NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 Sang Kakek Agung

Surat Raden Kusuma tidak langsung selesai dibaca.

Anindya menutupnya dengan tangan yang masih gemetar. Wulan ingin mendekat, tetapi Arjuna menggeleng pelan. Ia tahu ada kesedihan yang tidak boleh disentuh terlalu cepat, bahkan oleh orang yang berniat baik.

"Simpan dulu," kata Arjuna.

Anindya menatapnya. "Yang Mulia tidak ingin hamba tahu lanjutannya?"

"Aku ingin kau membacanya saat napasmu sudah kembali."

Ia tidak membantah. Barangkali karena tubuhnya memang terasa kosong. Barangkali karena untuk pertama kalinya, ia tidak merasa diperintah, melainkan ditahan agar tidak jatuh lebih dalam.

Pagi itu Arjuna tidak membawanya ke ruang kerja. Ia membawanya keluar dari Puri Timur.

"Ke mana kita pergi?" tanya Anindya ketika kereta melewati gerbang samping keraton.

"Kadipaten Cendekia."

Anindya menoleh. Ia tahu nama itu. Keluarga mendiang Permaisuri Candra Dewi, keluarga ibu Arjuna, keluarga yang pernah berdiri tinggi sebelum Prabu Naradewa mengirim kepala keluarganya ke tanah pengasingan.

"Apakah pantas hamba ikut?"

"Kau istriku. Mereka keluargamu juga."

Kalimat itu sederhana, tetapi membuat Anindya diam lebih lama dari biasanya.

Kadipaten Cendekia tidak semegah yang ia bayangkan. Bangunan joglo utamanya masih indah, tetapi beberapa ukiran tampak tua dan belum dipugar. Halaman bersih, namun tidak banyak abdi. Rumah besar itu seperti orang tua yang masih berdiri tegak sambil menyembunyikan tulang yang lelah.

Raden Danarta menunggu di pendopo depan. Pria itu berwajah tenang, dengan mata cerdas yang mengingatkan Anindya pada para pembaca buku tua di rumah Eyang Jaya.

"Yang Mulia," katanya sambil memberi hormat. "Gusti Putri."

Arjuna menahan lengannya sebelum ia menunduk terlalu dalam. "Paman, di rumah ini jangan terlalu resmi."

Danarta menatap keponakannya sejenak. Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya, mungkin haru, mungkin kaget. "Sudah lama aku tidak mendengar kau memanggilku begitu."

Arjuna tidak menjawab. Dalam kehidupan lalu, ia terlalu lama menjauh dari keluarga ibunya, takut terlihat bergantung pada kekuatan yang sudah dilemahkan. Kesalahan itu membuat Kadipaten Cendekia makin mudah ditekan.

Seorang gadis muda keluar membawa baki minuman. Wajahnya lembut, senyumnya malu-malu.

"Ini Puspa," kata Danarta. "Sepupumu, dan sekarang juga sepupu Gusti Putri."

Nimas Ayu Puspa memberi hormat pada Anindya. "Hamba senang akhirnya bisa bertemu Gusti Putri."

"Panggil aku Anindya jika tidak sedang di depan orang luar," jawab Anindya.

Puspa terkejut, lalu tersenyum lebih tulus. "Kalau begitu, Anindya juga boleh memanggilku Puspa."

Di sisi halaman, Raden Bima yang masih remaja sedang berlatih tombak. Ia hampir menjatuhkan senjatanya ketika melihat Arjuna.

"Yang Mulia datang!"

Danarta menegur, "Bima."

Bima langsung memberi hormat kaku. Arjuna melihatnya dan untuk sesaat bayangan masa lalu lewat. Anak itu dulu tumbuh menjadi pemuda yang setia, tetapi mati sebelum sempat melihat hari baru.

"Latihanmu lebih baik dari terakhir kali," kata Arjuna.

Wajah Bima cerah. "Yang Mulia masih ingat?"

"Aku mengingat lebih banyak daripada yang kau kira."

Anindya menangkap nada aneh di kalimat itu, tetapi Puspa sudah menariknya duduk di sisi pendopo. Gadis itu menawarkan kue tradisional dan bertanya apakah Puri Timur terlalu sulit untuk ditempati. Keakraban itu tidak memaksa. Justru karena tidak memaksa, Anindya merasa dadanya yang semalam berat sedikit longgar.

Puspa lalu mengajaknya melihat kolam kecil di samping taman. Di sana, beberapa bunga teratai baru mekar separuh.

"Dulu Eyang Maha suka duduk di sini," kata Puspa. "Beliau selalu berkata air yang tenang bukan berarti tidak dalam."

Anindya menyentuh ujung daun teratai. "Kau merindukannya?"

Puspa tersenyum, tetapi matanya lembap. "Setiap hari. Ayah selalu mengatakan Eyang baik-baik saja di pengasingan. Tapi kalau benar baik, mengapa kami tidak boleh sering mengunjunginya?"

Pertanyaan sederhana itu menusuk. Anindya teringat Eyang Jaya yang juga sering berkata semua baik-baik saja sambil menyimpan surat berdarah di kotak jati.

"Kadang orang tua menyembunyikan luka karena takut anak-anaknya ikut berdarah," ucap Anindya pelan.

Puspa menatapnya. Sejak saat itu, rasa canggung di antara mereka berkurang.

Untuk beberapa saat, rumah itu terasa seperti keluarga.

Namun ketika para muda diberi kesempatan berjalan ke taman, Arjuna dan Danarta masuk ke ruang dalam.

"Ada apa?" tanya Danarta tanpa basa-basi.

Arjuna duduk. "Aku ingin membawa Eyang Maha kembali ke Kota Raja."

Wajah Danarta berubah. "Itu bukan keinginan kecil."

"Aku tahu."

Danarta menatap halaman luar, tempat abdi yang tersisa bisa dihitung dengan jari. "Sejak beliau diasingkan, separuh sahabat lama menjauh. Separuh lagi masih setia, tapi takut mengirim nama mereka lewat surat."

"Baginda mengasingkan beliau setelah Permaisuri Candra Dewi wafat. Selama ini, setiap kali kami mengajukan permohonan, jawabannya selalu sama: Adipati Cendekia Mahadewa perlu beristirahat jauh dari pusat politik."

"Kata lain untuk dikubur hidup-hidup," ujar Arjuna dingin.

Danarta menahan napas. Ia melihat sesuatu yang baru pada keponakannya. Bukan amarah remaja, melainkan keputusan orang yang sudah menghitung harga perang.

"Kenapa sekarang?"

Arjuna menatap rak buku tua di ruangan itu. Di sana masih tersimpan beberapa naskah milik ibunya. "Karena terlalu banyak orang mengira keluarga Cendekia sudah patah. Karena aku membutuhkan orang yang berani berkata tidak kepada raja. Dan karena Eyang tidak seharusnya mati pelan-pelan di tempat pengasingan."

Danarta menutup mata sebentar.

"Jika kau bergerak untuk beliau, Baginda akan curiga."

"Baginda sudah curiga sejak aku memilih Anindya."

"Itu berbeda."

"Tidak. Semuanya terhubung." Arjuna merendahkan suara. "Kematian ibuku, pengasingan Eyang, Gerbang Mutiara, dan orang-orang yang sekarang membiayai Baskara. Selama kita memotong satu per satu tanpa menyentuh akar, mereka akan tumbuh lagi."

Danarta menatapnya lama. "Kau tahu apa tentang Gerbang Mutiara?"

Arjuna tidak menjawab langsung.

Keheningan itu cukup.

Di luar ruang, Anindya berdiri di balik rak ukiran. Ia tidak bermaksud menguping. Puspa baru saja dipanggil oleh seorang dayang, dan ia tersesat mencari kembali pendopo. Namun saat mendengar nama Gerbang Mutiara, kakinya berhenti.

Arjuna tahu.

Ia tidak tahu seberapa banyak, tetapi ia tahu lebih dari yang ia katakan semalam.

Anindya memegang tepi rak, napasnya tertahan. Sebelum ia bisa pergi, seorang abdi tergesa masuk ke pendopo depan.

"Raden Danarta!" panggilnya, suaranya panik.

Percakapan di ruang dalam berhenti.

Danarta keluar cepat. Arjuna menyusul. Anindya mundur satu langkah, tetapi Arjuna melihatnya. Tatapan mereka bertemu. Ia tahu ia baru saja didengar.

Abdi itu berlutut, membawa tabung pesan yang segelnya rusak.

"Kabar dari tanah pengasingan, Raden. Dua orang asing muncul di sekitar kediaman Adipati Cendekia Mahadewa. Seorang pelayan tua beliau ditemukan pingsan setelah minum jamu."

Wajah Danarta pucat. "Eyang Maha?"

Abdi itu menelan ludah.

"Beliau selamat untuk sekarang. Tapi penjaga mengirim pesan, seseorang sedang mencoba mencelakai Eyang Maha."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!