Sinopsis Singkat "Cinta yang Terlambat"
Maya, seorang wanita karier dari masa depan, terbangun di tubuh Riani, seorang wanita yang dijodohkan dengan Dimas, pria dingin dari tahun 1970-an. Dengan pengetahuan modern yang dimilikinya, Maya berusaha mengubah hidupnya dan memperbaiki pernikahan yang penuh tekanan ini. Sementara itu, Dimas yang awalnya menolak perubahan, perlahan mulai tertarik pada keberanian dan kecerdasan Maya. Namun, mereka harus menghadapi konflik keluarga dan perbedaan budaya yang menguji hubungan mereka. Dalam perjalanan ini, Maya harus memilih antara kembali ke dunianya atau membangun masa depan bersama Dimas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon carat18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: jejak masa lalu
Selamat membaca guys ❤️ 🐸 ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ 🐸
Pagi di desa itu mulai terasa lebih hangat dari biasanya. Riani berdiri di depan rumahnya, menghirup udara yang segar, sambil menatap hamparan ladang hijau yang mulai menggeliat disinari matahari.
Dimas sedang mengangkat keranjang besar berisi daun-daun kering, membersihkan kebun yang mulai tumbuh subur berkat metode tanam baru yang diperkenalkan Riani.
"Dimas, kamu mau sarapan dulu nggak? Aku buatkan singkong goreng dan teh manis hangat," seru Riani sambil tersenyum.
Dimas menoleh, keringat menetes di pelipisnya, namun senyuman hangat menghiasi wajahnya. "Boleh, aku lapar juga. Tapi tunggu lima menit lagi, ya. Aku selesaikan yang ini dulu."
Riani masuk ke dapur dengan semangat. Kehidupannya sekarang sangat berbeda dengan awal dia terbangun dalam tubuh perempuan desa bernama Riani. Awal nya dia syok, lalu memberontak, tapi kini dia mulai menyukai semuanya—dari kesederhanaan kehidupan desa, kehangatan orang-orang, hingga cinta yang perlahan tumbuh di antara dirinya dan Dimas.
Namun, pagi yang tenang itu berubah ketika seorang tamu tak dikenal datang ke rumah mereka. Lelaki tua dengan pakaian rapi dan sepatu mengkilap berdiri di depan pintu pagar bambu, menatap rumah sederhana itu dengan tatapan meneliti.
"Permisi," ucapnya dengan suara lantang. Riani keluar dengan waspada. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Lelaki itu tersenyum tipis. "Apakah ini rumah Ibu Riani? Saya datang dari kota. Nama saya Pak Harjo, saya kenal dengan keluarga almarhum Pak Karta."
Riani mengerutkan kening. Nama itu terdengar asing. Tapi Pak Harjo membuka map kulit cokelat yang dibawanya dan menyerahkan sepucuk surat kepada Riani. Isinya mengejutkan: ternyata keluarga almarhum Pak Karta adalah pemilik asli tanah tempat rumah dan ladang mereka berdiri. Dan sekarang, keluarga itu ingin meninjau kembali status kepemilikannya.
Riani merasakan dingin merayap di tengkuknya. Dimas segera menghampiri, membaca surat itu bersama-sama, dan ekspresi wajahnya berubah cemas. Tanah itu memang milik turun-temurun, tapi ternyata ada dokumen tua yang menyatakan sebagian dari tanah itu dipinjamkan selama 40 tahun—dan waktu itu telah habis.
Malamnya, Riani tak bisa tidur. Dia duduk di ruang tengah sambil menatap lampu teplok yang bergoyang perlahan. "Kalau tanah ini ditarik kembali, kita harus pergi, Mas... Kita harus mulai dari nol lagi."
Dimas duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya. "Aku nggak akan biarkan itu terjadi. Apapun yang terjadi, aku akan perjuangkan rumah ini. Tempat ini bukan sekadar rumah. Ini tempat kita membangun masa depan."
Namun, perjuangan itu tidak mudah. Keesokan harinya, Riani dan Dimas pergi ke balai desa untuk berkonsultasi. Kepala desa menunjukkan peta lama dan dokumen fotokopi dari arsip pemerintah. Benar, tanah itu dulunya adalah hak guna pakai. Tapi ada peluang untuk membeli secara sah.
Harga yang ditawarkan sangat tinggi untuk ukuran mereka. Tabungan dari hasil penjualan roti dan hasil panen belum cukup. Riani merasa putus asa. Tapi semangat dalam dirinya tak padam.
Malam itu, ia menyusun rencana. "Mas, kita harus meningkatkan produksi rotinya. Kita mulai jualan ke desa tetangga. Aku juga akan coba buat varian baru. Dan kamu bisa mulai ajak warga untuk kerja sama di kebun, kita bagi hasil. Kita harus kerja dua kali lebih keras."
Dimas menatap istrinya dengan bangga. "Kamu luar biasa, Riani. Kamu nggak pernah menyerah. Aku ikut kamu. Apa pun rencananya."
Dalam beberapa minggu, rumah mereka kembali hidup dengan kesibukan. Dapur dipenuhi aroma roti pandan, roti ubi, dan roti kacang. Anak-anak dari desa tetangga mulai berdatangan. Riani bahkan mulai mengajarkan beberapa ibu muda cara membuat roti dan menyusunnya dengan kemasan sederhana agar bisa dijual di pasar.
Usaha keras itu mulai menunjukkan hasil. Perlahan tapi pasti, tabungan mereka bertambah. Tapi waktu terus berjalan. Deadline untuk pembelian tanah hanya tinggal dua bulan.
Di tengah tekanan itu, Riani mendapat kabar dari sistem yang terhubung dengan pikirannya. Sebuah tantangan baru muncul: membuat program pelatihan kewirausahaan berbasis rumahan. Jika berhasil, sistem akan memberikan "bonus"—bukan uang, tapi peluang membuka koneksi dengan kota, tempat dia bisa menjual produk mereka lebih luas lagi.
Riani tidak berpikir dua kali. Dia mulai menyusun kurikulum sederhana dan mengajak para perempuan desa ikut pelatihan. Dari teknik membuat roti yang tahan lama, pengemasan, pemasaran sederhana, hingga cara menghitung laba. Setiap malam, balai desa penuh dengan suara obrolan dan tawa perempuan-perempuan yang merasa berdaya.
Di balik semua itu, tekanan batin mulai menghampiri Riani. Dia merasa waktu terus mengejarnya, seolah masa lalu yang tak pernah ia kenal kini ingin merenggut masa depannya. Tapi ia tidak pernah sendiri. Dimas selalu ada di sampingnya. Menjadi penopang, menjadi teman curhat, dan menjadi cinta sejatinya.
Hingga suatu pagi, Pak Harjo kembali datang. Tapi kali ini dia tidak sendiri. Bersamanya hadir seorang perempuan muda berpenampilan kota dengan tatapan tajam. "Saya adalah cucu dari almarhum Pak Karta. Dan saya tidak berniat menjual tanah ini. Saya ingin mengambilnya kembali."
Bab ini berakhir dengan udara yang menggantung, dan hati Riani yang mulai bergejolak. Namun, semangat dalam dirinya menyala lebih terang. Perjuangan belum usai. Dan Riani tahu, masa depan miliknya tak akan direbut semudah itu.
Terima kasih sudah membaca guys ❤️🐸❤️❤️❤️