Mereka berdua pun harus pindah ke kampus ternama, dengan syarat status mereka harus disembunyikan berdasarkan aturan yang sudah ada.
Andrian Daylon Valentino adalah seorang yang tegas, tampan, berwibawa, serta profesional dan tidak lupakan sosok Andrian yang mampu menjadi seorang suami dan ayah yang baik untuk anak dan istrinya, Jeniffer.
"Disini kamu adalah maha siswiku, jika di rumah kamu adalah seorang istri dan ibu dari anakku."
Bagaimana jadinya jika hubungan mereka terbongkar nanti? Apakah mereka sudah siap dengan semuanya atau tidak?
Andrian yang terkenal sebagai dosen yang pelit akan nilai, sedangkan Jeniffer terkenal karena kecantikan yang dimilikinya.
Untuk plagiat, diharapkan untuk tidak mendekati cerita ini!
[Cerita ini mengisahkan sebuah keluarga kecil yang 'jauh' dari kata sempurna. Disini kalian semua dapat merasakan rasa baper, sedih, marah, dan juga kalian semua dapat merasakan rasa penasaran di setiap partnya]
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilverS_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDIMH|33. Pesan
"Sial, terkunci." gerutu Aldric saat dirinya ingin membuka pintu toilet.
"Bagaimana caranya aku bisa menyelamatkanmu Jeniffer?" lanjutnya sambil berpikir keras.
Tidak mungkin bukan, jika dirinya harus mendobrak pintunya?
Bisa habis dirinya, jika dirinya sampai menghancurkan pintu toilet mengingat Sam pamannya sangat sayang dengan barang-barangnya baik di rumah maupun di kampus.
"Jeniffer! Kamu masih berada disana kan?" teriak Aldric tidak ada balasan apapun membuat dirinya khawatir.
"Bagaimana ini?" gumamnya sambil bermondar-mandir bagaikan setrikaan.
"Satu-satunya cara dengan cara meminjam kunci cadangan milik uncle, tapi apa mungkin uncle akan meminjamkannya untukku mengingat uncle selama ini sangat pelit denganku? Lebih baik ku coba saja dulu deh, urusan iya gaknya bisa urusan belakangan. Tunggu sebentar Jen, aku pasti kembali!" teriaknya dan langsung berlalu dengan langkahnya yang tergesa-gesa menuju dimana ruangan pamannya berada.
Sesampainya di hadapan ruangan pamannya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia pun langsung masuk begitu saja membuat Sam yang sedang sibuk dengan tugasnya pun terkejut.
"Dasar ponakan gak tau sopan santun." geram Sam membuat Aldric menyengir.
"Maafkan ku uncle, aku lupa. Uncle ada kunci cadangan toilet gak? Bolehkah aku meminjamnya?" tanya Aldric penuh harap yang dibalas tatapan heran oleh Sam.
"Untuk apa?"
"Gak usah banyak bertanya uncle, aku sedang darurat." ucap Aldric membuat Sam mendengus.
"Memintalah dengan cara yang baik Aldric, apakah kakakku dan kakak iparku gak mengajarkanmu soal itu?" tanya Sam kesal sambil melanjutkan kembali tugasnya yang sempat tertunda tadi.
Sedangkan Aldric yang mendengar ucapan pamannya pun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maafkan aku uncle, tetapi aku memang membutuhkannya uncle, sangat membutuhkannya." ucap Aldric kikuk membuat Sam yang mendengarnya pun menghelakan napasnya.
"Terserahmu sajalah."
"Cepetan mana kuncinya uncle, sebelum aku dobrak nih pintunya." ucap Aldric merasa gemas dengan sikap pamannya.
Dirinya yang sedang meminta kunci saja belum juga diberikan oleh pamannya, tetapi pamannya itu masih saja sempat-sempatnya melakukan tugasnya tanpa mempedulikan dirinya yang sedang berdiri terus untuk menunggunya.
Paman kampret memang.
"Sampai berani kamu merusak pintunya, habis kamu Aldric." ancam Sam tegas membuat Aldric mengangguk.
"Gak akan, mana kuncinya?" tanya Aldric mengadahkan tangannya membuat Sam yang mendengarnya pun mau tidak mau ia pun terpaksa menurutinya.
Karena lebih baik ia menurutinya daripada harus meladeni ponakannya itu yang terus saja menganggu dirinya.
"Ini, ingat dikembalikan nanti. Awas saja sampai hilang." ucap Sam penuh peringatan yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Aldric.
"Siap uncle!"
"Sudah sana keluar, jangan menggangguku setan!"
***
"Dimana kamu sayang? Mas sudah mencarimu kemana-mana tapi mas belum juga menemukanmu." gumam Andrian dengan penampilannya yang sudah kacau bahkan sangat kacau.
Kemejanya yang sudah tidak rapi, rambutnya yang sudah berantakan karena frustasinya dan kancing teratasnya yang dibiarkan terbuka begitu saja karena rasa gerahnya.
Benar-benar bukan penampilan seperti biasanya. Biasanya yang selalu terlihat rapi dan sempurna, kini penampilannya pun terlihat mengenaskan dan acak-acakan.
"Pak Andrian." ucap Bella dari arah belakangnya membuat Andrian menoleh.
"Bagaimana Bel? Sudah ketemu?" tanya Andrian dengan nada paraunya membuat Bella menggelengkan kepalanya.
Ya, karena sedari tadi Andrian terus-menerus menangisi keberadaan istrinya yang belum juga ia temukan dari pagi.
Andrian yang biasanya terlihat sosok yang kuat, kini dirinya pun terlihat rapuh.
Andrian yang biasanya terlihat dewasa, kini dirinya pun terlihat seperti anak kecil yang sudah kehilangan mainannya.
Andrian yang biasanya terlihat sempurna pun keadaannya kini 'jauh' dari kata sempurna.
"Saya takut kehilangan dia Bel, saya takut dia kenapa-napa. Apa dia sudah makan? Apa keadaan dia baik-baik saja? Apa dia sedang berada di tempat yang nyaman? Banyak yang saya khawatirkan soal dia Bel, sangat banyak. Dan saya sendiri pun tidak bisa hidup tanpa dia, Hati saya terasa hampa saat mengetahui dia menghilang, hati saya terasa tidak tenang saat saya sendiri pun belum melihat keadaannya secara langsung. Jika begini caranya kenapa tidak saya saja yang menghilang menggantikan dia? Kenapa tidak saya saja yang menjadi incaran orang itu? Kenapa tidak saya saja yang merasakan ini semua? Kenapa harus Jeniffer, KENAPA!" teriak Andrian meluapkan semua emosinya sambil meluruh ke lantai.
Rasanya ingin sekali dirinya membuat perhitungan sekarang juga kepada pelakunya.
Pelakunya yang sudah berani-beraninya mengusik keluarga kecilnya.
Pelakunya yang sudah berani-beraninya menculik istrinya membuat istrinya menghilang dari sisinya.
Pelakunya yang sudah berani-beraninya melukai keluarga kecilnya, mengingat acara penembakan festival kemarin yang tidak akan pernah dilupakan sedikitpun oleh Andrian.
"Mas berjanji sayang, saat mas sendiri sudah tau siapa pelakunya mas pastikan bakalan membuat orang itu benar-benar menyesal sudah berurusan dengan keluarga kita. Mas pastikan juga orang itu bakalan merasakan apa yang kamu rasakan sekarang sayang." ucap Andrian dalam hatinya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Melukai keluarganya sama saja melukainya juga.
Menyakiti keluarganya sama saja menyakitinya juga.
Mengincar keluarganya sama saja mengincarnya juga.
Jadi apapun yang dirasakan oleh keluarganya terutama istrinya maka dirinya pun juga ikut merasakannya.
"Termasuk nyawa?" tanya Bella dengan nadanya yang terdengar ragu.
"Iya, termasuk nyawa pun berani saya taruhkan, Bella." ucap Andrian penuh kesungguhan membuat Bella terdiam.
"Seberapa pentingnya Jeniffer buat bapak?" tanya Bella membuat Andrian tersenyum.
"Saya tidak bisa mengungkapkan seberapa pentingnya Jeniffer buat saya karena bagi saya Jeniffer lebih penting daripada hidup saya sendiri. Jeniffer nafas saya, jantung saya dan darah saya. Tanpa Jeniffer, itu sama saja membunuh saya secara perlahan. Karena kelemahan saya adalah Jeniffer dan ketiga putra saya." ucap Andrian tegas yang dibalas sebuah anggukan kepala oleh Bella.
"Baik kalau gitu pak, berhubung hari semakin sore saya ijin pulang dulu pak." ucap Bella langsung berlalu meninggalkan Andrian.
Tetapi tanpa disadari olehnya, seketika hpnya pun terjatuh begitu saja di lantai membuat Andrian yang menyadarinya pun segera mengambilnya dan ingin mengembalikannya jika saja dirinya tidak sengaja membaca salah satu pesan terkirim di hpnya membuat dirinya yang membacanya pun sangat marah sekaligus menyeringai.
Bagaimana? Pastikan Jeniffer jangan pernah keluar dari ruangan itu. Biarkan saja dia meninggal di dalam ruangan itu, lebih bagus daripada dia terus-menerus bahagia diatas penderitaan lu bukan? Ingat perjanjian kita, lu bantu gua musnahin Jeniffer dan gua bakal bantu lu mendapatkan Andrian.
...***...
...A/N : Jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian disini...
...SUKA+KOMEN+SHARE...
...-Tetap jaga kesehatan ya 🖤...
...My Dosen Is My husband...
-My Note-
Akhirnyaaa pelaku satunya terungkap juga, apa yang akan direncanakan papa Andrian selanjutnya ya saat dirinya sudah mengetahui pesan itu? Mengingat papa Andrian saat sayang dengan keluarga kecilnya.
Apakah ada pelaku-pelaku lainnya atau hanya satu saja?
Dan dengan siapa Bella bekerja sama?
Bagaimana dengan part ini menurut kalian?
ini ceritanya udah nikah ya thor bukan dijodohin trus bucin2nan hehehe
lanjut