Nadira Keisha Azzura pertama kali co-ass di rumah sakit ternama, harus mengalami nasib buruk di mana Bapaknya masuk UGD tanpa sepengetahuannya akibat tabrakan, lalu tak lama meninggal dan sebelumnya harus mendengar ijab kabul mengatasnamakan dirinya di kamar Bapaknya di rawat sebelum meninggal. Pernikahan itu tanpa di saksikan olehnya sehingga dia tidak mengetahui pria tersebut.
Sedangkan dia hanya memiliki seorang Bapak hingga dewasa, dia tidak mengetahui keberadaan kakak dan Ibunya. Dia di bawa pergi oleh Bapaknya karena hanya sosok pria miskin dan mereka hanya menginginkan anak laki-laki untuk penerus.
Bagaimana nasib Nadira selanjutnya? akankah dia hidup bahagia bersama suaminya? akankah Nadira bisa menerima siapa suami dan siapa yang telah menabrak Bapaknya? Akankah dia bertemu dengan keluarganya?
Yu saksikan ceritanya hanya di novel 'Suami Misteriusku ternyata seorang Dokter'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dira.aza07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Rumah Ken
Sesampainya di rumah ... kembali Ken menelepon Nadira.
"Iya ada apa sih Pak?" tanya Nadira dengan penuh penekanan akibat rasa kesal.
"Cepat siapkan pakaian untuk di bawa sekarang!, saya sudah menunggumu sedari tadi!" seru Ken penuh penegasan.
"Iya mau ke mana sih?" tanya Nadira penasaran.
"Lembur," sahut Ken singkat.
Lalu menutup teleponnya sepihak.
Dari tadi bilang kalau mau lembur, ribet banget sih? ngapain juga bawa baju. gerutu Nadira sambil memasukkan baju untuk satu hari tidak lupa pakaian kerjanya dia masukkan ke dalam tas.
Setelah siap Nadira pun keluar lalu menyimpan tas berisi pakaiannya di motor kesayangannya, dia pikir akan berangkat menggunakan motornya sendiri.
Ken bergegas turun dari kendaraannya saat melihat Nadira menggunakan helmnya.
"Siapa suruh menggunakan motor?" tegur Ken.
"Lalu?" tanya Nadira terheran-heran.
"Masukkan motormu ke dalam rumah! dan ikut saya dengan mobil di hadapanmu itu," sahut Ken.
Nadira tidak banyak protes dia melaksanakan yang di perintah Ken.
"Masuk!" seru Ken tanpa melirik sedikit pun ke arah Nadira.
Sedangkan Nadira menatap Ken dengan kesal.
"Mau ke mana kita Pak? ini kan bukan jalur ke rumah sakit?" tanya Nadira saat mobil itu melaju berlainan arah.
"Siapa bilang ke rumah sakit?" sahut Ken enteng.
"Lah ... terus mau ke mana? jangan bilang bapak mau macam-macam ya sama saya?" ujar Nadira spontan.
"Kalau niat begitu sudah dari kemarin saat nemenin di rumahmu nara," sahut Ken membuat Nadira berpikir.
"Lantas?" tanya Nadira kembali.
"Bisa diam ga?" kembali Ken bersuara tegas.
Dengan seketika membuat Nadira terdiam namun pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dalam otaknya.
"Rumah siapa ini?" tanya Nadira saat mobil berhenti di rumah besar nan mewah.
Lagi-lagi Ken tidak menyahutnya. Ken masih fokus memasukkan mobilnya ke perkarangan rumah besar tersebut.
Yang jelas rumah istri gue .... Batin Ken menyahutinya.
"Mau sampai kapan kamu duduk di sana?" tanya Ken saat membukakan pintu untuk Nadira.
"Eh - maaf Pak, saya sedang mengagumi rumah ini, besar dan mewah sekali," timpal Nadira yang sedari tadi menatap rumah itu tanpa berkedip.
Ken menanggapi Nadira dengan senyum simpulnya. Tak lama satpam pun membukakan pintu rumah tersebut dengan mengatakan 'Tuan'.
"Tuan ...?" tanya heran Nadira.
"Bapak pemilik rumah ini?" kembali Nadira bertanya dengan penuh rasa kagum.
"Memang kamu pikir ini rumah siapa?" tanya Ken.
"Rumah orang tua Bapak," sahut Nadira jujur.
"Kamu kira saya semiskin itu," jawab Ken sombong.
"Ish ..., terus ngapain Bapak bawa saya ke sini?" kembali Nadira bertanya pada rasa penasaran yang sedari tadi berada di otaknya.
"Saya sudah bilang lembur Nadira ...," ujar Ken gemas.
Dan setelah memasuki rumah,
"Bi tolong simpan tasnya!, dan kamu kita langsung kerja di sini!" seru Ken sambil duduk di sebuah sofa di ruang keluarga.
"Pak ... memang–"
"Apa lagi Nadira, sudah ... kita lanjut bekerja!, kalau tidak semakin malam dan bisa terlambat besok," timpal Ken gemas.
Akhirnya tanpa banyak kata Nadira pun memulai bekerja dengan Ken, dia bisa mengimbangi pekerjaan Ken dengan baik dan membantunya tanpa ada masalah sehingga pada pukul 2 dini hari pekerjaan administrasi pun selesai.
"Terimakasih ya, sekarang cepatlah beristirahat, di depan itu adalah kamarmu," ujar Ken sambil membereskan berkas yang telah mereka kerjakan.
Nadira tidak menunggu lama dia pun memasuki kamar tersebut, lalu merentangkan badannya lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Tak lama mereka terlelap di kamarnya masing-masing, namun hujan menyuarakan suaranya beserta petir yang saling bersahutan.
Nadira langsung terbangun lalu mengambil handphonenya, kemudian mencari nomor Ken, namun beberapa kali di telepon tidak tersambung.
Dengan perasaan takut Nadira memberanikan diri untuk bangun dari tempat tidur tersebut. Kemudian perlahan berjalan ke arah pintu dan berjalan di dalam remang-remang lampu yang menyorot di ruangan demi ruangan rumah Ken.
Pak Ken ... di mana kamu? aku takut Pak ..., Batin Nadira merasakan ketakutan yang tidak terkira dengan menaiki anak tangga satu persatu secara perlahan sambil terus meneteskan air mata.
Setibanya di lantai dua Nadira menatap semua kamar dan hanya ada satu kamar yang memiliki temerang dari sorot lampu.
Nadira berjalan menuju kamar tersebut dengan badan bergemetar dan menangis, setibanya di depan pintu itu Nadira mencoba membukanya secara perlahan.
Lalu Nadira menatap Ken yang sedang tidur pulas menghadap arah pintu. Nadira menghela nafas panjang lalu memberanikan diri menghampiri Ken.
Sesampainya Nadira di hadapan Ken, Nadira berjongkok lalu perlahan menggoyangkan tubuh Ken.
"Pak ..., tolong nara, nara takut pak," ujar Nadira sambil terus menggoyang-goyangkan tubuh Ken.
Ken membuka matanya perlahan, lalu mengernyitkan dahinya. "Nara?" ucap Ken yang masih belum terlalu jelas akibat matanya yang masih belum terbuka jelas.
"Iya aku Nara Pak," sahut Nadira dengan terus menangis.
"Kamu nangis?" Tanya Ken yang langsung bangun dari tidurnya dengan posisi duduk, dengan tangannya mengangkat kedua lengan Nadira agar berdiri.
"Duduk sini dan cerita ada apa?" ujar Ken lembut tidak seperti biasanya.
"Hujan dan petir Pak Ken biasa," keluh Nadira sambil menunduk.
"Sorry ... aku cape langsung terlelap Ra, tapi kamu ga apa-apa?" tanya Ken kembali dengan posisi yang memegang kedua lengan atas Nadira dan menatap erat Nadira. Ken masih merasa bersalah kepada Nadira akibat dia yang langsung terlelap begitu saja.
Nara hanya menunduk dan terus menangis. Ken semakin merasa bersalah. Tanpa di sadari Nadira Ken akhirnya memeluk Nadira.
"Maafin gue ra, gue tahu masalah lo, tapi gue malah asik tidur," ucap Ken penuh penyesalan.
Nara menggelengkan kepalanya namun perlahan dia merasa tenang ada dalam pelukan Ken.
Ko nyaman banget ya, dan kenapa gue ga nolak dia meluk gue ya, kita kan bukan muhrim, dan kenapa dia lembut banget ya, padahal dia orang yang ketus dan juteknya minta ampun. Batin Nadira memuji.
"Sekarang bagaimana masih merasa takut?" tanya Ken dengan memegang kedua bahu Nadira.
Nadira hanya menganggukkan kepalanya, "Tapi ... aku masih takut Pak ..., mmm ..." ucap Nadira.
"Kenapa? tidur di sini saja biar aku di sofa," saran Ken yang juga merasa khawatir sama Nadira.
"Mmm bagaimana kalau di ruang tamu saja Pak, seperti waktu di rumahku," saran Nadira yang merasa enggan tidur di kamar Ken.
"Ra ... jika di sana kapan kita benar-benar akan beristirahat sedangkan sekarang sudah pukul 3 dini hari, tidurlah di sana!, aku tidak akan macam-macam, aku di sini ok," ujar Ken sambil merapikan beberapa bantal dan selimut untuk Nadira dan di ambilnya satu bantal juga selimut untuknya.
Nadira terdiam sambil menatap Kendrick, Nadira berpikir jika apa yang di ucapkannya ada benarnya, namun dia bingung karena pertama kali dia tidur di kamar bersama pria.
"Sudah jangan memikirkan banyak hal, aku janji tidak macam-macam, jika aku berniat begitu sudah aku lakukan di rumahmu," ujar ken meyakinkan.
Nadira meyakini itu, dan mulai beranjak tidur dengan menghadap Ken, meski dia yakin namun tetap masih punya rasa takut antara pria dan wanita satu kamar. Ya bisa di katakan takut Ken macam-macam saat dia terlelap.
Bersambung ...