Tatapannya hangat dan lembut, ku fikir dia mencintaiku, nyatanya tidak, ada wanita lain dihati suamiku, wanita yang merupakan cinta pertamanya, wanita yang dia kagumi sejak remaja yang tidak bisa dia miliki.
Entahlah aku ini dianggap apa, mungkin dijadikan sebagai pelampiasan rasa sakit hatinya, atau untuk memberitahu wanita itu kalau dia juga bisa menikah dan melanjutkan hidup meskipun bukan dengan wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aenyn unyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU HAMIL
Benar, wanita itu adalah Fitri, dia sudah lebih dari satu jam dirumah Budi, menunggu sik pemilik rumah, dan begitu mendengar suara langkah kaki, dia langsung menoleh dan melihat seorang wanita, wanita yang dia yakini adalah Tari.
"Diakan wanita yang waktu itu." batin Fitri meyakinkan dirinya kalau memang benar wanita yang saat ini berjalan ke arahnya itu adalah wanita yang menyapanya dirumah sakit, "Apa dia Tari."
Fitri berdiri, wajahnya tegang.
"Mbak yang waktu dirumah sakit itukan." ucap Tari tanpa basa-basi begitu dia sudah berada didepan Fitri.
Fitri mengangguk, matanya turun ke perut Tari yang sudah membuncit, "Dia hamil juga."
Tari tersenyum meskipun dibenaknya dipenuhi dengan pertanyaan ada apa gerangan sampai membawa wanita ini sampai dirumahnya.
"Kamu Tarikan."
Tari reflek mengangguk, sedetik kemudian keningnya mengerut, heran darimana wanita ini tahu namanya, seingat Tari waktu dirumah sakit mereka tidak sempat kenalan.
"Mbak kok tahu namaku."
Fitri tersenyum miris, "Tentu saja aku tahu, mas Budi selalu cerita tentangmu."
"Hahh." Tari makin dibuat tambah bingung karna Fitri menyebut-nyebut nama suaminya.
Belum sempat dia menyuarakan keheranannya, Fitri kembali berkata, "Kamu herankan kenapa aku bisa kenal kamu dan mas Budi."
"Iya."
Fitri menyodorkan tangannya, "Kenalin, saya Fitri, istri mas Budi juga."
"Hahhh." mata Tari melebar, disini otaknya masih belum bisa mencerna sepenuhnya apa yang barusan dikatakan oleh wanita bernama Fitri itu, "Ma..mak....maksud mbak apa, mbak jangan bercanda deh." Tari tertawa, tawa yang dipaksakan berfikir kalau wanita ini bercanda, "Saya yang istrinya mas Budi mbak, maksud mbak Fitri, mas Budi yang lain kali."
Budi yang baru saja memasuki pekarangan rumah tentu saja shock begitu melihat Fitri tiba-tiba ada dirumahnya, dia memang pernah memberikan alamat rumahnya kepada wanita itu dan berjanji bahwa itu akan menjadi rumah mereka ketika nanti dia sudah bercerai dengan Tari, tapikan takdir berkata lain, Budikan gak jadi bercerai dengan Tari.
Budi menjatuhkan paperbag bawaannya, "Fitri, mau ngapain dia." dengan langkah cepat dia berjalan mendekati kedua wanita itu, dia berharap kalau Fitri belum sempat mengatakan hal-hal yang aneh kepada Tari.
"Tari." panggil Budi.
Meskipun hanya Tari yang dipanggil, tapi keduanya menoleh.
Fitri tersenyum kecut, apalagi melihat Budi kelihatan baik-baik saja, berbanding terbalik dengan dirinya yang tertekan selama laki-laki itu memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
"Mas Budi." panggil Fitri namun tidak direspon oleh Budi.
"Mas Budi, mbak ini bilang dia adalah istrinya mas Budi." Tari tertawa, tapi tawanya mengandung was-was, takut dia mendengar jawaban Budi, "Mbak ini salah orangkan mas." tanpa menunggu jawaban dari Budi, Tari beralih menatap Fitri, "Lihat baik-baik mbak, ini suamiku, mbak pasti salah orang."
Tanpa mengindahkan kata-kata Tari ataupun mengindahkan keberadaan Fitri Budi berkata,
"Dek, ayok kita masuk ya, adek pasti sangat kelelahan setelah tadi kita muter-muter nyari perlengkapan bayi, adek istirahat ya, nanti mas pijitin kakinya dan buatin susu." Budi merangkul Tari dan akan membawanya masuk ke dalam, intinya saat ini Budi ingin menjauhkan Tari sejauh-jauhnya dari Fitri, biar Fitri menjadi urusannya.
"Mas." panggil Fitri dengan menekan panggilannya, tentu saja dia sakit hati, keberadaannya seolah dianggap angin lalu oleh Budi.
Dan Budi masih tetap tidak mengindahkan panggilan Fitri, dia berusaha membujuk Tari masuk, sedangkan Tari tentu saja enggan karna ingin tahu ada apa dianatara suaminya dan wanita itu, dan Tari sangat berharap tidak ada apa-apa, tapi itu tidak mungkin mengingat gelagat Budi seperti orang panik aibnya terbongkar.
"Ayok masuk dek, adek harus istirahat." Budi memaksa.
"Gak mau mas, kenapa sieh maksa banget." Tari melepaskan tangan Budi, wajah Tari berubah dongkol, sikap Budi yang seperti ini semakin membuatnya yakin kalau memang ada hal disembunyikan oleh suaminya itu.
Tari menatap Budi dan Fitri bergantian, Fitri menatap Tari tanpa rasa berdosa, sedangkan Budi memilih membuang wajah, takut dia kalau aibnya selama ini terbongkar, karna tanpa perlu bicarapun mimik wajah bisa mendeskripsikan apa yang kita sembunyikan.
"Mas Budi, kita perlu bicara mas." ucap Fitri emosi.
"Kamu sebaiknya pergi Fitri, tidak ada yang perlu kita bicarakan." Budi mengusir.
Selama ini Fitri selalu dinomorsatukan, Budi selalu ada untuknya, dan saat mendengar pengusiran itu keluar tanpa filter dari bibir seorang Budi, itu tentu saja semakin membuat Fitri sakit hati, "Ada mas, tentu saja ada banget."
"Ini sebenarnya ada apa sieh mas." Tari meminta kejelasan, "Tolong jangan bilang kalau apa yang dikatakan oleh mbak Fitri itu benar."
"Tentu saja itu benar." sahut Fitri.
"Fitri." Budi menatap Fitri dingin, auranyapun menakutkan yang membuat Fitri bergidik, ini untuk pertamakalinya dia melihat Budi semeringakan ini.
"Kenapa mas Budi seperti ini sekarang, masak iya dia berubah." batin Fitri tidak percaya.
"Dan aku hamil, anak kamu mas." Fitri mengungkapkan tujuannya menyambangi kediaman Budi dan Tari.
"Apa." shock Budi.
"Hahhhhh." Tari juga tidak kalah shocknya, dia masih tidak ingin mempercayai apa yang dikatakan oleh Fitri.
"Perlu kamu ketahui Tari, mas Budi tidak pernah mencintaimu, dia mencintaiku, dan kami saling mencintai, kami sudah menikah tanpa sepengatahuan kamu, dan sekarang aku tengah mengandung anaknya mas Budi." saat mengatakan tentanng kehamilannya, Fitri mengelus perutnya yang masih rata.
"Mas." Tari menatap Budi, berharap Budi membantah setiap ucapan yang keluar dari bibir Fitri, air matanya kini bahkan sudah menggenang dipelupuk matanya.
"Dek, itu.....mas...." Budi menelan ludahnya, ingin sekali dia membantah, tapi apanya yang mau dibantah kalau itu memang benar adanya, dan harapannya saat ini adalah kalau Tari sekali lagi mau memaafkannya.
"Itu benar dek, mas minta maaf." akhirnya Budi mengakuinya juga.
Tangis Tari pecah seketika, dia tidak pernah menyangka ternyata kebahagian yang dia rasakan hanya sementara saja, dan gak lama, badai yang maha dahsyat datang menghantam dan meluluh lantahkan hati dan perasaannya.
"Mas, kamu tega sekali, aku tidak pernah menyangka mas akan sejahat ini." Tari tidak pernah menyangka kalau Budi akan berbuat sejauh ini, berkhianat dibelakangnya bahkan sampai menikah siri dan wanita itu sekarang tengah hamil seperti dirinya.
Budi berusaha menjelaskan dan meraih tangan Tari, namun Tari menepisnya, dia tidak sudi dipegang oleh Budi, "Mas benar-benar minta maaf, mas sudah menceraikan dia, sekarang mas hanya ingin hidup dengan adek dan membesarkan anak kita."
"Mas, ada anak kamu diperut aku, dan kamu tidak bisa begitu saja menceraikan aku." timpal Fitri penuh emosi, dia benar-benar sangat marah karna keberadaannya sama sekali tidak dianggap oleh Budi.
*******
hati& pikiran mu ke orang Lain...
giliran sudah menikah dengan Fitri
hati mu ke Tari...
penyesalan selalu datang belakangan an
lanjut Thor ceritanya di tunggu updatenya