NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Rembulan ini sejak dulu memang milik langit ini.

Kalimat itu mengikuti Keira sampai ia kembali ke Mansion Tanuwijaya sore harinya.

Ia menyimpannya di antara halaman buku catatan, tetapi maknanya terus bergerak di kepala seperti bayangan air. Ratih Kusumawardani. Benda-benda yang diam. Puisi tentang jiwa yang kembali utuh. Semua itu seharusnya membuat Keira gelisah.

Sayangnya, Mansion Tanuwijaya punya cara lain untuk mengalihkan perhatian.

Pukul 17.59, jam dinding di ruang makan mulai mengeluh.

"Siap-siap. Bos perfeksionis pulang satu menit lagi. Semua jarum harus lurus. Semua kursi harus sejajar. Kalau nggak, malam ini kita kena audit visual."

Keira sedang membantu Mei Lin menata sendok ketika pintu utama terbuka tepat pukul 18.00.

Seorang pria masuk dengan langkah terukur. Kaki kiri lebih dulu melewati ambang pintu, lalu kaki kanan, jarak langkah nyaris sama. Jas abu-abu gelapnya tidak memiliki satu pun kerutan. Rambutnya rapi, wajahnya dingin, dan di kerahnya terpasang Bros Kepala Naga dengan sudut yang tampak sangat disengaja.

Jam dinding berbisik penuh penderitaan, "Tiga puluh derajat. Brosnya selalu tiga puluh derajat. Pernah miring jadi tiga puluh dua, dia berhenti di depan cermin lima menit. Lima menit hidup gue nggak balik."

Keira menunduk pura-pura merapikan sendok.

Hendry berdiri. "Darren, ini Keira."

Pria itu menatap Keira.

Tatapannya bukan memusuhi seperti Brandon. Bukan juga hangat seperti Hendry. Ia melihat Keira seperti melihat variabel baru dalam sistem yang sudah lama ia susun.

"Darren Tanuwijaya," katanya.

Mei Lin berkata lembut, "Kei, ini Ko Darren. Anak pertama."

Keira mengangguk. "Ko Darren."

Ko Darren menatapnya satu detik lebih lama, lalu berkata, "Selamat datang."

Kalimatnya sopan, tetapi nadanya datar seperti tanda tangan digital.

Brandon yang duduk di ujung meja mendengus kecil. Ia masih jelas belum senang melihat Keira, tetapi setelah teguran Hendry beberapa hari lalu, ia memilih menyerang makan malamnya saja.

Mereka duduk.

Makan malam berlangsung rapi. Terlalu rapi. Ko Darren mengambil makanan sesuai urutan, lauk kiri dulu, sayur, nasi, lalu minum. Saat Brandon mengambil ayam sebelum sayur, garpu Ko Darren berhenti sepersekian detik.

Piring di depan Keira berbisik, "Dia lihat. Dia lihat. Anak bungsu itu hampir bikin urat logika dia putus."

Keira menggigit bagian dalam pipi.

Mei Lin menanyakan keadaan Engkong Tedjo di RS. Hendry menjawab bahwa Dokter Jason masih memantau dan kemungkinan Engkong pulang minggu depan. Ko Darren menambahkan dua angka tekanan darah, waktu pemeriksaan, dan jadwal kontrol berikutnya tanpa melihat catatan.

"Kamu hafal?" tanya Keira tanpa sadar.

"Informasi keluarga harus tersusun," jawab Ko Darren.

Brandon bergumam, "Semua hal di hidup Ko Darren harus tersusun."

"Brandon," kata Ko Darren.

"Iya, iya."

Keira hampir tersenyum.

Saat ia menunduk mengambil sup, tusuk konde kecil yang dipinjamkan Mei Lin bergeser sedikit di rambutnya. Keira belum terbiasa memakainya. Ia bahkan tidak menyadari sampai tangan Ko Darren tiba-tiba terulur.

Gerakannya cepat dan presisi.

Ia membetulkan posisi tusuk konde itu, memutarnya beberapa derajat, lalu menarik tangan seolah baru sadar bahwa ia baru saja menyentuh rambut orang yang dikenalnya kurang dari satu jam.

Ruang makan hening.

Ko Darren menatap tangannya sendiri. Lalu menatap Keira.

"Miring."

Keira berkedip. "Terima kasih?"

Mei Lin menutup senyum dengan cangkir teh.

Brandon menatap kakaknya seperti melihat bug dalam sistem.

Ko Darren membersihkan tenggorokan. "Kalau ada masalah kecil, jangan cari aku. Masalah besar, cari Papa dulu. Kalau Papa tidak bisa, baru hubungi aku."

Keira mengangguk pelan. "Baik."

"Tapi harus buat janji tiga puluh menit sebelumnya."

Keira terdiam.

Piring di depannya berbisik, "Romantis sekali. Bantuan darurat pakai appointment."

Keira menatap Ko Darren dengan ekspresi serius yang nyaris sempurna. "Aturan main yang sangat hangat."

Brandon tersedak air.

Ko Darren memandang Keira, mencoba menentukan apakah itu sarkasme. Keira sudah menunduk makan lagi.

Tiga hari berikutnya berlalu dengan cepat.

Sabtu dan Minggu, Mei Lin sibuk menyiapkan dokumen Keira agar status tempat tinggal dan kebutuhan kuliah lebih aman. Hendry beberapa kali bertanya apakah kamar Keira cukup nyaman. Brandon tetap menghindar, tetapi benda-benda di rumah senang melaporkan semua kegiatannya.

"Bantal kamar Brandon protes. Dia tidur tengkurap sambil headset masih nyala."

"Keyboard-nya bilang tadi malam dia kalah ranked tiga kali."

"Celana dalamnya mau bicara tapi malu-malu. Katanya nanti saja kalau sudah dekat."

Keira memutuskan tidak perlu mengetahui lebih jauh.

Pada Senin pagi, tubuhnya akhirnya terasa pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi dingin yang tersisa di tulang. Luka gesek di siku mengering. Nafsu makan kembali. Dokter Jason bahkan mengirim pesan singkat lewat Mei Lin: secara medis, ia boleh beraktivitas normal.

Masalahnya, begitu tubuhnya pulih, dunia menjadi terlalu keras.

Awalnya hanya lampu kamar yang lebih jelas bersuara.

"Filamenku sehat, tapi tolong jangan nyalakan aku siang-siang. Aku punya harga diri."

Lalu meja kerja ikut bicara, kursi membaca mengeluh, tirai memperdebatkan arah angin.

Senin sore, suara itu melebar.

Keira tidak lagi hanya mendengar benda di kamar. Ia mendengar AC lantai bawah bertengkar soal suhu dengan remote yang merasa jarang dihargai. Ia mendengar sendok di dapur mengeluh karena sering hilang pasangannya. Ia mendengar jam dinding mengatur napas menjelang Ko Darren pulang pukul 18.00.

Saat malam tiba, Mansion Tanuwijaya menjadi lautan suara.

Keira berbaring di ranjang, mata terbuka.

Bantal di bawah kepalanya berbisik, "Nona, posisi leher agak miring. Kalau mau, aku bisa bantu."

"Diam sebentar," gumam Keira.

"Maaf."

Lampu tidur di meja menghela napas panjang. "Aku juga mau diam, tapi saklarku gatal."

Dari lantai bawah, vas bunga berkata, "Ada debu di sisi kiriku. Tolong seseorang sadar."

Dari kamar entah mana, konsol game Brandon meraung, "JANGAN UPDATE SEKARANG!"

Keira menutup telinga dengan kedua tangan.

Percuma.

Suara itu tidak masuk lewat telinga saja. Ia masuk lewat kesadaran, lewat sesuatu yang lebih dalam daripada pendengaran biasa.

Pukul 01.30, Keira menyerah dan mengambil obat tidur ringan yang diberikan Dokter Jason untuk keadaan darurat.

Begitu pil menyentuh lidahnya, suara kecil muncul.

"Halo. Aku tablet. Tugasku menenangkan. Tapi aku agak gugup karena ini hari pertama kerja."

Keira menatap pil di telapak tangan.

"Kamu juga bicara?"

"Maaf."

Keira menelan pil itu dengan air.

Dua jam kemudian, matanya masih terbuka.

Kepalanya berdenyut. Tubuhnya lelah sampai nyeri, tetapi pikirannya terjaga paksa oleh ratusan suara. Mansion yang megah, yang seharusnya menjadi tempat aman, berubah menjadi konser tanpa akhir.

Di luar jendela, malam Senin diam.

Di dalam kepala Keira, semua benda berbicara bersamaan.

Untuk pertama kalinya sejak ia selamat dari hujan, Keira merasa takut pada kemampuannya sendiri.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!