"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Rahasia Tertulis
Pagi berikutnya, tim produksi mengubah ruang tengah villa menjadi set kecil yang lebih intim.
Karpet tebal digelar di lantai. Bantal duduk diletakkan melingkar. Di tengah lingkaran ada kotak akrilik bening, tumpukan kertas putih kecil, dan beberapa spidol warna hitam. Lampu kamera dibuat lebih lembut daripada biasanya, seolah acara hari itu bukan permainan, melainkan pengakuan.
Kevin langsung curiga begitu melihat kotak itu.
"Kalau ini sesi bongkar rahasia, aku izin minum air dulu," katanya sambil pura-pura berdiri.
Stella menarik ujung bajunya. "Duduk. Rahasiamu paling cuma pernah makan mi instan tengah malam."
"Itu rahasia besar bagi image-ku."
Natasha tertawa. Felix hanya tersenyum kecil. Rosa duduk dengan kaki menyilang, wajahnya tenang, tetapi matanya sudah bergerak ke arah Wenny dan REYN seperti sedang menunggu bahan baru untuk disimpan.
Wenny duduk di sisi kanan lingkaran.
REYN duduk hampir berseberangan dengannya.
Jarak mereka tidak jauh, tetapi setelah malam-malam penuh petunjuk itu, Wenny merasa setiap jengkal udara di antara mereka membawa nama yang belum diucapkan.
Rahmat.
Ia tidak menatap REYN terlalu lama. Jika terlalu lama, kamera pasti menangkap sesuatu. Jika terlalu cepat mengalihkan pandangan, REYN juga pasti menangkap sesuatu. Maka Wenny memilih menatap kotak akrilik di tengah ruangan, pada kertas-kertas kosong yang sebentar lagi akan membuat semua orang berhenti bercanda.
Koko masuk dengan gaya pembawa acara yang terlalu ceria.
"Hari ini segmennya sederhana," katanya sambil mengangkat setumpuk kertas. "Setiap orang menulis satu rahasia. Tidak perlu nama. Nanti aku baca acak. Yang lain boleh menebak, tapi pemilik rahasia tidak wajib mengaku."
Kevin mengangkat tangan. "Kalau rahasianya terlalu memalukan?"
"Berarti rating naik."
Semua orang tertawa.
Koko membagikan kertas satu per satu. Saat kertas putih itu sampai di tangan Wenny, permukaannya terasa terlalu licin. Ia memegang spidol, tetapi ujungnya tidak langsung menyentuh kertas.
Rahasia apa yang bisa ia tulis?
Bahwa ia tahu REYN adalah Rahmat?
Tidak. Itu bukan hanya rahasianya. Itu juga luka REYN. Ia tidak berhak membuka pintu itu di depan kamera.
Bahwa ia menyukai REYN lebih dari yang berani ia akui?
Terlalu mudah ditebak.
Bahwa lagu `Lesung Pipi` selama ini adalah surat yang baru semalam ia pahami?
Terlalu dekat dengan kebenaran.
Wenny mengangkat kepala sedikit.
REYN sedang menatap kertasnya. Wajahnya datar, tetapi tangan kirinya yang memegang spidol tidak segera bergerak. Jam tangan masih menutup pergelangan itu. Wenny tahu apa yang tersembunyi di baliknya, dan pengetahuan itu membuat dadanya sakit dengan cara yang lembut.
Koko memberi aba-aba. "Tulis kalimat yang paling ingin kalian sembunyikan, tapi sebenarnya paling ingin ada orang tertentu yang membaca."
Kalimat itu membuat Wenny menunduk lagi.
Ada orang tertentu.
Ia menarik napas, lalu menulis pelan.
Aku menemukan seseorang yang kupikir tak akan pernah kutemui lagi.
Setelah selesai, Wenny menatap kalimat itu.
Tidak ada nama.
Tidak ada pengakuan langsung.
Tetapi seluruh hatinya ada di sana.
Di seberang, REYN akhirnya menulis juga. Gerakan tangannya pendek, pasti, seperti orang yang sudah menahan kalimat itu terlalu lama dan hanya perlu satu detik untuk mengeluarkannya.
"Lipat dua kali," kata Koko. "Setelah hitungan ketiga, lempar ke kotak."
Kertas-kertas mulai dilipat. Suara kecilnya memenuhi ruang, kering dan gugup.
Wenny melipat kertasnya dua kali. REYN melakukan hal yang sama. Saat Koko menghitung, "Satu, dua, tiga," semua orang melempar kertas ke tengah.
Dalam satu detik itu, Wenny melihat dua kertas putih melayang dari arah berlawanan.
Kertasnya.
Dan kertas REYN.
Dua kertas itu berpotongan di udara, saling melewati seperti dua garis yang selama ini berputar jauh hanya untuk bertemu di satu titik. Lalu keduanya jatuh ke dalam kotak akrilik hampir bersamaan.
Wenny merasakan jantungnya memukul tulang rusuk.
REYN juga melihatnya.
Mata mereka bertemu sebentar.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kata.
Hanya satu rahasia yang sama-sama berpindah tempat.
Koko mengocok kotak itu dengan dramatis. "Kita mulai dari yang ringan dulu, ya."
Kertas pertama membuat ruangan kembali tertawa.
"Aku pernah pura-pura suka kopi pahit padahal tiap habis minum langsung cari gula."
Kevin langsung menunjuk Stella. "Ini kamu!"
Stella melempar bantal kecil padanya. "Aku minum kopi pahit beneran, ya."
Beberapa rahasia berikutnya masih aman. Ada yang pernah stalk mantan sampai tiga tahun lalu. Ada yang pernah menangis karena komentar netizen tentang gaya rambut. Ada yang takut tidur sendirian di hotel walau selalu sok berani di depan kamera.
Wenny ikut tersenyum seperlunya.
REYN hampir tidak berubah ekspresi.
Sampai Koko mengambil satu kertas yang lipatannya sedikit lebih rapi.
Ia membuka, membaca diam-diam lebih dulu, lalu senyum di wajahnya pelan-pelan hilang.
"Wah," gumamnya.
Kevin mencondongkan tubuh. "Apa? Jangan bikin tegang sendiri."
Koko membaca dengan suara lebih pelan.
"Aku menyukai seseorang selama lebih dari sepuluh tahun."
Ruang tengah langsung sunyi.
Tidak ada yang tertawa.
Lebih dari sepuluh tahun bukan kalimat main-main untuk acara kencan yang biasanya penuh pilihan cepat, chemistry mingguan, dan komentar lucu. Itu bukan rahasia kecil. Itu usia sebuah luka. Itu waktu yang cukup panjang untuk seseorang tumbuh dewasa sambil membawa satu nama.
Natasha menutup mulut. Stella menoleh pelan ke arah Wenny, lalu cepat menunduk seolah takut tatapannya terlalu kentara. Kevin yang biasanya paling ribut kini hanya membuka mulut tanpa suara.
Rosa tersenyum tipis.
Tapi kali ini, senyumnya tidak mencapai mata.
Kamera bergerak mencari wajah.
Wenny tahu wajahnya pasti sedang direkam. Ia tidak berani menoleh ke REYN, karena jika ia melihatnya sekarang, ia mungkin tidak sanggup bertahan dalam aturan anonim.
Koko menelan ludah, lalu mencoba mengembalikan nada acara. "Lebih dari sepuluh tahun. Ini... berat juga, ya."
Tidak ada yang menjawab.
REYN duduk diam.
Tangannya ada di atas lutut. Jari-jari kanannya menutup pergelangan kiri seperti kebetulan. Wenny melihatnya dari sudut mata, dan dadanya langsung perih.
Ia tahu.
Ia tahu itu kertas REYN.
Lebih dari sepuluh tahun.
Lima belas tahun.
Koko memasukkan kertas itu ke tumpukan kecil di sampingnya, lalu mengambil kertas berikutnya.
Mungkin seharusnya suasana diberi jeda. Mungkin seharusnya ia memilih rahasia lain yang lucu agar semua orang bisa bernapas lagi. Namun saat kertas berikutnya terbuka, wajah Koko berubah untuk kedua kalinya.
Kali ini, ia tidak langsung membaca.
"Aduh," katanya sangat pelan.
Kevin berbisik, "Jangan bilang ada yang lebih berat."
Koko memandang kertas itu, lalu memandang lingkaran peserta. Suaranya turun satu tingkat.
"Aku menemukan seseorang yang kupikir tak akan pernah kutemui lagi."
Tidak ada suara.
Bahkan kru di balik kamera ikut diam.
Kalimat itu melayang di tengah ruangan, lalu jatuh tepat di antara Wenny dan REYN.
Seseorang yang mencintai lebih dari sepuluh tahun.
Seseorang yang ditemukan kembali setelah dikira tidak akan pernah ditemui lagi.
Dua rahasia itu terlalu cocok untuk disebut kebetulan.
Wenny akhirnya mengangkat mata.
REYN sedang menatapnya.
Wajahnya tidak lagi sepenuhnya dingin. Ada sesuatu yang retak di sana, begitu kecil sampai mungkin penonton biasa akan mengira itu hanya cahaya kamera. Tetapi Wenny melihatnya. Ia melihat ketakutan, harapan, dan pertanyaan yang tidak berani keluar.
Apakah kamu tahu?
Wenny tidak mengangguk.
Tidak menggeleng.
Ia hanya menatapnya kembali, dan dalam tatapan itu, ia membiarkan satu hal sampai.
Aku tidak akan lari.
Natasha mengusap lengannya sendiri. "Ini bukan rahasia biasa."
Felix berdeham pelan. "Rasanya seperti... dua kalimat dari cerita yang sama."
Kevin, untuk pertama kalinya sejak acara dimulai, tidak membuat lelucon.
Stella memandang Koko dengan mata berkaca-kaca. "Boleh lanjut?"
Koko menatap dua kertas di tangannya. Tanpa sadar, ia mengangkatnya bersamaan. Kertas pertama di tangan kanan. Kertas kedua di tangan kiri. Angin dari kipas kecil studio membuat kedua kertas itu bergerak sedikit, hampir saling menyentuh.
"Kita lanjut," kata Koko akhirnya, tetapi suaranya tidak lagi ceria. "Tapi kayaknya semua orang di sini tahu, dua rahasia barusan bukan gimmick."
Rosa mengubah posisi duduk. "Anonim tetap anonim, kan?"
Nada suaranya halus, tetapi ada duri di dalamnya.
Wenny tidak menoleh.
REYN pun tidak.
Mereka tetap saling memandang.
Koko meletakkan dua kertas itu di meja tengah. Karena terburu-buru, ia melepaskannya dari ketinggian kecil. Dua kertas putih itu melayang turun, berputar sebentar, lalu saling menyilang di udara sebelum jatuh berdampingan.
Semua orang melihatnya.
Tidak ada yang tertawa.
Tidak ada yang bertepuk tangan.
Namun dalam hening yang terlalu panjang itu, Wenny tahu satu hal berubah.
Rahasia mereka belum diucapkan dengan nama.
Tetapi sejak detik dua kertas itu bersilang di depan kamera, seluruh ruangan tahu ini bukan efek acara.
Ini kisah yang sudah berjalan jauh sebelum `Skandal Cinta` dimulai.