Menikah mungkin di inginkan bagi semua orang.
Tapi tidak dengan gadis ini, yang tiba-tiba di seret oleh seorang laki-laki tampan. di paksa menikah dengannya. karena perjanjian dari ibunya secara diam-diam menginginkan jika anaknya segera menikah, untuk menyambung hidup lebih baik.
di statusnya yang masih sekolah. dengan terpaksa ia menikah dengan tuan muda tampan dari pemilik perusahaan terkenal Morgan Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imas Gustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelembutan Devid
"Udah sini aku yang suapin, kamu diam jangan banyak gerak"ucap Devid.
"Iya"jawab Salsa kesal, ia mengerutkan bibirnya menatap, dengan kepala menunduk ke bawah seakan malas untuk menatap Devid lagi. Bagaimana gak malas perhatiannya bikin dia semakin kesal.
Devid mulai meniup soup jahu panas di sendok pertama. "Buka mulut"ucap Devid cuek.
Nih laki gimana sih, perhatian tapi cueknya minta ampun, ingin aku jitak tuh kepalanya. Kesel kalau lihat lelaki sok cuek seperti dia, gerutu Salsa dapan hatinya.
"Haaa.."Salsa membuka mulutnya lebar, ia melirik tajam ke arah Devid namun apalah daya, ia sekarang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ingin rasanya menendang jauh Devid di hadapannya. Namun kakinya terasa kaku tak bisa bisa bergerak leluasa. Sekujur tubuhnya juga masih terasa sangat capek. Ia butuh istirahat cukup nih apalagi besok dia sudah mulai sekolah lagi.
"Nah gitu nurut."ucap Devid. Ia terus suapin Salsa se-sendok demi sendok. Dengan lahapnya Salsa menikmati tanpa menolak. Hingga habis satu mangkok kecil.Salsa hanya diam dan mengamati cara Devid yang perduli dengannya.
" Sekarang kamu tidurlah"ucap Devid, beranjak berdiri.
"Tunggu!! kamu mau kemana?" tanya Salsa memegang pergelangan tangan Devid mencegahnya pergi.
"Mau ke kamar mandi, kenapa? Apa kamu mau ikut?" tanya Devid menggoda dengan senyum semringainya.
Salsa melebarkan matanya seketika. "Apa? gak, gak, ogah aku ikut."ucap Salsa dengan wajah yang mulai memerah.
"Kalau gak mau kenapa merah gitu wajahmu, apa itu efek jahe tadi? Atau kamu memang sengaja mau menyentuhku ya?" tanya Devid menggoda.
Salsa seketika langsung melemparkan tangan Devid yang dari tadi ia pegang.
"Apaan sih, aku kira kamu ke dapur. Sekalian bawa ini mangkok. Dan bawakan aku minum serta camilan seadanya dan bawa minuman dingin yang banyak. Siapa tahu nanti aku tiba-tiba pengen nyemil, waktu terbangun tengah malam"gumam Salsa tersenyum tipis dengan kedipan menggoda pada Devid seolah dia berharap Devid mau menuruti permintaannya.
Ini anak sakit, tapi kenapa minta minuman dingin sih, baru saja sembuh. Biarkan saja aku kasih minuman seadanya saja. Yang penting gak minuman dingin. Dia itu kalau di bilangin bawelnya bikin gemes. Gumam Devid tersenyum tipis membayangkan wajah Salsa saat pertama bertemu. Hari uang tak terduga ia bisa kenal dengan Salsa.
"Baiklah, tapi bentar aku ke kamar mandi dulu"ucap Devid, dengan terpaksa harus menuruti kata Salsa. Sekalian membalas soal perbuatanya tadi yang membuat Salsa jadi seperti ini. Dan hampir membuat Salsa mati ketkutan tadi di halte.
Salsa terlihat senang, ia menatap punggung Devid yang sudah berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Sepertinya dia merasa bersalah, sekarang ini saatnya kesempatanku. Aku harus membalas dia. Ini kesempatan aku untuk nyuruh-nyuruh dia. Selagi dia mau menuruti aku akan terus pura-pura sakit sampai puas membalas semuanya"ucap Salsa dengan otak sudah penuh dengan rencana untuk ngerjain Devid.
Devid keluar dari kamar mandi. Tanpa menatap ke arah Salsa ia meraih mangkuk kecil di meja samping ranjang dan beranjak pergi dari kamar Salsa.
"Ini baru permulaan, kita lihat permainan nanti tuan Devid yang terhormat"gerutu Salsa.
Merasa Devid sudah pergi jauh, Salsa berbaring lagi di ranjangnya. dan perlahan mulai memejamkan matanya. Menarik selimutnya menutupi sebagian tubuhnya.
"Ini snack dan minuman buat kamu"ucap Devid yang langsung masuk ke kamar Salsa. ia menatap Salsa sudah terbaring memejamkan matanya.
"Dia tidur?" tanya Devid dalam hatinya. "Terus kenapa dia minta bawakan minuman dan snack, apa dia mau ngerjain aku" lanjutnya dalam hati.
Salsa yang pura-pura tidur hanya diam menutup rapat matanya. menahan senyum yang seakan dari tadi ingin keluar dari bibir tipisnya.
Devid berjalan mendekati Salsa menatap wajah cantiknya saat terpejam. Ia menyentuh pipinya yang terasa lembut dengan telapak tangannya. "Mimpi indah"ucapnya.
"Dia ternyata menyentuhku, tangannya lembut banget saat mengusap pipiku"ucap Salsa dalam hatinya. Wajah salsa tiba-tiba memerah lagi. tetesan keringat karena gugup mulai keluar dari dahi Salsa.
"Spertinya keadaan dia semakin membaik, dia sudah mengeluarkan. keringat"gumam Devid. Sebuah benda kenyal menyentuh bibir manis Salsa.
"Oooppss apa yang ia lakukan, dia menciumku. Apa ini, kecupannya tidak seperti biasanya yang ganas dan seakan penuh amarah. kini dia terlihat lembut. "gumam Salsa dalam hatinya.
"Aku tinggal dulu ya, kamu tetap di sini tidur nyenyak"ucap Devid mengusap lembut rambut Salsa.
Menerima kelembutan sentuhan tangan Devid seakan Salsa tak bisa bernapas lega. Dadanya sangat sesak.perlakuan lembutnya benar-benar membaut jantunya terus berdegup tidak beraturan.
Menghilangkan rasa gugupnya, Salsa memiringkan tubuhnya ke kiri agar Devid tidak melihat wajahnya yang semakin memerah, keringat dingin terus bercucuran. "Cepat pergi."gumam Salsa dalam hatinya. "Kalau dia di sini terus aku lama-lama gak bisa napas"lanjutnya dalam hati.
Devid melangkahkan kakinya beranjak pergi dari kamar Salsa. sebelum menutup pintu Devid menatap ke arah Salsa melihatnya sekilas sebelum ia pergi dan mulai menutup pintunya.
"Sepertinya dia sudah pergi"gumam Salsa yang dari tadi masih pura-pura tidur. Mendengar ruangan kamar barunya itu nampak sepi, Salsa segera membuka matanya, mengusap dadanya berkali-kali. Akhirnya dia bisa bernapas lega. "Hah... untung dia cepat pergi"gumam Salsa.
Salsa teringat dengan bibirnya yang di cium lembut oleh Devid. Bagaikan mimpi dapat kecupan tidur dari seseorang. Yang dari dulu belum pernah ia rasakan. Dan tiba-tiba Devid berubah lembut dengannya.
---00---
Sementara Devid berjalan menuju ke kamarnya. yang tidak jauh dari kamar Salsa hanya berjarak 5 langkah daei kamarnya.
"Ahh.. hari ini benar-benar melelahkan"gumam Devid melemparkan ponselnya di ranjang, ia segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang putih miliknya. Ia merentangkan kedua tangannya lebar untuk melegakan ototnyanya yang terasa sangat capek.
"Drrtttt... drrtttt.."
"Siapa kagi ganggu aja."gumam kesal Devid.
"DEVID!"Teriam Dea menggelegar di balik ponselnya, seketika ia menjauhkan ponselnya dari telinga kananya.
"Ada apa sih? Kennapa teriak?" tanya kesal Devid.
"Kemu kemana? dari. tadi tidak bisa di hubungi, dan aku telefon ke Devian katanya kamu keluar lagi. Emanya kamu kemana? apa kamu nyusul Salsa itu ya? dan sekarang kamu di mana? Apa menginap di hotel dengannya?" belum menjawab satu pertanyaan dari Dea. Devid di berondong berbagai omelan pertanyaan bertubi tubi dari Dea tak hentinya.
"Kalau tanya satu-satu, jangan tanya terlalu banyak. Pusing yang mau jawab" ucap Devid menutup telefonnya dan melemparkan kembali ponselnya di ranjang.
"aku tidak mau di ganggu"ucap Devid, menatap atap langit kamarnya. Ia terlihat kesal, hari ini pikirannya sangat penat di ganggu Dea lagi.