Di usia kepala tiga dan tak kunjung naik pelaminan membuat Manda merasa resah. Dihantui perasaan takut justru dirinya mulai beranggapan telah terkena sebuah kutukan.
Lantas kesalahan besar apa yang telah Manda perbuat di masa lalu hingga dia punya pikiran seperti itu?
Maka ikuti saja kisahnya...
SQUEL DARI NOVEL SENANDUNG IMPIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Empat
"Apa yang tadi aku lakukan?" Manda bergumam menangkup sendiri ke dua pipinya usai tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Membuang muka, Manda lantas memutus tatapannya dari sorot mata Akram. Dia gugup bukan main. "Su—sudah malam. Sepertinya aku harus kembali ke kamar, takut Nagita terbangun."
Usai berucap sedemikian kata, Manda langsung bergegas beranjak pergi meninggalkan Akram bahkan tak mau sedikit pun mendengar tanggapan dari lelaki itu.
Setibanya di kamar, Manda rasanya ingin menjerit begitu saja di tempat. Namun tak mungkin itu dilakukan karena sudah pasti resikonya akan membuat gempar seisi rumah. Dan untuk mengantisipasi hal itu, giginya pun kini dia gunakan untuk menggigit bibir bawahnya kuat.
"Astaga! Kerasukan setan apa aku tadi?" gumam Manda menyesali apa yang telah terjadi.
"Bagaimana bisa..." Tangan Manda lalu beralih dipergunakan untuk mengusap bibir bekas ciumannya dengan Akram dan yang terjadi kala ini dadanya terasa berdentum-dentum, hingga tangannya teralih menepuk-nepuk dadanya sendiri.
Menggeleng sambil memejamkan matanya erat, justru ciuman yang hanya tempel bibir tadi terngiang di dalam kepalanya.
Astaga... Gak, ini belum saatnya Manda. Belum saatnya! batinnya dengan gigi saling merapat saking sebal terhadap dirinya sendiri.
Perlahan setelah dirinya mendapatkan ketenangan, Manda menundukkan kepalanya dan mengakui bahwa perbuatannya memang telah salah.
***
Hingga dimana hari berlalu setelah kejadian itu, sikap Manda kepada Akram sedikit berbeda. Untuk kontak mata saja Manda berusaha untuk menghindar, itu semata terjadi karena kontak fisik yang dilakukan tempo hari dianggapnya begitu berlebihan dan hal itu nyatanya memancing rasa penasaran Maharani dan Bik Suti yang menyadari perbedaan sikap Manda beberapa hari belakangan yang banyak diam.
"Manda, ikut bergabung makan sama-sama sebelum pergi ya."
Ucapan itu keluar dari mulut Maharani, tepat hari ini cucunya sudah resmi masuk sekolah playgrup dan tentu Manda lah yang akan berperan besar dalam penjagaan bocah itu.
Sejak dari mata terbuka dirinya dia disibukkan dengan kegiatan mengurus Nagita yang memang sangat susah dibangunkan. Memandikan, menyiapkan alat sekolah, berpenampilan dengan baju yang pantas karena belum mendapatkan seragam dan hingga sampai lah dirinya berada di meja makan, tapi dia hanya berdiri usai menggandeng dan mendudukkan Nagita di kursi makan tepat di samping Akram.
Menanggapi ucapan Maharani, Manda tersenyum tipis dan berujar, "Manda belum lapar Bu, biar nanti saja."
"Nanti kapan? Sudah gak ada banyak waktu kalau ditunda sampai nanti-nanti, karena setelah makan kalian berdua akan diantar langsung oleh Akram," ujar Maharani membuat Manda sedikit terkejut, spontan matanya melirik sebentar ke arah Akram.
"Ma—Manda sudah tahu tempatnya kok Bu. Atau biar bisa sekalian teman Manda yang jemput," ucap Manda berusul yang makin membuat Maharani mengernyit bingung, hingga tatapannya teralih kepada putranya.
"Akram gak keberatan kan mengantar?" Maharani pun melayangkan pertanyaan putranya, sebab menyadari ada kejanggalan dari sikap Manda yang dinilainya gugup saat berada dekat dengan putranya dan itu baru dua sadari akhir-akhir ini.
Akram tersenyum dan mengangguk menanggapi Ibunya. "Sudah menjadi tugas Akram, Bu. Dan kebetulan pagi ini tugas Akram di kantor tidak terlalu banyak. Mungkin kalau sewaktu-waktu Akram ada tugas keluar kota dan keperluan mendadak, Akram dengan terpaksa tidak mengantar Nagita ke sekolah."
Maharani mengangguk. "Bagus itu, dan Manda ambil tempat dudukmu, kita sarapan bersama," ucap Maharani disusul dengan gerak ragu tapi setuju hingga Manda mendudukkan diri di samping Nagita.
Butuh waktu hampir setengah jam, dari jam sarapan sampai mereka berada di dalam mobil. Tadi Nagita sempat menumpahkan segelas susunya pada pakaian yang sudah rapi dikenakan, dan tentu saja hal itu membuat repot Manda dua kali lipat.
Manda harus kembali membersihkan tubuh Nagita, mengganti pakaian dan sarapan pagi mereka ditunda dengan sebagai gantinya Bik Suti membuakan mereka bekal makanan.
"Tante— kaos kaki belum pakai!" protes Nagita saat Manda membantu bocah itu mengenakan sepatunya.
Akram yang berada di kursi kemudi tentu saja memperhatikan mereka yang duduk di jok belakang. Segala bentuk kerepotan Manda yang mengurusi putrinya tentu dia tahu.
"Iya, makanya duduk dulu," ucap Manda yang memperingati Nagita, sebab bocah itu dari tadi tak diam dan malah sibuk berdiri menengok di sisi jendela mobil lalu turun dari kursi joknya menengok ke arah depan dan bertanya kepada Akram yang kapan akan sampai ke tempat sekolahannya.
"Papa— Masih lama ya? Dari tadi gak sampai-sampai?" Protes Nagita yang berdiri melongokkan kepalanya ke arah Akram.
"Sebentar lagi. Habis ada bundaran air mancur, lampu merah, belok kiri kita sampai."
"Papa bilang sebentar-sebentar terus!" protesnya.
Dan kali ini Akram tertawa tapi tanpa suara, sorot matanya malah melirik ke arah spion depan dan tentu pemandangan yang di dapatinya adalah putrinya yang cemberut dan Manda yang juga sebelas dua belas dengan putrinya. Sudut bibir Akram sedikit tertarik ke atas lalu berujar kepada putrinya dengan menunjuk ke arah depan. "Itu air mancurnya sudah kelihatan. Karena sudah hampir sampai, Nagita duduk kembali ke belakang biar Tante Manda bantu Nagita bersiap-siap untuk pakai kaos kaki dan sepatunya."
"Beneran Papa!" sahut Nagita antusias.
"Itu," tunjuk Akram lagi ke arah depan dan tentu saat mobil yang mereka naiki berputar pada bundaran air mancur menjadikan Nagita berteriak antusias.
"Horeee! Sudah mau sampai Tante, Papa!" ujar Nagita yang bersemangat menoleh memberitahukan pada Manda dan tentu kepada Papanya.
"Iya, kalau gitu sini duduk dulu yang anteng, Tante bantu pake kaos kaki dan sepatu," ucap Manda yang tentunya langsung dituruti oleh Nagita yang duduk di sampingnya.
Sambil memakai sepatu pun anak itu tak hentinya berbicara dan bertanya. "Nanti teman Nagita jadi banyak kan Tante. Ada Risma juga?"
"Hmmm," Manda yang sibuk memakaikan sepatu pun hanya menyahuti dengan gumaman, dan hal itu tentu tak luput dari perhatian Akram yang menilai dua orang yang duduk di belakangnya meski dalam keseharian sangatlah berisik namun sebenarnya begitu serasi.
...To be Continue...