Lian Az Zahra putri
Gadis mungil lulusan akuntansi universitas negeri ternama mulai meniti kariernya di ibukota seorang diri. Mempunyai karier yang cemerlang, ia menduduki jabatan penting di usia muda.
Keberhasilan kariernya tak membuatnya lepas begitu saja dari belenggu masa lalu. Trauma menjalin kasih dengan perbedaan status sosial membuatnya berada di situasi terendah dalam hidupnya.
Dapatkah Lian bangkit dari ujian yang datang bertubi-tubi di tengah kariernya yang menjulang tinggi.
Novel perdana saya, menceritakan kehidupan seorang Lian di ibukota. Karier dan kehidupan cintanya merubah banyak hal dalam dirinya.
Follow juga akun media sosial
FB : YoejaLove
Instagram : YoejaLove
Happy reading guys 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoejaLove, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimas & Wati Wedding (Part 3)
Bu Anna terus mengamati gerak gerik wanita itu. Sampai waktunya pas, ia akan menangkap basah. Tiba-tiba...
"Lepaskan!! Siapa kamu beraninya menyentuhku!!" Wanita cantik itu yang tak lain adalah Mellisa berusaha melepaskan cengkeraman tangannya dari salah satu rekan Bu Anna. Ia dibawa masuk ke sudut ruangan yang tak terlihat banyak orang.
Bu Anna mendatanginya dan bertanya ke Mellisa. "Kamu benar-benar keterlaluan, sini minuman itu. Kamu minum!!!" Bu Anna dengan nada marah meraih gelas dari waitres yang Mellisa suruh tadi. Sebelum melakukan aksinya ia keburu ketahuan Bu Anna. Waitres itu pun ikut dibawa ke ruangan ini.
"Si-siapa kamu!" Mellisa masih memberontak, ia penasaran siapa yang berada di balik pengamanan untuk Lian.
"Apa kamu tidak melihat PIN ini nona manis??" Bu Anna menunjukkan PIN khusus tim keamanan yang bekerjasama dengan Winata Group.
"Ahhh, sial bagaimana aku bisa lupa kalau perusahaan punya tim keamanan sendiri. Dimas benar-benar melindungi gadis kampung itu!"
"Apa kau sudah ingat nona?" Bu Anna menyadarkan lamunan Mellisa dengan menjentikkan jarinya tepat di depan wajahnya.
"Lepaskan aku, ini tidak seperti yang kau kira!" Mellisa berusaha mengelak.
"Kau minum itu dulu baru aku percaya padamu." Dengan seringai mencemooh Bu Anna mencoba sejauh mana keberanian wanita cantik didepannya ini.
"Tidak mau!"
"Tidak mau minum tapi kau akan berikan kepada siapa minuman itu? Jawaabb!!!!" Bu Anna sudah mulai mengintimidasi Mellisa.
"Itu bukan urusanmu wanita tua!"
"Siapa bilang, ini menjadi urusan ku karena kau berusaha mengacaukan pesta ini." Bu Anna menarik paksa tas yang Mellisa sembunyikan, ia mengambil senjata api yang Mellisa sembunyikan didalam tasnya.
"Lain kali hati-hati nona, kau masih muda. Kali ini kau kulepaskan!" Bu Anna meminta rekannya yang lain untuk membawa Mellisa keluar dari gedung resepsi.
Sementara waitres tadi tampak ketakutan, tubuhnya gemetar ketika Bu Anna mendekati dirinya.
"Jangan takut, aku hanya ingin memastikan kalau kau tidak terlibat dengan nenek sihir tadi."
"Maafkan aku, tolong lepaskan." Waitres itu mulai menangis karena ketakutan. Ia meremas seragamnya dengan jemarinya yang gemetaran.
"Sudah kubilang jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Siapa yang menyuruhmu melakukannya selain wanita tadi?" Bu Anna menyelidik.
"Laki-laki diujung sana. Dia terus mengawasiku. Jika aku tidak mengikuti kemauannya aku tidak akan mendapatkan gajiku." Waitres itu menunjuk ke arah laki-laki yang ia maksud.
"Kurang ajar!" Bu Anna terpancing emosinya.
"Baiklah, lebih aman jika kau pulang. Rekanku akan mengantarkanmu. Dan aku ada sedikit tips untukmu sebagai ganti gajimu hari ini. Asal kau mau bicara jujur." Bu Anna meminta rekannya untuk mengamankan waiters itu, lalu ia mendekat ke arah laki-laki yang dimaksud waiters tadi yang ia ketahui bernama Anita.
"Terima kasih bu."
Setelah ini, Bu Anna yang mengamati keadaan sekitarnya sudah kondusif. Ia akan berkomunikasi melalui alat yang sudah terpasang, menanyakan keberadaan Lian.
"Lian bersama pak Alvino." Niatnya ia urungkan karena melihat Lian sedang berbicara dengan Alvino, artinya gadis mungil itu di tempat yang aman baginya.
Ketika sedang bercengkrama dengan Alvino dan rekan lainnya, Lian didatangi oleh Reza. Sedari tadi Reza memperhatikan Lian, ia mencari celah untuk mendekati mantan pacarnya itu. Wanita yang ditinggalkannya karena perbedaan status ekonomi keluarga Lian yang tak sebanding dengan dirinya.
"Lian, haaii apa kabar." Reza memberanikan diri mentoel pundak Lian agar menoleh kepadanya.
Sejurus kemudian Lian menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat Reza, mantan pacarnya. "Ohh." Lian berusaha bersikap biasa saja. Ia menyalami Reza seperti tamu-tamu yang lain.
"Maaf mas, Lian tidak tahu. Apa sudah lama?" Lian yang berusaha menyembunyikan luka hatinya mencoba mengesampingkan perasaannya. Ia tidak ingin merusak suasana.
"Aku sudah sejak tadi, tapi baru saja melihatmu jadi aku kemari." Reza yang tampak gugup berbicara dengan Lian berusaha menghilangkan rasa yang sudah ia pendam.
"Siapa laki-laki itu, kenapa begitu akrab dengan gadis kecilku. Cihhh, apa dulu mereka saling kenal. Eh, tunggu. Jangan-jangan..." Alvino yang sedang berguman dengan pikirannya sendiri terkejut.
Ia baru menyadari jika Reza memakai seragam khusus untuk keluarga mempelai. Dan artinya, Reza adalah salah satu kerabat pengantin.
"Jangan-jangan laki-laki itu mantan pacar Lian. Cihhh, awas saja kalau dia berani menyakiti lagi!"
Lian yang tampak jengah dengan obrolan Reza, berusaha mencari cara agar ia pergi dari situasi ini. Alvino yang menyadari ketidak nyamanan Lian mulai tersenyum kembali, seperti menemukan cara untuk mendekati Lian.
"Eheeem, Lian kalau tidak keberatan kita ke tempat pak Wilson, dari tadi dia mencari kamu." Alvino mencari alasan.
"Ahh, iya pak. Mas, aku tinggal dulu. Permisi." Lian yang seperti menemukan angin segar mengikuti langkah Alvino. Menjauhi Reza yang tampak kecewa. Bahkan ia belum sempat meminta nomor ponsel Lian yang baru.
"Kamu mau balikan lagi sama anak miskin itu?" Bu Rima mendekati Reza.
"Sudahlah bu, Lian bukan orang miskin. Bahkan waktu pacaran sama Reza pun dia tidak pernah mau pakai uangku." Reza kesal dengan ibunya.
"Ciih, sombong. Lihat saja penampilannya, udah merasa hebat dia tadi menyapa ibumu ini!"
"Kalau ibu terus mengumpat begitu, gimana mau dapat mantu kaya raya." Pak Adam, ayah Reza pun mengingatkan misi utamanya untuk mencari menantu kaya raya untuk menaikkan status sosial keluarganya.
"Apa lagi ini yah, kalian tidak capek apa begini terus? Reza mau hidup tenang, bisa gak sih tidak ikut campur pilihan Reza."
"Cih, kamu belain terus itu pacar miskinmu itu."
Bu Rima dan pak Adam meninggalkan Reza yang kesal dengan keduanya. Ambisi untuk mendapatkan menantu kaya semakin menjadi-jadi setelah melihat fakta bahwa Dimas juga mendapatkan apa yang ia idamkan. Wati memang terlahir dari keluarga berkecukupan dan terpandang walaupun bukan orang kota. Orang tuanya memiliki tanah dan sawah di desa. Beberapa bahkan disewakan.Uang dan kedudukan sosial sudah membutakan mata keduanya.
Sementara Lian yang mengikuti langkah Alvino berhenti di salah satu stan minuman. Alvino menghentikan langkahnya, melihat nafas Lian yang mulai tersengal ia berinisiatif mengambil air mineral dingin.
"Minumlah, dari tadi kamu berjalan cepat mengikutiku." Alvino menyerahkan botol air mineral.
"Terima kasih pak." Lian meneguk air mineral itu hingga tersisa setengahnya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Lian mengangguk sambil mengatur nafasnya. Ia sebenarnya kesal dengan pandangan Reza yang masih mengharapkan Lian menerimanya kembali.
"Lebih baik kamu duduk agar lebih tenang. Ayo aku antar dan tunggu, berikan nomor ponselmu." Alvino teringat, ia belum mempunyai nomor ponsel Lian. Walaupun ia bisa mendapatkannya dari Dimas, ia lebih memilih meminta sendiri kepada yang bersangkutan.
"Sudah pak." Lian menyerahkan kembali ponsel Alvino.
"Sudah ku save, ayo duduk dulu." Alvino mengajaknya duduk disamping orang tuanya. Dalam hati, ia senang merasa diuntungkan dengan situasi ini.
"Pak, apa tidak masalah saya duduk di sebelah anda?"
"Siapa yang melarang, tidak ada. Sudah jangan mikir macam-macam." Lian mengikuti Alvino duduk.
"Ma, pa." Alvino duduk di kursi yang sejak tadi ia tinggalkan.
"Eh, hallo Lian. Apa kabar?" Papa Arya menyapa.
"Alhamdulillah baik pak." Lian menundukkan kepalanya tanda hormat.
"Sini-sini duduk nak." Meylin yang tampak heboh dengan kedatangan Lian sekarang sudah berhasil mengingat dimana dia pernah bertemu dengan gadis mungil didepannya.
Lian bengong dengan sambutan kedua orang tua Alvino. "Mereka orang kaya tapi tidak sombong. Beda sekali dengan... Ahh sudah Lian jangan mengingat lagi yang sudah berlalu." Lian berguman dengan pikirannya sendiri.
Meylin sudah berbicara dengan Lian, ia tampak antusias gadis yang ia temui di mall X waktu itu adalah Lian yang dibanggakan oleh Arya suaminya. Mereka tampak akrab satu sama lain. Tidak canggung dan Lian pun bisa menempatkan dirinya dengan baik.
Hingga pesta pun usai, Lian berpamitan dengan orang tua Alvino dan mendatangi orang tua mempelai untuk sekali lagi memberi selamat sekaligus pamit pulang.
a world full of zombies hadir lagi menceritakan tentang, Teen, Romantis, dan petualangan 👍😆
Salam kenal dari (Calon Istri vs Mantan Istri) 👋
Semangat terus yaa💪
salam sukses selalu buat thornya dari a world full of zombies hadir lagi 💚🙂
Jangan lupa mampir juga ya di ceritaku 😉
Like sama favorit juga biar bisa saling like tiap update baru 🙂