NovelToon NovelToon
Through My Eyes

Through My Eyes

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:639.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tirza

"Kata orang, cinta itu berawal dari mata, kemudian turun ke hati. Namun, itu tidak berlaku bagi kami. Cinta kami bermula dari getaran yang timbul di dalam hati, sementara mata hanyalah buktinya."- Yuri

Yuanri Agatha, atau yang biasa disapa dengan sebutan Yuri, adalah seorang perempuan dengan paras cantik serta bentuk tubuh yang sempurna. Meski begitu kisah hidupnya tidak seindah penampilan fisiknya.

Ada satu masa dimana perempuan itu akhirnya berpikir untuk mengakhiri hidup karena tidak tahan dengan hinaan warga sekitar, yang terus melabelnya sebagai wanita penggoda. Padahal, kenyataannya adalah bahwa Yuri selalu menjaga kehormatannya.

Keputusan mengakhiri hidup itu ia urungkan saat melihat seorang laki-laki terbaring dalam kondisi tidak sadarkan diri di atas sebuah karang, yang lokasinya tidak jauh dari tempat, yang sudah ia rencanakan untuk mengakhiri hidup.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Segera favoritkan kisah ini dan nantikan kelanjutan kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Keberuntungan

"Kau mempermainkanku? Kau pikir kau bisa mengendalikanku? Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup dengan tenang setelah ini? Kau salah Yuri!" Awan menyeret Yuri dan membanting tubuh gadis itu di sofa.

"Ahhh," pekik suara Yuri saat Awan membanting tubuhnya dengan kasar. Yuri terisak kembali.

"Jika kau ingin menghindari pernikahan, maka aku akan mengabulkannya. Lagi pula aku tidak ingin menyia-nyiakan masa mudaku dengan merawat orang buta sepertimu." Awan menjeda sejenak ucapannya.

"Aku rasa untuk memilikimu tidak perlu harus menikah. Aku ingin kamu melayaniku setiap kali aku menginginkannya. Aku rasa itu harga yang impas untuk sebuah pengkhianatan bukan?" Awan menyeringai dengan seringai yang sangat menakutkan.

"A-apa maksudmu?" Yuri merasakan bahwa saat ini hatinya sedang mengirimkan sinyal bahaya. Ia semakin tidak tenang.

"Aku ingin dirimu sekarang, Yuri!" Awan berjalan mendekati gadis itu.

Yuri berusaha melarikan diri. Ia mencoba berdiri dan kemudian berlari ke sembarang arah.

Kegelapan itu tentu menghambat langkahnya. Oleh karena itu, yang ada di dalam pikirannya sekarang hanyalah pergi ke tempat di mana suara Awan terdengar jauh.

"Hiks.. hiks.. Tolong!! Tolong!!!" Gadis itu berusaha berteriak meminta pertolongan.

"Lebih keras lagi!! Kurang keras Yuri!" Awan tertawa terbahak-bahak menghina Yuri.

"Tolooongggg!!!!!" Yuri terus berteriak.

"Kau tahu itu percuma, sayang. Jarak rumah di desa ini terlalu jauh, hingga tidak ada kesempatan untuk mendengar teriakan minta tolong dari wanita sepertimu." Yuri membenarkan ucapan Awan di dalam hatinya. Gadis itu tahu bahwa tidak ada siapapun di sana yang akan menolongnya, kecuali dirinya sendiri dan keberuntungan.

Awan hanya berdiri sambil tertawa memperhatikan tingkah Yuri yang sedang ketakutan. Laki-laki itu tidak langsung menangkap Yuri. Ia ingin bermain-main dulu dengan gadis itu sambil memastikan apakah Yuri benar-benar buta.

Beberapa kali, Yuri terjatuh karena menabrak kursi, kaki meja, dan benda-benda lainnya. Gadis itu nampak sangat frustrasi karena ia hanya berputar-putar di dalam ruangan.

Pyar!!

Baru saja tangan Yuri bersenggolan dengan vas bunga, hingga benda itu jatuh, pecah, dan berserakan di lantai. Oleh karena saat ini ia tidak mengenakan alas kaki dan tidak bisa melihat, tanpa sengaja telapak kaki Yuri pun menginjak pecahan-pecahan kaca itu hingga mengeluarkan darah.

"Aaaahhhh," jerit Yuri saat pecahan-pecahan kaca itu menempel di kakinya.

"Hahahaha.... Aku merasa melihat tikus buta yang sedang menghindari kucing pemangsanya." Awan tertawa keras menghina Yuri kembali.

Gadis itu masih berusaha menyelamatkan dirinya dan mencari pintu keluar meski langkahnya terseok-seok. Seakan tidak memedulikan pecahan kaca yang menancap di kakinya, Yuri terus menapak hingga lantai itu dipenuhi dengan noda darah, berbentuk jejak kakinya.

"Hei, mau kemana? Jangan terburu-buru keluar dulu. Aku masih ingin bermain-main denganmu," tutur Awan.

Ucapannya membuat Yuri semakin merasa ketakutan. Laki-laki itu cepat-cepat menangkap lengan Yuri, saat ia sudah hampir mencapai pintu.

"Aku rasa kita harus hentikan kegiatan tidak penting ini. Bagaimana jika kita langsung masuk ke permainan utamanya saja?" Awan menyeringai, sementara tubuh Yuri bergetar hebat, saat laki-laki itu telah berhasil menangkapnya. Ia bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin karena sangat ketakutan.

"Lepas! Lepaskan aku baj*ngan!" Gadis itu menangis, meronta, dan terus berusaha melepaskan diri.

"Aku berjanji kau akan menikmatinya, sayang." Dengan cepat, awan menggendong Yuri dan meletakkan gadis itu di atas pundaknya.

Tok!! Tok!! Tok!!

Yuri dan Awan sama-sama terpaku mendengar suara ketukan pintu. Mereka seperti tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.

Tok!! Tok!! Tok!!

" To..!!!" Awan dengan cepat menurunkan Yuri dari gendongannya dan langsung membekap mulut Yuri dengan tangannya sebelum gadis itu sempat berteriak meminta tolong.

"Mmmmpppphhh" Yuri masih terus meronta dan berusaha menjauhkan tangan Awan dari mulutnya. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk selamat dari laki-laki itu.

Awan semakin panik. Kepanikannya bertambah saat orang yang mengetuk pintu itu semakin mengeraskan suara ketukannya.

Tok!! Tok!! Tok!!

"Aku akan melepasmu malam ini. Asal kau tidak mengadukan apa yang ku lakukan. Kau setuju?" Awan berbisik di telinga Yuri, sementara gadis itu langsung mengangguk.

"Apa aku bisa memegang kata-katamu? Kau tahu aku bisa nekad jika kau mengkhianatiku lagi," ucap Awan sambil menatap Yuri dengan tajam dan gadis itu menganggukkan kepalanya sekali lagi.

Awan melepaskan Yuri. Ia pun segera mengantarkan Yuri ke pintu dan bersembunyi di balik pintu itu.

Tok!! Tok!! Tok!!

Ceklek

"S-siapa?" Yuri berbicara dengan sedikit gugup.

Kondisi gadis itu benar-benar kacau balau saat membukakan pintu bagi tamunya. Rambutnya acak-acakan. Betis dan lututnya membiru dan ada jejak darah berceceran di lantai.

"Eh, Yuri kaki kamu kenapa?" Tina tetangga Yuri seketika langsung panik.

"Maaf, anda Budhe Tina?" Yuri mencoba memastikan suara orang yang berdiri di hadapannya.

"Iya. Memangnya Budhe berubah jadi artis sampai kamu tidak mengenali wajah Budhe lagi?" Wanita paruh baya itu belum menyadari perubahan Yuri.

"Saya sekarang buta Budhe. Saya hanya mengenali orang dari suaranya. Maaf, jika Budhe jadi merasa tidak nyaman," tutur Yuri menjelaskan kondisinya.

"Nasibmu malang sekali, Yuri. Kenapa bisa begitu? Jadi, darah ini, luka-luka di kaki ini karena kamu berjalan dan menabrak semuanya karena mau membukakan pintu untuk Budhe?" Wanita itu seketika merasa bersalah. Yuri mengangguk saja, sebab ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.

"Kalau begitu boleh budhe masuk. Biar budhe mengobati lukamu dulu. Sini budhe bantu." Tina langsung melangkah masuk ke dalam rumah.

"Tidak usah Budhe. Jangan repot-repot," ucap Yuri berusaha menghentikan wanita itu. Namun, wanita itu tidak menghiraukan kata-kata Yuri dan ia menerobos masuk ke dalam rumah sambil menggandeng tangan Yuri.

Saat posisi wanita itu sedang memunggungi pintu, dengan cepat Awan keluar dari balik pintu dan pergi meninggalkan rumah Yuri tanpa diketahui oleh siapapun.

Awalnya wanita paruh baya itu berkunjung karena ingin mengantarkan nasi kotak ke rumah Yuri. Anak perempuannya baru saja merayakan tujuh bulan kehamilannya. Sebagaimana tradisi masyarakat di sana, mereka akan membagi berkat berupa makanan kepada tetangga-tetangga sebagai rasa ungkapan syukur.

Untung saja Tina datang di saat yang tepat. Wanita itu menjadi penyelamat bagi Yuri. Kini, ia bahkan berniat membantu mengobati lukanya, membantu membersihkan sisa pecahan kaca, dan membersihkan jejak darah yang mulai mengering di lantai.

Wanita itu sebenarnya tidak terlalu akrab dengan Yuri. Namun, saat melihat kondisi Yuri yang memprihatinkan, hati keibuannya langsung tergerak.

Selama mengobati Yuri, ia banyak bertanya tentang penyebab Yuri bisa tiba-tiba menjadi buta, dimana suaminya berada sekarang, dan mengapa ia sendirian di rumah itu. Ia benar-benar merasa iba dengan kondisi perempuan buta itu.

Yuri pun terpaksa mengarang cerita untuk menjawab semua pertanyaan tetangganya itu. Ia mengatakan bahwa suaminya dan dia mengalami kecelakaan. Laki-laki itu masih dirawat di rumah sakit karena luka yang cukup parah, sementara Yuri mengalami kebutaan setelahnya.

Yuri terpaksa berbohong. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Gadis itu hanya berharap bisa segera meninggalkan desa ini dan memulai hidup di tempat yang baru.

Saat semua sudah selesai, wanita itu pun segera berpamitan pulang. Ia bahkan berjanji akan mengecek kondisi Yuri setiap hari, jika ia memiliki waktu luang. Yuri pun mengucapkan banyak terima kasih kepada wanita itu.

Gadis itu segera mengunci pintu selepas kepergian Tina. Saat ini, ia masih bersandar pada pintu yang tertutup karena tidak ada tenaga yang bisa ia gunakan untuk berjalan.

Yuri terus bersandar dan ia pun kembali menangis. Ia sangat ketakutan memikirkan bahwa Awan hampir saja memperkosanya tadi. Yuri sungguh tidak tahu harus berbuat apa sekarang, sebab ia menyadari bahwa jika ia masih selamat hari ini, itu hanyalah sebuah keberuntungan.

Yuri masih menangis hingga ia mendengar suara mobil yang cukup familiar. Yuri tahu siapa yang datang mengunjunginya sekarang.

Dengan cepat gadis itu membuka pintu. Laki-laki yang hendak mengetuk pintu itu pun cukup terkejut melihat Yuri sudah membuka pintu rumahnya dan berdiri di hadapannya dengan wajah yang pucat.

"Kak Radit. kaukah itu?"Yuri berucap sambil menangis.

 ----------------

Selamat membaca! Hari ini double up ya gengs. Sore ada satu episode lagi.

1
Fi Fin
kapan ada sinar bahagia yuri 😭😭😭
Rinisa
Novel yg sangat bagus & menyentuh...👍🏻👍🏻👍🏻
Rinisa
best
Rinisa
Beneran bram masih hidup ....
Rinisa
Next read
Sri Widjiastuti
pasrah amat yahh??
Rinisa
Akhirnya...
Rinisa
Next
Rinisa
Cinta Yuri begitu besar kepada Bram...
Rinisa
Bram Cemburu...😍
Rinisa
So sweet...🤗😍
Rinisa
Novel ke 1 & 2 sangat bagus, saya yakin yg ke 3 ini juga pasti bagus...👍🏻🤗
Gendhuk sri
kerennn
Gendhuk sri
deg degan 😭
Gendhuk sri
bram bertahan y yuri juga bertahan demi kamu
Gendhuk sri
bram bram katanya orang berpendidikan pangkat juga tinggi tp mulutmu itu lo pingin gw gampar
Gendhuk sri
cemburu ya
Gendhuk sri
ok kaka novelmu bagus2
Ratna Yuni
kak tirza karya mu emang beda syuka deh
Becky D'lafonte
mulai posesif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!