Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 aneh
Hari mulai beranjak malam setelah seluruh rangkaian pemakaman selesai. Para pelayat satu per satu meninggalkan area pemakaman, menyisakan keluarga yang masih larut dalam kesedihan. Udara terasa begitu dingin, seolah ikut berkabung atas kepergian kepala keluarga Mahendra.
Anna berdiri cukup lama di depan pusara ayahnya. Matanya sembap, tetapi pikirannya justru dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Semakin mengingat kejadian sebelum ayahnya terjatuh, semakin besar rasa janggal yang mengusik hatinya. Ayahnya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi pria itu selalu berhati-hati ketika berjalan. Terlebih lagi, tangga rumah mereka dilengkapi pegangan yang kokoh dan tidak pernah menimbulkan masalah sebelumnya.
Anna mengingat kembali wajah ayahnya pada pagi itu. Seolah ada sesuatu yang ingin segera diselesaikan, sesuatu yang begitu penting hingga beliau memaksa naik ke ruang kerja sendirian. Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, semuanya sudah terlambat.
"Ada yang aneh..."
gumam Anna lirih.
"Tapi apa..."
Ia mengusap air mata yang kembali mengalir, berjanji dalam hati bahwa suatu saat nanti ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum ayahnya jatuh.
Sementara itu, Nadia berpamitan kepada ibu Adrian dan Anna. Meski kini statusnya bukan lagi bagian dari keluarga Mahendra, ia tetap menundukkan kepala penuh hormat di hadapan wanita yang pernah menjadi ibu mertuanya.
"Jaga kesehatan, Bu."
ucap Nadia pelan.
Ibu Adrian menggenggam tangan Nadia erat-erat.
Air matanya kembali jatuh.
"Maafkan Ibu..."
hanya itu yang mampu diucapkannya.
Nadia tersenyum tipis sambil mengangguk, tidak ingin memperpanjang penyesalan yang kini sudah tidak dapat mengubah apa pun.
Di luar rumah, Revano telah menunggu sejak sore. Begitu melihat Nadia keluar dengan wajah yang begitu pucat, ia segera menghampiri.
"Kamu pasti lelah."
ucapnya lembut.
"Sudah, biar aku antar pulang."
Nadia mengangguk pelan. Tubuhnya memang terasa sangat lemas, ditambah kehamilannya yang membuat emosinya semakin terkuras sepanjang hari.
Saat hendak menuju mobil, langkah Nadia sedikit goyah.
Refleks, Revano mengangkat tangannya dan menopang pundak Nadia agar tidak kehilangan keseimbangan.
"Hati-hati."
ucapnya pelan.
"Jangan memaksakan diri."
Pemandangan sederhana itu ternyata tidak luput dari perhatian Adrian yang masih berdiri beberapa meter di belakang mereka.
Tatapannya langsung mengeras.
Rahangnya mengatup kuat.
Entah mengapa, melihat tangan Revano berada di pundak Nadia membuat dadanya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.
Kesal.
Marah.
Dan... cemburu.
Padahal ia sadar, semua hak untuk merasa demikian telah hilang sejak ia sendiri yang menghancurkan rumah tangganya.
Namun kenyataan bahwa kini ada pria lain yang berdiri di sisi Nadia, yang dengan sabar menjaganya dan memperlakukannya dengan penuh perhatian, terasa seperti tamparan yang terus mengingatkannya pada semua kesalahan yang pernah ia lakukan.
Bianca yang berdiri tidak jauh dari Adrian mengikuti arah pandangan suaminya. Ia melihat bagaimana Adrian terus memperhatikan Nadia hingga mobil Revano perlahan meninggalkan halaman rumah.
Bibir Bianca mengatup rapat.
Hatinya kembali dipenuhi kegelisahan.
Tatapan itu bukan tatapan seorang mantan suami yang telah benar-benar melepaskan.
Melainkan tatapan seseorang yang baru menyadari betapa berharganya orang yang telah ia kehilangan.
Dan hal itu membuat Bianca semakin takut, sementara di sudut lain, Anna masih memandang rumah yang kini terasa kosong, dengan firasat bahwa kepergian ayahnya mungkin menyimpan sesuatu yang belum terungkap.
Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Nadia hanya memandang keluar jendela mobil, membiarkan lampu-lampu jalan berlalu begitu saja di depan matanya. Sejak menerima kabar duka hingga mengantarkan mantan ayah mertuanya ke tempat peristirahatan terakhir, semuanya terasa seperti mimpi buruk yang terjadi terlalu cepat. Beberapa hari yang lalu pria itu masih sempat berbicara dengannya, masih memikirkan masa depan cucunya, bahkan masih berusaha melindunginya meski statusnya bukan lagi menantu keluarga Mahendra.
Kini, semua itu hanya tinggal kenangan.
Air mata Nadia kembali mengalir tanpa suara.
"Ayah begitu baik kepadaku..."
ucapnya lirih.
"Beliau satu-satunya yang selalu membelaku saat semua orang menyalahkanku."
"Aku bahkan belum sempat berpamitan..."
Suara Nadia pecah di akhir kalimatnya.
Revano yang sedang mengemudi melirik sekilas ke arahnya. Melihat Nadia terus menangis membuat hatinya ikut sesak, tetapi ia tahu tidak ada kata-kata yang mampu menghapus kehilangan sebesar itu.
"Nadia..."
ucapnya lembut.
"Aku tahu ini sangat berat."
"Tapi sekarang kamu tidak sendirian."
Revano berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Jangan lupa, ada seseorang yang harus kamu jaga."
Perlahan pandangannya mengarah ke perut Nadia.
"Kandunganmu sudah memasuki usia lima bulan."
"Kalau kamu terus memaksakan diri menangis dan kelelahan seperti hari ini, aku khawatir kesehatanmu akan terganggu."
Nadia refleks mengusap perutnya.
Tangisnya perlahan mereda.
Ia mengangguk kecil.
"Aku akan berusaha kuat."
bisiknya.
"Bukan lagi hanya untuk diriku."
"Tapi juga untuk anakku."
Revano tersenyum tipis. Baginya, melihat Nadia mulai mengingat alasan untuk tetap bertahan sudah menjadi sedikit kelegaan di tengah hari yang begitu menyedihkan.
Malam semakin larut.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Nadia berbaring di atas tempat tidur di rumah Vania. Namun matanya sama sekali tidak dapat terpejam. Setiap kali menutup mata, bayangan peti jenazah mantan ayah mertuanya kembali muncul. Pesan terakhir pria itu yang disampaikan Anna terus terngiang di telinganya.
"Jaga Nadia... dan jangan biarkan cucuku kehilangan keluarga."
Tanpa sadar, air mata kembali mengalir.
Nadia memeluk bantal sambil memandang langit-langit kamar.
"Kenapa semuanya terjadi secepat ini..."
gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, ponselnya yang berada di samping tempat tidur bergetar.
Nama Anna muncul di layar.
Nadia segera membuka pesan tersebut.
Kak Nadia, apa Kakak masih belum tidur?
Nadia segera membalas.
Belum. Ada apa, Anna?
Balasan dari Anna datang hanya beberapa detik kemudian.
Aku tidak bisa tenang sejak tadi.
Semakin kupikirkan, semakin terasa ada yang aneh.
Nadia mulai mengernyit.
Jemarinya bergerak cepat di atas layar.
Aneh bagaimana?
Beberapa saat kemudian pesan panjang kembali masuk.
Ayah tidak mungkin jatuh begitu saja dari tangga.
Tangga di rumah memiliki pegangan di kedua sisi, Ayah juga selalu berhati-hati sejak keluar dari rumah sakit.
Sebelum kejadian, Ayah sempat mengatakan ingin mengambil sesuatu di ruang kerja. Setelah itu... semuanya terjadi begitu cepat.
Jantung Nadia mulai berdetak lebih kencang.
Matanya terus membaca setiap kalimat.
Aku punya firasat... ada sesuatu yang disembunyikan.
Aku tidak tahu apa, tapi aku yakin ini bukan kecelakaan biasa.
Nadia membeku.
Perlahan ia menurunkan ponselnya.
Tatapannya berubah serius.
Untuk pertama kalinya sejak kabar duka itu datang, muncul sebuah pertanyaan yang membuat bulu kuduknya meremang.
Bagaimana jika kematian ayah mertuanya memang bukan sekadar kecelakaan?
Malam itu rumah keluarga Mahendra dipenuhi keheningan yang terasa begitu menyesakkan. Setelah seluruh rangkaian pemakaman selesai, para kerabat dan pelayat satu per satu kembali ke rumah masing-masing. Ibu Adrian tertidur karena kelelahan setelah terus menangis seharian, Bianca memilih beristirahat di kamarnya, sementara para asisten rumah tangga juga telah mematikan lampu dapur sebelum masuk ke kamar mereka.
Namun Anna sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Pikirannya terus kembali pada detik-detik sebelum ayahnya meninggal.
Semakin diingat, semakin banyak hal yang terasa janggal.
Anna menghela napas panjang lalu keluar dari kamarnya. Perutnya mulai terasa lapar karena seharian hampir tidak makan. Ia memutuskan membuat semangkuk mi instan sendiri agar tidak membangunkan para pembantu yang sudah beristirahat.
Saat melewati lorong menuju dapur, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Dari ujung lorong ia melihat pintu ruang kerja ayahnya terbuka sedikit.
Sesosok pria keluar dengan langkah tergesa-gesa.
Adrian.
Anna spontan bersembunyi di balik dinding.
Wajah kakaknya terlihat tegang. Adrian beberapa kali menoleh ke kanan dan kiri sebelum buru-buru menutup pintu ruang kerja, lalu berjalan cepat menuju kamarnya di lantai atas.
Anna mengernyit.
"Apa yang Kak Adrian lakukan di ruang kerja Ayah selarut ini?"
gumamnya pelan.
Rasa penasarannya semakin besar, tetapi ia memilih melanjutkan langkah menuju dapur.
Begitu lampu dapur dinyalakan, Anna mulai mengambil panci dan menuangkan air. Namun saat hendak mengambil gelas untuk minum, pandangannya tertuju pada sebuah cangkir yang masih berada di atas meja dapur.
Di dasar cangkir masih terlihat sisa cairan hitam pekat.
Anna mendekat.
Aroma kopi langsung tercium jelas.
"Kopi?"
bisiknya.
Keningnya langsung berkerut.
Yang membuatnya terdiam bukanlah kopinya.
Melainkan cangkir tersebut.
Perlahan Anna mengambil cangkir itu dengan kedua tangannya.
Tatapannya membeku.
Di bagian depan cangkir terdapat ukiran wajah seorang pria tua yang sedang tersenyum.
Itu wajah ayahnya.
Anna mengenali cangkir itu seketika.
Beberapa tahun lalu, saat masih kuliah seni, ia pernah membuat satu set cangkir keramik untuk seluruh anggota keluarga sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. Setiap cangkir dibuat berbeda, lengkap dengan ukiran wajah pemiliknya yang digambar dan dipahat sendiri olehnya.
Ayah memiliki cangkir bergambar wajahnya.
Ibu memiliki cangkir bergambar dirinya.
Begitu pula Adrian, Anna, bahkan tamu tetap memiliki cangkir masing-masing.
Tidak mungkin tertukar.
Anna memandangi sisa kopi di dalam cangkir itu dengan dada berdebar.
"Ayah..."
gumamnya lirih.
"Dokter sudah melarang Ayah minum kopi sejak penyakit jantungnya memburuk."
Bahkan seluruh penghuni rumah mengetahui aturan itu.
Selama bertahun-tahun, ayahnya hanya diperbolehkan minum teh hangat atau air putih.
Yang masih rutin meminum kopi di rumah itu hanyalah Adrian.
Setiap pagi sebelum berangkat bekerja, kakaknya hampir tidak pernah melewatkan secangkir kopi hitam.
Lalu...
Mengapa kopi itu berada di dalam cangkir milik ayah?
Anna menggenggam cangkir tersebut semakin erat.
Pikirannya mulai menghubungkan berbagai kejadian.
Adrian keluar dari ruang kerja ayah larut malam.
Ayah memaksa naik ke ruang kerja sebelum jatuh dari tangga.
Dan kini...
Cangkir milik ayah berisi bekas kopi yang seharusnya tidak pernah diminumnya.
Jantung Anna berdegup semakin cepat.
Ia tidak berani menarik kesimpulan.
Namun firasat buruk yang sejak tadi mengganggunya kini tumbuh semakin kuat.
Mungkin...
Malam sebelum kecelakaan itu terjadi, ada sesuatu yang berlangsung di ruang kerja ayah mereka.
Sesuatu yang belum diketahui oleh siapa pun.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah