NovelToon NovelToon
Kala Takdir Menyapa Lagi

Kala Takdir Menyapa Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Janda / Teman lama bertemu kembali / Menikah Karena Anak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Digital

Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.

Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.

8 tahun berlalu...

"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.


"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.

"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."

*******

Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.


Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KTML027-

'Drrrttt drrrttt' HP Pak Alex bergetar.

"Halo?"

"Apa? Oke, saya segera kesana."

Pak Alex langsung berdiri dan kembali menyimpan HP-nya.

"Kenapa, kak?" tanya Alena.

"Axan menghajar teman sekelasnya,"

Alena ikut terkejut.

"Aku akan ke sekolah dulu."

Di satu sisi Alena ingin ikut, di sisi lain ia tidak enak meninggalkan adik iparnya yang masih belum selesai dengan urusannya.

"Alena, kamu disini saja." ucap Pak Alex yang peka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di sekolah...

Pak Alex buru-buru menuju kantor sekolah, ia ingin memastikan keadaan Axan baik-baik saja.

"Permisi," ucap Pak Alex setelah mengetuk pintu.

"Ayahnya Axan ya?"

"Iya."

"Axan ada di ruang kepala sekolah, mari saya antar."

Sesampainya di ruang kerja kepala sekolah, terlihat Ziya dan Axan sedang duduk di kursi yang disediakan. Melihat Pak Alex datang, Ziya langsung berlari menghampiri Pak Alex.

"Om!" Ziya memeluk Pak Alex, terlihat mata Ziya masih basah air mata.

"Saya Ayahnya Axan." ucap Pak Alex.

Pak Alex mengelus Ziya dan memintanya duduk kembali, Pak Alex langsung dipersilahkan duduk oleh kepala sekolah.

"Terima kasih Bapak telah meluangkan waktu untuk kemari," ucap Kepala Sekolah.

"Sebenarnya ada apa? Kenapa anak saya bisa menghajar temannya?"

Kepala sekolah meminta Axan mengatakan semuanya dengan jujur.

"Xan, coba ceritakan semuanya."

"Dia terus menghina Ziya, bahkan mengajak teman laki-lakinya membully Ziya, Xan tidak terima. Saat membela Ziya, anak itu memukul Xan, sedangkan yang lainnya mendorong Ziya."

Axan menarik lengan Ziya, terlihat siku-siku Ziya baret dan terdapat bekas darah pada lukanya.

"Lalu anda memanggil saya kesini karena mau menegur anak saya?" tanya Pak Alex pada Kepala Sekolah.

"Tidak, kami telah melihat CCTV, saya meminta anda kesini untuk berdiskusi. Orang tua murid yang bersangkutan tadi kesini juga, mereka meminta berdamai dengan anda."

"Saya minta data anak dan orang tuanya."

Kepala Sekolah mengernyit, ia tidak tahu apa maksud Pak Alex yang malah meminta data anak dan orang tua yang merundung Ziya. Namun ia tetap memberikan apa yang diminta Pak Alex.

"Zenica Fizta." Pak Alex membaca nama anak yang merundung Ziya.

"Itu Ica yang pernah Xan ceritakan, dia dulu juga menghina Ziya." ujar Axan

Pak Alex membaca data anak lainnya.

"Tenang saja." ucap Pak Alex sambil mengembalikan berkas itu pada Kepala Sekolah.

"Sekali lagi kami mengucapkan mohon maaf atas apa yang terjadi." ucap Kepala Sekolah.

Pak Alex berdiri, ia menggandeng Ziya dan Axan di kedua sisinya.

"Di zaman sekarang masih ada murid yang berani melakukan pembully-an dan anda hanya menebus dengan kata maaf. Saya rasa sebaiknya sekolah ini di tutup." ucap Pak Alex, ia langsung berbalik dan berjalan ke luar sebelum Kepala Sekolah membuka suara.

"Gawat, sepertinya dia bukan orang sembarangan." Kepala Sekolah mulai panik, ia bergegas bangkit dari kursinya dan segera mengejar Pak Alex.

"Pak Alex, tunggu."

Pak Alex menghentikan langkahnya tanpa menoleh, ia tetap menatap lurus ke depan.

"Kami akan memberikan keadilan, harap anda sudi memberi kami kesempatan."

"Keluarkan mereka dari sekolah," hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Pak Alex, ia berlalu meninggalkan Kepala Sekolah yang masih diam mematung.

"Dia cukup berwibawa." gumamnya pelan.

"Pak, kenapa Bapak diam saja?" tanya salah satu staff guru.

"Dia bicara dengan tenang meski dalam keadaan marah, memberi saya pilihan seperti itu tanpa ragu, saya curiga dia punya hubungan dengan pemerintah, kalau itu benar maka sekolah bisa ditutup jika dia mau."

"Menutup sekolah itu bukan perkara mudah, butuh izin Dinas Pendidikan dan pemerintah di kota." sambungnya.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya guru lainnya.

"Kita diskusikan ini, diluar apakah Pak Alex memiliki hubungan dengan pemerintahan atau tidak, kita harus mengambil keputusan dengan melihat apa yang dilakukan ketiga anak itu."

"Baik, Pak."

"Axan dan Ziya juga memiliki kepintaran diatas rata-rata siswa lainnya, kalau terus diasah mereka akan jadi kebanggaan sekolah kita. Sangat disayangkan kalau mereka yang harus keluar." ucap Wali kelas 1.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di mobil, Ziya menangis sambil menceritakan kejadiannya dengan rinci.

"Ziya udah diem, udah ngalah, tapi Ica malah ludahin Ziya. Terus Axan dateng belain Ziya, Ziya didorong sampek jatuh, Xan mau pukul Ica tapi temen ica yang namanya Zen sama Galuh langsung mukulin Xan, Xan marah terus pukul balik sampek mereka berdarah. Ziya nggak banyak mikir langsung dorong Ica sampek jatuh terus bantuin Xan yang mau dipukul lagi. Hikss." Ziya menangis tersedu-sedu.

"Kenapa Ziya dianggap pembawa sial kalau nggak punya Papa? Hikss... Kan Ziya juga nggak pengen Papanya Ziya meninggal."

Pak Alex memeluk Ziya untuk menenangkannya, sementara Axan masih terlihat marah.

"Om akan bela Ziya, mana mungkin anak secantik Ziya itu pembawa sial? Buktinya saat Ziya lahir, Mamanya Ziya makin banyak rezekinya." hiburnya sambil mengelus lembut punggung Ziya.

"Ziya tenang saja... Kalau masih mau sekolah disana, Om akan membuat Ziya tidak perlu bertemu dengan mereka."

"Maaf, Pa. Xan gagal menjaga Ziya." ucap Axan.

"Xan telah melakukan yang seharusnya. Setelah ini biar Papa yang membereskan mereka."

Pak Alex mengelap air mata Ziya dengan tisu.

"Kita obati dulu luka kalian. Setelah itu Om akan membawa kalian jalan-jalan."

"Tapi Mama gimana? Ziya belum pamit."

"Mama Ziya masih ada urusan, Om yang akan mengurusnya."

Ziya mengangguk patuh, ia melihat Axan yang wajahnya dihiasi lebam berawarna keunguan di dekat matanya.

"Xan, nggak sakit?" tanya Ziya.

"Sedikit, tenang saja." jawab Axan.

"Kalau kayak mukanya Xan itu harus diobati apa, Om?"

"Apa ya? Bukannya Ziya pandai mengobati? Om tidak lebih tau dari Ziya nih."

"Mungkin pakek air atau es batu."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Siang harinya Alena, Ali dan Mira baru kembali dari panti Asuhan, tetapi mereka belum bisa membawa anak yang akan di adopsi karena masih harus melalui beberapa prosedur lainnya yang bersangkutan dengan hukum dan sebagainya.

"Aku nggak bisa pulang bareng kalian, aku mau langsung jemput Ziya."

"Iya tidak apa-apa kak... Terima kasih banyak sudah mengantarkan kami kesini." balas Mira.

"Ya udah aku duluan ya." pamit Alena, ia langsung bergegas menuju ke sekolah.

Sesampainya di sekolah ia menunggu di luar gerbang, terlihat para wali murid sedang ikut menunggu anak-anak mereka yang berhamburan keluar dari kelas masing-masing.

"Tumben lama," gumamnya.

"Hmm, mana perasaanku nggak enak pas Kak Alex dapat telpon dari sekolah tadi."

Satu anak terakhir yang keluar melewati gerbang kini sudah digandeng Ayahnya, Alena heran mengapa Ziya dan Axan tidak kunjung keluar.

"Pak, ini anak-anak udah keluar semua?" tanya Alena pada Satpam yang bertugas.

"Sebentar Bu, saya cek ya." Satpam itu berjalan untuk melihat tiap masing-masing kelas, sudah tidak ada anak-anak yang tersisa.

"Sudah keluar semua ini, Bu. Anda Ibunya Ziya kan?"

Alena mengangguk.

"Oh maaf, saya lupa bilang. Ziya dan Axan sudah pulang lebih awal tadi."

"Loh, sama siapa?"

"Dijemput Ayahnya Axan,"

"Ohh, oke. Makasih banyak ya."

Alena bergegas masuk ke mobil dan menghubungi Pak Alex.

"Hadehhh bikin panik, kenapa nggak bilang dari tadi coba?" omelnya.

1
M S Abdl
pejuangan tidak akan menghianati akan hasil 💪semangat toor aq padamu pokoknya ....salangheyoo❤❤❤
Siti Musyarofah
belum up
aku baca dulu
Siti Musyarofah
buat Alena trima a
lex kak
Siti Musyarofah
langsung baca
🍒⃞⃟🦅•§¢•𝓛𝓲𝓵𝓲𝓽𝐀⃝🥀
maaf teman², hari ini lambat up nya, author lagi kurang sehat🙏🙏🙏
Suanti
kenapa mira ngak adopsi ank aja di panti asuhan buat pancingan supaya cpt hamil 😂😂😂
Siti Musyarofah
2x up kak
Suanti
sehari up 2 bab🙏🙏🙏
Suanti
kayak nya axan ank adopsi, pak alex belum nikah 🤣🤣🤣
Sundel Bolonk _Lilit: Belum tentu, siapa tau Axan anak kandungnya. Bisa jadi emaknya selingkuh, mangkanya Pak Alex ogah ngakuin dan kasih tau Axan tentang Ibunya
total 1 replies
kalea rizuky
hmmm aq dr awal uda g setuju soalnya ahen iku bodoh plin plan mending ma Alex akhirnya doa ku di denger author/Curse//Curse//Curse/
kalea rizuky
si ahen mana mati kaj
🏘⃝Aⁿᵘ𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
ngakak akuu 😭😂😂
🏘⃝Aⁿᵘ𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
yaampun yaampun mulutnya belum di cocolll sambel yak 😤
🏘⃝Aⁿᵘ𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
hadeeuhh esdeh udah pd juliiddd
🏘⃝Aⁿᵘ𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
jgn mikir pengen jd anaknya, ziyaa
Yoona
masih nyimak duli
Abel Incess
jadi makin ber tny" apa yg udh terjadi sm ahen
Abel Incess
hah knp bisa ahen ngk sm alena???
jadi pinisirin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!