Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022
Kopi Pulang
"Tadi malam," katanya pelan, "kamu panggil aku apa?"
Kiara merasa lantai di bawah kakinya tiba-tiba miring.
Ia menatap Rayhan, lalu menatap pintu, lalu menatap tasnya sendiri, seolah salah satu dari tiga benda itu bisa menyelamatkannya.
"Aku?" suaranya naik setengah nada. "Aku panggil apa?"
"Itu yang aku tanya."
"Mungkin Kak Rayhan salah dengar."
"Aku jarang salah dengar."
"Kan Kak Rayhan capek."
"Aku masih tahu bedanya Kak dan..." Rayhan berhenti tepat sebelum kata itu selesai.
Wajah Kiara langsung panas. Ia tidak ingat jelas, tetapi tubuhnya bereaksi lebih dulu. Sensasi genggaman kain, bau sabun, dan suara sendiri yang terlalu lembut muncul seperti potongan rekaman rusak.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin ia memanggil Rayhan dengan panggilan itu.
Tidak mungkin ia memanggilnya seperti perempuan yang sudah terbiasa pulang ke pelukan suaminya.
"Aku terlambat ke kantor," kata Kiara cepat.
"Jam sembilan."
"Aku harus datang lebih awal."
"Tadi kamu bilang bisa pesan Grab jam sembilan."
"Manusia boleh berubah pikiran."
"Karena panggilan tadi malam?"
"Karena kerja!"
Ponsel Rayhan bergetar sebelum Kiara sempat benar-benar kabur. Ia mengangkat layar, melihat nama Dokter Yoga, lalu ekspresinya berubah dari menggoda menjadi fokus.
"Ya, Dok."
Kiara yang sudah setengah langkah menjauh langsung berhenti.
Rayhan mendengar beberapa detik, lalu melirik Kiara. "Kondisinya stabil?"
Jantung Kiara berpindah dari tenggorokan ke dada dengan cara yang sama tidak teraturnya.
Kopi.
"Saya di rumah sekarang," kata Rayhan. "Perlengkapan sudah siap. Kalau perlu evaluasi, datang saja. Saya kirim akses cluster ke Aldi."
Kiara tidak sadar ia sudah menggenggam tali tas terlalu kuat sampai buku jarinya memutih.
Rayhan menutup telepon.
"Kopi?" tanya Kiara sebelum ia sempat pura-pura tenang.
"Stabil. Dokter Yoga mau lanjut evaluasi rumah pukul sepuluh. Kalau semua aman, Kopi bisa dibawa pulang hari ini."
Semua rasa malu tentang kata semalam langsung jatuh ke belakang.
"Hari ini?"
"Iya."
"Benar-benar pulang?"
Rayhan menatap matanya. "Kalau kamu masih mau."
Kiara memukul lengannya pelan dengan ujung tas. "Kak Rayhan jangan bicara seolah aku bisa berubah pikiran."
"Aku memastikan."
"Aku mau."
Kata itu keluar terlalu cepat, terlalu jelas. Kiara sendiri terdiam setelah mengucapkannya. Rayhan juga diam, tetapi sudut matanya berubah hangat.
"Baik," katanya. "Kalau begitu, minta izin ke kantor."
Kiara langsung membuka WhatsApp. Bu Ratna membalas lima menit kemudian dengan jawaban singkat yang sangat khas redaktur.
Bu Ratna:
Catatan Reza sudah masuk ke Galih. Kamu boleh kerja dari rumah sampai siang. Tapi draft feature tetap saya tunggu malam ini.
Cici masuk lebih cepat daripada rasa lega Kiara.
Cici:
Lo WFH? Karena charger disandera lagi?
Kiara:
Karena Kopi pulang.
Cici:
ANJING POLISI ITU JADI ANAK KALIAN?
Kiara hampir menjatuhkan ponsel.
Rayhan melihat wajahnya. "Cici lagi?"
"Dia terlalu cepat membaca situasi."
"Bagus. Berarti kamu punya saksi kalau nanti lupa makan."
"Kak Rayhan jangan rekrut teman-temanku."
"Mereka mendaftar sendiri."
Pukul sepuluh kurang lima, rumah yang biasanya terlalu rapi berubah seperti ruang ujian. Rayhan mengecek karpet anti-slip di jalur dari pintu depan ke ruang keluarga. Kiara memindahkan meja kecil agar kaki Kopi tidak terbentur. Mangkuk air diletakkan di dekat sofa, tetapi tidak terlalu dekat dengan kabel. Obat, kasa, dan jadwal kontrol ditulis di kertas putih lalu ditempel di pintu kulkas.
"Ini seperti menyambut bayi," gumam Kiara.
"Lebih besar, lebih kuat, dan pernah mengejar tersangka narkoba," jawab Rayhan.
"Berarti bayinya senior."
Rayhan menoleh, lalu untuk pertama kalinya pagi itu tertawa kecil.
Bel rumah berbunyi.
Kiara yang tadi berani tiba-tiba berdiri kaku. Rayhan berjalan ke pintu lebih dulu. Dari balik pagar kecil, mobil Unit K9 berhenti dengan logo sederhana di samping. Aldi turun dari kursi depan sambil membawa map. Dokter Yoga turun dari belakang, lalu membuka pintu samping dengan hati-hati.
Kopi muncul perlahan.
Perban putih masih membalut kaki depan kanannya. Langkahnya belum sempurna, tetapi matanya langsung mencari sesuatu. Begitu melihat Rayhan, ekornya bergerak pelan. Begitu melihat Kiara, gerakan itu menjadi lebih cepat.
"Pelan, Kopi," kata Dokter Yoga.
Kiara menahan diri untuk tidak langsung berlari. Ia ingat instruksi. Jangan membuat anjing pascaoperasi terlalu bersemangat. Jangan memeluk tiba-tiba. Jangan menyentuh area luka.
Jadi ia berjongkok di jarak aman, telapak tangan terbuka.
"Hai, Kopi," panggilnya lembut. "Ingat aku?"
Kopi mengendus udara, maju satu langkah, lalu berhenti. Hidungnya menyentuh ujung jari Kiara. Hangat. Basah. Nyata.
Mata Kiara tiba-tiba perih.
"Dia ingat," kata Aldi dari belakang, terlalu senang untuk pura-pura profesional. "Kemarin di kandang, begitu dengar nama Mbak Kiara, kupingnya langsung naik."
Rayhan meliriknya.
Aldi langsung batuk. "Maksud saya, respons positif terhadap calon perawat."
Dokter Yoga tersenyum sambil masuk. "Saya cek area dulu, ya. Secara umum kondisinya bagus, tapi dua minggu pertama tidak boleh naik turun tangga. Lantai harus kering. Kalau ada tamu, Kopi jangan dipaksa bersosialisasi."
"Kamar saya di lantai atas," kata Kiara. "Berarti saya turun kalau mau menemani dia?"
"Untuk sementara begitu," jawab Dokter Yoga. "Jangan biarkan dia mengikuti Mbak Kiara ke tangga."
Rayhan langsung menunjuk pagar lipat kecil di dekat tangga. "Sudah disiapkan."
Kiara menatapnya. "Kak Rayhan beli itu kapan?"
"Kemarin."
"Aku tidak lihat."
"Kamu sibuk melawan charger."
Aldi menunduk, bahunya bergetar.
Dokter Yoga memeriksa mangkuk, alas tidur, lokasi obat, lalu mengangguk puas. "Ini lebih siap daripada kebanyakan rumah adopsi. Ada satu hal lagi. Kopi pensiun dari tugas, tapi insting jaganya masih kuat. Kalau dia mulai terlalu protektif, jangan dimarahi keras. Arahkan dengan perintah pendek."
"Perintah apa?" tanya Kiara.
"Duduk. Tunggu. Lepas. Cukup."
Rayhan berkata, "Kopi, duduk."
Kopi langsung duduk.
Kiara menatap kagum. "Dia lebih menurut daripada aku."
"Aku tahu," jawab Rayhan.
Kiara menoleh cepat. "Kak Rayhan!"
Aldi gagal menahan tawa. Dokter Yoga ikut tersenyum sambil menulis catatan di formulir.
Proses tanda tangan berlangsung di meja makan. Kali ini Kiara tidak gemetar seperti saat melihat kolom keluarga. Ia menulis namanya di bawah nama Rayhan dengan tangan stabil, lalu menerima map instruksi obat dari Dokter Yoga.
"Kontrol tiga hari lagi," kata Dokter Yoga. "Kalau bengkak bertambah atau dia menolak makan, langsung hubungi saya."
"Baik, Dokter."
Aldi membantu menurunkan kantong makanan khusus dan matras cadangan. Sebelum pergi, ia sempat membungkuk sedikit ke arah Kopi. "Pensiun yang tenang, senior. Jangan galak-galak sama saya kalau main ke sini."
Kopi menggonggong sekali.
Aldi mundur setengah langkah. "Saya anggap itu salam."
Setelah mobil Unit K9 pergi, rumah mendadak terasa berbeda.
Tidak lebih ramai.
Lebih lengkap.
Kiara duduk di lantai ruang keluarga, menjaga jarak dari kaki Kopi yang terluka. Kopi berbaring di alas baru, tetapi kepalanya pelan-pelan bergeser sampai menyentuh ujung rok rumah Kiara.
"Selamat datang di rumah, Kopi," bisiknya.
Kopi menghela napas panjang, seolah akhirnya mengerti bahwa hari ini ia tidak akan kembali ke kandang dinas.
Rayhan berdiri di belakang sofa, memandangi dua makhluk di lantai itu. Yang satu perempuan yang semalam memanggilnya Mas dalam tidur. Yang satu anjing K9 pensiun yang kini memilih kaki perempuan itu sebagai tempat aman.
"Aku buat makan siang," kata Rayhan.
Kiara mendongak. "Sekarang?"
"Sebelum kamu lupa."
"Kak Rayhan, aku sedang menyambut anggota keluarga baru."
"Anggota keluarga baru juga butuh orang rumahnya makan."
Kata orang rumah membuat Kiara terdiam sebentar. Ia menunduk, mengusap bagian lantai di dekat kepala Kopi, bukan bulunya. "Iya."
Rayhan berjalan mendekat untuk mengecek perban Kopi sekali lagi. Baru dua langkah, Kopi mengangkat kepala. Tubuh besarnya bergeser pelan, menempatkan diri di antara Rayhan dan Kiara.
Kiara membeku.
Rayhan berhenti.
Kopi menatapnya dengan mata tenang, tetapi satu kaki depannya sudah menahan ujung sandal Kiara.
Rayhan menurunkan pandangan ke anjing itu.
"Kopi," katanya rendah, "itu istriku."