PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — PELABUHAN TIMUR
BAB 22 — PELABUHAN TIMUR
Malam menyelimuti Kota Axlarta.
Lampu-lampu di Pelabuhan Timur memantulkan cahaya redup di atas permukaan laut yang tenang. Suara ombak beradu dengan dinding dermaga menciptakan suasana mencekam.
Sebuah mobil hitam berhenti perlahan.
Mahendra turun seorang diri.
Tatapannya menyapu setiap sudut pelabuhan.
Pria itu tahu...
Ini jelas sebuah jebakan.
Namun ia tetap datang.
Karena satu kalimat yang diucapkan penelepon misterius terus terngiang di kepalanya.
"Kau akan kehilangan Eiri untuk kedua kalinya."
Mahendra mengepalkan tangannya.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Di sisi lain...
Ergan ternyata diam-diam mengikuti Mahendra.
Ia menghubungi beberapa anak buahnya melalui alat komunikasi.
"Tim Alpha berjaga di pintu masuk."
"Tim Bravo menyisir gudang."
"Jangan bergerak sebelum ada perintah."
"Siap!"
Sementara itu...
Di Kediaman Axlarta...
Eiri masih memandangi kalung berbentuk hati yang ditemukannya di gudang.
Melveri duduk di sampingnya.
Tatapan keduanya dipenuhi rasa haru.
"Kak..."
Suara Eiri bergetar.
"Kalung ini..."
"Benarkah milik Kakak?"
Melveri mengangguk pelan.
"Iya."
"Aku memberikannya saat ulang tahunmu."
Eiri memejamkan mata.
Beberapa bayangan kembali muncul.
Seorang gadis kecil tertawa.
Seorang anak laki-laki berlari sambil membawa tiga lolipop stroberi.
"Kita janji ya!"
"Walaupun nanti terpisah..."
"Kita pasti bertemu lagi!"
Air mata Eiri kembali jatuh.
"Aku..."
"Aku mulai mengingat sedikit demi sedikit."
Melveri memeluk adiknya.
"Jangan dipaksakan."
"Kalau memang waktunya tiba..."
"Semua akan kembali."
Namun...
Tiba-tiba ponsel Melveri berdering.
Nomor tidak dikenal.
"Halo?"
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya suara napas seseorang.
Kemudian...
"Tolong hentikan Mahendra."
"Waktu kalian tinggal sedikit."
Sambungan langsung terputus.
Melveri membelalak.
Pelabuhan Timur...
Mahendra memasuki sebuah gudang tua.
Pintu besi di belakangnya menutup sendiri.
BRAAK!
Ruangan menjadi gelap.
Beberapa lampu redup menyala perlahan.
Di tengah gudang...
Seorang pria tua berdiri membelakanginya.
"Kau datang juga."
Mahendra menatap tajam.
"Siapa kau?"
Pria itu berbalik.
Rambutnya memutih.
Tatapannya tajam.
Namun senyumnya membuat suasana semakin menyeramkan.
"Aku sudah lama menunggumu."
"Victor Hanzel?"
Pria tua itu tersenyum.
"Benar."
Mahendra mengepalkan tangan.
"Di mana Eiri?"
Victor tertawa kecil.
"Tenang."
"Aku tidak berniat menyakitinya."
"Dia terlalu berharga."
Mahendra melangkah maju.
"Kalau begitu..."
"Jawab semua pertanyaanku."
Victor mengambil sebuah map tua.
Lalu melemparkannya ke arah Mahendra.
"Baca."
Mahendra membuka map tersebut.
Isinya adalah foto-foto lama.
Salah satunya membuat napasnya terhenti.
Foto ayah Mahendra.
Berdiri bersama ayah Eiri.
Dan...
Victor.
Mereka bertiga tampak tersenyum di depan sebuah panti asuhan.
"Mustahil..."
Mahendra bergumam.
Victor mengangguk pelan.
"Kami dulu sahabat."
"Sebelum semuanya hancur."
"Apa maksudmu?"
Victor menghela napas panjang.
"Kau hanya mengetahui setengah dari kebenaran."
"Tahukah kau..."
"Orang yang menghancurkan keluarga Eiri..."
"...bukan Organisasi Bulan Sabit."
Mahendra membeku.
"Lalu siapa?"
Victor menatapnya dalam.
"Ayahmu."
Suasana mendadak sunyi.
Mahendra langsung menggeleng.
"Itu bohong."
"Ayahku tidak mungkin melakukan itu."
Victor mengeluarkan sebuah rekaman suara.
"Lalu dengarkan sendiri."
Rekaman itu mulai diputar.
Suara dua pria terdengar jelas.
Salah satunya...
Sangat mirip dengan suara ayah Mahendra.
"Anak-anak itu harus dipisahkan."
"Kalau mereka tetap bersama..."
"Rahasianya akan terbongkar."
Mahendra mematung.
Tangannya gemetar.
"Tidak..."
"Ini tidak mungkin..."
Di luar gudang...
Ergan dan anak buahnya berhasil melumpuhkan beberapa penjaga.
Namun salah satu dari mereka berhasil kabur.
"Tuan Ergan!"
"Orang itu menuju ruang utama!"
Ergan langsung berlari.
"Tuan Mahendra dalam bahaya!"
Di Kediaman Axlarta...
Eiri tiba-tiba memegang kepalanya.
"Ahh!"
Kilasan kenangan kembali muncul.
Ia melihat seorang pria dewasa menggendongnya.
Di belakang pria itu...
Mahendra yang masih remaja berlari sambil menangis.
"Eiri!"
"Jangan pergi!"
Suara itu begitu jelas.
Eiri membuka matanya lebar.
"Mahendra..."
Air matanya mengalir deras.
"Itu..."
"Itu benar-benar Mahendra..."
Tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar rumah.
Melveri mengejarnya.
"Eiri! Mau ke mana?"
"Aku harus menemui Mahendra!"
"Aku merasa dia dalam bahaya!"
Kembali ke gudang...
Victor tersenyum tipis.
"Mulai malam ini..."
"Hidupmu tidak akan pernah sama lagi."
Belum sempat Mahendra menjawab...
DUARRR!!
Ledakan besar mengguncang seluruh gudang.
Api langsung membesar.
Ergan menerobos masuk.
"Tuan! Keluar sekarang!"
Namun di tengah kepulan asap...
Victor sudah menghilang.
Yang tertinggal hanyalah sebuah liontin bulan sabit berlumuran darah.
Mahendra mengambil liontin itu.
Tatapannya berubah tajam.
"Aku akan mengungkap semuanya."
"Siapa pun dalang di balik semua ini..."
"...akan kubuat membayar."
Bersambung ke BAB 23 — DALANG SEBENARNYA.