Belum Direvisi 🙏🙏🙏
Selain menceritakan kisah cinta seorang gadis biasa "Alya"... Novel ini berlatar belakang spot-spot wisata di Yogyakarta.
🍁🍁🍁
Alya seorang gadis yang sangat polos dan disayangi oleh semua sahabatnya. Namun dalam hal berpacaran dia memiliki prinsip yang kuat.
Prinsip Alya yang demikian membawanya pada kisah cinta yang penuh liku dan ujian.
Mungkinkah seorang gadis biasa "Alya" akan memperoleh kebahagiaan dari cinta sejati yang ia harapkan? Yuk ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turis Korea
Hari ini aku masuk kerja, setelah kemarin Minggu mengambil jatah libur karena seharian menemani Arif. Aku harus semangat, meski Arif pergi lagi, dan entah kapan akan kembali.
Aku membantu teman-teman kerjaku untuk mempacking pesanan yang akan dikirim ke Singapura dan Malaysia.
Mungkin karena fokus, aku tidak memperhatikan kalau ada customer masuk ke toko.
"Mbak Alya.., tuch ada turis, gantheng banget...., cepet sana disapa!! Aku nggak bisa ngomong pake bahasa Inggris mbak, apalagi Korea..." Ucap Lisa setengah berbisik, tangannya mentowel-towel pundakku.
Seketika aku menengadahkan wajah, benar saja.., ada sosok gantheng, tinggi, matanya ala-ala Korea, dan pastinya bikin para gadis meleleh kalau melihat senyumnya.
Aku berjalan mendekati pria itu dengan tesenyum..., dan menyapanya.
"Hello sir, sorry can I help you?"
Ups..., turis itu hanya tersenyum, tanpa membalas perkataanku. Okay, mungkin dia tidak bisa berbahasa Inggris. Hhehe..... Sebenarnya aku juga tidak bisa berbahasa Inggris, hanya meniru Bu Martha.., ketika ada turis datang, beliau sering mengatakan seperti itu.
"Mmm..., coba dech aku pake bahasa Korea untuk menyapa, mungkin dia akan membalasnya." Pikirku ketika sejenak terdiam.
"Annyeonghaseyo seonsaengnim..." Ucapku sambil membungkukkan badan dan memberi seulas senyum, mencoba meniru adegan di drakor.....xixixi...
"Pffftttttt....hhhhahaha..." Tiba2 turis Korea itu tertawa. Seketika wajahku menjadi merah..., hahhhhh...., kali ini benar2 seperti udang rebus. Semua teman kerjaku tercengang, mereka heran dengan si Turis, namun tidak begitu lama.., mereka malah ikut tertawa. Huftt..., sepertinya aku salah bicara atau berbahasa.. Aku menundukkan wajah karena teramat malu. Rasanya ingin menangis dan lari ke toilet, tapi apa dayaku. Aku tak mungkin melakukannya. Bu Martha sedang tidak ada di toko, beliau memberikan tanggung jawab penuh kepadaku.
Tiba2 turis itu berbicara kepadaku dengan memberikan senyumnya yang teramat sangat manis...
"Mbak maaf, saya ini orang Jawa.. Sampeyan sangat lucu mbak.., menyapa saya pakai bahasa Inggris, dan bahasanya oppa.. Korea.."
Aku terkejut mendengar suara si turis, tapi karena malu.., aku hanya terdiam dan masih menunduk, wajahku yang seperti udang rebus belum kembali sempurna menjadi wajah Alya yang biasa.
"Mbak...., tadi saya sangat terhibur lho.. Belum pernah ada orang yang sukses membuat saya tertawa seperti ini, sampai perut saya kram..., hhhhaha..." Kembali pria itu tertawa. Huftt.., makin lemes aku..
Aku mencoba menatap pria itu dan berbicara meski dengan suara terbata-bata.
"Ma..ma..maaf Tuan, saya tidak tahu kalau anda juga orang Jawa.. A..aa..apa ada yang bisa kami bantu?"
"Hhhehe.., sudahlah jangan sebut aku Tuan, panggil namaku saja...., Raikhan. Siapa namamu..?" Tanya pria itu dengan tersenyum menatapku, dia tidak mengulangi kata "saya" namun diganti "aku" seolah untuk lebih nyaman dan mengakrabkan diri ketika berbicara.
"Sa..saya, Alya Mas..." Aku mencoba membalas senyumnya.
"Okay Alya.., senang berkenalan denganmu.."
"Ada yang bisa saya bantu Mas..?" Tanyaku kemudian, mencoba untuk rileks.
"Iya Al.., aku baru mencari alat dapur yang aman, terutama untuk masak.."
"Owh.... Ada Mas, bahan yang relatif aman terbuat dari bahan dasar stainless steel, keramik juga Mas.."
"Owh.. Okey, tolong pilihkan untukku ya Al.. Ada kertas?? Aku catatkan kebutuhanku.." Aku mengambil kertas dan pena di atas meja, kemudian menyerahkannya pada Mas Raikhan.
"Ini Mas... Silahkan dicatat..! Saya akan bantu memilihkannya.." Ucapku dengan tersenyum.
Ada banyak peralatan rumah tangga yang ia tulis. Mungkin pria itu baru saja menikah, jadi banyak sekali peralatan rumah tangga yang dibutuhkan untuk mengisi dapurnya, pikirku.
"Sudah Al.., ini semua.. Tolong dipacking yang aman ya, biar nggak pecah atau rusak.." Mas Raikhan memberikan secarik kertas itu padaku.
"Okay, siap Mas... Mas Raikhan tunggu sebentar ya..! Saya akan ambilkan.., sekalian kami packing.."
"Baiklah Al.."
"Oiya.., silahkan duduk dulu Mas..!" Aku mempersilahkan Mas Raikhan untuk duduk, kemudian mulai mencarikan perabotan rumah tangga yang dibutuhkannya. Setelah terkumpul semua, aku meminta rekan2 kerjaku untuk membantu mempacking.
"Sippp.., sudah selesai, makasih teman-teman..., hhhehe.." Ucapku dengan senyum puas, mereka membalasnya hanya dengan mengacungkan jempol dan anggukkan, serta tawa yang tertahan. Ach.., mungkin mereka masih geli dengan kejadian tadi.
Aku berjalan mendekati tempat duduk Mas Raikhan. "Mas, semua yang dibutuhkan sudah siap....."
"Okay...., totalnya berapa Al..?"
"Totalnya lima juta lima ratus ribu rupiah Mas.." Balasku dengan memberikan nota kepada Mas Raikhan.
Ia menerima nota itu, kemudian membaca dan memeriksa tulisan serta harga yang tertera.
"Okay.., makasih ya Al.." Ucapnya sambil mengeluarkan uang seratus ribuan, dan diberikan padaku. Aku menghitung uang tersebut, ternyata kelebihan dua ratus ribu.
"Maaf Mas, uangnya kelebihan dua ratus ribu.." Aku memberikan kelebihan uang itu, namun Mas Raikhan menolaknya.
"Sudah buat jajan kalian saja, dan tanda terima kasihku, karena hari ini kamu sukses membuat aku tertawa Al..." Katanya dengan tersenyum, seolah masih belum move on dengan kekonyolanku. Duhhh..., malunya aku...
"Tidak usah Mas...."
"Sudah jangan membantah, anggap itu rejeki buat kalian.."
"Hmmm.., baiklah Mas, trimakasih ya Oppa...., hhhhehe.." Candaku.., dan membuat Mas Raikhan kembali tertawa.
"Hhaha.., Alya.., Alya..."
"Mas, barang-barangnya biar dibawakan teman saya ya. Pak Akhmad akan mengantarkan Mas Raikhan sampai ke kendaraan yang Mas bawa.."
"Mm.., baiklah Al, sekalian kamu ikut ya...!!"
"Hahhhh..." Aku kaget mendengar perkataannya.
"Maksudku, kalau kamu ikut.., nanti biar membantu menatanya Al, karena aku baru pindah rumah, jadi tidak ada yang membantu.."
"Owhh..., maksudnya ikut ke rumah Mas Raikhan?? Istri Mas nggak membantu?" tanyaku polos.
"Istri dari mana...?? Calon saja nggak punya Al..., hufttt..." Wajah mas Raikhan berubah cemberut, aku merasa bersalah telah asal bicara.
"Ma..maaf Mas, jangan tersinggung ya..! Saya tidak tahu kalau Mas belum menikah.."
"Hmm.., iya Al, aku maafkan..." Jawabnya dengan muka yang masih cemberut.
"Maaf Mas, saya pikir Mas kan gantheng.., jadi nggak mungkin kalau belum punya istri atau calon.. Maaf lho Mas kalau saya lancang bicara..." Ucapku polos, Mas Raikhan yang mendengarnya menatapku lekat..., dan menyunggingkan seulas senyum.
"Benar.., aku gantheng ya Al..?"
"Iya Mas.., hampir mirip aktor Korea..., hhhehe..., oppa Lee min ho...." Jawabku dengan membalas tatapannya, dan memberikan senyuman kecil.
"Hhhaha..., Alya.., hari ini bener2 ya.., kamu bikin aku tertawa terus... Dah sekarang ikut aku ke rumah ya, bantuin menata..!!"
"Maaf Mas, tidak bisa seperti itu.., saya harus ijin dulu pada Bu Martha, pemilik toko ini.."
"Mm...., baiklah. Silahkan minta ijin dulu ke beliau..!"
"Baiklah Mas, saya telepon Bu Martha sebentar ya.. Mas Raikhan tunggu dulu di sini...!"
"Iya... Aku tunggu, tapi jangan lama2 ya Al...!!"
"Siap Oppa..." jawabku dengan tersenyum lebar....
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Jangan lupa tinggalkan like, rate 5, koment kritik dan saran, makasih 😍😍😍😍
visual Raikhan
bagus bnget critanya..../Good/