ig : @dora_eyha
Kehidupan rumah tangga yang bahagia menjadi impian bagi setiap pasangan menikah. Namun, jalan terjal selalu siap menantang di masa depan.
Seperti yang dialami Daffin Miyaz Stevano dan istrinya Zafreena Evren Stevano, bertahun-tahun menikah mereka tak kunjung mendapatkan buah hati.
Hingga muncullah rencana gila dari Reena saat melihat Ayasya, janda muda yang di tinggal mati oleh suaminya.
Akankah, Daffin menuruti keinginan Reena?
Lantas, bagaimana nasib Ayasya sang janda muda?
Mari simak kisah romantis penuh haru yang di balut konflik dan intrik pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eyha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKAN BUNTAL
"Bintang laut?" Aku memicingkan mataku mencoba untuk memahami ucapan Daffin.
Pria tiran itu tersenyum sendiri melihat kebingungan di wajahku. Sepertinya itu ejekan darinya untukku, mungkin juga itu balasan karena aku sering kelepasan menyebutnya Plankton.
"Iya, kau bintang laut." Bola mata Daffin memancarkan kebahagiaan. "Karena ...."
"Karena apa?" Aku sudah tidak sabar menunggu jawaban Daffin, kini posisi kami berdua sudah duduk berhadapan.
Lagi-lagi Daffin tersenyum penuh arti. "Kau gendut, pemalas dan suka makan." ucap Daffin, dengan jarinya yang menghitung semua kejelekan yang ada pada diriku. Tentu saja, itu hanya di mata Daffin karena aku tidak seperti yang dia katakan.
Pipiku menggembung, menahan kekesalanku atas penghinaan Daffin. "Aku tidak seperti itu!"
"Memang. Kau sudah tidak seperti bintang laut, tapi sekarang kau seperti ikan buntal."
Telunjuk Daffin menusuk pipiku yang menggembung dan bersamaan dengan itu, tawa Daffin mengisi suasana malam hari yang hening.
Garis wajah Daffin yang maskulin dan rahangnya yang kuat semakin menawan saat menampakkan kebahagiaan dan tawa yang lepas seperti itu. Cukup lama aku menatapnya, tak pernah aku lihat sebelumnya Daffin tertawa dengan lepas bahkan saat dia bersama kak Reena.
'Apakah dia benar-benar mabuk?'
"Ambil ini!" Daffin menyodorkan sebuah kartu padaku.
"Apa ini? Apa ini kartu tanda pengenal?" Aku membolak-balikkan kartu berwarna hitam itu.
Daffin mengambil kartu yang berada di tanganku. "Ini black card. Kau bisa membeli apapun yang kau inginkan. No limited."
"Black card?"
"Hemm ...."
"Aku tahu kartu ini berwarna hitam. Aku juga bisa menggunakan bahasa asing sepertimu, Daffin."
Terdengar Daffin mendengus kemudian terkekeh karena ucapanku. "Ya, terserah kau saja."
"Daffin, beri tahu aku! Apakah ini semacam kartu kredit?"
"Hemm ...."
"Itu artinya aku membeli barang dengan berhutang?"
"Tidak. Apapun yang kau beli akan masuk ke rekeningku dan aku yang akan membayarnya."
"Benarkah?"
"Hemm ...."
Tiba-tiba pikiran konyol terlintas di kepalaku. "Apa aku bisa membeli rumah dengan kartu ini?"
Seketika bola mata Daffin tertuju padaku. "Untuk apa kau membeli rumah?"
"Aku hanya berjaga-jaga jika sewaktu-waktu kau meratakan rumahku ini."
***
Sepanjang malam aku dan Daffin terus saja mengobrol dan membicarakan hal yang tidak jelas dan tidak bermanfaat sama sekali, hingga dini hari menjelang aku pun mulai merasakan kantuk yang luar biasa.
"Kau mau kemana?" tanya Daffin, saat aku hendak pergi ke kamarku.
"Tidur. Aku sangat lelah, mataku bahkan tidak mau terbuka." jawabku dengan mata terpejam seolah aku tertidur sambil berjalan.
"Tidurlah! Aku akan menjemputmu nanti sore." Daffin sudah menyampirkan jasnya di tangan.
"Tunggu dulu, Daffin! Kau akan membawaku kemana?"
"Tenang saja, aku tidak akan membuangmu ke laut."
Aku mendengus. "Itu adalah pilihan terbaik yang aku miliki saat ini."
"Baiklah, aku akan memenuhi keinginanmu. Bersiaplah sebelum kau menemui teman-temanmu di dasar laut."
Daffin melenggang pergi dan melambaikan tangannya tanpa memperdulikan aku yang sangat kesal dengan ucapannya.
***
Setelah kepergian Daffin, aku benar-benar menghabiskan sepanjang hariku untuk tidur. Mungkin memang benar aku sudah seperti bintang laut, karena yang aku lakukan hanya makan dan tidur. Tapi itu semua aku lakukan karena memang tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Daffin mengurungku di rumahku sendiri. Anehnya, tidak ada seorang pun yang bertanya ataupun merasa curiga dengan beberapa pengawal yang berjaga di depan rumahku.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu mengusik tidurku yang nyenyak. Dengan malas aku membuka mataku dan beringsut turun dari tempat tidur untuk membuka pintu.
"Siapa yang mengetuk pintu kamarku? Apakah para pengawal itu?" Aku bergumam sebelum aku melihat siapa yang berdiri di balik pintu.
Begitu pintu terbuka, aku melihat seseorang yang sangat ingin aku temui. "RANIA!!!"
Tubuh Rania sampai terhempas saat aku memeluknya karena terlalu bahagia melihatnya kembali.
"Nyonya muda," Rania membalas pelukanku.
"Kemana saja kau selama ini? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau pergi?" Aku menyerbu Rania dengan rentetan pertanyaanku, tapi aku langsung menyadari kesalahan yang ku perbuat. "Maafkan aku, Rania! Semua ini salahku, jika aku tidak menipumu hari itu ...."
"Tidak, Nyonya muda, semua ini bukan salah anda." Rania menggenggam tanganku. "Ini, es krim rasa sop buah yang anda inginkan."
Aku menatap semangkuk besar es krim di tangan Rania. "Ini? Kau yang membuatnya?"
Anggukan kepala Rania membuatku terharu sekaligus merasa bersalah. Ternyata, dia benar-benar melakukan apa yang aku minta. Bahkan aku saja sudah melupakan permintaan anehku itu.
"Terima kasih, Rania," Senyum dan air mata menghiasi wajah bantalku.
Aku membawa Rania masuk ke dalam kamarku. Aku sempat menangkap basah Rania yang sedang mengamati isi kamarku.
"Kamar ini memang tidak sebesar kamarku di rumah Daffin, tapi aku lebih suka tinggal disini." Satu sendok es krim masuk dengan lancar ke mulutku. "Emm ... ini sangat enak!"
Rania tertawa melihat tingkahku yang seperti anak kecil. "Pelan-pelan saja, Nyonya muda,"
Semangkuk besar es krim yang berada di pangkuanku langsung aku pindahkan ke meja begitu aku melihat Rania menghampiri kotak-kotak sepatu di sudut ruangan yang di berikan Daffin.
"Ini semua milik anda, Nyonya muda?" tanya Rania, tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Entahlah, Rania, Daffin yang memberikannya." Aku mengambil salah satu kotak sepatu itu dan membukanya.
Sebuah sepatu yang sangat cantik tersimpan rapih di dalam kotak. Desainnya sangat cantik dan saat aku mencobanya, ukuran sepatu itu sangat cocok di kakiku.
"Tuan sangat tahu apa yang sesuai untuk anda, Nyonya muda,"
'Dia pemain wanita. Pasti dia sudah tahu apa yang di sukai dan tidak di sukai oleh wanita.'
Aku tersenyum hambar sembari melepaskan sepatu itu dan meletakkannya kembali ke dalam kotak.
"Jangan di simpan lagi, Nyonya muda! Sepatu ini sesuai untuk gaun yang akan anda gunakan." Rania menahan kotak yang akan aku letakkan kembali.
"Gaun?"
"Iya, Nyonya muda, sebentar akan saya ambilkan." Dengan cepat Rania melesat keluar dari kamarku.
Baru saja aku akan menyuapkan kembali es krim ke dalam mulutku, aku melihat Rania sudah kembali dan membawa sebuah gaun pesta yang sangat cantik.
"Ini gaun anda, Nyonya muda," Rania mengangkat gaun itu ke udara untuk di tunjukkan padaku.
"Cantik, tapi untuk apa gaun itu? Aku hanya tahanan. Tidak perlu memakai gaun secantik itu." lirihku, di susul sesendok es krim yang setidaknya bisa mengurangi kepahitan hidupku.
Senyum Rania mengembang. "Tentu saja anda akan pergi ke pesta bersama tuan."
"Apa? Pesta apa? Dimana kak Reena?"
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
masya allah luar biasa ceritamu thorr,,, dari awal sampai di bab ini aku suka semuanya apalagi sifat ayaya huh yg begitu menggemaskan😘