"Maaf Tuan Muda, karena kesalahpahaman ini. Anda harus menikahi saya." Ucap Carine Anastasya Conwer dengan tatapan sendu.
"Aku tidak butuh maafmu Carine Anastasya, nama palsumu itu tidak bisa mengelabuiku. dan satu lagi, jangan mimpi untuk menjadi istri spesialku. kau bukan tipe, selera, dan wanita yang kucintai. paham!" Tekan Reno Zesnard Phoenix dengan mata menatap tajam.
"Baik Tuan, saya tahu posisi saya." Ujar Carine Anastasya Conwer seraya menundukkan kepala.
Notes: biar tidak bingung, dianjurkan untuk baca novel pertama dengan judul 👉SUAMIKU CEO TAMPAN BERDARAH MAFIA. agar ceritanya nyambung dan teman-teman tidak bertanya-tanya untuk beberapa isi cerita yang mungkin tak dijelaskan secara rincih, termasuk beberapa tokoh cerita yang tak di detail kan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi pesan Max.
Carine masih berwajah bantal, Ia mematung keheranan di samping mobil Tuan Muda. dia bahkan belum mengganti piyamanya, Tuan Muda langsung meraih tubuh Carine dan menggendongnya Ala bridal. Carine terkejut dan terbangun akibat ulah Tuan Muda yang begitu tiba-tiba.
Kim sudah tiba di Mansion Tuan Muda dan melihat sang Nona, tidak biasanya Nonanya berpenampilan seperti itu. Nona Carine selalu tampil fresh dan cool, tapi sekarang? tetap cantik sih.
"Maaf Ren, sebenarnya ada apa dan kita mau kemana?" tanya Carine melihat 2 koper besar di taruh Alan ke bagasi mobil.
Tuan Muda tak mau menjawab, pria itu acuh tak acuh.
"Ren.... sebenarnya kita itu mau kemana?" tanya Carine lagi, kenapa begitu tiba-tiba. bahkan tadi dia belum mengumpul kesadarannya.
"Bandung!" jawab Reno singkat.
"Tapi bisa kan kalau aku bersiap-siap dulu." kata Carine, masa iya dia pergi dengan penampilan seperti ini. terlebih tujuannya untuk apa dia tak tahu.
"Tidak usah, begitu saja." ketus Reno membuang muka.
"Ishh sebenarnya ada apa!!" geram Carine, Ia sudah tidak bisa sabar menghadapi sikap Tuan Muda yang sering kali seenaknya. contohnya sekarang ini.
"Kita ke Bandung, kau akan tinggal disana. kemarin ada tamu tak di undang, tadi pun ada pengganggu. kalau besok kedatangan penyusup bagaimana!? pokoknya kita pindah! disini sudah tidak aman." Ujar Reno menarik lengan Carine masuk ke dalam mobil dengan langkah jengkel. Ia pun ikut masuk di sebelah sang istri.
Alan yang sudah selesai memasukan barang-barang Nonanya, kini Ia melihat Kim berdiri mematung. tanpa pikir panjang Alan masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Kim yang melihat Nonanya diam tanpa perlawanan, dengan segera menghampiri mobil Tuan Muda untuk meminta kejelasan.
"Maaf Tuan Muda, saya ingin berbicara dengan Nona. Anda baik-baik saja Nona?" tanya Kim memastikan kondisi Nonanya, dia tidak peduli tatapan menusuk dari Tuan Muda. Kim menahan kaca mobil agar tidak ditutup, dan mencegat mobil Tuan Muda.
Kim perlu tahu semua hal tentang Nonanya, bukan tanpa sebab. Ia harus memberikan laporan rutin pada Tuan Axel. yang sampai saat ini masih memantau keadaan putri satu-satunya.
"Aku baik-baik saja Kim," balas Carine, sebenarnya dia cuman bingung kenapa tiba-tiba sekali mereka hendak ke Bandung. dan alasan Tuan Muda sangat tidak logis, perasaan semuanya aman saja.
"Baiklah, kalau Nona kenapa-napa atau Nona membutuhkan sesuatu. bisa langsung hubungi saya," kata Kim dengan tegas, Kim dapat membaca raut penolakan dari Tuan Muda yang tidak menginginkannya kali ini berada di dekat Nona Carine, dan sepertinya Nona tidak masalah dengan hal itu.
"Ya, aku akan menghubungimu...... Eh, ponselku ketinggalan di dalam."Ucap Carine, semalam ponselnya Ia letakan di atas nakas tempat tidur. dan saat tadi Ia tak sempat mengambilnya, keburu di gendong Tuan Muda.
"Ren, tunggu sebentar. ponselku ketinggalan di kamar kita."Ucap Carine meminta izin sebelum mobil melaju meninggalkan Mansion.
"Sudah aku buang."Kata Reno santai, seolah ucapannya itu bukanlah suatu masalah. tetapi keinginan mutlak.
Carine mendongak, kupingnya melebar mendengar tutur kata Tuan Muda begitu santai tanpa beban. adakah yang lebih seenaknya dari Tuan Muda? maka jawabannya tidak ada, Tuan Muda satu-satunya orang yang begitu menjengkelkan di hidup Carine. seenaknya, aneh, suka mengatur, sering berkata sinis, baiknya hanya sesekali bahkan bisa dihitung dengan jari. apalagi coba yang kurang dari pria satu ini.
'Oh iya, dia bilang dia tidak mencintaiku, tapi lihat dia. sikapnya seolah-olah sedang cemburu buta dan membatasi ruang gerakku. Tuan Muda ini sebenarnya maunya apa? kalau memang mulai cinta kan jujur Tuan, atau Anda hanya memakai wajah palsu supaya aku jatuh hati padamu.' Batin Carine menatap wajah Tuan Muda dengan sorot tak percaya.
beberapa hari lalu ponselnya di hancurkan, sekarang ponselnya di buang lalu nanti apalagi yang Tuan Muda mau.
"Tapi kenapa? memangnya ada yang salah dengan ponselnya Ren."Tanya Carine heran.
Tuan Muda menatap mata indah Carine. wajahnya kembali datar, hatinya kesal.
"Ya iyalah, kalau gak ada ngapain aku buang ponselmu itu. bahkan salahmu sangat banyak, padahal aku sudah melarangmu tapi ternyata kau tetap tuli. mulai saat ini kau tidak usah memakai ponsel." Balas Tuan Muda menarik hidung Carine, membuat istrinya itu meringis kesakitan.
"Tuan Muda, bagaimana saya menghubungi Nona?" Tanya Kim, Ia perlu bersuara.
"Aku tidak membutuhkanmu untuk berada di sisinya. dia istriku! aku berhak mengatur siapa saja yang bisa berada di dekatnya. menjadi pengawal, atau menjadi pengganggu seperti dirimu. Alan lajukan mobilnya, tidak yang satunya yang ini juga sama-sama menjengkelkan. bikin rusak moodku saja," Umpat Tuan Muda marah.
Alan mengemudi mobil meninggalkan Mansion, meninggalkan Kim yang berdiri memandangi mobil Tuan Muda.
"Dasar maniak, kalau sudah cinta pada Nona kenapa tidak jujur. sok jual mahal banget jadi orang, mentang-mentang Tuan Muda. kalau pria lain.... semoga Nona tidak kenapa-napa, kalau Tuan Muda menyakiti hati Nona. kapanpun itu aku akan menjemput Nona dan membawa lari Nona dari hidup Tuan Muda kejam itu." kata Kim melihat mobil Tuan Muda yang kini sudah hilang dari pandangan matanya.
Kim masuk ke dalam mobilnya, dan mengendarai mobil itu meninggalkan Mansion Tuan Muda. dia harus melacak Nona Carine tinggal di mana saat di bandung nanti.
...----------------...
Sepanjang perjalanan, baik Tuan Muda dan Carine sama-sama membisu. tidak ada obrolan dari kedua orang itu.
Carine bersandar di kursinya dan menatap jalanan luar, sedangkan Tuan Muda sedang memikirkan pesan Max pada Carine di ponsel Carine.
Kakak Maxilian.
Nama kontak pria itu di ponsel Carine, 'Cih, Tua bangka itu tidak sadar umur dan tidak sadar posisi. dia pikir dia lebih baik dariku, dia hanya seorang asisten di bawah kekuasaan Phoenix grup. sudah seperti partner yang setara saja. padahal dia tahu kalau aku ini Tuan Muda, kenapa begitu nekat mendekati istri orang. apa dia tidak punya rasa malu, memangnya dia punya kekuasaan yang bisa menjamin hidup Carine. benar-benar memalukan.' Umpat Tuan Muda.
Pesan masuk Dari Kakak Maxilian.
Good Morning Dear💕
Aku yakin kamu akan membalas pesanku, Nona Arrogant. aku tahu ini mungkin terlambat, tapi di pagi ini. sebelum kau mengawali harimu, aku ingin mengatakan beberapa hal. jangan pernah bersedih dan jangan pernah terpuruk hanya karena kehadiran orang asing di hidupmu. I am always here for you....
"Orang asing katanya! Aku akan menghabisimu bajingan. antara kau dan aku siapa yang lebih dulu mengenal Carine," Ucap Reno penuh emosi, dia memblokir nomor Max dan menghapusnya permanen. setelah itu Reno membuang ponsel Carine begitu saja ke tempat sampah di kamarnya.
Dan sekarang Tuan Muda sedang mengumpat berkali-kali mengingat pesan lebay Max untuk wanita yang berada di sampingnya saat ini. Tuan Muda melirik Carine, pikirannya flashback.
"Ada apa?" Tanya Carine merasa terganggu dengan tatapan Tuan Muda. "Tidak," balas Tuan Muda mengalihkan pandangan.
...----------------...
Di sisi lain.
Max duduk di sebuah ruangan gelap, di markas bawah. dunianya dikelilingi mafia-mafia kelas kakap, Max tersenyum smirk.
"Aku tidak akan mundur," Tekad Max.
Max dengan sengaja memberikan buket bunga, Ia yakin Tuan Muda yang akan menerimanya. termasuk membaca pesan dari ponsel Carine, feelingnya tidak pernah salah. Max akan membuat Tuan Muda tahu arti seorang Carine yang sangat berharga.
Max tidak rela wanita yang dicintainya harus disepelekan, bahkan mendapat perlakuan kasar. dirinya bisa memberikan apapun untuk Carine, hanya saja waktu seolah mempermainkannya.
"Maka aku akan bermain-main dengan takdir bodoh ini." Ujar Max terdengar menakutkan. "Aku akan merebutnya kalau dia disakiti, mustahil bagiku membiarkan seseorang yang kucintai di jadikan bahan mainan." tuturnya melempar bola billiard dengan keras mengenai dinding kaca hingga pecah.
Senyumannya begitu mematikan, hanya dia dan Tuhan yang tahu arti senyuman itu. adakah kesedihan yang disembunyikan? atau Ia sedang menertawakan hidupnya sendiri.
...bersambung..... ...
klo hatinya memang untuk Reno, ngapain pke acara kabur?? apalagi pke ketemu sama Max yang notabene menyukai amat sangat ke Carine. haddeehhh