap Aksa lembut dengan baritonnya yang khas.
Erina hanya membalasnya dengan senyum tipis dibibirnya sebelum kemudian membuka pintu kamar, stelah ia masuk dan akan menutup kembali pintu itu ia terjeda “Aku akan berendam cukup lama, tidak perlu nunggu aku didepan pintu Mas” ucap Erina
Aksa terkikih lalu melangkahkan kakinya kembali ke sofa dan meraih kotak roko di meja, sembari menyalakan roko ia membatin “tidak akan saya lakukan sejauh ini jika kamu tidak memiliki paras yang serupa dengan Ayesha”.
Lantas bagaimana jika Erina mengetahui kebenarannya? Apakah Erina akan menerima itu? Erina hanyalah bayang-bayang Ayesha bagi Aksa, ternyata dalam hati Pria bongsor ini masih dipenuhi dengan Ayesha, apakah ia tak memberikan celah sedikitpun untuk Erina menempati hatinya?
...***...
Setelah membuka pakaiannya Erina menutupi tubuhnya dengan handuk kimono yang sudah tersedia, ia membuka keran air hangat lalu mulai memilih dan menciumi Aroma bola-bola sabun yang akan dia gunakan. Erina memilih bath bomb berwarna putih sedikit kuning dengan aroma Chamomile yang menenangkan.
Setelah air di dalam bath tub dirasa cukup ia pun menurunkan handuk yang menutupi tubuhnya kemudian merebahkan badannya kedalam bath tab. Ia memejamkan matanya, indra penciumnya menghirup Aroma chamomile yang menenangkan dari bath bomb yang sudah ia masukan kedalam air dan berubah menjadi buih-buih halus, lampu yang sedikit redup dengan dinding kamr madi yang terbuat dari marmer mewah.
Hampir saja tertidur, suara gemericik air mengalir, dan nuansa hangat yang di dapatkan dari aliran air juga Aroma relaksasi dari Bath bomb yang ia hirup benar-benar dapat sedikit menenangkan pikirannya, ia memainkan buih-buih sabun dan menggosok perlahan tubuhnya.
Erina menimang-nimang dalam pikirannya, mengingat kembali ucapan Aksa yang memintanya untuk menjadi istri “apa dia serius? Kenapa dia bisa tertarik dengan gadis sederhana sepertiku? Dia seorang pengusaha besar yang terlahir dengan kemewahan, sepertinya tidak mungkin jika dia bisa begitu saja tertarik padaku”
Terlepas dari pikiran itu semua, Erina menimang karenan ia tak mempunyai siapa-siapa lagi dalam hidupnya, setelah satu-satunya keluarga yang ia andalkan pergi entah kemana meninggalkan dirinya beserta trauma yang ditimbulkannya.
Sahabat, ia hanya memiliki Ashanti, Erina tak mungkin menempelkan diri di panti, ia takut hanya akan membebani Ashanti dan keluarganya meski pun sudah tentu Erina akan ikut andil dalam kepengurusan panti, bahkan sebenarnya ia pun di perlukan di panti.
Pasangan? Sebelumnya Erina menjalin hubungan dengam Raditya, namun kini sudah tidak lagi ada kabar semenjak kejadian di kafe waktu lalu, Erina lantas sudah sangat kecewa, Raditya adalah orang yang paling sering ia andalkan untuk situasi apapun, namun ternyata mengkhianatinya membuat Erina enggan berkomunikasi lagi dengannya.
Kini benar-benar hanya Aksa yang bisa ia jadikan Rumah untuk tempatnya berkeluh kesah, menyandarkan semua kegelisahannya, hanya dia yang benar-benar mengulurkan segalanya untuk Erina, ia benar-benar sebatang kara, tak punya arah tujuan.
Dirasa sudah cukup lama ia berada didalam air ia pun menyudahinya, ia menggapai handuk kimono ia gantungkan— kemudian menutupi kembali tubuhnya, ia menatap pada cermin yang terpasang didinding pojok kamar mandi, rasanya Erina ingin melihat dirinya pada cermin, ia pun melangkahkan kakinya mendekati cermin, namun, setelah tepat berada di depan cermin, Erina bergidik, spontan berteriak, hingga suaranya terdengar oleh Aksa, membuat Aksa terperanjat dengan segera menghampiri pintu kamar mandi.
“Kamu baik-baik saja Nona?“ Berkali -kali Aksa memanggil nama Erina dan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, tapi sunyi— tak ada jawaba
...***...